Petruk Jadi Menteri ESDM
Dalam cerita atau lakon pewayangan, ada salah satu lakon yang menarik yaitu lakon yang mengisahkan Petruk jadi seorang ratu (raja). Ya, Petruk salah satu punokawan, saudara dari Gareng, Bagong dan salah satu anak kyai Semar itu, ternyata pernah menjadi seorang raja.
Petruk sejatinya adalah seorang pelayan, dia telah
melayani banyak tokoh kesatria. Tetapi seperti halnya manusia, para kesatriapun
tidak selamanya berhati bersih dan berkata serta bertindak benar. Hingga
dikisahkan, Petruk sudah sangat muak dengan kelakuan “ndoro-ndoro”
(tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Para pemimpin cuma
berebut kekayaan sendiri tanpa memikikirkan masyarakat. Ya katakanlah
sebelas-duabelas dengan keadaan Indonesia saat inilah. Saat semua serasa sudah
semakin memuakkan, Petruk menjelma
menjadi Prabu Kanthong Bolong, kemudian ia melabrak semua tatanan yang
sudah terlanjur menjadi “main stream” model kekuasaan di Mayapada. Dia
menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya,
bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.
Karuan saja, ulah Petruk dalam wujud Prabu Kanthong Bolong tersebut membuat resah
dan kalang kabut raja-raja lain. Bahkan, Kahyangan Junggring Saloka pun
ikut-ikutan gelisah. Para dewa kebakaran jenggot dan kebingungan, jangan heran,
karena sebenarnya Petruk sendiri memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi dari
para dewa di Kahyangan. Akibat ulah Prabu Kanthong Bolong, bahkan Kawah
Candradimuka, tempat mandi dari Raden Gatotkaca sang putra Werkudara, yang
biasanya tenangpun ikut mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang
membahayakan kekuasaan para dewa.
Tentu hal ini
sangat mengganggu keseimbangan kehidupan di Mayapada dan Kayangan, mulai
dibidang perpolitikan, sampai pada masalah proyek-proyek yang sudah terlanjur
diteken. Semua bisa ambyar dilabrak sama Prabu Kanthong Bolong. Oleh karenanya,
para Dewa dan para Raja Mayapada melakukan koalisi untuk menjungkalkan sang
Prabu Kanthong Bolong, namun tak dinyana, ternyata koalisi mereka mentah, kocar
kacir. Bukan Prabu Kantong Bolong terjungkal, dia justru tambah mengamuk, semua
dihajar habis-habisan bahkan Bhatara Guru sang penguasa Kahyanganpun lari
terbirit-birit ketakutan. Dalam situasi chaos seperti itu, Kyai Semar turun
tangan, dan berhasil “menjinakkan” prabu Kanthong Bolong, dan seketika berubah
kembali menjadi Petruk.
Namun kini
dipanggung politik dan hukum dinegeri ini, sedang ada gonjang ganjing yang
tidak kalah seru dari drama Petruk Dadi Ratu. Namun kali ini Petruk
tidak menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, ia menjelama menjadi tokoh lain.
Bahkan kali ini Petruk tidak mengambil wujud seorang raja, namun tetap menjadi
seorang pesuruh raja. Ya, Petruk dalam drama kali ini menjelma dalam wujud
Sudirman Said sang Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seorang pesuruh(menteri)
Presiden.
Apa pasal yang
membuat kemudian Sudirman Said disejajarkan dengan Prabu Kanthong Bolong
jelmaan Petruk, karena ia tidak kalah dalam membuat ramai Republik ini. Semua
dimulai saat Negara Api menyerang saat Ia melaporkan pada Mahkamah
Kehormatan Dewan (MKD) atas dugaan pencatutan nama presiden dan wakil presiden
dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh oknum anggota DPR.
Pak Dirman
mengatakan Anggota DPR berinisial SN (Setya Novanto), bersama dengan
seorang pengusaha, telah beberapa kali memanggil serta bertemu dengan pimpinan
PT Freeport Indonesia (PT FI). anggota DPR itu menjanjikan cara penyelesaian
tentang kelanjutan kontrak PT FI dan meminta PT FI memberikan saham pada Jokowi
dan Kalla. Yang kemudian peristiwa ini dikenal publik dengan istilah “papah
minta saham”. Tidak main-main, Pak Dirman
menyerahkan sebuah bukti yang mungkin akan sangat sulit sekali untuk
dimentahkan, yaitu sebuah rekaman, tentu bukan rekaman macam artis berinisial
A, dan CT serta LM, yang hot itu, namun ini adalah rekaman percakapan.
Kurang berani apa coba pak Dirman ini.
Kalau Prabu
Kanthong Bolong bisa bikin Kahyangan dan Mayapada gonjang ganjing, maka Pak
Dirman mampu membuat seorang Setya Novanto-yang katanya jam tangannya saja berharga
miliaran rupiah- menangis tersedu, serta
membuat Majelis Kehormatan Dewan yang biasanya nganggur kini harus repot bikin
siding-sidang guna memproses laporan pak Dirman. Bahkan sempat dikabarkan bahwa
senayan pun ikut bergolak, dan membelah menjadi dua bagian, sebagaian setuju
proses Setya Novanto dilanjutkan, sebagaian menolak. Dan yang paling fenomenal
tentu apa yang yang dikatakana oleh pak Dirman sendiri, konon katanya saat
mendengar laporan kasus pencatutan namanya, Presiden Republik Indonesia, Pak
Joko Widodo, berucap “Ora Sudi, Ora Sudi”, ini kan sama seperti Bhatara
Guru yang juga harus lari terbirit-birit oleh Prabu Kanthong Bolong. Hanya
saja, kali ini Pak Jokowi tidak lari, hanya gemeter saja. Soalnya pak Dirman
masih dalam lingkaran pasukannya. Coba kalau pak Dirman ini bukan bawahan pak
Jokowi, coba kalau pak Dirman adalah ketua umum partai, atau dalam posisi
seperti pak Prabowo, pastilah pak Jokowi juga pasti lari terbirit-birit.
Diluar ranah
politik, keluarga Setya Novanto pun jadi sasaran empuk pemberitaan miring, sang
anak yang konon katanya baru menikah terekam kamera sedang menenggak minuman
keras serta merokok. Sebenarnya sih bukan hal yang aneh, cuma gara-gara Pak
Dirman saja, hal ini menjadi luar biasa. Padahal pasti tidak hanya anaknya
Setya Novanto saja yang menenggak minuman keras dan merokok. Anak anggota DPR
yang lain juga pasti ada yang seperti itu, iya kan.? Udah ngaku saja.
Lalu, terakhir
ada yang bertanya, kalau pak Dirman itu adalah Petruk yang sedang ngamuk, Lalu
yang jadi Kyai Semar kira-kira siapa?. Jawabannya mudah, semudah anak-anak alay
berkilah kalau kerusakan taman bunga Amarylis, bukan karena ulah mereka. Yang
jadi kyai Semar dalam drama Petruk Jadi menteri ESDM adalah Netizen, para
pengguna internet, baik yang alay maupun tidak baik , yang liberal maupun yang
tidak liberal, baik yang jomblo maupun yang sudah ada gandengan, serta termasuk
yang senewen dan yang berfikir. ketika semua berkumpul dibawah bendera Netizen,
maka mereka akan menjadi kekuatan Semar-nya Pak Dirman. Cuma sepertinya Semar
untuk versi ini tidak akan menghentikan gonjang-ganjing ini deh, mereka justru
akan semakin ngompor-ngompori.(*)
*Yoga Triono

0 komentar: