Petruk Jadi Menteri ESDM

04.11 lewatengah 0 Comments

Dalam cerita atau lakon pewayangan, ada salah satu lakon yang menarik yaitu lakon yang mengisahkan Petruk jadi seorang ratu (raja). Ya, Petruk salah satu punokawan, saudara dari Gareng, Bagong dan salah satu anak kyai Semar itu, ternyata pernah menjadi seorang raja. 

Petruk sejatinya adalah seorang pelayan, dia telah melayani banyak tokoh kesatria. Tetapi seperti halnya manusia, para kesatriapun tidak selamanya berhati bersih dan berkata serta bertindak benar. Hingga dikisahkan, Petruk sudah sangat muak dengan kelakuan “ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Para pemimpin cuma berebut kekayaan sendiri tanpa memikikirkan masyarakat. Ya katakanlah sebelas-duabelas dengan keadaan Indonesia saat inilah. Saat semua serasa sudah semakin memuakkan, Petruk menjelma  menjadi Prabu Kanthong Bolong, kemudian ia melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream” model kekuasaan di Mayapada. Dia menjungkirbalikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil atapun tidak.

Karuan saja, ulah Petruk dalam wujud  Prabu Kanthong Bolong tersebut membuat resah dan kalang kabut raja-raja lain. Bahkan, Kahyangan Junggring Saloka pun ikut-ikutan gelisah. Para dewa kebakaran jenggot dan kebingungan, jangan heran, karena sebenarnya Petruk sendiri memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi dari para dewa di Kahyangan. Akibat ulah Prabu Kanthong Bolong, bahkan Kawah Candradimuka, tempat mandi dari Raden Gatotkaca sang putra Werkudara, yang biasanya tenangpun ikut mendidih perlambang adanya “ontran-ontran” yang membahayakan kekuasaan para dewa.

Tentu hal ini sangat mengganggu keseimbangan kehidupan di Mayapada dan Kayangan, mulai dibidang perpolitikan, sampai pada masalah proyek-proyek yang sudah terlanjur diteken. Semua bisa ambyar dilabrak sama Prabu Kanthong Bolong. Oleh karenanya, para Dewa dan para Raja Mayapada melakukan koalisi untuk menjungkalkan sang Prabu Kanthong Bolong, namun tak dinyana, ternyata koalisi mereka mentah, kocar kacir. Bukan Prabu Kantong Bolong terjungkal, dia justru tambah mengamuk, semua dihajar habis-habisan bahkan Bhatara Guru sang penguasa Kahyanganpun lari terbirit-birit ketakutan. Dalam situasi chaos seperti itu, Kyai Semar turun tangan, dan berhasil “menjinakkan” prabu Kanthong Bolong, dan seketika berubah kembali menjadi Petruk. 

Namun kini dipanggung politik dan hukum dinegeri ini, sedang ada gonjang ganjing yang tidak kalah seru dari drama Petruk Dadi Ratu. Namun kali ini Petruk tidak menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, ia menjelama menjadi tokoh lain. Bahkan kali ini Petruk tidak mengambil wujud seorang raja, namun tetap menjadi seorang pesuruh raja. Ya, Petruk dalam drama kali ini menjelma dalam wujud Sudirman Said sang Mentri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seorang pesuruh(menteri) Presiden. 

Apa pasal yang membuat kemudian Sudirman Said disejajarkan dengan Prabu Kanthong Bolong jelmaan Petruk, karena ia tidak kalah dalam membuat ramai Republik ini. Semua dimulai saat Negara Api menyerang saat Ia melaporkan pada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) atas dugaan pencatutan nama presiden dan wakil presiden dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh oknum anggota DPR.
Pak Dirman mengatakan Anggota DPR berinisial SN (Setya Novanto), bersama dengan seorang pengusaha, telah beberapa kali memanggil serta bertemu dengan pimpinan PT Freeport Indonesia (PT FI). anggota DPR itu menjanjikan cara penyelesaian tentang kelanjutan kontrak PT FI dan meminta PT FI memberikan saham pada Jokowi dan Kalla. Yang kemudian peristiwa ini dikenal publik dengan istilah “papah minta saham”. Tidak main-main, Pak Dirman  menyerahkan sebuah bukti yang mungkin akan sangat sulit sekali untuk dimentahkan, yaitu sebuah rekaman, tentu bukan rekaman macam artis berinisial A, dan CT serta LM, yang hot itu, namun ini adalah rekaman percakapan. Kurang  berani apa coba pak Dirman ini. 

Kalau Prabu Kanthong Bolong bisa bikin Kahyangan dan Mayapada gonjang ganjing, maka Pak Dirman mampu membuat seorang Setya Novanto-yang katanya jam tangannya saja berharga miliaran rupiah-  menangis tersedu, serta membuat Majelis Kehormatan Dewan yang biasanya nganggur kini harus repot bikin siding-sidang guna memproses laporan pak Dirman. Bahkan sempat dikabarkan bahwa senayan pun ikut bergolak, dan membelah menjadi dua bagian, sebagaian setuju proses Setya Novanto dilanjutkan, sebagaian menolak. Dan yang paling fenomenal tentu apa yang yang dikatakana oleh pak Dirman sendiri, konon katanya saat mendengar laporan kasus pencatutan namanya, Presiden Republik Indonesia, Pak Joko Widodo, berucap “Ora Sudi, Ora Sudi”, ini kan sama seperti Bhatara Guru yang juga harus lari terbirit-birit oleh Prabu Kanthong Bolong. Hanya saja, kali ini Pak Jokowi tidak lari, hanya gemeter saja. Soalnya pak Dirman masih dalam lingkaran pasukannya. Coba kalau pak Dirman ini bukan bawahan pak Jokowi, coba kalau pak Dirman adalah ketua umum partai, atau dalam posisi seperti pak Prabowo, pastilah pak Jokowi juga pasti lari terbirit-birit. 

Diluar ranah politik, keluarga Setya Novanto pun jadi sasaran empuk pemberitaan miring, sang anak yang konon katanya baru menikah terekam kamera sedang menenggak minuman keras serta merokok. Sebenarnya sih bukan hal yang aneh, cuma gara-gara Pak Dirman saja, hal ini menjadi luar biasa. Padahal pasti tidak hanya anaknya Setya Novanto saja yang menenggak minuman keras dan merokok. Anak anggota DPR yang lain juga pasti ada yang seperti itu, iya kan.? Udah ngaku saja.

Lalu, terakhir ada yang bertanya, kalau pak Dirman itu adalah Petruk yang sedang ngamuk, Lalu yang jadi Kyai Semar kira-kira siapa?. Jawabannya mudah, semudah anak-anak alay berkilah kalau kerusakan taman bunga Amarylis, bukan karena ulah mereka. Yang jadi kyai Semar dalam drama Petruk Jadi menteri ESDM adalah Netizen, para pengguna internet, baik yang alay maupun tidak baik , yang liberal maupun yang tidak liberal, baik yang jomblo maupun yang sudah ada gandengan, serta termasuk yang senewen dan yang berfikir. ketika semua berkumpul dibawah bendera Netizen, maka mereka akan menjadi kekuatan Semar-nya Pak Dirman. Cuma sepertinya Semar untuk versi ini tidak akan menghentikan gonjang-ganjing ini deh, mereka justru akan semakin ngompor-ngompori.(*)
*Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: