Surat-Surat Duryudana-Werkudara
Pada saat Prabu Destrarastra
masih bertahta di Negeri Hastinapura, aroma perselisihan antara Pandawa dan
Kurawa sudah mulai tercium. Para pengeran itu tidak pernah akur satu ama lain,
dan diantara sekian banyak perselisihan, adalah perselisihan antara sodara
tertua Kurawa, yaitu Pangeran Duryudana, dan Werkudara, anak kedua dari Dewi
Kunti dan Prabu Pandu yang paling sering terjadi.
Pada tanggal 10 Agustus,
Duryudana menulis sepucuk surat untuk Werkudara.
“Werkudara, putra pamanku Pandu Dewanata, ketahuilah
bahwa kita telah sering berselisih paham dan berselisih jalan, kau selalu
menghujatku mengenai perangaiku yang keras, serakah dan seenaknya sendiri.
Namun ketahuilah wahai putra Pandu , bahwa semua yang kulakukan adalah untuk
kebaikan keseratus saudara-saudaraku. Bukankah semua kesatria akan melakukan
apa saja untuk melindungi keluarganya. Bukankan kau setuju itu?”
11 September, Werkudara
membalas surat dari Duryudana tersebut:
“Sepupuku, Duryudana, putra pamanku Destrarastra.
Syukurlah hari ini aku melihat langit biru cerah di atas langit Negeri
Hastinapura, mataku lebih awas dari yang pikir, aku mampu melihat yang bahkan
Dewata-pun akan kesulitan untuk meilhatnya, aku sudah sering mendengar
kata-kata manis dari mulut berbisamu wahai putra sulung Kurawa. Dalam hatimu
hanya ada keserakahan dan ambisi mengambil tahta yang sebenarnya bukan hak mu.
Jadi berhentilah untuk mengajariku mengenai kebaikan.”
20 September datang balasan
dari Duryudana :
“Langit Negeri Hastinapura memang selalu cerah wahai
putra Pandu, namun kau berbohong jika kau melihat langit itu cerah, karena
sebenarnya yang kau lihat adalah kegelapan. Kau mengisi hati dan pikiranmu
dengan sebuah kebencian dan propaganda yang diberikan dewata kepadamu.”
Pada tanggal 23 September, ada
pertanyaan dalam balasan Werkudara:
“Apa maksutmu Duryudana, aku adalah kesatria berhati
putih pilihan Dewata. Pikiranku jernih. Aku adalah tokoh protagonis dalam
cerita Bharatayuda, dan kau adalah tokoh antagonis, sudah semestinya hati dan
fikiranku lebih jernih dari hati dan fikiranmu wahai putra sulung Dewi Gandari”
Surat itu tidak dibalas oleh
Duryudana, sampai pada hari pertempuran Bharatayuda, dimana salah satu kurawa
yaitu Dursasana gugur di tangan Werkudara dengan merobek dadanya serta meminum
darahnya.
26 Oktober, selang beberapa
hari setelah kejadian mengerikan itu, Duryudana membalas surat Werkudara:
“Wahai putra Sang Kunti, kau berbicara mengenai kebenaran
dan kebaikan, kau berbicara bahwa kau
memiliki peran protagonis dalam lembar cerita ini, sedang aku adalah
antagonis. Lalu kebenaran macam apa yang kau pegang sehingga kau mempu berbuat
begitu kejam pada adikku Dursasana dengan merobek dadanya serta meminum
darahnya. Bukankan itu perilaku binatang wahai putra Pandu. Beritahu padaku,
kebenaran macam apa yang mengizinkan untuk tega membunuh manusia dengan cara
sebinatang itu wahai Werkudara”
Surat terakhir dari Duryudana,
membuat Werkudara kebingungan, di satu sisi, dia meyakini bahwa apa yang
dilakukannya pada Dursasana adalah benar, Namun di sisi lain, surat Duryudana
juga dirasa masuk akal.
30 Oktober balasan dari
Werkudara datang:
“Bagiku, apa yang kulakukan adalah benar. Saudaramu
Dursasana harus aku robek dadanya dan ku minum darahnya. Aku minta maaf
Duryudana, aku berkeras hati untuk memilih kebenaranku. Karena ini adalah
watakku yang diberikan oleh pembuatku. Werkudara haruslah menjadi ksatria pilih
tanding yang keras pada pendirian, kuat dan menang dalam pertempuran. Dan
begitupun kau wahai putra Destrarstra, kau haruslah menjadi kesatria culas, kejam,
licik, dan kalah dalam pertempuran, karena itu sudah menajdi pakem kita sebagai
wayang”
5 November Duryudana membalas:
“Tapi apa salahku sehingga aku harus jadi antagonis dan
kalah dalam setiap pertempuran dengan pandawa, tidakkah sang pembuat wayang itu
berfikir, bagaiman sedihnya melihat saudaraku sendiri di robek dadanya dan di
minum darahnya. Bagaimana marahnya menyaksikan kekalahan demi kekalahanku dari
Pandawa. Aku protes..!”
15 november, surat terakhir
dari Werkudara datang:
“Tidak wahai Duryudana putra Gandari, itu sudah pakem,
kalau kamu protes maka cerita pewayangan akan kehilangan maknanya, para dalang
akan banyak yang nganggur, tidak ada lagi orang yang mau nanggap wayang. Maka terimalah ketokohanmu sebagai Duryudana
sang putra tertua kurawa, dan biar kuterima ketokohanku sebagai lawanmu, agar
siapapun yang menyaksikan drama Bharatayuda akan berfikir dan tercerahkan bahwa
kebaikan-kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan.”
Keesokan harinya, hari terakhir
Perang Bharatayuda. Duryudana maju ke medan perang berhadapan dengan Werkudara,
mereka terlibat pertarungan sengit dan berakhir dengan kematian Duryudana.
Melihat kejadian ini, Bathara Narada, sang dewa yang berperangai halus, kocak,
dan ramah itu menangis tersedu-sedu, ia berkata lirih diantara air matanya. “Ngger anakku Duryudana, terima kasih ataas kerelaanmu
menjadi tokoh antagonis untuk menunjukan kebenaran yang sebenarnya pada
manusia”. (*)
(*)Yoga Triono

0 komentar: