Surat-Surat Duryudana-Werkudara

03.58 lewatengah 0 Comments

Pada saat Prabu Destrarastra masih bertahta di Negeri Hastinapura, aroma perselisihan antara Pandawa dan Kurawa sudah mulai tercium. Para pengeran itu tidak pernah akur satu ama lain, dan diantara sekian banyak perselisihan, adalah perselisihan antara sodara tertua Kurawa, yaitu Pangeran Duryudana, dan Werkudara, anak kedua dari Dewi Kunti dan Prabu Pandu yang paling sering terjadi.

Pada tanggal 10 Agustus, Duryudana menulis sepucuk surat untuk Werkudara.

“Werkudara, putra pamanku Pandu Dewanata, ketahuilah bahwa kita telah sering berselisih paham dan berselisih jalan, kau selalu menghujatku mengenai perangaiku yang keras, serakah dan seenaknya sendiri. Namun ketahuilah wahai putra Pandu , bahwa semua yang kulakukan adalah untuk kebaikan keseratus saudara-saudaraku. Bukankah semua kesatria akan melakukan apa saja untuk melindungi keluarganya. Bukankan kau setuju itu?”

11 September, Werkudara membalas surat dari Duryudana tersebut:

“Sepupuku, Duryudana, putra pamanku Destrarastra. Syukurlah hari ini aku melihat langit biru cerah di atas langit Negeri Hastinapura, mataku lebih awas dari yang pikir, aku mampu melihat yang bahkan Dewata-pun akan kesulitan untuk meilhatnya, aku sudah sering mendengar kata-kata manis dari mulut berbisamu wahai putra sulung Kurawa. Dalam hatimu hanya ada keserakahan dan ambisi mengambil tahta yang sebenarnya bukan hak mu. Jadi berhentilah untuk mengajariku mengenai kebaikan.”

20 September datang balasan dari Duryudana :

“Langit Negeri Hastinapura memang selalu cerah wahai putra Pandu, namun kau berbohong jika kau melihat langit itu cerah, karena sebenarnya yang kau lihat adalah kegelapan. Kau mengisi hati dan pikiranmu dengan sebuah kebencian dan propaganda yang diberikan dewata kepadamu.”

Pada tanggal 23 September, ada pertanyaan dalam balasan Werkudara:

“Apa maksutmu Duryudana, aku adalah kesatria berhati putih pilihan Dewata. Pikiranku jernih. Aku adalah tokoh protagonis dalam cerita Bharatayuda, dan kau adalah tokoh antagonis, sudah semestinya hati dan fikiranku lebih jernih dari hati dan fikiranmu wahai putra sulung Dewi Gandari”

Surat itu tidak dibalas oleh Duryudana, sampai pada hari pertempuran Bharatayuda, dimana salah satu kurawa yaitu Dursasana gugur di tangan Werkudara dengan merobek dadanya serta meminum darahnya.

26 Oktober, selang beberapa hari setelah kejadian mengerikan itu, Duryudana membalas surat Werkudara:

“Wahai putra Sang Kunti, kau berbicara mengenai kebenaran dan kebaikan, kau berbicara bahwa kau  memiliki peran protagonis dalam lembar cerita ini, sedang aku adalah antagonis. Lalu kebenaran macam apa yang kau pegang sehingga kau mempu berbuat begitu kejam pada adikku Dursasana dengan merobek dadanya serta meminum darahnya. Bukankan itu perilaku binatang wahai putra Pandu. Beritahu padaku, kebenaran macam apa yang mengizinkan untuk tega membunuh manusia dengan cara sebinatang itu wahai Werkudara”

Surat terakhir dari Duryudana, membuat Werkudara kebingungan, di satu sisi, dia meyakini bahwa apa yang dilakukannya pada Dursasana adalah benar, Namun di sisi lain, surat Duryudana juga dirasa masuk akal.

30 Oktober balasan dari Werkudara datang:

“Bagiku, apa yang kulakukan adalah benar. Saudaramu Dursasana harus aku robek dadanya dan ku minum darahnya. Aku minta maaf Duryudana, aku berkeras hati untuk memilih kebenaranku. Karena ini adalah watakku yang diberikan oleh pembuatku. Werkudara haruslah menjadi ksatria pilih tanding yang keras pada pendirian, kuat dan menang dalam pertempuran. Dan begitupun kau wahai putra Destrarstra, kau haruslah menjadi kesatria culas, kejam, licik, dan kalah dalam pertempuran, karena itu sudah menajdi pakem kita sebagai wayang”

5 November Duryudana membalas:

“Tapi apa salahku sehingga aku harus jadi antagonis dan kalah dalam setiap pertempuran dengan pandawa, tidakkah sang pembuat wayang itu berfikir, bagaiman sedihnya melihat saudaraku sendiri di robek dadanya dan di minum darahnya. Bagaimana marahnya menyaksikan kekalahan demi kekalahanku dari Pandawa. Aku protes..!”

15 november, surat terakhir dari Werkudara datang:

“Tidak wahai Duryudana putra Gandari, itu sudah pakem, kalau kamu protes maka cerita pewayangan akan kehilangan maknanya, para dalang akan banyak yang nganggur, tidak ada lagi orang yang mau nanggap wayang.  Maka terimalah ketokohanmu sebagai Duryudana sang putra tertua kurawa, dan biar kuterima ketokohanku sebagai lawanmu, agar siapapun yang menyaksikan drama Bharatayuda akan berfikir dan tercerahkan bahwa kebaikan-kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan.”

Keesokan harinya, hari terakhir Perang Bharatayuda. Duryudana maju ke medan perang berhadapan dengan Werkudara, mereka terlibat pertarungan sengit dan berakhir dengan kematian Duryudana. Melihat kejadian ini, Bathara Narada, sang dewa yang berperangai halus, kocak, dan ramah itu menangis tersedu-sedu, ia berkata lirih diantara air matanya. “Ngger anakku Duryudana, terima kasih ataas kerelaanmu menjadi tokoh antagonis untuk menunjukan kebenaran yang sebenarnya pada manusia”. (*)


(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: