Big Bang Theory

04.33 lewatengah 0 Comments



Cara terbaik menikmati kesendirian adalah dengan meneguknya Bersama segelas kopi. Dan dari beberapa tempat minum kopi yang ada di kota ini aku memilih Big Bang. Lokasinya di pinggir jalan, suasananya etnik dengan beberapa sentuhan lawas disana-sini. Lalu beberapa pelayan yang ramah. Jika dperhatikan lokasi ini cocok sekali bagi mereka yang sudah pensiun dan ingin sekedar minum kopi dengan kawan lama, dan memang itu yang sering terjadi. Seringnya adalah sekumpulan bapak-bapak usia diatas 50 tahun yang ngumpul bareng. Mungkin membahas bisnis atau mungkin hanya sekedar berhaha hihi saja. Walaupun memang ada beberapa anak muda yang mengunjungi café ini, namun tidak begitu banyak.

Aku sendiri datang ke café ini tidak memiliki alasan khusus, hanya random dan kebetulan yang muncul dibenak adalah café Big Bang. Begitu duduk, aku pesan ice coffe dan sebuncah kentang goreng. Agak lumayan lama sampai pesananku dating ke meja. Lagu irama selow yang tidak kutau judulnya mengalun. Lalu mulai kukeluarkan laptop hitam andalanku, dan mulailah kumenulis beberapa kalimat. Tepat didepan tenpat dudukku ada 3 orang anak muda, dan agak kesebelah kiri ada 4 orang bapak-bapak yang mungkin sedang membicarakan bisnisnya.

Lalu ada seorang wanita yang duduk sendiri, dia ada diruangan lain, sedang melamun sambal memainkan hapenya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang, atau hanya sekedar kesepian sehingga menghibur diri datang ke café dan berharap ada hal menarik yang membuatnya lari dari kenyataan bahwa dia sedang kesepian. Make up muka nya cukup tebal untuk ukuran sekedar ke warung kopi. Pakaiannya sedikit terbuka di bagian pundak, ntah model apa Namanya. Celana jean nya ketat. Namun wajahnya selalu murung  sambil sesekali mambalas pesan yang ada di hapenya.

“Nona senyumlah sedikit, hilangkah wajah murung itu” kataku dalam hati.

Dunia sudah terlalu suram dengan beberapa pengkhianatan dan keculasan manusia terhadap satu sama lainnya. Tersenyumlah, agar dunia juga tau bahwa masih ada senyum-senyum yan masih memiliki harapan di setiap sudut bumi. 

Siapa yang kau tunggu nona? sepenting apakah dia, sehingga kau harus berdandan begitu cantik dan menunggu hingga kusut begitu wajahmu.

Apakah dia lelakimu wahai nona?, sudahlah lelaki yang terlambat ketika berjanji tidak layak kau tunggu dengan make up secantik itu nona.

Tiba-tiba sebuah kendaraan berhenti didepan café dan nona cantik itu keluar dengan wajah sumringah. Oh nona, bahagia sekali wajahmu itu, besok kalau datang ke café ini jangan cemberut lagi ya. Berbahagialah, biar aku bahagianya belakangan.

Setelah menunggu 30 menit. Kawanku datang, tergopo-gopoh. “Maaf-maaf, tadi hujan, maaf ya” katanya.

“Tidak papa” jawabku sambil tetap menatap layar laptop.

Tanpa babibu, dia sambar kentang goreng pesananku yang ada di meja. Sambal terus mencerocos soal posisi duduk yang kupilih.

“Salah pilih lokasi duduk, disini tidak enak, enak sebalah sana” Katanya dengan mulut penuh kentang goreng.

“Ayo, pindah saja kesebelah sana” lanjutnya sambal membopong mangkuk kenang gorengku dibawa ke lokasi yang dia inginkan.

Aku tidak bereaksi terhadap tingkah anak ini, datar saja, kuikuti langkahnya ke lokasi duduk yang baru.

Baru saja duduk, kalimat keluhan muncul dari mulutnya. “Haduh banyak sekali kerjaku” katanya.
Aku hanya sekedar mengangguk sebagai tanda setuju. Tanpa diminta keluarlah ceritanya banyak sekali, lalu sekitar 15 menit tiba-tiba dia diam, dan focus kepada laptopnya. Ah dasar anak pekerja.
Lalu kami berdua larut dalam laptop kami masing-masing.

Tidak berapa lama, pesanan mie kuah sudah dating. Aroma micinnya begitu menggugah air liur.
Aku belum sempat menengok kearahnya, sudah beberapa sendok mie kuah itu sudah masuk ke mulut anak itu. Sambal terus menceritakan soal pekerjaannya, mie kuah itupun mengalir mulus kedalam perutnya. (*)




You Might Also Like

0 komentar: