Big Bang Theory
Cara terbaik menikmati kesendirian adalah dengan meneguknya Bersama
segelas kopi. Dan dari beberapa tempat minum kopi yang ada di kota ini aku
memilih Big Bang. Lokasinya di pinggir jalan, suasananya etnik dengan beberapa
sentuhan lawas disana-sini. Lalu beberapa pelayan yang ramah. Jika dperhatikan
lokasi ini cocok sekali bagi mereka yang sudah pensiun dan ingin sekedar minum
kopi dengan kawan lama, dan memang itu yang sering terjadi. Seringnya adalah
sekumpulan bapak-bapak usia diatas 50 tahun yang ngumpul bareng. Mungkin membahas
bisnis atau mungkin hanya sekedar berhaha hihi saja. Walaupun memang ada
beberapa anak muda yang mengunjungi café ini, namun tidak begitu banyak.
Aku sendiri datang ke café ini tidak memiliki alasan khusus, hanya
random dan kebetulan yang muncul dibenak adalah café Big Bang. Begitu duduk,
aku pesan ice coffe dan sebuncah kentang goreng. Agak lumayan lama sampai
pesananku dating ke meja. Lagu irama selow yang tidak kutau judulnya mengalun.
Lalu mulai kukeluarkan laptop hitam andalanku, dan mulailah kumenulis beberapa
kalimat. Tepat didepan tenpat dudukku ada 3 orang anak muda, dan agak kesebelah
kiri ada 4 orang bapak-bapak yang mungkin sedang membicarakan bisnisnya.
Lalu ada seorang wanita yang duduk sendiri, dia ada diruangan lain,
sedang melamun sambal memainkan hapenya. Sepertinya dia sedang menunggu
seseorang, atau hanya sekedar kesepian sehingga menghibur diri datang ke café
dan berharap ada hal menarik yang membuatnya lari dari kenyataan bahwa dia sedang
kesepian. Make up muka nya cukup tebal untuk ukuran sekedar ke warung kopi. Pakaiannya
sedikit terbuka di bagian pundak, ntah model apa Namanya. Celana jean nya
ketat. Namun wajahnya selalu murung sambil
sesekali mambalas pesan yang ada di hapenya.
“Nona senyumlah sedikit, hilangkah wajah murung itu” kataku dalam hati.
Dunia sudah terlalu suram dengan beberapa pengkhianatan dan keculasan
manusia terhadap satu sama lainnya. Tersenyumlah, agar dunia juga tau bahwa
masih ada senyum-senyum yan masih memiliki harapan di setiap sudut bumi.
Siapa yang kau tunggu nona? sepenting apakah dia, sehingga kau harus
berdandan begitu cantik dan menunggu hingga kusut begitu wajahmu.
Apakah dia lelakimu wahai nona?, sudahlah lelaki yang terlambat ketika
berjanji tidak layak kau tunggu dengan make up secantik itu nona.
Tiba-tiba sebuah kendaraan berhenti didepan café dan nona cantik itu
keluar dengan wajah sumringah. Oh nona, bahagia sekali wajahmu itu, besok kalau
datang ke café ini jangan cemberut lagi ya. Berbahagialah, biar aku bahagianya
belakangan.
Setelah menunggu 30 menit. Kawanku datang, tergopo-gopoh. “Maaf-maaf,
tadi hujan, maaf ya” katanya.
“Tidak papa” jawabku sambil tetap menatap layar laptop.
Tanpa babibu, dia sambar kentang goreng pesananku yang ada di meja. Sambal
terus mencerocos soal posisi duduk yang kupilih.
“Salah pilih lokasi duduk, disini tidak enak, enak sebalah sana” Katanya
dengan mulut penuh kentang goreng.
“Ayo, pindah saja kesebelah sana” lanjutnya sambal membopong mangkuk
kenang gorengku dibawa ke lokasi yang dia inginkan.
Aku tidak bereaksi terhadap tingkah anak ini, datar saja, kuikuti
langkahnya ke lokasi duduk yang baru.
Baru saja duduk, kalimat keluhan muncul dari mulutnya. “Haduh banyak
sekali kerjaku” katanya.
Aku hanya sekedar mengangguk sebagai tanda setuju. Tanpa diminta
keluarlah ceritanya banyak sekali, lalu sekitar 15 menit tiba-tiba dia diam,
dan focus kepada laptopnya. Ah dasar anak pekerja.
Lalu kami berdua larut dalam laptop kami masing-masing.
Tidak berapa lama, pesanan mie kuah sudah dating. Aroma micinnya begitu
menggugah air liur.
Aku belum sempat menengok kearahnya, sudah beberapa sendok mie kuah itu
sudah masuk ke mulut anak itu. Sambal terus menceritakan soal pekerjaannya, mie
kuah itupun mengalir mulus kedalam perutnya. (*)

0 komentar: