Irama Berbeda di Mataram
Setelah berlari kencang dalam
bulan-bulan terakhir. Kini perjalanan kembali dilanjutkan dengan irama yang
berbeda. Tidak lebih baik atau lebih buruk, hanya saja berbeda irama. Namun demikian
rasa syukur seyogyanya diletakan diujung lidah. Agar senantiasa menjadi awalan
dari setiap kata.
Jika dirunut kebelakang, aku
adalah keturunan dari kerajaan terbesar tanah Jawa yang sempat menguasai tanah-tanah
luas di masa lalu. Mataram namanya. Mungkin kakek moyangku dulu bukan seorang
hulubalang kerajaan. Apalagi menjadi bagian dari lingkaran kerajaan. Kakek moyangku
dulu bisa jadi adalah seorang petani disalah satu wilayah Kerajaan Mataram yang dengan
khidmat mengakui Mataram sebagai identitas negaranya.
Kini aku berada di kota yang
bernama Mataram. Namun aku sendiri tidak tau asal muasal nama Mataram itu. Setidaknya
aku belum mencari tahu lebih jauh soal ini. Namun demikian perasaan pulang itu
muncul dalam perasaan. Mungkinkah karena nama kota ini sama dengan negara
leluhurku. Sehingga ada kenyamanan yang muncul dari kota ini.
Pagi kota ini hangat menyapa
dengan sedikit sinar mentari yang tajam namun sekaligus lembut. Jalanan yang
ramai namun tidak ada kesan sesak. Udaranya bersih. kotanya teratur, makanannya
enak dan murah. Dalam semua indikator kota yang layak dijadikan lokasi pulang, Mataram adalah salah satu yang masuk kriteria.
Namun demikian, aku baru satu minggu berada disini. Masih
terlalu dini menilai kota ini setinggi langit. Karena tidak ada kota yang
sempurna, pasti akan ada satu atau dua hal yang akan menjadikan kita jengah
dengan situasinya. Entah karena tingkah laku orang-orangnya maupun aturan-aturannya
yang kadang menjengkelkan.
Kata orang dikota ini dekat dengan
beberapa lokasi wisata yang konon mahsyur. Diantaranya adalah pantai Senggigi dan berbagai Gili (pulau-pulau kecil) yang indahnya sudah menjadi bahan bicara orang dimana-mana itupun dekat dari kota ini. Layak untuk dieksplore lebih jauh. Mari membuktikan
bahwa semua yang begitu dibicarakan manusia-manusia indie yang selalu mengejar
kopi dan senja itu benar adanya.
Dengan semua hal tersebut, apakah
aku akan bertahan dan menetapkan jalan hidupku berhenti di kota Mataram ini? Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu dekat. Ada banyak faktor yang
harus dipertimbangkan untuk memutuskan berhenti dari perjalanan ini. Minimal ada
sesuatu yang memang menjadi alasan kuat untukku memutuskan berhenti. Tidak
sekedar faktor kotanya, namun ada hal lain, yang lebih spiritual dan kebatinan,
hahaha.!!!
Untuk saat ini biarkan aku menikmati
kota ini dengan khidmat. Segenap hati dan pikiran. Menyerap suasana yang
menyenangkan ini. Karena saat ini pekerjaanku tidak terlalu menguras waktu. Maka mungkin aku akan bisa menulis lebih sering. Tidak hanya mengenai kotanya,
namun juga mengenai pengalaman-pengalaman disini baik yang fisik maupun yang
spriritual. Tapi nggak janji.

0 komentar: