Irama Berbeda di Mataram

06.07 lewatengah 0 Comments


Setelah berlari kencang dalam bulan-bulan terakhir. Kini perjalanan kembali dilanjutkan dengan irama yang berbeda. Tidak lebih baik atau lebih buruk, hanya saja berbeda irama. Namun demikian rasa syukur seyogyanya diletakan diujung lidah. Agar senantiasa menjadi awalan dari setiap kata.

Jika dirunut kebelakang, aku adalah keturunan dari kerajaan terbesar tanah Jawa yang sempat menguasai tanah-tanah luas di masa lalu. Mataram namanya. Mungkin kakek moyangku dulu bukan seorang hulubalang kerajaan. Apalagi menjadi bagian dari lingkaran kerajaan. Kakek moyangku dulu bisa jadi adalah seorang petani disalah satu wilayah Kerajaan Mataram yang dengan khidmat mengakui Mataram sebagai identitas negaranya.

Kini aku berada di kota yang bernama Mataram. Namun aku sendiri tidak tau asal muasal nama Mataram itu. Setidaknya aku belum mencari tahu lebih jauh soal ini. Namun demikian perasaan pulang itu muncul dalam perasaan. Mungkinkah karena nama kota ini sama dengan negara leluhurku. Sehingga ada kenyamanan yang muncul dari kota ini.

Pagi kota ini hangat menyapa dengan sedikit sinar mentari yang tajam namun sekaligus lembut. Jalanan yang ramai namun tidak ada kesan sesak. Udaranya bersih. kotanya teratur, makanannya enak dan murah. Dalam semua indikator kota yang layak dijadikan lokasi pulang, Mataram adalah salah satu yang masuk kriteria.

Namun  demikian, aku baru satu minggu berada disini. Masih terlalu dini menilai kota ini setinggi langit. Karena tidak ada kota yang sempurna, pasti akan ada satu atau dua hal yang akan menjadikan kita jengah dengan situasinya. Entah karena tingkah laku orang-orangnya maupun aturan-aturannya yang kadang menjengkelkan.

Kata orang dikota ini dekat dengan beberapa lokasi wisata yang konon mahsyur. Diantaranya adalah pantai Senggigi dan berbagai Gili (pulau-pulau kecil) yang indahnya sudah menjadi bahan bicara orang dimana-mana itupun dekat dari kota ini. Layak untuk dieksplore lebih jauh. Mari membuktikan bahwa semua yang begitu dibicarakan manusia-manusia indie yang selalu mengejar kopi dan senja itu benar adanya.

Dengan semua hal tersebut, apakah aku akan bertahan dan menetapkan jalan hidupku berhenti di kota Mataram ini? Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu dekat. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan berhenti dari perjalanan ini. Minimal ada sesuatu yang memang menjadi alasan kuat untukku memutuskan berhenti. Tidak sekedar faktor kotanya, namun ada hal lain, yang lebih spiritual dan kebatinan, hahaha.!!!

Untuk saat ini biarkan aku menikmati kota ini dengan khidmat. Segenap hati dan pikiran. Menyerap suasana yang menyenangkan ini. Karena saat ini pekerjaanku tidak terlalu menguras waktu. Maka mungkin aku akan bisa menulis lebih sering. Tidak hanya mengenai kotanya, namun juga mengenai pengalaman-pengalaman disini baik yang fisik maupun yang spriritual. Tapi nggak janji.

You Might Also Like

0 komentar: