Menunggu Pendekar Baru KPK.

06.24 lewatengah 0 Comments





MASIH sangat jelas di ingatan publik saat pemberantaan korupsi di negeri ini diobrak abrik dengan satu per satu pimpinan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijegal dengan kasus-kasus janggal dan terkesan dipaksakan oleh kepolisian. Padahal beberapa tahun belakang KPK mengaum keras dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, pada masa kepemimpinan Abraham Samad Cs, KPK seperti malaikat pencabut nyawa bagi para koruptor-kuroptor yang memakan uang rakyat. Mulai dari kasus daerah yang sedemikian banyak, hingga beberapa menteri aktif dalam kabinet Indonesia Bersatu bentukan presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), sepert Andi Malarangeng, Jero Wacik, Surya Dharma Ali, ikut diciduk oleh KPK. Bahkan KPK tidak segan untuk mengarahkan taringnya pada partai penguasa saat itu yaitu partai demokrat, hal ini terlihat dari beberapa petugas partai yang memiliki jabatan strategis di partai ikut menjadi tumbal KPK. Mulai dari Angelina Sondakh, Nazarudin, Hingga sang Ketua Umum pun berani disentuh KPK. Keberanian KPK melalui Abraham Samad Cs  ini membawa angin segar pemberantasan korupsi di Indonesia, Walaupun publik menyadari bahwa apa yang diungkap KPK adalah secuil dari gurung es korupsi yang sudah mengakar dalam budaya birokrasi bangsa ini. 

Namun petaka datang saat presiden Jokowi yang merupaka suksesor dari presiden SBY, mengajukan Budi Gunawan sebagai calon kapolri kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). KPK teriak. Hal ini lantaran Budi Gunawan adalah salah satu orang yang diberi rapor merah oleh KPK, dan hal tersebut sudah disampaikan oleh KPK kepada presiden Jokowi. Namun mantan gubernur Jakarta itu bersikukuh untuk tetap memasukan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri. KPK dengan segala pengalaman dan bukti yang dimiliki mngambil sikap tegas, Budi Gunawan dijadikan tersangka. Dengan harapan jokowi, DPR dan Publik terbuka matanya dan membatalkan pencalonan Budi Gunawan. Namun malang tak dapat ditolak, alih–alih mengungkap korupsi, KPK justru mengulang sejarah Cicak Vs Buaya, karena setelah penetapan Budi Gunawan menjadi tersangka. Satu persatu pimpinan KPK dilaporkan dan dijadikan tersangka oleh institusi Polri. Mulai dari Bambang Widjojanto yang ditangkap oleh Bareskrim Polri saat mengantar anaknya, dilanjutkan oleh penetapan tersangka pimpinan KPK lainnya, yaitu Abraham Samad yang kemudian diharuskan mengundurkan diri sebagai pimpinan KPK, dan yang terbaru adalah penyidik utama KPK, Novel Baswedan yang hingga saat ini masih memberikan perlawanan kepada Polri.

KPK yang gagah berani pada masa pemerintahan SBY kini seperti macan ompong yang diserang dari berbagai arah dan tidak ada yang melindungi. Meminjam istilah yang sering digunakan oleh Efendi Ghazali Pakar Komunikasi Politk, KPK mengalami Kriminalisasi. Efek dari peristiwa ini sangat besar bagi pemberantasan korupsi. Bahkan efek dari kasus pemicu malapetaka- kasus Budi Gunawan yang mampu “melepaskan” diri dari jeratan KPK melalui Pra Peradilan-. Mengilhami sejumlah koruptor lain untuk mengajukan pra peradilan. Ini menjadi semacam jalan tikus baru untuk koruptor melepaskan diri dari ancaman hukuman. Sungguh sebuah harga yang mahal yang harus dibayar oleh bangsa ini. Kini Pimpinan KPK pengganti Abraham Samad Cs adalah hasil pilihan Presiden Jokowi, yaitu Taufiqurrahman Ruki, Indriyanto Seno Aji, dan Johan Budi. Tanpa mengurangi rasa hormat akan kemampuan ketiga tokoh ini, namun hingga saat ini keganasan KPK belum kembali, meski Johan Budi sebagai generasi lama KPK menjabat sebagai salah satu pimpinan KPK. 

Pendekar Baru
Beberapa waktu lalu presiden Jokowi mengumumkan panitia penyeleksi calon pimpinan KPK, dimana seluruhnya adalah wanita berjumlah sembilan orang dari berbgai latar belakang yang kompeten. Para Srikandi ini memiliki tugas berat yaitu menyeleksi calon pimpinan KPK yang mendaftar. Pendaftaran calon pimpinan KPK sendiri dibuka pada tanggal 5 sampai dengan tanggal 24 Juni 2015. Selama kurang dari 20 hari tersebut lembaga pemberantasan korupsi tersebut menanti datangnya pendekar baru yang mengobati macan bernama KPK untuk segera sembuh dari luka kriminalisasi dan segera mengaum kembali. Mengembalikan keganasan KPK untuk membuat koruptor-koruptor negeri ini bergidik saat disebutkan kata KPK. Pendekar baru ini haruslah seseorang yang kuat, tidak hanya fisik, namun juga mental dan pikiran. Selain itu tentunya harus pintar karena harus adu cerdik dengan berbagai modus operasi koruptor. Dan yang terpenting adalah amanah dan tahan pada segala macam serangan, terutama suap yang dilakukan tersangka korupsi dan pihak-pihak lain yang tidak suka pada KPK, karena menurut Abraham Samad sebelum kasus kriminalisasi terjadi, dalam sebuah wawancara dengan Andy F. Noya, menjadi pimpinan KPK harus terbiasa dengan terror dan dan hal-hal semacam itu. 

Semoga pendekar-pendekar memiliki kemampuan diatas tidak trauma dengan kasus kriminalisasi KPK yang sudah terjadi 2 kali dalam 10 tahun terakhir. Karena jika hal tersebut terjadi maka kerugian yang diakibatkaan oleh kriminalisasi itu bertambah satu lagi. Walaupun memang bukan tidak mungkin jika dimasa depan hal tersebut terjadi lagi, namun generasi anti korupsi tidak akan pernah lemah atau menyerah mendukung lembaga harapan masyarakat ini. Sekarang masyarakat sedang harap-harap cemas menanti sosok pendekar baru yang benar-benar mampu membuat lembaga KPK kembali bangkit dari keterpurukannya.(*)
(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: