Habiskan Tiga Mentri, PSSI Disanksi Juga

22.57 lewatengah 0 Comments





AKIBAT dibekukannya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, berdampak pada jatuhnya sanksi otoritas badan sepakbola dunia FIFA kepada Indonesia. Sanksi tersebut menyebutkan bahwa club sepak bola Indonesia dilarang ambil bagaian pada turnamen sepakbola yang diadakan oleh induk olahraga sepekbola Asia (AFC) maupun oleh FIFA. Praktis hanya timnas U-23 yang masih dizinkan berlaga di ajang SEA Games 2015 di Singapura. Kisruh ini adalah akibat dari kisruh yang dialami oleh sepakbola Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Hal ini seharusnya mencoreng wajah Indonesia dikancah pesepakbolaan internasional. Kerugian yang diderita Indonesia akibat sanksi ini tentu sangat banyak, selain tidak bisa berlaga di ajang internasional, yang mana pasti berdampak buruk pada prestasi tim nasional. Dampak dari sanksi FIFA juga akan dirasakan oleh seluruh orang yang mengandalkan hidup dari sepakbola, mulai dari pemain, pelatih, wasit dan seterusnya. Pemain adalah yang paling dirugikan, nasibnya tidak jelas dan terkatung-katung. Penghasilan sebagai pemain kini tidak lagi bisa diandalkan. Ditambah ribuan anak-anak yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola kini akan mengurungkan niat untuk meraih cita-citanya. FIFA menyatakan bahwa pihaknya akan mencabut sanksi untuk Indonesia jika pemerintah dalam hal ini Menpora tidak melakukan intervensi terhadap pelaksanaan sepakbola di Indonesia. Namun sang Mentri Pemuda dan Olahraga tidak bergeming, menurutnya apa yang dilakukan dengan membekukan PSSI dan membentuk tim transisi untuk memperbaiki sepakbola Indonesia sudah tepat, selain itu langkahnya tersebut didukung presiden.

Jika kita tarik kebelakang, ternyata masalah sepakbola ini telah menghabiskan tiga Menpora, yaitu Andi Malarangeng, Roy Suryo dan Imam Nahrawi. Pada masa Andi Malarangeng, Indonesia nyaris terkena sanksi akibat perebutan kekuasaan PSSI antara Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie. Bahkan waktu itu mantan Menpora, Adyaksa Dault sempat turun gunung untuk menawarkan diri sebagai perantara damai kedua pihak, karena ia berharap sepak bola di Indonesia tidak terkena Sanksi FIFA. Patut disyukuri bahwa akhirnya Indonesia tidak diberi sanksi oleh FIFA pada waktu itu. Kemudian masuk pada masa Roy Suryo, sepakbola indonesia tidak juga membaik prestasi-prestasinya, praktis hanya Evan Dimas dan kawan-kawan melalui AFF U-19 yang sedikit memberikan hiburan bagi pecinta sepakbola Indonesia, bukan hanya karena piala yang berhasil mereka boyong, namun juga karena penampilan menjanjikan anak asuh Indra Sjafri tersebut. Sayangnya semangat Evan Dimas dan kawan-kawannya tidak mampu membuka mata para elite PSSI, pada masa itu perseteruan kembali memanas antara La Nyala Mataliti, dan Jhohar Arifin . Keduanya berebut pucuk pimpinan PSSI. Namun pada waktu itu Roy Suryo berhasil mendamaikan dan setidaknya memberikan angin kondusif terhadap sepakbola Indonesia.
Namun Petaka tidak bisa dielakan saat ini, dimana Imam Nahrawi menjabat menpora, alih alih membela Arema Malang dan Persebaya Surabaya yang tidak lolos oleh verifikasi BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) untuk berlaga di Liga Super Indonesia (LSI). PSSI pimpinan LaNyala Mattaliti justru membawa sepakbola kedalam arus perseteruan baru dengan Menpora. Imam Nahrawi menganggap PSSI sudah tidak bisa mengurusi sepakbola di Indonesia, dan menganggap harus ada tindakan segera untuk memperbaiki situasi. Maka dari itu dibekukanlah PSSI dan dibentuklah Tim Transisi. Dan akhirnya sanksi FIFA pun jatuh kepada Indonesia.
***
Jika kita lihat, animo masyarakat terhadap sepakbola di Indonesia sangat tinggi, basis supporter club sepak bola di Indonesia tidak kalah militan dengan pada hooligan di tanah Britania, club –club Indonesia seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Persipura Papua, Arema Malang, dan Sriwijaya FC memiliki fans base yang sangat loyal. Bahkan Bobotoh (sebutan untuk supporter persib) tidak hanya ada di Kota Kembang Bandung, namun menyebar di seluruh Indonesia. Begitu pula Jakmania yang setia mendukung Persija Jakarta, Aremania dengan Arema Malang nya, dan tentu saja Bonek-nya Persebaya Surabaya. Mereka tidak hanya ada di kota-kota tempat asal club, namun menyebar di seluruh Indonesia. Yang paling penting adalah militansi dan loyalitas mereka luar biasa, mereka akan datang ke kota manapun tempat club melakukan pertandingan. Dengan jumlah mereka yang mencapai puluhan ribu, jika bisa dikelola dengan ciamik, tentu akan sangat potensial untuk kemajuan sepakbola. Penjualan tiket pertandingan, dan penjualan marchendaise club saja mungkin sudah bisa menutupi baiaya operasional club, ditambah lagi dengan ketertarikan sponsor. 

Namun sayangnya peluang ini dianggap tidak lebih penting dari berebut kekuasaan PSSI, mereka mengabaikan rasa cinta masyaraakat terhadap olehraga kulit bundar ini, mereka lupa bahwa sepakbola tanpa supporter seperti masak sayur tanpa garam, akan menjadi hambar, tidak ada euphoria, emosi didalamnya. Itulah kenapa supporter dinamakan pemain ke dua belas. Namun dipihak lain, kabar bahagia menyeruak di sela-sela keributan ini, ranking Indonesia di peringkat FIFA mengalami kenaikan dan kini berada di peringkat 155 peringkat ini naik 4 tingkat jika dibandingkan dengan rangking Indonesia di FIFA pada bulan februari lalu yaitu 159 , hal ini dirilis FIFA pda Kamis (4/6). Publik menjadi bertanya-tanya bagaimana bisa sebuah negara yang dalam kurun 5 tahun terakhir selalu ribut dan minim prestasi namun peringkat di FIFA bisa naik. Mungkin juga public menduga-duga bahwa naiknya peringkat FIFA ini lantaran disuap oleh Indonesia, hal ini lantara FIFA saat ini sedang dihadapkan dengan kasus korupsi yang melibatkan beberapa petingginya. Peringkat 155 bukanlah peringkat yang bisa dibanggakan dengan membusungkan dada lebar-lebar. Apa gunanya peringkat jika pengelolaan sepak bolanya masih amburadul. Sejatinya sepakbola itu bukan tentang peringkat, namun tentang kesenangaan, tentang kesetaraan, dimana kita bisa melupakan permasalahan hidup dalam 90 menit dan berteriak bersama penuh semangat dan kesenagan saat Valentino Simanjuntak, sang pembawa acara bola itu berteriak. ”Jebreeeetttt…..Jebreeeettt….Goallllll……!!!!”(*)
(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: