Habiskan Tiga Mentri, PSSI Disanksi Juga
AKIBAT
dibekukannya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) oleh Menteri Pemuda dan
Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, berdampak pada jatuhnya sanksi otoritas badan
sepakbola dunia FIFA kepada Indonesia. Sanksi tersebut menyebutkan bahwa club
sepak bola Indonesia dilarang ambil bagaian pada turnamen sepakbola yang diadakan
oleh induk olahraga sepekbola Asia (AFC) maupun oleh FIFA. Praktis hanya timnas
U-23 yang masih dizinkan berlaga di ajang SEA Games 2015 di Singapura. Kisruh
ini adalah akibat dari kisruh yang dialami oleh sepakbola Indonesia sejak
beberapa tahun lalu. Hal ini seharusnya mencoreng wajah Indonesia dikancah
pesepakbolaan internasional. Kerugian yang diderita Indonesia akibat sanksi ini
tentu sangat banyak, selain tidak bisa berlaga di ajang internasional, yang
mana pasti berdampak buruk pada prestasi tim nasional. Dampak dari sanksi FIFA
juga akan dirasakan oleh seluruh orang yang mengandalkan hidup dari sepakbola,
mulai dari pemain, pelatih, wasit dan seterusnya. Pemain adalah yang paling
dirugikan, nasibnya tidak jelas dan terkatung-katung. Penghasilan sebagai
pemain kini tidak lagi bisa diandalkan. Ditambah ribuan anak-anak yang
bercita-cita menjadi pemain sepakbola kini akan mengurungkan niat untuk meraih
cita-citanya. FIFA menyatakan bahwa pihaknya akan mencabut sanksi untuk Indonesia
jika pemerintah dalam hal ini Menpora tidak melakukan intervensi terhadap
pelaksanaan sepakbola di Indonesia. Namun sang Mentri Pemuda dan Olahraga tidak
bergeming, menurutnya apa yang dilakukan dengan membekukan PSSI dan membentuk
tim transisi untuk memperbaiki sepakbola Indonesia sudah tepat, selain itu
langkahnya tersebut didukung presiden.
Jika kita tarik kebelakang, ternyata masalah sepakbola ini telah menghabiskan tiga Menpora, yaitu Andi Malarangeng, Roy Suryo dan Imam Nahrawi. Pada masa Andi Malarangeng, Indonesia nyaris terkena sanksi akibat perebutan kekuasaan PSSI antara Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie. Bahkan waktu itu mantan Menpora, Adyaksa Dault sempat turun gunung untuk menawarkan diri sebagai perantara damai kedua pihak, karena ia berharap sepak bola di Indonesia tidak terkena Sanksi FIFA. Patut disyukuri bahwa akhirnya Indonesia tidak diberi sanksi oleh FIFA pada waktu itu. Kemudian masuk pada masa Roy Suryo, sepakbola indonesia tidak juga membaik prestasi-prestasinya, praktis hanya Evan Dimas dan kawan-kawan melalui AFF U-19 yang sedikit memberikan hiburan bagi pecinta sepakbola Indonesia, bukan hanya karena piala yang berhasil mereka boyong, namun juga karena penampilan menjanjikan anak asuh Indra Sjafri tersebut. Sayangnya semangat Evan Dimas dan kawan-kawannya tidak mampu membuka mata para elite PSSI, pada masa itu perseteruan kembali memanas antara La Nyala Mataliti, dan Jhohar Arifin . Keduanya berebut pucuk pimpinan PSSI. Namun pada waktu itu Roy Suryo berhasil mendamaikan dan setidaknya memberikan angin kondusif terhadap sepakbola Indonesia.
Jika kita tarik kebelakang, ternyata masalah sepakbola ini telah menghabiskan tiga Menpora, yaitu Andi Malarangeng, Roy Suryo dan Imam Nahrawi. Pada masa Andi Malarangeng, Indonesia nyaris terkena sanksi akibat perebutan kekuasaan PSSI antara Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie. Bahkan waktu itu mantan Menpora, Adyaksa Dault sempat turun gunung untuk menawarkan diri sebagai perantara damai kedua pihak, karena ia berharap sepak bola di Indonesia tidak terkena Sanksi FIFA. Patut disyukuri bahwa akhirnya Indonesia tidak diberi sanksi oleh FIFA pada waktu itu. Kemudian masuk pada masa Roy Suryo, sepakbola indonesia tidak juga membaik prestasi-prestasinya, praktis hanya Evan Dimas dan kawan-kawan melalui AFF U-19 yang sedikit memberikan hiburan bagi pecinta sepakbola Indonesia, bukan hanya karena piala yang berhasil mereka boyong, namun juga karena penampilan menjanjikan anak asuh Indra Sjafri tersebut. Sayangnya semangat Evan Dimas dan kawan-kawannya tidak mampu membuka mata para elite PSSI, pada masa itu perseteruan kembali memanas antara La Nyala Mataliti, dan Jhohar Arifin . Keduanya berebut pucuk pimpinan PSSI. Namun pada waktu itu Roy Suryo berhasil mendamaikan dan setidaknya memberikan angin kondusif terhadap sepakbola Indonesia.
Namun
Petaka tidak bisa dielakan saat ini, dimana Imam Nahrawi menjabat menpora, alih
alih membela Arema Malang dan Persebaya Surabaya yang tidak lolos oleh verifikasi
BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) untuk berlaga di Liga Super
Indonesia (LSI). PSSI pimpinan LaNyala Mattaliti justru membawa sepakbola
kedalam arus perseteruan baru dengan Menpora. Imam Nahrawi menganggap PSSI
sudah tidak bisa mengurusi sepakbola di Indonesia, dan menganggap harus ada
tindakan segera untuk memperbaiki situasi. Maka dari itu dibekukanlah PSSI dan
dibentuklah Tim Transisi. Dan akhirnya sanksi FIFA pun jatuh kepada Indonesia.
***
Jika
kita lihat, animo masyarakat terhadap sepakbola di Indonesia sangat tinggi,
basis supporter club sepak bola di Indonesia tidak kalah militan dengan pada
hooligan di tanah Britania, club –club Indonesia seperti Persib Bandung,
Persija Jakarta, Persipura Papua, Arema Malang, dan Sriwijaya FC memiliki fans
base yang sangat loyal. Bahkan Bobotoh (sebutan untuk supporter persib) tidak
hanya ada di Kota Kembang Bandung, namun menyebar di seluruh Indonesia. Begitu
pula Jakmania yang setia mendukung Persija Jakarta, Aremania dengan Arema
Malang nya, dan tentu saja Bonek-nya Persebaya Surabaya. Mereka tidak hanya ada
di kota-kota tempat asal club, namun menyebar di seluruh Indonesia. Yang paling
penting adalah militansi dan loyalitas mereka luar biasa, mereka akan datang ke
kota manapun tempat club melakukan pertandingan. Dengan jumlah mereka yang mencapai
puluhan ribu, jika bisa dikelola dengan ciamik, tentu akan sangat potensial
untuk kemajuan sepakbola. Penjualan tiket pertandingan, dan penjualan marchendaise
club saja mungkin sudah bisa menutupi baiaya operasional club, ditambah lagi dengan
ketertarikan sponsor.
Namun
sayangnya peluang ini dianggap tidak lebih penting dari berebut kekuasaan PSSI,
mereka mengabaikan rasa cinta masyaraakat terhadap olehraga kulit bundar ini,
mereka lupa bahwa sepakbola tanpa supporter seperti masak sayur tanpa garam,
akan menjadi hambar, tidak ada euphoria, emosi didalamnya. Itulah kenapa
supporter dinamakan pemain ke dua belas. Namun dipihak lain, kabar bahagia menyeruak
di sela-sela keributan ini, ranking Indonesia di peringkat FIFA mengalami
kenaikan dan kini berada di peringkat 155 peringkat ini naik 4 tingkat jika
dibandingkan dengan rangking Indonesia di FIFA pada bulan februari lalu yaitu
159 , hal ini dirilis FIFA pda Kamis (4/6). Publik menjadi bertanya-tanya
bagaimana bisa sebuah negara yang dalam kurun 5 tahun terakhir selalu ribut dan
minim prestasi namun peringkat di FIFA bisa naik. Mungkin juga public
menduga-duga bahwa naiknya peringkat FIFA ini lantaran disuap oleh Indonesia,
hal ini lantara FIFA saat ini sedang dihadapkan dengan kasus korupsi yang melibatkan
beberapa petingginya. Peringkat 155 bukanlah peringkat yang bisa dibanggakan
dengan membusungkan dada lebar-lebar. Apa gunanya peringkat jika pengelolaan
sepak bolanya masih amburadul. Sejatinya sepakbola itu bukan tentang peringkat,
namun tentang kesenangaan, tentang kesetaraan, dimana kita bisa melupakan
permasalahan hidup dalam 90 menit dan berteriak bersama penuh semangat dan
kesenagan saat Valentino Simanjuntak, sang pembawa acara bola itu berteriak.
”Jebreeeetttt…..Jebreeeettt….Goallllll……!!!!”(*)
(*)Yoga Triono


0 komentar: