Berbincang
Sejak
setahun lalu, kereta api adalah mode transportasi favorit saya untuk berpergian
jarak jauh, waktu itu saya pergi ke Pulau bali dari Kota Pekalongan menggunakan
kereta api. Sejak itu pulalah saya merasa jatuh cinta dengan moda transportasi
masal tersebut. Banyak yang mengatakan bahwa lebih murah menggunakan bis antar
kota atau antar provinsi jika ingin perjalan jauh. Namun bagi saya perjalan
jauh tidak melulu soal harga, namun juga kenyamanan, dan bagi saya kereta api
lebih nyaman dan lebih tepat waktu dari alat transportasi bis. Walaupun demikian
saya juga tidak memilih menggunakan pesawat walaupun pesawat menyediakan
kenyamanan yang lebih dibandingkan kereta api. Sebab selain harganya yang mahal
bagi saya, menggunakan pesawat bagi saya, menjadikan perjalan menjadi sekedar
perpindahan lokasi saja. Padahal menurut saya sebuah perjalanan adalah sebuah
proses perpindahan, dalam proses itulah banyak terdapat hal-hal atau
momen-momen istimewa. Oleh karena itulah mode kereta api menjadi favorit bagi
saya.
Dengan
sekitar 160 orang dalam satu gerbong, kita bisa memperhatikan berbagai kondisi
masyarakat secara lebih real. Berinteraksi satu sama lain di dalam kereta
adalah sebuah kenikmatan yang jarang bisa didapat di mode transportasi lain.
Mulai dari perbincangan basa-basi, yang hanya menanyakan tujuan dan asal.
Sampai obrolan yang lumayan serius dan menyangkut hal-hal yang bersifat lebih
privat, semisal pekerjaan, keluarga, dan pengalaman hidup. Uniknya sebagaian
besar perbincangan tersebut dilakukan tanpa tahu nama dari lawan bicara kita. Saya
menyebutnya sebuah kearifan local perkerata apian. Sering saya menemui orang
yang kemudian berbicang panjang lebar hampir tiga jam, dan saya baru mengetahui
namanya saat orang tersebut akan turun kereta. Bahkan seringkali sampai orang
tersebut turun keretapun saya tidak tahu namanya. Padahal sudah ngobrol ngalor ngidul dengan akrabnya.
Perjalan
terakhir saya beberapa waktu yang lalu, adalah perjalanan 12 jam dari Stasiun Banyuwangi
Baru menuju Stasiun Lempuyangan Jogja. Dengan menggunakan kereta api Sri
Tanjung, berangkatlah saya dari Banyuwangi pukul setengah tujuh pagi. Hitungan
saya selama 12 jam perjalan tersebut saya melakukan obrolan dengan beberapa
orang yang tentu saja saya tidak kenal. Kami akrab bercanda tertawa, namun saya
tidak tahu nama mereka. Namun ada satu orang, yang mana orang ini berbincang
dengan saya cukup lama, dan dari perbincangan tersebut saya tahu, bahwa orang
tersebut kerja di Bali, keluargaanya di Jawa, lalu dia bercerita mengenai
keluarganya, mengenai pekerjaannya, dan dia mengajak saya untuk mengunjunginya
saat nanti sudah di Bali lagi. Padahal saya tidak tahu namanya, dan dia pun
tidak tahu nama saya. Sebuah hubungan interaksi yang murni berdasar pada
kebutuhan untuk bersosialisasi tanpa kepentingan apapun, Sebuah naluri tulus
dan penuh kepercayaan dari menusia dengan sesama manusia. Walaupun mungkin agak
naïf jika mengeneralisir bahwa semua orang yang naik kereta api itu baik, namun
apa yang saya alami memang murni kebutuhan manusia untuk berinteraksi.
Sesampainya
di Jogja, saya menyadari satu hal, bahwa perbincangan bukan perkara situasi dan
kondisi namun perkara mau atau tidak mau. Sederhananya demikian; jika di dalam
kereta api, kita melakukan perbincangan karena situasi kondisinya mengharuskan
demikian, walaupun ada unsure kemauan disitu. Namun di jalanan Jogja saya
temukan bahwa perbincangan itu soal mau atau tidak. Mungkin bagi sebagaian orang hal itu sepele
dan tidak penting, namun disadari atau tidak, pada zaman yang demikian autis
terhadap gadget ini, Kegiatan berbincang atau ngobrol adalah sebuah ritual
penting untuk menjaga kewarasan manusia. Dan dijalan jogja saya temukan itu.
Kota
Jogja memang tidak pernah menjadi bagian dari perjalan hidup saya, saya tidak
pernah tinggal lebih dari 2 minggu di kota gudeg itu, namun saya tidak bisa
menyangkal bahwa kota ini memberikan homing
feeling, ada semacam perasaan nyaman serasa di rumah yang tidak saya
temukan di kota lain. Selama satu hari satu malam saya berjalan kaki di kota
tersebut. Perbincangan demi perbincangan dengan orang-orang di jalan, mulai
dari tukang parkir, tukang becak, dan yang lainnya. Ada semacam aliran oksigen
baru masuk dalam celah-celah otak saya untuk setiap perbincangan yang saya
lakukan. Perbincangan bisa memberikan kebahagiaan, perbincangan adalah
perlakukan paling manusiawi dan paling memuliakan kepada sesama manusia.
Bahkan
saat Allah menciptakan Adam di Surga, Allah juga menciptakan hawa, supaya Adam
bisa ngobrol, berbincang, berbagi dengan Hawa. Jadi sesungguhkan manusia
seutuhnya adalah manusia yang menjalankan fitrahnya sebagai makhluk sosial. Namun
mahluk sosial bukan mahluk yang memiliki media sosial semacam Facebook dan
Twitter untuk bersosialisasi. Namun mahluk yang berinteraksi dengan bahasa verbal,
gesture maupun interaksi lain. Perhatikan saja, saat ini manusia mudah sekali
depresi, mudah sekali menjadi labil. Hal ini bukan karena masalah yang berat
yang membebani mereka. Namun mereka tidak menuruti fitrah tubuhnya untuk
berinteraksi, untuk berbicara dengan sesama manusia, untuk berbicang bincang,
untuk ngobrol, untuk berbagi. Jadi biar
anda tetap waras, mulai sekarang letakkan handphone anda, dan mulailah
berkenalan dengan orang di sebalah anda dan berbincanglah.

Saya suka tulisan anda ini bang, ketika saya membacanya saya merasa bahwa saya juga pernah mengalami hal tersebut. Bertemu beberapa orang yang tidak dikenal lalu bercerita panjang lebar, tanpa disadari bahwa saya dan beberapa orang tersebut tidak berkenalan terlebih dahulu,, itu menyenangkan.. hehhee...
BalasHapusmenyenangkan ya,,
BalasHapusitu bukti bahwa secara naluriah,manusia memang memerlukan orang lain untuk tetap menjadi "manusia"