Berbincang

18.30 lewatengah 2 Comments

Sejak setahun lalu, kereta api adalah mode transportasi favorit saya untuk berpergian jarak jauh, waktu itu saya pergi ke Pulau bali dari Kota Pekalongan menggunakan kereta api. Sejak itu pulalah saya merasa jatuh cinta dengan moda transportasi masal tersebut. Banyak yang mengatakan bahwa lebih murah menggunakan bis antar kota atau antar provinsi jika ingin perjalan jauh. Namun bagi saya perjalan jauh tidak melulu soal harga, namun juga kenyamanan, dan bagi saya kereta api lebih nyaman dan lebih tepat waktu dari alat transportasi bis. Walaupun demikian saya juga tidak memilih menggunakan pesawat walaupun pesawat menyediakan kenyamanan yang lebih dibandingkan kereta api. Sebab selain harganya yang mahal bagi saya, menggunakan pesawat bagi saya, menjadikan perjalan menjadi sekedar perpindahan lokasi saja. Padahal menurut saya sebuah perjalanan adalah sebuah proses perpindahan, dalam proses itulah banyak terdapat hal-hal atau momen-momen istimewa. Oleh karena itulah mode kereta api menjadi favorit bagi saya.
Dengan sekitar 160 orang dalam satu gerbong, kita bisa memperhatikan berbagai kondisi masyarakat secara lebih real. Berinteraksi satu sama lain di dalam kereta adalah sebuah kenikmatan yang jarang bisa didapat di mode transportasi lain. Mulai dari perbincangan basa-basi, yang hanya menanyakan tujuan dan asal. Sampai obrolan yang lumayan serius dan menyangkut hal-hal yang bersifat lebih privat, semisal pekerjaan, keluarga, dan pengalaman hidup. Uniknya sebagaian besar perbincangan tersebut dilakukan tanpa tahu nama dari lawan bicara kita. Saya menyebutnya sebuah kearifan local perkerata apian. Sering saya menemui orang yang kemudian berbicang panjang lebar hampir tiga jam, dan saya baru mengetahui namanya saat orang tersebut akan turun kereta. Bahkan seringkali sampai orang tersebut turun keretapun saya tidak tahu namanya. Padahal sudah ngobrol ngalor ngidul dengan akrabnya.
Perjalan terakhir saya beberapa waktu yang lalu, adalah perjalanan 12 jam dari Stasiun Banyuwangi Baru menuju Stasiun Lempuyangan Jogja. Dengan menggunakan kereta api Sri Tanjung, berangkatlah saya dari Banyuwangi pukul setengah tujuh pagi. Hitungan saya selama 12 jam perjalan tersebut saya melakukan obrolan dengan beberapa orang yang tentu saja saya tidak kenal. Kami akrab bercanda tertawa, namun saya tidak tahu nama mereka. Namun ada satu orang, yang mana orang ini berbincang dengan saya cukup lama, dan dari perbincangan tersebut saya tahu, bahwa orang tersebut kerja di Bali, keluargaanya di Jawa, lalu dia bercerita mengenai keluarganya, mengenai pekerjaannya, dan dia mengajak saya untuk mengunjunginya saat nanti sudah di Bali lagi. Padahal saya tidak tahu namanya, dan dia pun tidak tahu nama saya. Sebuah hubungan interaksi yang murni berdasar pada kebutuhan untuk bersosialisasi tanpa kepentingan apapun, Sebuah naluri tulus dan penuh kepercayaan dari menusia dengan sesama manusia. Walaupun mungkin agak naïf jika mengeneralisir bahwa semua orang yang naik kereta api itu baik, namun apa yang saya alami memang murni kebutuhan manusia untuk berinteraksi.
Sesampainya di Jogja, saya menyadari satu hal, bahwa perbincangan bukan perkara situasi dan kondisi namun perkara mau atau tidak mau. Sederhananya demikian; jika di dalam kereta api, kita melakukan perbincangan karena situasi kondisinya mengharuskan demikian, walaupun ada unsure kemauan disitu. Namun di jalanan Jogja saya temukan bahwa perbincangan itu soal mau atau tidak.  Mungkin bagi sebagaian orang hal itu sepele dan tidak penting, namun disadari atau tidak, pada zaman yang demikian autis terhadap gadget ini, Kegiatan berbincang atau ngobrol adalah sebuah ritual penting untuk menjaga kewarasan manusia. Dan dijalan jogja saya temukan itu.
Kota Jogja memang tidak pernah menjadi bagian dari perjalan hidup saya, saya tidak pernah tinggal lebih dari 2 minggu di kota gudeg itu, namun saya tidak bisa menyangkal bahwa kota ini memberikan homing feeling, ada semacam perasaan nyaman serasa di rumah yang tidak saya temukan di kota lain. Selama satu hari satu malam saya berjalan kaki di kota tersebut. Perbincangan demi perbincangan dengan orang-orang di jalan, mulai dari tukang parkir, tukang becak, dan yang lainnya. Ada semacam aliran oksigen baru masuk dalam celah-celah otak saya untuk setiap perbincangan yang saya lakukan. Perbincangan bisa memberikan kebahagiaan, perbincangan adalah perlakukan paling manusiawi dan paling memuliakan kepada sesama manusia.
Bahkan saat Allah menciptakan Adam di Surga, Allah juga menciptakan hawa, supaya Adam bisa ngobrol, berbincang, berbagi dengan Hawa. Jadi sesungguhkan manusia seutuhnya adalah manusia yang menjalankan fitrahnya sebagai makhluk sosial. Namun mahluk sosial bukan mahluk yang memiliki media sosial semacam Facebook dan Twitter untuk bersosialisasi. Namun mahluk yang berinteraksi dengan bahasa verbal, gesture maupun interaksi lain. Perhatikan saja, saat ini manusia mudah sekali depresi, mudah sekali menjadi labil. Hal ini bukan karena masalah yang berat yang membebani mereka. Namun mereka tidak menuruti fitrah tubuhnya untuk berinteraksi, untuk berbicara dengan sesama manusia, untuk berbicang bincang, untuk ngobrol, untuk berbagi.  Jadi biar anda tetap waras, mulai sekarang letakkan handphone anda, dan mulailah berkenalan dengan orang di sebalah anda dan berbincanglah.

You Might Also Like

2 komentar:

  1. Saya suka tulisan anda ini bang, ketika saya membacanya saya merasa bahwa saya juga pernah mengalami hal tersebut. Bertemu beberapa orang yang tidak dikenal lalu bercerita panjang lebar, tanpa disadari bahwa saya dan beberapa orang tersebut tidak berkenalan terlebih dahulu,, itu menyenangkan.. hehhee...

    BalasHapus
  2. menyenangkan ya,,
    itu bukti bahwa secara naluriah,manusia memang memerlukan orang lain untuk tetap menjadi "manusia"

    BalasHapus