Wikarna, Mereka Semakin Jujur
Wikarna,
bagaimana kabarmu sahabatku? apakah kau masih suka berceloteh hingga subuh seperti
yang biasa kau lakukan ketika otakmu terbakar oleh ketidakadilan? semoga hal
itu tidak terlalu sering ya Wikarna. Bukannya aku melarangmu untuk menyuarakan
diri sahabat, namun jika kau terus berceloteh hingga pagi, hal itu tidak baik
untuk kesehatanmu. Selain itu, semakin jarang kau berceloteh, artinya semakin
sedikit ketidakadilan yang kau temukan,
bukan begitu kawan ku Wikarna?
Wikarna,
masih ingat surat yang kutulis untukmu
mengenai celotehanmu waktu subuh itu. (surat itu berjudul, “Ini Masih Subuh
Wikarna” di posting di blog ini). Kemarin aku membaca kembali surat itu. Dan
itu mengingatkan aku akan betapa keras kepala kau ini kawan. Dan sepertinya aku
harus menceritakan kondisi terbaru negeriku kawan. Biar kau tidak terlalu
keras kepala lagi. Biar kau membuka mata
bahwa kita tinggal di dunia yang tidak sempurna. Maka tidak perlu terlalu
menuntut kesempurnaan baik dari system maupun dari pemimpin Wikarna.
Wikarna,
negeriku akhir-akhir ini sedang gaduh. Ada anggota parlemen yang di pecat partai, isu resuffle yang berujung pada rebutan kursi menteri, ada
duta besar yang rasis, ada orang yang disandra perompak, ada anggota DPRD ibu
kota yang dicokok KPK, dan masih banyak
lagi. Nanti akan kuceitakan satu-satu kawan. Biar kau sadar, tidak usahlah
terlalu keras kepala menyikap ketidakadilan. Karena sesungguhkan ketidakadilan
itu perlu Wikarna, agar para pahlawan
melakukan keahlian mereka yakni menegakkan keadilan. Seperti halnya maling itu
harus ada agar polisi bisa menangkapnya, dan koruptor itu ada bisa KPK bisa
beraksi. Lha kalau sebuah negeri tidak ada maling dan koruptor, nanti banyak
pengangguran, bukan begitu Wikarna?
Wikarna,
aku sebenarnya juga tidak terlalu perduli kawan. Sekali lagi aku menceritakan
ini kepadamu bukan karena aku peduli pada mereka, namun aku peduli kepada mu
kawan, ya kepadamu. Perseten dengan mereka. Dalam zaman apapun, mulai dari
zaman Plato hingga nanti cicitnya Pak Beye jadi Presiden, manusia seperti mereka akan tetap ada. Abu Jahal dan Abu
lahab akan terus menitis pada mereka kawan. Lalu kau mau apa? Mengutuk?
Mengkritik?, sampai nanti mulutmu membusuk, manusia jenis mereka juga akan
tetap ada. Entah siapa selanjutnya yang akan menjalani peran sebagai mereka,
bisa saja suatu saat aku juga menjadi kelompok mereka karena aku juga buka Resi
Wyasa yang suci itu.
Wikarna,
yang membuatku khawatir sebenarnya bukan tentang ketidakadilannya kawan, namun sikap
jujur mereka. Ketidakadilan adalah suatu keniscayaan yang lumrah, namun sikap
jujur dalam melakukan ketidakadilan itulah yang menurutku berbahaya kawan.
Meraka tidak lagi punya malu untuk melakukan ketidakadilan, mereka tidak malu
untuk berbohong. Bagaimana bisa, sebuah partai dengan jujur, terang-terangan
berebut kursi jabatan menteri di pemerintahan.
Padahal masyarakatnya masih banyak yang makan sehari sekali atau dua kali?.
Betul kawanku Wikarna, tidak salah memang meminta jatah menteri, tapi seyogyanya
tidak secara jujur terang-terangan begitu. Apa tidak malu? Kan masih ada msyarakat.
Wikarna,
Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kita harus mengapresiasi atau miris
dengan sikap jujur itu? Aku tahu kau pasti akan menjawab, “kedua-duanya”. Ah
dasar kau, paling pintar berlagak bagai filsuf, padahal ilmumu baru sedikit.
Haha.. Baiklah, kuterima jawabanmu kawan. Aku juga agak sependapat. Jujur yang
dilakukan pada kasus Zaskia Gotik, itu loh pedangdut yang bahenol itu kawan, masak kau tidak tau. Pada kasus tersebut,memang
patut diapresiasi, karena mamang Mbk Zaskia yang bahenol itu benar-benar tidak tahu mengenai pancasila. Namun kalau
kasusnya adalah rebutan kursi Menteri Desa, ya dilarang diapresiasi. Mengapa?
Coba kau baca berita di kompas dot com yang judul nya “ Muhaimin tidak terima
kursi desa di incar”. Dan berita-berita yang terkait. Itu memalukan sekali
kawan. Kata guru ngajiku dulu: jabatan itu amanah, jadi tidak boleh gila
jabatan.
Wikarna,
tindakan salah walaupun kejujuran tetap saja salah kan Wikarna? Iya kan? Aku
tidak bisa memberikan analogi Wikarna, tapi aku yakin kau memahami
pertanyaanku itu. Ah, sudahlah yang penting kau sudah mengerti maksutku. Jadi
mulai sekarang tidurlah diawal waktu,
jangan bergadang sampai subuh hanya untuk
mengutuk keadaan. Berhentilah untuk bicara yang tidak-tidak mengenai kondisi
negerimu itu. Tidak ada yang mau mendengarkanmu. Kalau kau masih belum bisa
tidur, belilah dan minumlah segelas susu hangat dan makanlah roti empuk. Tidak,
tidak kawan. Minum susu hangat dan makan roti tidak akan membuatmu serta merta
menjadi seperti mereka dan pro Amerika. Baiklah, kalau kau masih tidak mau, Makan saja singkong bakar dan ketela rebus. Itu lebih sesuai dengan
prinsip kerakyatan yang katamu mulia itu, ciih…
Ya
sudah sahabatku Wikarna, semoga kau
tetap diberi kesehatan.
Salam icik-icik
burung-burung

0 komentar: