Wikarna, Mereka Semakin Jujur

08.13 lewatengah 0 Comments

Wikarna, bagaimana kabarmu sahabatku? apakah kau masih suka berceloteh hingga subuh seperti yang biasa kau lakukan ketika otakmu terbakar oleh ketidakadilan? semoga hal itu tidak terlalu sering ya Wikarna. Bukannya aku melarangmu untuk menyuarakan diri sahabat, namun jika kau terus berceloteh hingga pagi, hal itu tidak baik untuk kesehatanmu. Selain itu, semakin jarang kau berceloteh, artinya semakin sedikit ketidakadilan yang kau  temukan, bukan begitu kawan ku Wikarna?
Wikarna, masih ingat surat yang kutulis  untukmu mengenai celotehanmu waktu subuh itu. (surat itu berjudul, “Ini Masih Subuh Wikarna” di posting di blog ini). Kemarin aku membaca kembali surat itu. Dan itu mengingatkan aku akan betapa keras kepala kau ini kawan. Dan sepertinya aku harus menceritakan kondisi terbaru negeriku kawan. Biar kau tidak terlalu keras  kepala lagi. Biar kau membuka mata bahwa kita tinggal di dunia yang tidak sempurna. Maka tidak perlu terlalu menuntut kesempurnaan baik dari system maupun dari pemimpin Wikarna.
Wikarna, negeriku akhir-akhir ini sedang gaduh. Ada anggota parlemen yang di pecat  partai, isu resuffle  yang berujung pada rebutan kursi menteri, ada duta besar yang rasis, ada orang yang disandra perompak, ada anggota DPRD ibu kota  yang dicokok KPK, dan masih banyak lagi. Nanti akan kuceitakan satu-satu kawan. Biar kau sadar, tidak usahlah terlalu keras kepala menyikap ketidakadilan. Karena sesungguhkan ketidakadilan itu perlu  Wikarna, agar para pahlawan melakukan keahlian mereka yakni menegakkan keadilan. Seperti halnya maling itu harus ada agar polisi bisa menangkapnya, dan koruptor itu ada bisa KPK bisa beraksi. Lha kalau sebuah negeri tidak ada maling dan koruptor, nanti banyak pengangguran, bukan begitu  Wikarna?
Wikarna, aku sebenarnya juga tidak terlalu perduli kawan. Sekali lagi aku menceritakan ini kepadamu bukan karena aku peduli pada mereka, namun aku peduli kepada mu kawan, ya kepadamu. Perseten dengan mereka. Dalam zaman apapun, mulai dari zaman Plato hingga nanti cicitnya Pak Beye jadi Presiden, manusia seperti  mereka akan tetap ada. Abu Jahal dan Abu lahab akan terus menitis pada mereka kawan. Lalu kau mau apa? Mengutuk? Mengkritik?, sampai nanti mulutmu membusuk, manusia jenis mereka juga akan tetap ada. Entah siapa selanjutnya yang akan menjalani peran sebagai mereka, bisa saja suatu saat aku juga menjadi kelompok mereka karena aku juga buka Resi Wyasa yang suci  itu.
Wikarna, yang membuatku khawatir sebenarnya bukan tentang ketidakadilannya kawan, namun sikap jujur mereka. Ketidakadilan adalah suatu keniscayaan yang lumrah, namun sikap jujur dalam melakukan ketidakadilan itulah yang menurutku berbahaya kawan. Meraka tidak lagi punya malu untuk melakukan ketidakadilan, mereka tidak malu untuk berbohong. Bagaimana bisa, sebuah partai dengan jujur, terang-terangan berebut  kursi jabatan menteri di pemerintahan. Padahal masyarakatnya masih banyak yang makan sehari sekali atau dua kali?. Betul kawanku Wikarna, tidak salah memang meminta jatah menteri, tapi seyogyanya tidak secara jujur terang-terangan begitu. Apa tidak malu?  Kan masih ada msyarakat.
Wikarna, Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kita harus mengapresiasi atau miris dengan sikap jujur itu? Aku tahu kau pasti akan menjawab, “kedua-duanya”. Ah dasar kau, paling pintar berlagak bagai filsuf, padahal ilmumu baru sedikit. Haha.. Baiklah, kuterima jawabanmu kawan. Aku juga agak sependapat. Jujur yang dilakukan pada kasus Zaskia Gotik, itu loh pedangdut yang bahenol itu kawan, masak kau tidak tau. Pada kasus tersebut,memang patut diapresiasi, karena mamang Mbk Zaskia yang bahenol itu benar-benar tidak tahu mengenai pancasila. Namun kalau kasusnya adalah rebutan kursi Menteri Desa, ya dilarang diapresiasi. Mengapa? Coba kau baca berita di kompas dot com yang judul nya “ Muhaimin tidak terima kursi desa di incar”. Dan berita-berita yang terkait. Itu memalukan sekali kawan. Kata guru ngajiku dulu: jabatan itu amanah, jadi tidak boleh gila jabatan.
Wikarna, tindakan salah walaupun kejujuran tetap saja salah kan Wikarna? Iya kan? Aku tidak  bisa memberikan analogi  Wikarna, tapi aku yakin kau memahami pertanyaanku itu. Ah, sudahlah yang penting kau sudah mengerti maksutku. Jadi mulai sekarang tidurlah  diawal waktu, jangan bergadang sampai subuh hanya  untuk mengutuk keadaan. Berhentilah untuk bicara yang tidak-tidak mengenai kondisi negerimu itu. Tidak ada yang mau mendengarkanmu. Kalau kau masih belum bisa tidur, belilah dan minumlah segelas susu hangat dan makanlah roti empuk. Tidak, tidak kawan. Minum susu hangat dan makan roti tidak akan membuatmu serta merta menjadi seperti mereka dan pro Amerika. Baiklah, kalau kau masih  tidak mau, Makan saja singkong bakar  dan ketela rebus. Itu lebih sesuai dengan prinsip kerakyatan yang katamu mulia itu, ciih…
Ya sudah sahabatku Wikarna, semoga  kau tetap diberi kesehatan.
Salam icik-icik burung-burung

You Might Also Like

0 komentar: