Semua Adalah Rumah
Dalam empat hari saya harus melakukan perjalanan dari pulau
bali-Surabaya-Pulau Bali-kediri, sebuah perjalanan yang saya anggap sebagai
perjalanan sepirituil. Bagaimana tidak, dalam empat hari itu saya menemukan
lebih dari selusin teman baru. Karena bagi saya berteman adalah cara paling
ampuh untuk menjaga kewarasan dan juga investasi paling baik setelah
pendidikan. Setelah dua tahun di Bali, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk
kembali ke habitat asli saya di pulau Jawa. Sebagai seorang Javanese tulen, tentu hal ini sangat
menyenangkan, alasannya sederhana sekali, akhirnya saya bisa misuh pakai bahasa
jawa lagi, jiaaancuk tenan….!!, eiits… Jangan salah sangka, saya tidak
javasentris, saya nasionalis tulen, karena NKRI harga mati bung!!
Wilayah yang saya datangi pada kesempatan kali ini adalah
Kota Kediri. Ini adalah kota yang sudah sejak 5-6 tahun lalu saya idamkan untuk
saya datangi. Kediri memang memiliki tempat khusus di hati saya, ini serius,
bukan lips service. Saya ingat betul
lima atau enam tahun lalu, saat masih di Pekalongan, kawan saya banyak
berbicara mengenai kampung inggris Pare, Kediri. Dari cerita mereka, saya
membayangkan suatu daerah yang menjadi surga bagi English Learner, macam saya
pada waktu itu. (Sekarang sudah bukan English Learner, namun Women Learner,
Oopss..!). Namun apa daya, karena kere, saya tidak bisa berkunjug kesana. Namun
saya berdoa diam-diam, ya Allah, Tuhan YME, Negara kok jadi begini
Semoga suatu saat nanti bisa bekerja di Kota Kediri, dan belajar di Pare.
Singkat cerita setelah lima tahun, doa itu sebagaian terkabul. Bisa anda
bayangkan saudara, untuk bisa ke Kediri saja harus menunggu lima tahun. Sungguh
Kediri harusnya berbahagia, seperti wanita yang dikunjungi pujangganya,
Heeewaaah..
Setibanya di Kediri, melalui station Banyuwangi Baru-Stasiun
Surabaya Gubeng-Stasiun Kediri, saya menghirup udara wilayah yang khas dengan
nasi tumpangnya itu. Strategi saya saat pertama kali tiba adalah mencari warung
makan sekitar stasiun. Ada sebuah warung makan yang bersebelahan dengan warung
bakso di pertigaan depan stasiun Kediri. Nama warungnya saya lupa. Namun saya
ingat betul diwarung itu menjual nasi bungkus dengan lauk mie dan telur yang
enak, dan gorengan tahu dengan ukuran jumbo. Saya tahu karena saat itu saya
makan dua porsi nasi, dan dua buah tahu diwarung itu. Dari hasil obrolan di
warung, akhirnya saya ketahui bahwa tempat tujuan saya masih lumayan jauh,
untung saja bapak-bapak diwarung itu menawarkan diri sebagai ojek untuk
mengantar saya. Sekali lagi hal itu membuktikan prinsip, makan banyak membawa kemudahan.
Setelah diantar sampai tempat tujuan dan mencari tempat kos,
saya langsung menggletakan badan begitu saja di kos. Memejamkan mata dan
berharap dian sastro datang dan menawarkan jasa pijat urut. Tak kurang satu
jam, saya dikagetkan dengan suara perut, padahal tadi sudah makan nasi dua
porsi, dasar Wueteng Kuareet!!. Adalah nasi pecel yang menjadi korban kerakusan
saya, padahal seharusnya hari itu saya diet OCD, namun karena perjalanan jauh
saya urungkan diet saya. Biarlah sekali-kali cacing-cacing perut saya ini
merasakan nikmatnya nasi pecel dengan peyek.
Kini sudah dua minggu saya tinggal di Kediri, ada sebuah rasa
nyaman yang menyenangkan. Ada sebuah perasaan dirumah. Kalau anda pernah saat hujan
lebat kemudian anda hujan-hujanan, lalu mandi air hangat dan dilanjutkan minum
kopi dan nyamil pisang goreng. Perasaannya nyamannya satu level dibawah itu.
Yang saya pelajari dari dua minggu ini adalah saat manusia semakin dewasa
umurnya, maka definisi rumah bukan lagi sebuah bangunan, namun kehangatan dan
kenyamanan berada diantara manusia dimanapun mereka berada. Dan bagi saya yang
lebih lama sendiri ditanah orang, maka rumah adalah warung depan stasiun
Kediri, rumah adalah rumah makan mawar dua, rumah adalah warung soto taman pak
tris depan kejaksaan, rumah adalah warung kopi dekat pesantren Al Amin, rumah
ada dimana-mana. Kuncinya cuma satu, jadikan hatimu sebagai rumah pertamamu,
dan berbahagialah.


0 komentar: