Semua Adalah Rumah

16.57 lewatengah 0 Comments


Dalam empat hari saya harus melakukan perjalanan dari pulau bali-Surabaya-Pulau Bali-kediri, sebuah perjalanan yang saya anggap sebagai perjalanan sepirituil. Bagaimana tidak, dalam empat hari itu saya menemukan lebih dari selusin teman baru. Karena bagi saya berteman adalah cara paling ampuh untuk menjaga kewarasan dan juga investasi paling baik setelah pendidikan. Setelah dua tahun di Bali, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk kembali ke habitat asli saya di pulau Jawa. Sebagai seorang Javanese tulen, tentu hal ini sangat menyenangkan, alasannya sederhana sekali, akhirnya saya bisa misuh pakai bahasa jawa lagi, jiaaancuk tenan….!!, eiits… Jangan salah sangka, saya tidak javasentris, saya nasionalis tulen, karena NKRI harga mati bung!!

Wilayah yang saya datangi pada kesempatan kali ini adalah Kota Kediri. Ini adalah kota yang sudah sejak 5-6 tahun lalu saya idamkan untuk saya datangi. Kediri memang memiliki tempat khusus di hati saya, ini serius, bukan lips service. Saya ingat betul lima atau enam tahun lalu, saat masih di Pekalongan, kawan saya banyak berbicara mengenai kampung inggris Pare, Kediri. Dari cerita mereka, saya membayangkan suatu daerah yang menjadi surga bagi English Learner, macam saya pada waktu itu. (Sekarang sudah bukan English Learner, namun Women Learner, Oopss..!). Namun apa daya, karena kere, saya tidak bisa berkunjug kesana. Namun saya berdoa diam-diam, ya Allah, Tuhan YME, Negara kok jadi begini Semoga suatu saat nanti bisa bekerja di Kota Kediri, dan belajar di Pare. Singkat cerita setelah lima tahun, doa itu sebagaian terkabul. Bisa anda bayangkan saudara, untuk bisa ke Kediri saja harus menunggu lima tahun. Sungguh Kediri harusnya berbahagia, seperti wanita yang dikunjungi pujangganya, Heeewaaah..

Setibanya di Kediri, melalui station Banyuwangi Baru-Stasiun Surabaya Gubeng-Stasiun Kediri, saya menghirup udara wilayah yang khas dengan nasi tumpangnya itu. Strategi saya saat pertama kali tiba adalah mencari warung makan sekitar stasiun. Ada sebuah warung makan yang bersebelahan dengan warung bakso di pertigaan depan stasiun Kediri. Nama warungnya saya lupa. Namun saya ingat betul diwarung itu menjual nasi bungkus dengan lauk mie dan telur yang enak, dan gorengan tahu dengan ukuran jumbo. Saya tahu karena saat itu saya makan dua porsi nasi, dan dua buah tahu diwarung itu. Dari hasil obrolan di warung, akhirnya saya ketahui bahwa tempat tujuan saya masih lumayan jauh, untung saja bapak-bapak diwarung itu menawarkan diri sebagai ojek untuk mengantar saya. Sekali lagi hal itu membuktikan prinsip, makan banyak membawa kemudahan.

Setelah diantar sampai tempat tujuan dan mencari tempat kos, saya langsung menggletakan badan begitu saja di kos. Memejamkan mata dan berharap dian sastro datang dan menawarkan jasa pijat urut. Tak kurang satu jam, saya dikagetkan dengan suara perut, padahal tadi sudah makan nasi dua porsi, dasar Wueteng Kuareet!!. Adalah nasi pecel yang menjadi korban kerakusan saya, padahal seharusnya hari itu saya diet OCD, namun karena perjalanan jauh saya urungkan diet saya. Biarlah sekali-kali cacing-cacing perut saya ini merasakan nikmatnya nasi pecel dengan peyek.


Kini sudah dua minggu saya tinggal di Kediri, ada sebuah rasa nyaman yang menyenangkan. Ada sebuah perasaan dirumah. Kalau anda pernah saat hujan lebat kemudian anda hujan-hujanan, lalu mandi air hangat dan dilanjutkan minum kopi dan nyamil pisang goreng. Perasaannya nyamannya satu level dibawah itu. Yang saya pelajari dari dua minggu ini adalah saat manusia semakin dewasa umurnya, maka definisi rumah bukan lagi sebuah bangunan, namun kehangatan dan kenyamanan berada diantara manusia dimanapun mereka berada. Dan bagi saya yang lebih lama sendiri ditanah orang, maka rumah adalah warung depan stasiun Kediri, rumah adalah rumah makan mawar dua, rumah adalah warung soto taman pak tris depan kejaksaan, rumah adalah warung kopi dekat pesantren Al Amin, rumah ada dimana-mana. Kuncinya cuma satu, jadikan hatimu sebagai rumah pertamamu, dan berbahagialah.

You Might Also Like

0 komentar: