Budi Harus Bagaimana?
Pagi itu si Budi tidak seperti
biasanya, dia bangun lebih awal. Setelah selesai beribadah. Budi keluar dan
berjalan-jalan santai di depaan rumahnya sambil menyapa tetangga. Sebagai anak
muda kekinian, tidak lupa budi membawa serta gawainya yang seharga jutaan
rupiah. Namun kondisi jalanan pada waktu itu penuh dengan sampah daun-daun yang
gugur akibat hujan deras semalam….
Jika dalam kasus budi tersebut,
hanya ada dua pilihan yang harus dipilih oleh Budi, yaitu; Pertama adalah,
bermain gawai dan men-share berita mengenai LGBT, Syiah, Remason, Amerika,
Wahyudi, dan kawan-kawannya dengan caption; Astagfirullah, Sebarkan biar pada
tahu, dan sebaginya. Kedua, Budi simpan gawainya di saku celana dan mengambil
sapu, serta mulai menyapu sampah daun di depan rumahnya. Dalam koridor
pemikiran kita yang paling ideal yang harus dilakukan oleh Budi kira-kira
pilihan pertama atau kedua? Silahkan difikirkan terlebih dahulu.
Kondisi yang dialami Budi itu
bukanlah sebuah kondisi fiktif yang mengada-ada, itu adalah kondisi yang
terjadi pada sebagaian besar dari kita. Kita seringkali berada pada titik harus
memilih antara melakukan “kebaikan” di dunia sosial media, atau melakukan
kebaikan di dunia nyata. Sebuah ironi tersendiri bagi manusia semi modern dan
semi cerdas seperti kita.
Dunia soiasl media atau biasa disebut
sebagai dunia maya memag terasa lebih nyata bagi sebagaian dari kita. sosial
media menjadikan kita terlihat pintar, terlihat cerdas, terlihat lebih cantik,
dan terlihat lebih ganteng. Selain itu sosial media adalah tempat paling mudah
untuk menambah pahala, dan menyebarkan kebaikan bagi sebagaian besar manusia.
Bagaimana tidak, hanya dengan me-like dan mengetikan “Aamiin” dalam kolom
komentar gambar ka’bah, anda sudah bias masuk surga. Saya yakin, malaikat Jibril
pun akan senyum-senyum sambil mbatin. “Bodoh kok dipiara, kambing dipiara bisa
gemuk”. Walaupun mungkin dalam hati mereka yang like dan koment terselip sebuah
doa, dan ketulusan. Namun setahu saya tidak ada aturan dalam agama Islam, bahwa
dengan me-like atau mengkomen gambar ka’bah bisa masuk surga.
Lain lagi ladang ibadah bagi
mereka yang mungkin sedikit lebih cerdas daripada mereka yang melakukan hal
diatas. Mereka adalah pahlawan pembawa peringatan bagi umat. Merekalah yang
membagikan laman-laman yang mempunyai judul mengancam umat, dengan menambahkan
caption “Sebarkan, biar semua tahu kalau tentara Israel menembak anak kecil”.
“Sebarkan, Facebook, dan Twitter mendukung LGBT”, “Astagfirullah, ternyata LGBT
sudah mewabah” dan seterusnya. Mereka inilah rantai-rantai informasi yang
belakangan sering disebut sebagai “Clicking Monkey”. Orang-orang ini kebanyakan
hanya membaca judul berita saja, tanpa memahami isi dan kandungan berita yang
disebarkan. Namun kini trennya sedikit bergeser, tidak hanya laman-laman
tersebut, namun status dari seseorang yang dianggap pintar dan isi setatusnya
cenderung tendensius akan segera dibagikan hingga ratusan kali.
Namun sadarkah kita bahwa pada
dasarnnya agen penyebar informasi-informasi yang paling berbahaya adalah
manusia-manusia itu. Pola yang terjadi adalah demikian. Ada laman/status
terkait LGBT Ã Dibagikan dengan caption
“Sebarkan biar semua tahu” Ã disebarkan lagi oleh yang lain
dengan caption sama à . Disebarkan lagi à lagi à lagià dan seterunya hingga ratusan. Lalu kemudian orang
yang pertama menyebarkan akan mengatakan “Sekarang ngeri ya, Berita tentang
LGBT dimana-mana”. Yaeaalaaah… kan elu yang nyebarin beritanye tong. Beritanye
suma satu, Cuma disebarin sama elu, jadi banyak deh.
Lalu kemudian, semua pada teriak
gara-gara Facebook memblock dan menghapus beberapa status anak bangsa yang demikian kritis menulis mengenai LGBT. Lalu
perdebatannya berubah topic, dari awalnya adalah LGBT termasuk penyakit atau
bukan, menjadi LGBT disetujui atau tidak, kini menjadi Facebook tidak
memberikan kebebasan berpendapat, Mark Zukerberg tidak demokratis. Bahkan ada
beberapa status yang bernada menantang, dengan adanya tindakan penhapusan dari Facebook,
seakan-akan melegimitasi bahwa apa yang ditulisnya adalah mutlak benar dan
mengajak orang lain untuk menyebarkan ”dakwah”nya. Semakin banyak disebar maka
akan merasa semakin naik IQ nya, akan merasa semakin suci dan semakin berhak
untuk menjadi penyampai pesan kebenaran. Padahal kalau memang berniat untuk
berdakwah melawan LGBT tidak harus melalui Facebook, jadi Kalau kemudian status
dihapus atau akun diblock, tidak usah kebakaran jenggot. Itu kalau benar-benar
ingin berdakwah, kalau cuma ingin yang lain, ya beda lagi.
Tapi bukankah lebih baik jika
kampanye anti LGBT tersebut dilakukan di lingkungan keluarga masing-masing
terlebih dahulu, kemudian kepada tetangga, anaknya tetangga, teman, anaknya
teman dan seterusnya. Mungkin itu lebih baik, dari pada menulis status yang
demikian panjang yang mungkin tidak akan dibaca dengan baik oleh jamaah Facebook.
Tidakkah lebih manusiawi mengkampanyekan LGBT dengan menggandeng mereka yang
tergolong LBGT dan menasehatinya dengan lembut, dari pada harus hujat sana
hujat sini seolah kebenaran itu milik satu orang.
Ngemeng-ngemeng, untuk pertanyaan
mengenai Budi tadi, jawabannya apa? Belum bisa jawab?
Ya sudah tidak apa-apa,
mudah-mudahan Budi memilih melakukan kebaikan menyapu jalanan, dari pada
melakukan kebaikan melalui gawainya.(*)

0 komentar: