Budi Harus Bagaimana?

19.00 lewatengah 0 Comments

Pagi itu si Budi tidak seperti biasanya, dia bangun lebih awal. Setelah selesai beribadah. Budi keluar dan berjalan-jalan santai di depaan rumahnya sambil menyapa tetangga. Sebagai anak muda kekinian, tidak lupa budi membawa serta gawainya yang seharga jutaan rupiah. Namun kondisi jalanan pada waktu itu penuh dengan sampah daun-daun yang gugur akibat hujan deras semalam….

Jika dalam kasus budi tersebut, hanya ada dua pilihan yang harus dipilih oleh Budi, yaitu; Pertama adalah, bermain gawai dan men-share berita mengenai LGBT, Syiah, Remason, Amerika, Wahyudi, dan kawan-kawannya dengan caption; Astagfirullah, Sebarkan biar pada tahu, dan sebaginya. Kedua, Budi simpan gawainya di saku celana dan mengambil sapu, serta mulai menyapu sampah daun di depan rumahnya. Dalam koridor pemikiran kita yang paling ideal yang harus dilakukan oleh Budi kira-kira pilihan pertama atau kedua? Silahkan difikirkan terlebih dahulu.

Kondisi yang dialami Budi itu bukanlah sebuah kondisi fiktif yang mengada-ada, itu adalah kondisi yang terjadi pada sebagaian besar dari kita. Kita seringkali berada pada titik harus memilih antara melakukan “kebaikan” di dunia sosial media, atau melakukan kebaikan di dunia nyata. Sebuah ironi tersendiri bagi manusia semi modern dan semi cerdas seperti kita.  

Dunia soiasl media atau biasa disebut sebagai dunia maya memag terasa lebih nyata bagi sebagaian dari kita. sosial media menjadikan kita terlihat pintar, terlihat cerdas, terlihat lebih cantik, dan terlihat lebih ganteng. Selain itu sosial media adalah tempat paling mudah untuk menambah pahala, dan menyebarkan kebaikan bagi sebagaian besar manusia. Bagaimana tidak, hanya dengan me-like dan mengetikan “Aamiin” dalam kolom komentar gambar ka’bah, anda sudah bias masuk surga. Saya yakin, malaikat Jibril pun akan senyum-senyum sambil mbatin. “Bodoh kok dipiara, kambing dipiara bisa gemuk”. Walaupun mungkin dalam hati mereka yang like dan koment terselip sebuah doa, dan ketulusan. Namun setahu saya tidak ada aturan dalam agama Islam, bahwa dengan me-like atau mengkomen gambar ka’bah bisa masuk surga.

Lain lagi ladang ibadah bagi mereka yang mungkin sedikit lebih cerdas daripada mereka yang melakukan hal diatas. Mereka adalah pahlawan pembawa peringatan bagi umat. Merekalah yang membagikan laman-laman yang mempunyai judul mengancam umat, dengan menambahkan caption “Sebarkan, biar semua tahu kalau tentara Israel menembak anak kecil”. “Sebarkan, Facebook, dan Twitter mendukung LGBT”, “Astagfirullah, ternyata LGBT sudah mewabah” dan seterusnya. Mereka inilah rantai-rantai informasi yang belakangan sering disebut sebagai “Clicking Monkey”. Orang-orang ini kebanyakan hanya membaca judul berita saja, tanpa memahami isi dan kandungan berita yang disebarkan. Namun kini trennya sedikit bergeser, tidak hanya laman-laman tersebut, namun status dari seseorang yang dianggap pintar dan isi setatusnya cenderung tendensius akan segera dibagikan hingga ratusan kali. 

Namun sadarkah kita bahwa pada dasarnnya agen penyebar informasi-informasi yang paling berbahaya adalah manusia-manusia itu. Pola yang terjadi adalah demikian. Ada laman/status terkait LGBT à Dibagikan dengan caption “Sebarkan biar semua tahu” à disebarkan lagi oleh yang lain dengan caption sama à. Disebarkan lagi àlagi à lagià dan seterunya hingga ratusan. Lalu kemudian orang yang pertama menyebarkan akan mengatakan “Sekarang ngeri ya, Berita tentang LGBT dimana-mana”. Yaeaalaaah… kan elu yang nyebarin beritanye tong. Beritanye suma satu, Cuma disebarin sama elu, jadi banyak deh.

Lalu kemudian, semua pada teriak gara-gara Facebook memblock dan menghapus beberapa status anak bangsa yang  demikian kritis menulis mengenai LGBT. Lalu perdebatannya berubah topic, dari awalnya adalah LGBT termasuk penyakit atau bukan, menjadi LGBT disetujui atau tidak, kini menjadi Facebook tidak memberikan kebebasan berpendapat, Mark Zukerberg tidak demokratis. Bahkan ada beberapa status yang bernada menantang, dengan adanya tindakan penhapusan dari Facebook, seakan-akan melegimitasi bahwa apa yang ditulisnya adalah mutlak benar dan mengajak orang lain untuk menyebarkan ”dakwah”nya. Semakin banyak disebar maka akan merasa semakin naik IQ nya, akan merasa semakin suci dan semakin berhak untuk menjadi penyampai pesan kebenaran. Padahal kalau memang berniat untuk berdakwah melawan LGBT tidak harus melalui Facebook, jadi Kalau kemudian status dihapus atau akun diblock, tidak usah kebakaran jenggot. Itu kalau benar-benar ingin berdakwah, kalau cuma ingin yang lain, ya beda lagi.

Tapi bukankah lebih baik jika kampanye anti LGBT tersebut dilakukan di lingkungan keluarga masing-masing terlebih dahulu, kemudian kepada tetangga, anaknya tetangga, teman, anaknya teman dan seterusnya. Mungkin itu lebih baik, dari pada menulis status yang demikian panjang yang mungkin tidak akan dibaca dengan baik oleh jamaah Facebook. Tidakkah lebih manusiawi mengkampanyekan LGBT dengan menggandeng mereka yang tergolong LBGT dan menasehatinya dengan lembut, dari pada harus hujat sana hujat sini seolah kebenaran itu milik satu orang. 

Ngemeng-ngemeng, untuk pertanyaan mengenai Budi tadi, jawabannya apa? Belum bisa jawab?
Ya sudah tidak apa-apa, mudah-mudahan Budi memilih melakukan kebaikan menyapu jalanan, dari pada melakukan kebaikan melalui gawainya.(*)




You Might Also Like

0 komentar: