Sebuah Kegelisahan Mengenai SMS Mr. Tanoe

02.42 lewatengah 0 Comments

Dear Mr Hary Tanoesoedibjo

Sebelumnya maaf pak , saya memanggil Bapak dengan nama “Tanoe” biar beda aja pak, biar tidak mainstream. Sekarang yang tidak mainstream sedang hits. Dalam surat ini saya ingin terlebih dahulu curhat pak. Pada beberapa waktu yang lalu saya bangun kesiangan, dan seperti biasanya, saya langsung cek berita update di gawai saya, saya menemukan berita tentang njenengan yang dilaporkan oleh Mas Yulianto. itu loh pak, Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus. Kabarnya Pak Tanoe dilaporkan karena mengirim sms bernada ancaman kepada Mas Yulianto. Jujur saja saya penasaran dengan isi sms yang katanya mengancam itu. dan setelah mencari, akhirnya saya temukan di salah satu badan berita yang berjudul mengenai kasus Pak Tanoe. Berikut saya cantumkan isi sms itu pak, sekalian mungkin bisa dikonfirmasi kebenarannya.

“Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk politik  antara lain salah satu penyebabnnya mau mamberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya disini, saya pasti jadi pemimpin negeri ini. Disitulah saatnya Indonesia dibersihkan”

Setelah membaca sms tersebut saya pikir Mas Yulianto itu baper sekali. Dalam sms tersebut saya tidak menangkap adanya ancaman sama sekali. Itu kalau dilihat dari sms itu saja loh pak. Mungkin akan berbeda jika dilihat dari sms-sms sebelumnya, karena interpretasi makna sms yang satu itu bisa berubah, jika melihat konteks pembicaraan pada sms-sms sebelumnya. Namun karena saya tidak melihat sms-sms sebelumnya maka saya akan menanggapi sms yang itu saja. Menurut saya, kalau Mas Yulianto bukan seorang penegak hukum yang semena-mena, transaksional, dan suka abuse of power, maka tidak perlu merasa terancam dengan isi sms tersebut,  soalnya yang mau Pak Tanoe berantas  yang suka semena-mena transaksional, dan abuse of power. Sampai disini terlihat sekali, Mas Yulianto ini baperan, mungkin Mas Yulianto ini jarang kena PHP ya pak, berbeda dengan Pak Tanoe, yang sudah malang melintang dalam kasus PHP politik, terutama di PHP kawan sendiri (red-Wiranto) wah, itu mak jleb sekali. Jadi mohon maklumlah pak, Mas Yulianto ini fakir PHP, mungkin alih-alih menjadi lawan dipersidangan nanti, Pak Tanoe bisa memberikan tips pada Mas Yulianto untuk menghadapi PHP, seperti dengan mengimbuhkan hestek #AkuKuduTegar. Sehingga Mas Yulianto tidak baper, dan main lapor-lapor saja.

Tapi menanggapi isi sms Pak Tanoe tadi, saya sungguh sangat terharu, ternyata masih ada orang di negeri ini yang memiliki kemuliaan hati dan tujuan seperti Pak Tanoe. Pak Tanoe ingin memberantas para penegak hukum yang culas itu dan membersihkan Indonesia, sungguh sebuah tujuan yang amat sangat mulia, sebuah optimisme yang wajib hukumnya diteladani oleh segenap pemuda dan pemudi di kolong langit Nusantara, baik yang LGBT, liberal, Sunni,  Syiah, Jomblo, dan yang Alay. Bahwa sesungguhnya apapun pandangan hidup kita, cara fikir kita, dan seberapa seringpun kita di PHP, baik oleh pemerintah, maupun oleh gebetan, tujuan kita hendaklah satu, yaitu membersihkan Indonesia dari bromocorah-bromocorah dan begundal-begundal hukum itu.

Namun, saya jadi teringat sebuah cerita mengenai orang yang ingin merubah dunia. Syahdan, ada seseorang yang baik ingin merubah dunia, setelah berjuang sekian tahun ternyata tidak berhasil, maka dia pikir mungkin akan lebih mudah jika mengubah negara saja, namun setelah berjuang bertahun-tahun ternyata gagal juga, belum menyerah, ia bertekad untuk merubah desa tempat tinggalnya, namun kembali gagal. Hingga diujung ajalnya, dia menyadari, bahwa kita tidak bisa merubah hal besar disekitar kita, jika kita belum bisa merubah diri kita dan lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga. Lalu apa hubungannya dengan cita-cita mulia Pak Tanoe, tentu ada hubungannya, demikian saya ceritakan: Cita-cita perubahan untuk negeri ini yang Pak Tanoe impikan itu sungguh sangat mulia, namun mungkin sebelum sampai ditingkatan itu, Pak Tanoe lakukan dulu perubahan-perubahan kecil di lingkungan Pak Tanoe, contohnya stasiun televisi milik Pak Tanoe itu kan sering menayangkan acara-acara yang menurut saya sampah pak, sinetron-sinetron yang tidak mengandung nilai-nilai edukasi, dan banyak hal lainnya. Saran saya coba Pak Tanoe ubah dulu itu, kalau Pak Tanoe berhasil mengubah itu menjadi lebih baik, niscaya saya doakan Pak Tanoe mampu mengubah negeri ini.

Sesungguhnya politik dan sosial itu tidak bisa dipisahkan pak, kalau Pak Tanoe terjun ke politik lalu abai terhadap konten televisi Pak Tanoe, itu salah. Sebab saat ini pemegang kontrol sosial adalah media, dan televisi menjadi media yang paling mampu melakukan kontrol sosial. Jadi kalau Pak Tanoe menjadi presiden dan sekaligus menjadi bos media, tentu Pak Tanoe menjadi raja-diraja di negeri yang masyarakatnya gampang sekali dibentuk opininya melalui media.

Tapi terakhir, saya ingin meminta maaf sama njenangan,  maaf loh ini, bukannya su’udzon, saya cuma mencoba manganalisis dari gambaran besar kasus Pak Tanoe dan Mas Yulianto. Saya merasakan ada kejanggalan. Jangan-jangan ini cara Pak Tanoe berkampanye, mencitrakan diri dengan menunjukan sms yang berisi semacam visi-misi tersebut. Bukan tanpa alasan, soalnya ide kampanye Pak Tanoe ini banyak sekali, dan jarang disadari oleh banyak orang. Seperti saat Pak Tanoe menggelar Miss World, kemudian adanya kuis kebangsaan, sampai acara televisi yang menghadirkan Pak Wiranto menjadi pengemis. Pokoknya kreatif bianget Pak Tanoe ini. Tapi maaf loh ini pak, bukan apa-apa, soalnya saya keseringan sinetron Putri Yang Di Tukar di stasiun televisinya Pak Tanoe, jadi otak saya ini penuh dengan drama. Sekali lagi maaf loh pak.


Salam hormat dari saya
                ttd
Ganteng-Ganteng Srigala

You Might Also Like

0 komentar: