Sebuah Kegelisahan Mengenai SMS Mr. Tanoe
Dear Mr Hary
Tanoesoedibjo
Sebelumnya maaf pak , saya memanggil Bapak dengan nama
“Tanoe” biar beda aja pak, biar tidak mainstream. Sekarang yang tidak
mainstream sedang hits. Dalam surat ini saya ingin terlebih dahulu curhat pak.
Pada beberapa waktu yang lalu saya bangun kesiangan, dan seperti biasanya, saya
langsung cek berita update di gawai saya, saya menemukan berita tentang njenengan
yang dilaporkan oleh Mas Yulianto. itu loh pak, Kepala Subdirektorat Penyidik
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus. Kabarnya Pak Tanoe dilaporkan karena mengirim
sms bernada ancaman kepada Mas Yulianto. Jujur saja saya penasaran dengan isi
sms yang katanya mengancam itu. dan setelah mencari, akhirnya saya temukan di
salah satu badan berita yang berjudul mengenai kasus Pak Tanoe. Berikut saya
cantumkan isi sms itu pak, sekalian mungkin bisa dikonfirmasi kebenarannya.
“Mas Yulianto, kita buktikan
siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang
preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk
politik antara lain salah satu
penyebabnnya mau mamberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang
transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya disini, saya pasti
jadi pemimpin negeri ini. Disitulah saatnya Indonesia dibersihkan”
Setelah membaca sms tersebut saya pikir Mas Yulianto itu
baper sekali. Dalam sms tersebut saya tidak menangkap adanya ancaman sama
sekali. Itu kalau dilihat dari sms itu saja loh pak. Mungkin akan berbeda jika
dilihat dari sms-sms sebelumnya, karena interpretasi makna sms yang satu itu
bisa berubah, jika melihat konteks pembicaraan pada sms-sms sebelumnya. Namun
karena saya tidak melihat sms-sms sebelumnya maka saya akan menanggapi sms yang
itu saja. Menurut saya, kalau Mas Yulianto bukan seorang penegak hukum yang
semena-mena, transaksional, dan suka abuse of power, maka tidak perlu merasa
terancam dengan isi sms tersebut, soalnya
yang mau Pak Tanoe berantas yang suka
semena-mena transaksional, dan abuse of power. Sampai disini terlihat sekali,
Mas Yulianto ini baperan, mungkin Mas Yulianto ini jarang kena PHP ya pak,
berbeda dengan Pak Tanoe, yang sudah malang melintang dalam kasus PHP politik,
terutama di PHP kawan sendiri (red-Wiranto) wah, itu mak jleb sekali. Jadi
mohon maklumlah pak, Mas Yulianto ini fakir PHP, mungkin alih-alih menjadi
lawan dipersidangan nanti, Pak Tanoe bisa memberikan tips pada Mas Yulianto
untuk menghadapi PHP, seperti dengan mengimbuhkan hestek #AkuKuduTegar.
Sehingga Mas Yulianto tidak baper, dan main lapor-lapor saja.
Tapi menanggapi isi sms Pak Tanoe tadi, saya sungguh
sangat terharu, ternyata masih ada orang di negeri ini yang memiliki kemuliaan hati
dan tujuan seperti Pak Tanoe. Pak Tanoe ingin memberantas para penegak hukum
yang culas itu dan membersihkan Indonesia, sungguh sebuah tujuan yang amat
sangat mulia, sebuah optimisme yang wajib hukumnya diteladani oleh segenap
pemuda dan pemudi di kolong langit Nusantara, baik yang LGBT, liberal, Sunni, Syiah, Jomblo, dan yang Alay.
Bahwa sesungguhnya apapun pandangan hidup kita, cara fikir kita, dan seberapa
seringpun kita di PHP, baik oleh pemerintah, maupun oleh gebetan, tujuan kita
hendaklah satu, yaitu membersihkan Indonesia dari bromocorah-bromocorah dan
begundal-begundal hukum itu.
Namun, saya jadi teringat sebuah cerita mengenai orang
yang ingin merubah dunia. Syahdan, ada seseorang yang baik ingin merubah dunia,
setelah berjuang sekian tahun ternyata tidak berhasil, maka dia pikir mungkin
akan lebih mudah jika mengubah negara saja, namun setelah berjuang
bertahun-tahun ternyata gagal juga, belum menyerah, ia bertekad untuk merubah
desa tempat tinggalnya, namun kembali gagal. Hingga diujung ajalnya, dia
menyadari, bahwa kita tidak bisa merubah hal besar disekitar kita, jika kita
belum bisa merubah diri kita dan lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga. Lalu
apa hubungannya dengan cita-cita mulia Pak Tanoe, tentu ada hubungannya,
demikian saya ceritakan: Cita-cita perubahan untuk negeri ini yang Pak Tanoe
impikan itu sungguh sangat mulia, namun mungkin sebelum sampai ditingkatan itu,
Pak Tanoe lakukan dulu perubahan-perubahan kecil di lingkungan Pak Tanoe,
contohnya stasiun televisi milik Pak Tanoe itu kan sering menayangkan
acara-acara yang menurut saya sampah pak, sinetron-sinetron yang tidak
mengandung nilai-nilai edukasi, dan banyak hal lainnya. Saran saya coba Pak
Tanoe ubah dulu itu, kalau Pak Tanoe berhasil mengubah itu menjadi lebih baik, niscaya
saya doakan Pak Tanoe mampu mengubah negeri ini.
Sesungguhnya politik dan sosial itu tidak bisa dipisahkan
pak, kalau Pak Tanoe terjun ke politik lalu abai terhadap konten televisi Pak
Tanoe, itu salah. Sebab saat ini pemegang kontrol sosial adalah media, dan
televisi menjadi media yang paling mampu melakukan kontrol sosial. Jadi kalau
Pak Tanoe menjadi presiden dan sekaligus menjadi bos media, tentu Pak Tanoe
menjadi raja-diraja di negeri yang masyarakatnya gampang sekali dibentuk
opininya melalui media.
Tapi terakhir, saya ingin meminta maaf sama njenangan, maaf loh ini, bukannya su’udzon, saya cuma
mencoba manganalisis dari gambaran besar kasus Pak Tanoe dan Mas Yulianto. Saya
merasakan ada kejanggalan. Jangan-jangan ini cara Pak Tanoe berkampanye,
mencitrakan diri dengan menunjukan sms yang berisi semacam visi-misi tersebut.
Bukan tanpa alasan, soalnya ide kampanye Pak Tanoe ini banyak sekali, dan
jarang disadari oleh banyak orang. Seperti saat Pak Tanoe menggelar Miss World,
kemudian adanya kuis kebangsaan, sampai acara televisi yang menghadirkan Pak
Wiranto menjadi pengemis. Pokoknya kreatif bianget Pak Tanoe ini. Tapi
maaf loh ini pak, bukan apa-apa, soalnya saya keseringan sinetron Putri Yang Di
Tukar di stasiun televisinya Pak Tanoe, jadi otak saya ini penuh dengan drama.
Sekali lagi maaf loh pak.
Salam hormat dari saya
ttd
Ganteng-Ganteng Srigala

0 komentar: