Cerita Mas Kikuk : Tupperware dan Kengerian yang Mengikutinya

Beberapa hari terakhir kampung sedang tidak aman, hal ini karena banyak maling berkeliaran. Musim paceklik panen memang menjadi masa yang rawan. Karena banyak hasil panen yang gagal membuat beberapa orang yang tipis iman memutuskan menjadi garong demi menghidupi anak istri. Salah satu kampung yang sering disatroni oleh para pencuri ini adalah desa tempat tinggal Kikuk.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Pak Lurah sebagai pemimpin merasa perlu untuk melakukan himbauan kepada warga agar lebih berhati-hati dan waspada. Pak Lurah mengutus Pak RT untuk menginformasikan himbauan tersebut kepada warga.

“Mas Kikuk, lagi sibuk ndak?” Pak RT datang ke kios Kikuk.

Kikuk yang masih ngobrol dengan Agus heran. Tumben Pak RT datang ke rumah. “Ndak Pak, ini masih ngobrol saja sama Agus. Ada apa ini Pak? kok tumben datang kesini? Biasanya kalo mau servis hape nyuruh Si Dodi” Tanya Kikuk.

“Iya Mas, ini saya dapat tugas dari Pak Lurah. Karena kampung kita ini sedang tidak aman, Pak Lurah menugaskan saya untuk menghimbau warga agar waspada.” Jelas Pak RT.

Agus dan Kikuk manggut-manggut. “Kalo gitu masuk saja Pak RT ke dalam, Bapak dan Mamak saya kebetulan sedang dirumah” Lanjut Kikuk.

“Ayo, Mas Kikuk dan Mas Agus juga ikut, biar tahu informasi dan biar ikut wapada juga” ajak Pak RT.

Kikuk dan Agus pun menurut ikut masuk ke rumah. Setengah teriak Kikuk memanggil orang tuanya. “Mak, Pak, ada tamu, Pak RT” teriak Kikuk.

Sekejap Bapak, Mamak, Mawar, Kikuk, Agus, dan Pak RT sudah berkumpul di ruang tamu. Pak RT pun menjelaskan maksut dan tujuannya datang ke rumah.

“Gitu Pak Budi. Sudah tidak aman kampung kita, banyak maling. Makanya Pak Lurah minta kita harus waspada. Rumah Pak Sapto aja sudah kehilangan sepeda motornya Pak Bud, rawan pokoknya” Jelas Pak RT.

“Nah sekarang kira harus waspada. Kalau sudah malam rumah harus dikunci Pak Bud. Kiosnya Mas Kikuk juga harus dijaga, kalo sudah selesai kerja ya dikunci biar lebih aman. Setiap malam nanti kita bikin ronda” lanjut Pak RT,

Semua orang mendengarkan sambil manggut-manggut serius mendengarkan Pak RT.

“Yang paling penting itu, semoga warung sembako Bu Nani tidak kemalingan ya Bu Yayuk” kata Pak RT.

“Lha kenapa Pak RT?” Tanya Bu Yayuk penasaran.

“Ya biar  Bu Yayuk bisa belanja kopi sama gula. Biar bisa nyuguh kopi ke tamu” sindir Pak RT sambil senyam-senyum.

“Hoalaaah……njaluk kopi” kata semua orang.

“Halaah Pak RT, kopi aja kok ya pakai nyindir. Hambok tinggal bilang tho” kata Mamak sambil menuju ke dapur membuat kopi.

Sambil menunggu Mamak bikin Kopi, mereka melanjutkan diskusinya.

“Kalau yang soal ronda malam itu perwakilan saja kan ya Pak RT?”tanya Bapak.

“Betul Pak Bud, nanti setiap keluarga mengirim perwakilan untuk ikut rondam malam untuk nanti berkeliling kampung, patroli Pak Bud”jawab Pak RT.

Mendengar penjelasan Pak RT, Bapak manggut-manggut sambil menepuk-nepuk pundak Kikuk. Kikuk sudah paham maksud Bapaknya, bahwa dirinya yang akan mewakili keluarga Cahyadi untuk ikut ronda malam. Bapaknya pasti malas dan memilih nonton bola.

“Lha kenapa tho Pak Bud, mau ngeles ya? gak mau ikut ronda ya?” tanya Agus setengah mengejek.

“Hayooo mesti Gus, kan sudah ada Kikuk. Ya aku ndak usah dong” jawab Bapak sambil tertawa.

Mendengar itu, Agus Cuma bisa memajukan bibirnya, mencibir Bapak.

***

Setelah siangnya bertemu dengan Pak RT. Kikuk, Agus dan Pak Jo mendapat giliran pertama untuk ronda keliling. Mereka bertiga janjian untuk ketemu di pos kampling dekat rumah Pak Sapto. Sekitar pukul 9 malam mereka sudah mulai berkumpul di pos kampling. Rencananya mereka akan mulai keliling kampung pukul 10 malam, untuk menghabiskan waktu, mereka pun ngobrol asik di pos kampling.

“Pak Jo, kemarin aku makan mie ayam diwarung sampeyan, aku jadi sakit perut, akhirnya aku putus sama Evi, gara-gara Pak Jo aku putus” Protes Agus.

“Loh, kok nyalahin aku. Kamu sendiri yang minta mie ayam yang pedes, ya kalo kamu jadi mencret jangan salahin aku Gus. Lagian emang kamu ndak cocok sama Evi, menurutku kamu lebih cocok sama Yuli” sangkal Pak Jo.

Kikuk cuma tertawa mendengar percakapan mereka berdua, dia jadi ingat kalo vespa nya jadi bau tai gara-gara cepirit Agus. “Lagian kamu ini tadinya bilang aja sama Evi tho Gus, kalo kamu sakit perut, trus izin ke WC dulu tho” sambung Kikuk.

“Malu laah Kuk, lagian jalan dari warung Pak Jo ke rumah Evi kan sepi Kuk, ndak ada WC. Masak aku setor dibawah pohon pisang, ceboknya pakai apa nanti” jawab Agus.

Merekapun tertawa bersama. Pembahasan soal cepirit dan Evi cukup panjang sehingga tak terasa sudah jam 10 malam.

“Eh,, udah jam 10 ini Pak Jo, ayok keliling” ajak Kikuk.

Mereka bertiga bulai jalan. Disepakati untuk arahnya mereka akan pergi kearah rumah Kikuk. Sekitar 10 menit mereka berjalan, dari kejauhan mereka melihat orang yang mencurigakan sedang mengendap-endap di semak-semak dekat rumah Kikuk.

“Pak Jo, itu siapa? Mencurigakan gerak-geriknya.”Kata Agus.

“Mana Gus?” jawab Pak Jo, sambil celingak-celinguk mencari orang yang dimaksut oleh Agus.

“Itu looh,,, deket rumah Kikuk. Orangnya pakai sarung itu loh Pak Jo. Kamu liyat kan Kuk? Jawab Agus geregetan.

“Iya aku liyat Gus” kata Kikuk. Mereka pun langsung pelan-pelan berusaha mendekati sosok tersebut.

Setelah semakin dekat dengan sosok tersebut. Agus langsung menerkam sosok tersebut. Menutupnya dengan sarung dan mencekik leher sosok tersebut. Sampai sosok tersebut teriak-teriak.

“Pak Jo, aku entuk maling e iki, bantu pegangin Pak Jo, jangan sampai lolos Pak Jo” Ajak Agus.

Pak Jo segera tanggap, langsung menindih sosok tersebut. “Mampus koe,, maling bangsat” Maki Pak Jo.

Sosok tersebut pun memberontak sambil memaki-maki. Mendengar makian itu, Kikuk merasa suara tersebut familiar. “Seperti suara Bapak” batin Kikuk.

“Gus, Pak Jo…. Stop-stop, buka sarungnya,” perintah Kikuk.

Setelah dirasa sosok tersebut sudah tidak bisa bergerak lagi, Agus membuka sarung penutupnya. Dan ternyata itu adalah Bapak Kikuk. Budi Cahyadi.

“Asu,… aku dudu maling. Aku Pak Budi.!!” Umpat Pak Budi. “Lepas… lepas…. “suruh Pak Budi dengan wajah merah padam.

“Pak Bud, situ ngapain ngumpet disemak-semak kaya maling gitu” tanya Pak Jo sambil menahan tawa. “Iyo Pak Bud, aku kira maling motornya Pak Sapto” Imbuh Agus.

“Maling matamu, aku lagi sembunyi dari Mamaknya si Kikuk” jawab Pak Budi.

“Lha kenapa to Pak, kok sampai sembunyi-sembunyi segala?” Tanya Kikuk.

“Tadi Bapak…..” Belum sempat Pak Budi menyelesaikan kalimatnya, dari arah rumah Kikuk terdengar suara Mamak kencang sekali.

“Budiiiiii Cahyadiiiiiiii…….!!!!”Teriak Mamak, “Kenapa Tupperware-ku pecaaaaah…!!!!??” Tariak Mamak makin kencang.

Mendengar itu, Agus dan Pak Jo langsung lari sambil teriak, “Aku ndak ikut-ikut Pak Bud”. Kikuk masih berdiri, ingin hati berlari juga tapi dia melihat bapaknya, memandang matanya. Seolah-olah ingin berkata “Semoga berhasil kisanak”. Setelah itu Kikuk pun berlari menyusul Agus dan Pak Jo.

Sementara Bapak seperti tersengat listrik, hanya mematung beberapa saat. Kemudian dia berjalan gontai menuju rumah. Entah kenapa rumah saat itu terlihat suram, seolah ada awan hitam penuh badai diatas atapnya. Dengan penuh kesadaran dia berjalan menuju sebuah pertarungan yang tidak mungkin akan dimenangkan. Dia pasrah sambil menyaut “i..iiyaa sayang”.

Cerita Mas Kikuk : Lelaki Beraroma Jamban

 Sudah 6 bulan Kikuk menjalin asmara dengan Sintia, selama  6 bulan tersebut hamper tidak ada ribut yang berarti diantara mereka berdua, semua berjalan lancar dan mulus-mulus saja. Berbeda dengan Agus yang masih saja bergonta ganti pacar. Selama 6 bulan Agus sudah berganti pasangan sebanyak tiga kali, melihat kondisi ini Agus menyadari bahwa ada yang salah dengan kisah asmaranya.

“Kuk, aku kok nggak bisa langgeng ya kalo pacara?” tanya Agus disuatu sore di kios bengkel Kikuk. “Padahal aku ini setia dan baik hati Kuk, apa kira-kira yang kurang ya” lanjut Agus.

“Baik hati kok ngaku-ngaku tho Gus, nggak ada orang baik yang ngaku-ngaku baik” Jawab Kikuk sambil tetap focus mengotak-atik hape nya Pak RW yang sedang diservice.

“Lha gimana nggak baik Kuk, semua yang diminta sama pacarku itu selalu ku kasih jee. Setiap malam minggu juga aku ajak jalan dan kutraktir, ya walupun cuma makan mie ayam Pak Jo” Jelas Agus.

“Ya mungkin memang nggak cocok aja Gus. Udahlah jangan terlalu dipikir. Ini sekarang kamu pacarana sama siapa?” tanya Kikuk.

“Evi Kuk, anaknya Pak Sapto yang rumahnya pas didepan rumah Pak RT”Jawab Agus.

Kikuk meletakkan alat service nya dan mulai serius menanggapi cerita Agus. Sambil sedikit menghela nafas Kikuk berkata “Ya sudah dijaga saja sama Evi, toh dia anak baik-baik kan, jangan sering bertengkar, kamu harus yang selalu mengalah Gus” Jelas Kikuk panjang lebar.

Agus yang tadinya cuma duduk menghadap ke arah jalan langsung menengok memandang Kikuk sambil mbatin. “Kemaki, baru juga pacara sekali kok sok ngajari”

“Kuk, aku pinjem vespamu ya, nanti malam aku mau jalan sama Evi” tanya Agus. “Iya, boleh, yang penting diisi bensin” jawab Kikuk

***

Dengan kemeja batik andalan, Agus mengendarai Vespa menuju rumah Evi. Sesampainya di rumah Evi dia langsung bertemu dengan Pak Sapto yang masih ngadem didepan rumah.

“Assalamualaikum Pak Sapto,” sapa Agus ramah.

“Waalaikumsalam, ono opo Gus, mau narikin iuran bulanan? Aku udah bayar Gus” Jawab Pak Sapto.

“Ndak Pak, masak udah rapi pake batik gini mau narikin iuran bulanan. Nganu Pak, saya mau ngajak Evi keluar Pak” Jelas Agus agak berhati-hati.

Evi yang sudah berdandan dan menunggu Agus sejak tadi pun keluar mendengar percakapan Agus dan Bapaknya.

“Mau kemana?” Tanya Pak Sapto tegas

“Ke pasar malam Pak, kebetulas kampung sebelah ada pasar malam” Jawab Agus. “Jangan kemalaman pulangnya, Jam 9.30 harus sudah dirumah, awas kalo lebih kukasih kamu Gus” Jawab Pak Sapto sambil mengacungkan kepalan tangannya ke Agus.

“Iya Pak Siap” sahut Agus agak bergetar.

Agus dan Evi pun pergi berboncengan menuju pasar malam. Sampai dilokasi mereka pun berjalan-jalan berkeliling pasar malam, mencoba berbagai wahana khas hiburan rakyat kampung. Sampai dirasa cukup puas merekapun mampir ke mie ayam Pak Jo. 

“Pak Jo, biasa ya dua “kata Agus. “Loh baru lagi ini Gus?”Jawab Pak Jo.

“Huss udah, Pak Jo ini kaya ndak pernah muda saja, bikinkan yang agak pedes mie ayamnya ya Pak.” Jelas Agus.

Pak Jo sambil membuatkan mie ayam cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Agus. Selesai membuat mie ayam, Pak Jo mengantarnya ke meja Agus. “Nih, jangan lupa baca Bismilah” kata Pak Jo.

Sambil sesekali menggoda Evi, Agus melahap mie ayamnya. Kurang lebih waktu menunjukan pukul 9.00 malam. Setelah membayar mereka berdua pun langsung pulang menuju rumah Evi.

Ditengah jalan tiba-tiba Evi mencium aroma kurang enak, semacam aroma kentut. Namun Evi diam saja sambil berfikir, mungkin Agus kentut, dia tidak mau mempermalukan Agus dengan bertanya. Namun lebih dari 5 menit aroma tersebut tidak hilang dan semakin menyengat. Tidak tahan Evi pun bertanya.

“Mas Agus kentut ya?, kok bau kentut dari tadi” tanya Evi ragu.

“Ndak kok, mungkin bau selokan, kan tadi kita jalan lewat penggir selokan” Jawab Agus sambil menahan gejolak diperutnya. “Asu, Pak Jo ngasih mie ayam nya pakai apa sih, kok bisa bikin mules begini” Batin Agus.

Makin lama Agus merasa makin tidak tahan, tapi dia malus ama Evi kalo mengaku sakit perut. Nanti malah Evi mengira dia adalah lelaki yang tidak higienis, yang tidak memperhatikan kebersihan makanan, lelaki yang tidak empat sehat lima sempurna. Semakin ditahan dorongan untuk keluar semakin kuat, akhirnya sedikit ampas keluar dari celana Agus. “Asu, cepirit!!” batin Agus.

Evi makin tidak tahan, yang tadinya aromanya hanya sempriwing saja, kini semakin menyengat karena Agus sudah cepirit. Tak berapa lama mereka sampai di rumah Evi. Agus hendak turun dan pamitan dengan Pak Sapto ditahan oleh Evi.

“Mas ndak usah turun, langsung pulang saja” suruh Evi.

“Kenapa Dek?” tanya Agus penasaran. “Ndak papa Mas.  Mas Agus ndak usah kesini lagi ya, kita putus aja” ucap Evi.

“Loh, kok gitu, kenapa Vi, kamu kok tega sama Mas” Agus ngotot tak terima.

“Nganu Mas, badan Mas Agus bau tai” Kata Evi sambil berlari masuk rumah.

Sambil memandang Evi yang masuk rumah, tanpa disadari air mata Agus menetes, hatinya remuk ajur, babak belur mendapati kenyataan asmaranya kandas. Sambil memutar bali vespa nya, Agus bergumam “Duh Gusti, Panjenangan maringi cepirit kok yo ora milih-milih wayah tho”.

Cerita Mas Kikuk : LDR dan Perkara Internet

Semenjak berpacaran dengan Sintia, Kikuk menjadi sering mandi. Normalnya ia hanya mandi sehari dua kali, kini dia mandi bisa sampai tiga kali dalam sehari. Ditambah dari tubuhnya selalu tercium minyak wangi. Sampai orang-orang rumah keheranan dengan perubahan yang dialami oleh Kikuk.

Ketika malam hari saat semua keluarga sedang bersantai menonton televisi, Mamak pun beraksi. “Kuk, kamu ini Mamak perhatikan kok berubah sekali setelah pacarana sama Sintia?” tanya mamak. “Sampai mau ke rumah simbah saja kau sampai pakai minyak wangi”lanjut Mamak.

“Biasalah Mak, anak muda. Wajar lah kalau Kikuk sering mandi dan pakai minyak wangi, kan biar Sintia betah sama Kikuk Mak,” jelas Kikuk.

“Oh begitu ya, Bapakmu dulu waktu masih pacarana sama Mamak tidak pernah pakai minyak wangi, dan kayanya juga mandinya cuma satu kali dalam sehari” kata Mamak sambil melirik Bapak yang sedang menonton televisi.

Merasa namanya disebut, tentu Bapak beraksi. “Ya pada waktu itu kan belum ada pabrik minyak wangi” Jawab Bapak sekenanya. Mendengar orangtuanya saling bersahutan kikuk Cuma tersenyum saja, pikirannya melayang jauh bertemu kekasih hatinya, Sintia. Sudah sebulan semenjak mereka resmi berpacaran.

***

Kikuk menekuk mukanya di bengkel saat Agus datang. Seperti biasa Agus dengan gaya prengas-prenges nya segera nyeletuk melihat raut muka kikuk yang keruh.  “Baru jadian kok sudah surem gitu mukamu kuk” kata Agus.

Kikuk diam tidak meresponse, Aguspun melanjutkan candaannya. “Kenapa tho? Bertengkar kamu sama Sintia?” Tanya Agus, kali ini agak sedikit serius.

Mendengar pertanyaan Agus, Kikuk menoleh, seolah-olah Agus bisa membaca pikirannya. “Kok kamu tahu Gus, kan aku belum bercerita” tanya Kikuk.

“Heleh,,, aku ini pacaran sudah sering Kuk, tahu mana raut muka orang yang lagi berantem, mana raut muka orang yang lagi dikejar hutang” jawab Agus sepele.

“Iya Gus, Sintia nggak ngabarin aku selama seharian ini Gus, jangan-jangan dia punya pacar lain ya disana. Dikampusnya kan banyak lelaki ganteng yang naksir dia Gus” Kikuk Mulai Curhat. “Padahal aku sudah chat dia berkali-kali Gus, apa karena aku ini cuma tukang service ya” Lanjut Kikuk.

“Heleh Kuk, kamu ini benar-benar amatir dalam dunia per-LDR-an. Pemain baru, anyaran” kata Agus sambil tertawa.

Mendengar ejekan Agus, Kikuk makin menekuk wajahnya.

“Gini Kuk,” Agus mulai serius.

“Saat kamu LDR kuncinya adalah kepercayaan, ya kamu percaya saja bahwa Sintia disana setia sama kamu. Mungkin dikampusnya banyak lelaki yang lebih ganteng dari kamu, tapi yang bloon dan mudah diakali kan cuma kamu kuk, hahahah” lanjut Agus.

“Memangnya kamu sudah pernah teflfon dia, udah chat berapa kali” tanya Agus.

“Sudah dari pagi Gus, Ku telfon pake WA, ku chat di WA, semuanya gk di response sama dia. Biasanya di aitu cepet bales chatingku Gus” Ucap Kikuk sambil menunjukan hapenya.

“Kuk, yo memang kadang jatuh cinta itu bikin orang bodoh, tapi ya jangan bodoh-bodoh banget tho, Ini hapemu nggak ada paketan internetnya. Habis ini paketnya” Kata Agus.

Kikuk Kaget.”Ndak mungkin Gus, baru kemarin aku isi paket internetnya kok. Kan kamu tau semalam kita masih main mobile legend” kata Kikuk tidak percaya.

“hehehe…. Nganu Kuk, semalam pas kamu udah tidur, aku pakai hape mu buat tethering donlot Bok*ep sampai subuh, hehe” Agus mengaku sambil cengar-cengir.

“Hoooo,,, Jingan…..” Umpat Kikuk sambil memelintir kepala Agus dengan amarah yang paripurna


Cerita Mas Kikuk : Lelaki yang Ketiban Ndaru


Semenjek mendapatkan puisi dari Kikuk, Sintia sering senyum-senyum sendiri saat melihat kertas puisi tersebut. Pasalnya ini baru pertama kali nya Sintia mendapatkan puisi dari seorang lelaki. Biasanya laki-laki yang mendekatinya selalu mengajak makan berdua di café atau nonton bioskop. Sambil membaca ulang puisi Kikuk, dia kembali mengingat saat Kikuk menyerahkan kertas puisi tanpa berani memandang wajahnya, mengingat itu Sintia selalu tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Agus benar adanya. Sintia telah jatuh hati pada Kikuk.

Sementara itu Kikuk di kios juga khawatir menunggu response dari Sintia atas puisinya tempo hari. Dia mulai tidak focus bekerja. Sambil sesekali mengajak ngobrol Agus yang memang setiap hari nongkrong di kios. “Gus, kok Sintia belum meresponse puisiku ya??” tanya Kikuk khawatir.

“Tenang Kuk, sabar. Kamu harus siap semua kemungkinan, kalau kamu sudah berani membuka hati ya kamu siap untuk sakit hati” kata Agus bijak.

Kikuk memandangi Agus sambil plonga-plongo. Melihat itu Agus kembali menjelaskan. “Gini loh Kuk. Ada kemungkinan Sintia menolak perasaanmu, jadi kamu harus siap” Jelas Agus.

Kikuk manggut-manggut dengan raut wajah berfikir. Tiba-tiba ada sebuah motor matic berhenti tak jauh dari kios. Kikuk hanya melihat sekilas wajah tamu misterius tersebut. Seperti terkena sengatan listrik. Jantung Kikuk langsung berdebar-debar, keringat dingin keluar semua.

Wanita yang sedang dibicarakan itu kini berada selemparan batu didepan Kikuk. Melihat gelagat Kikuk, Agus segera mengambil inisiatif. “Eh, Sintia. Tumben kesini mau servis apa?”tanya Agus meredakan suasana.

“Nggak servis apa-apa Mas Agus, Cuma mau ketemu Mas Kikuk aja” jawab Sintia sambil melempar lirikan dan senyum ke Kikuk.

Mendengar hal tersebut, Kikuk berusaha mengendalikan dirinya. “Mau ngobrol dimana dek Tia?” kata Kikuk gagap

Sintia tersenyum, baru kali ini dia dipanggil begitu oleh laki-laki yang mendekatinya. “Disini aja Mas, depan kios aja” jawab Sintia sambil tetap tersenyum.

“Gus, kamu nggak mau ketemu Bapak, katanya mau bahas soal bola” kata Kikuk pada Agus.

“Nggak ah,,, kakiku masih pegel gara-gara gendong Pak Bud kelilig desa kemarin.”jawab Agus sekenanya. Sebagai orang yang masih belajar, tentu Kikuk bingung dengan jawaban Agus. Namun Agus paham, akhirnya dia mengalah masuk ke rumah.

“Ngapain kamu masuk Gus, bukannya Kikuk lagi dikios?”tanya Bapak saat tiba-tiba Agus duduk disebalahnya yang sedang nonton tivi.

“Kikuk lagi pacaran, aku disuruh masuk” jawab Agus sambil mengambil tahu goreng dihadapannya.

Bapak tentu saja kaget, Selama ini dia mengira tidak ada perempuan yang bakal mau sama Kikuk, mengingat Kikuk sama sekali tidak punya nyali didepan perempuan. “Siapa Gus perempuannya?” tanya Bapak Penasaran.

“Sintia, anak Pak Lurah” jawab Agus sambil mengunyah tahu

Mendengar itu, Bapak tentu kaget. Dia memanggil Istrinya, Yayuk Astuti sang mantan duta CTPS. “Mak, sini,” kata Bapak. Disampaikanlah informasi dari Agus tersebut kepada sang istri. Mamak juga ikut kaget, mereka berdua tiba-tiba ke ruang tamu mengintip Kikuk dari jendela samping rumah. Melihat tingkah kedua orang tua Kikuk, Agus juga ikut penasaran, sambil menyomot tahu goren lagi, dia ikuti Bapak dan mamak mengintip Kikuk.

Tak lebih dari 45 menit, Sintia pamit pulang. Kikuk langsung balik kanan menuju rumah, sudah waktunya sholat ashar dan makan. Belum sampai membuka pintu, tiba-tiba daun pintu terbuka dan 3 wajah muncul dari pintu, Bapak, Mamak, dan Agus. Mereka penasaran dengan pembicaraan Kikuk dan Sintia.

“Piye Kuk?” tanya Agus, mamak dan bapak ikut menunggu jawaban.

Sambil malu-malu Kikuk mangangguk, “jadian” katanya pelan menahan malu.

Seketika Mamak teriak kecang sekali. “ Anaaakku duwe pacaaaaar” dengan expresi kegirangan, sambil lompat memeluk Bapak.

Selepas Sholat Ashar, Kikuk dan Agus duduk di teras. Kikuk mengataka kalau malam minggu besok Sintia mengajak berjalan-jalan melihat pasar malam dilapangan. Tapi dia bingung karena seumur hidup belum pernah kencan dengan wanita.

“Tenangno pikirmu Den, ada Agus Rahmadi Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia” Katanya berbangga “Pertama, kamu harus bawa duit, lalu belikan apa yang dia minta, gampang toh” kata Agus sambil nyengir. “Asu” jawab Kikuk.


Hari yang ditentukan tiba, sekitar pukul 7 malam, Agus mengantar Kikuk ke rumah Sintia untuk kencan pertama. Pak Lurah kebetulan sedang tugas di kabupaten sehingga Kikuk bisa agak laluasa.

Sintia berjalan menghampiri Kikuk, berdandan sederhana, kemeja lengan panjang dipadukan rok dibawah lutut, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai disebelah kiri, sedang disebalah kanannya diselempitkan di daun telinga. “Cantik” gumam Kikuk.

Agus yang berdiri disebelah Vespa pun berpendapat sama, kecantikan Sintia memang tidak bisa disangkal siapapun.

“Ayok” kata Kikuk.

Sintia langsung naik membonceng vespa Kikuk, dan meluncurlah mereka berdua kearah lapangan. Agus cuma memandang mereka sampai tak terlihat lagi sambil membatin “Kamu memang laki-laki beruntung Kuk, lelaki yang ketiban ndaru, bisa mendapatkan Sintia”

Namun tiba-tiba Agus sadar. “Lha, aku pulangnya gimana? Hooo…Kikuk Jingan og” umpat Agus sambil berjalan pulang dan mebayangkan Yuli, kekasihnya bulan ini.


Cerita Mas Kikuk : Siluman Kera Sakti


Malam itu Liga Champion mempertemukan Barcelona melawan Liverpool di babak Semi-Final. Tentu saja bagi Kikuk, Bapak dan Agus hal ini tidak boleh dilewatkan. Mereka bertiga adalah hooligan local. Kalau sudah soal sepakbola mereka bisa membahas siapa lebih jago antara Christian Ronaldo dan Messi sehari semalam.

Agus adalah fans berat Barcelona, sedangkan Bapak jelas seorang Liverpudlian sejati. Bapak selalu bercerita masa-masa kejayaan Liverpool dimasa lalu saat Bapak masih muda dan berbahaya. Kikuk sendiri sebenarnya adalah fans Manchester United, namun karena MU sekarang sedang turun performa, Kikuk lebih banyak diam. Daripada menjadi bahan bully Bapak dan Agus.

Pertandingan dimainkan jam 2 malam. Sejak siang, Agus sudah psy war dengan Bapak. “Pak Bud, nanti malam kayanya Liverpool bakal kalah banyak deh, kaya di leg 1” ucap Agus mengejek.

Sebagai liverpudlian sejati, tentu bapak tidak terima. “Kamu itu belum tahu kekuatan Liverpool sesungguhnya Gus. Jadi diam saja udah, di leg pertama itu Liverpool lagi nggak fit aja” jelas Bapak.

“Tapi berat Pak Bud, leg pertama sudah kalah 3-0, berarti nanti malam Liverpool harus menang 4-0 Pak Bud. Lha yok berat itu Pak Bud” lanjut Agus. “Real madrid aja yang dulu masih punya Cristiano Ronaldo belum pernah ngalahin Barcelona lebih dari 3-0 loh Pak Bud. Apalagi Liverpool”jelas Agus panjang lebar.

Bapak tentu saja makin panas. Walaupun dalam batin bapak mengamini analisa Agus soal pertandingan nanti malam. “Halah, ndak usah banyak omong Gus, buktikan wae nanti malam. Kalo Liverpool kalah tak kasih uang, tapi kalo Liverpool menang kamu gendong aku keliling desa, wani nggak?” tantang Bapak.

Kikuk dan Agus kaget mendengar tantangan itu, mereka berpandangan. “Berapa Pak Bud uangnya? tanya Agus. “Rp.200.000” jawab Bapak singkat.

“Kuk lumayan juga kuk, bisa buat jalan-jalan sama Yuli” kata Agus pada Kikuk.  Kikuk cuma diam lalu berkata kepada Bapak “Pak, ndak dipikir dulu, emg bapak punya uang 200 ribu?” tanya Kikuk.

“Udah diam aja kamu Kuk, ada tadi Bapak nemu uang 200 ribu di jog vespa” kata Bapak emosi.

Muka Kikuk langsung masam. Ia sadar uang yang dimaksut Bapaknya adalah uang hasil servis seminggu lalu yang disimpannya di vespa antik. Tidak bisa berkata-kata lagi, Kikuk tahu siapapun yang menang dalam taruhan ini, tetap saja dia yang kehilangan uang 200 ribu.

“Okey Pak Bud, deal…!!” ucap Agus girang. Melihat peluangnya, berat memang bagi Liverpool buat bisa menang 4-0 nanti malam. Agus merasa uang 200 ribu sudah ada ditangannya. Dia sudah membayangkan makan mie ayam bareng Yuli di warung Pak Jo dengan uang tersebut.

“Okey, nanti malam jangan telat, bawa kopi sama camilan” kata Bapak sambil masuk rumah.

“Siap Pak Bud” jawab Agus.

 Malamnya, pukul 11 malam Agus sudah datang ke rumah Kikuk. Sambil membawa kopi instan dan kacang rebus. Sampai dirumah Kikuk, ia mengendap-endap sampai diteras rumah. Tiba-tiba Mawar keluar.

“Eh Mas Agus, Mawar pikir siapa, mau nonton bola ya? Udah ditunggu tuh sama Mas Kikuk didalam” kata Mawar.

“Iya Dek Mawar. Dek Mawar belum tidur?” Tanya Agus.

“Tadinya sudah, tapi Mawar dengar ada suara, Mawar pikir maling. Ternyata Mas Agus”Jawab Mawar sambil masuk rumah.


Tepat jam 2 pagi kick off dimulai. Agus dan Kikuk cenderung santai menikmati pertandingan. Bapak gelisah Liverpool ditekan oleh Barcelona. Namun sampai babak kedua menit ke 80 justru Bapak yang semakin santai menikmati pertandingan dan Agus yang gelisah. Skore menunjukan 3-0 untuk Liverpool. Hanya butuh satu gol lagi bagi Liverpool masuk ke Final.

Dan diakhir babak kedua sebelum peluit tanda pertandingan berakhir ditiup, Liverpool berhasil menceploskan satu gol penentu kemenangan kegawang Barcelona. Bapak girang bukan main, melompat-lompat. Sedang Agus menunduk lesu. Uang 200 ribu yang sudah hampir pasti dia genggam kini hangus.

“Hahahaha….Piye Guus, kandani kok, ini baru Liverpool Gus” kini ganti Bapak membuly Agus habis-habisan.

Agus cuma diam saja sambil melipat wajah. “Ayok Gus… Sesuai taruhan kita, kamu harus gendong aku keliling desa” kata Bapak menagih hadiah kemenangannya.

“Pak Bud, ini sudah malam loh. Apa ndak sebaiknya besok aja” kilah Agus berusaha membujuk Bapak.

“Oh, ndak bisa, janji adalah janji Gus. Ayook” Bapak berkata sambil menarik Agus keluar. Melihat kejadian ini Kikuk hanya tertawa saja.

Maka dini hari itu juga, Agus menepati janji taruhannya. Menggendong bapak berkeliling desa.


Pagi harinya, Pak RT datang ke Kios Kikuk untuk mengambil radio kesayangannya yang sedang diservice. “Mas Kikuk, Desa kita itu sudah tidak aman sekarang” kata Pak RT.

“Tidak aman kenapa Pak?” tanya Kikuk. 

“Semalam beberapa warga melihat siluman berjalan-jalan di desa kita. Badannya tinggi membungkuk, wajahnya agak tua, trus suaranya kaya orang ngos-ngosan. Kira-kira siluman apa ya Mas?” cerita Pak RT antusias.

Sambil menahan tawa Kikuk menjawab “Oh, itu siluman Kera Sakti kalah taruhan Pak.”

Cerita Mas Kikuk : Teritori Yayuk Astuti


Malam itu Mamak masak enak untuk sekeluarga. Mamak nyembelih ayam piaraannya untuk menjadi lauk makan malam sekeluarga. Ayam tersebut dimasak opor disajikan dengan nasi putih anget dan air es degan hasil dari sawah yang diambil Bapak sore tadi. Setalah matang semua, Mamak memanggil keluarganya. “The Cahyadi, Makan malam sudah siap” teriak Mamak. Dia memang kadang-kadang memanggil keluarganya dengan The Cahyadi, karena nama kedua dari keluarganya adalah Cahyadi. Mulai dari sang suami; Budi Cahyadi. Anak pertama; Kikuk Cahyadi. Anak kedua; Mawar Cahyadi. Walau sebenarnya dirinya sendiri bukan Cahyadi, melainkan Yayuk Astuti.

“Apa si Mak, Guaaayaaa… pakai makan malam segala, kayak orang kota” kata Kikuk sambil duduk dimeja makan.

“Biar tho Kuk, walaupun kita ini tinggal di desa, kita itu nggak kalah sama orang kota. Mamak mu ini loh dulu waktu muda Duta CTPS”cerocos Mamak sambil mengambilkan nasi di piring Bapak.

Kikuk cuma mesem sambil mbatin ”CTPS terus dibanggakan, nggak nyambung sama pembahasan”. Namun Kikuk maklum, dulu saat Bapak nya masih jadi PNS Penjaga Sekolah, Mamak nya sangat aktif di PKK dan selalu mendapat jabatan menjadi seksi kesehatan. Mamak cuma bermodal pengalamannya menjadi Duta CTPS saat muda. Anehnya semua anggota PKK tidak ada yang berani menyangkal. Mungkin memang Kharisma mamak sebagai Duta CTPS saat muda.

“Mak, dalam rangka apa tho, kok masak enak gini?”tanya Bapak

Mendengar pertanyaan tersebut, Mamak menoleh cepat “Bapak lupa?” tanya Mamak cepat.

Mak Deg. Bapak tahu ada yang salah dengan ucapanya. Langsung dia menengok ke arah Kikuk dan Mawar. Tatapan mata Bapak meminta tolong anak-anaknya untuk menyelamatkan dirinya dari omelan sang istri. Bapak memandang Kikuk sambil mengangkat dagu memberi kode. Kikuk tahu maksut bapaknya, tapi dia juga tidak tahu jawabannya, jadi kikuk cuma mengangkat bahunya. Bapak beralih ke Mawar dengan kode yang sama mengangat dagunya.
Mawar berbisik tak bersuara. “Ulang tahun Mamak”. Bapak berusaha membaca bibir Mawar.

“Nggak dong Mak, ini ulang tahun Mamak kan?” jawab Bapak gugup.

Langsung wajah Mamak kembali sumringah. Selesai makan Kikuk dan Bapak duduk didepan tivi sedang Mawar mambantu Mamak memcuci peralatan makan.

Sambil menyesap rokoknya, Bapak membuka obrolan. “Makin hari Indonesia makin nggak genah yo Kuk. Enak jaman dulu waktu bapak jadi PNS jaman Pak Harto. Harga-harga murah semua Kuk, nggak kaya sekarang, mahal semua” Jelas Bapak.

“Ya beda Pak, dulu nggak bebas, banyak orang menghilang nggak jelas. Otoriter Pak. Semua harus ikut Pak Harto. Inget nggak dulu Bapak waktu mau ngecat rumah aja harus warna kuning. Warna partainya Pak Harto” sanggah Kikuk.

Pembahasan yang makin asik. Kikuk mulai mewawancara Bapaknya. “Kalo jaman sekarang, PNS itu nggak boleh Poligami Pak. Kalo Jaman orde baru gimana? Tanya Kikuk.

“Dulu nggak ada aturan begitu Kuk, PNS itu termasuk pejabat. Selama atasan kita senang ya hidup kita enak. Ingat nggak dulu waktu kamu masih kecil, bapak kan sering bawa oleh-oleh dari kantor. Itu Bapak dikasih sama atasan Bapak.” Jelas Bapak.

“Wah,,, itu hasil korupsi dong?” tanya kikuk kaget. “Huss,,, jangan sembarangan, itu bukan korupsi. Bapak itu kan ngikutin nasihat simbahmu. Rejeki setitik ojo ditampik. Jadi ya Bapak terima saja” kata bapak sambil tertawa.

“Wallah Bapak ini, mental lemah. Katakan tidak pada korupsi Pak” ejek Kikuk.

“Lha gimana Kuk, nggak ada pilihan lain je. Coba dulu bapak ikut pesugihan pasti Bapak tolak itu gratifikasi” jawab Bapak.

“Loh.. lha emang dulu kenapa nggak ikut pesugihan Pak” tanya Kikuk Penasaran.

“Ya karena harus mengorbankan nyawa bapak, jadi bapak nggak mau. Coba kalo yang diminta dikorbankan anak pertama. Pasti bapak mau Kuk” Kata Bapak sambil tertawa.

“Asem,,,” batin Kikuk. Lalu mereka tertawa berdua. “Tapi apa yang membuat Bapak kangen banget sama jaman Pak Harto?” tanya kikuk serius.

Bapak membetulkan duduknya, menjawab dengan serius. “Dulu jaman Pak Harto, Mamakmu masih ayu, singset, seger, wangi.  Jaman sekarang mamakmu sudah tua, sudah keriput, tidak wangi lagi” jawab Bapak sambil tertawa. Lalu disusul Kikuk tertawa terbahak-bahak.

“Praaaaaaankkkkkkk..!!!” Suara piring pecah dari dapur. Bapak dan Kikuk langsung berhenti tertawa lalu saling pandang. Ada aura kegelapan yang mengerikan dari dapur. Bapak tahu dia dalam masalah besar. “Oh,,, begituu!!!!” suara Mamak teriak dari dapur. Mawar yang sedang menata piring langsung berlari kedepan dengan wajah panik. “Pak aku kerumah simbah, aku tidur dirumah simbah malam ini” kata Mawar sambil berlari keluar rumah.

Melihat Mawar, Kikuk juga langsung mengambil kunci vespa sambil setengah berlari. “Pak, aku kerumah Agus. Ada urusan” kata Kikuk sambil berlari keluar rumah mengikuti Mawar.

Melihat kedua anaknya sudah meninggalkan medan perang, Bapak cuma bisa menelan ludah berkali-kali ketakutan. Lalu sebuah gelas meluncur dari dapur dan mengenai kepala Bapak. “Plaaak…!”


Jam 11 malam, bapak mengigil kedinginan diteras rumah sambil memegangi kepalanya yang benjol. Dia tidak punya pilihan selain tidur diteras. Bapak sadar betul, dia berada di medan perang yang tidak bisa dia menangkan. Dia berada didalam teritori Yayuk Astuti mantan duta CTPS.


(Ini adalah tulisan ketiga dari beberapa tulisan seri mengenai cerita Mas Kikuk. Nantikan seri berikutnya)

Cerita Mas Kikuk : Perkara Hati, Wanita dan Puisi

Semenjak tragedi Hape Tai tersebut, hubungan Kikuk dan Agus sama sekali tidak berubah. Kikuk tau cuma Agus teman yang dia punya sejak kecil. Dia sudah memaafkan polah Agus yang kadang kelewatan tersebut. Agus memang jahil sejak kecil, perawakannya sedang agak kurus, kulitnya sawo mateng, wajahnya standar, selalu memakai kemeja garis-garis dan bercelana kain dengan rambutnya dibuat klimis jambul.

Yang membuat Kikuk heran adalah dengan modal tampang dan penampilan begitu, Agus selalu menjadi incaran para wanita. Kemampuannya untuk menggaet wanita memang mahsyur di desa. Terbukti hampir setiap bulan Agus selalu jalan dengan wanita yang beda-beda. Berbeda dengan Kikuk yang secara wajah mungkin sedikit lebih tampan dan kulitnya lebih cerah, namun selama hidupnya dia belum pernah pacaran sekalipun. Sehingga Agus secara tidak langsung menjadi penasihat percintaan Kikuk.

Seperti saat anak tunggal Pak Lurah yang kuliah di Bandung pulang mudik. Namanya Sintia, sejak SMP Kikuk sudah naksir, namun angan hanya sebatas angan. Dasar memang lelaki malu-malu marmut, dia cuma bisa memandang Sintia sambil senyam-senyum saja. Sintia sendiri adalah gadis manis campuran Sunda-Jawa. Keluarga Ibunya dari Sunda sedang Bapaknya dari Jawa. Kulitnya kuning langsat hidung mancung, rajin nan trengginas. Laki-laki manapun pasti setuju bahwa Sintia mendapatkan skor 8 dari 10. Namun sayang, Bapaknya yaitu Pak Lurah galaknya minta ampun. Walau hanya mellirik saja, Pak Lurah sudah melotot.

Agus tahu benar kalau Kikuk memendam rasa dengan Sintia sejak SMP, namun tidak berani mengungkapkannya. “Kuk, kamu tahu Sintia pulang kampung tuh” Kata Agus yang saat itu sedang nongkrong di kios Kikuk.

“Iya udah tahu, tadi aku lihat lewat jalan depan situ” Jawab Kikuk pura-pura tidak tertarik membahas Sintia. Padahal dihatinya sedang bergejolak.

“Biar kutebak, kamu pasti ndak nyapa. Pasti kamu diem aja kaya krupuk melempem” serang Agus. “Kuk… kalo kamu suka sama Sintia, ya sudah katakan saja, apa susahnya sih. Kaya aku ini loh, kalo aku suka sama cewek ya kubilang aku suka. Cewek itu suka laki-laki yang sat-set Kuk, yang trengginas gitu. Kalo kata Didi Kempot, Loss ke ae” cerocos Agus menceramai Kikuk.

“Lah gimana mau ngomong tha Gus, orang aku ngelihat dia dari deket aku udah ndredeg kok. Apalagi ngomomg, bisa mati berdiri aku.”kata Kikuk pasrah.

“Sudah sini, kuajari kamu biar bisa mengungkapkan perasaanmu pada Sintia. Bikinlah puisi Kuk, kata para pujangga, wanita itu lembut, suka bunga dan puisi” terang Agus.

“Gus aku ini sarjana Teknik Elektro. Kok disuruh bikin puisi” kata Kikuk

Tenangno pikirmu Den, masih ada Mas Agus Rahmadi Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kubikinkan puisi-puisi terbaik buat kamu” bangga Agus sambil tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya.

Besoknya, selepas mengajar, Agus pergi kios Kikuk. “Oh wahai pemuda loyo, penyelamat cintamu sudah datang” kata Agus meledek. “Ndasmu..!”jawab Kikuk.

“Ahahaha, tenang lurahe. Sudah kubikinkan puisi untuk kamu kasih ke Sintia.” kata Agus sambil mengeluarkan sebuah kertas dari kantong belakang celana kainnya. “Nih baca”.

Sambil menerima kertas tersebut, Kikuk membukanya dan membacanya;

Tahun-tahun berlalu menjadikanmu satu diantara manusia
 yang memuja kedekatan bukan ketulusan.

Padahal kemanapun aku pergi, pesonamu tak adakan pernah 
redup dan disitulah aku memutuskan hidup.

Aku tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan hati untuk akhitnya 
setiap manusia memiliki perasaan, juga otak yang tak berhenti memikirkan 
bagaimana cara mendapatkan waktu bersamaan, 

Karena mencintaimu adalah patah hati paling sengaja

“Bagus juga puisimu Gus, keren. Tapi apa ini akan berhasil Gus?”tanya Kikuk kuatir.

“Tenang saja Kuk, semua cewek yang aku pacarin semuanya aku taklukan dengan puisi ini”jawab Agus bangga. “Sudah, sekarang kamu mandi, biar badanmu gak berbau sangit bekas solder. Lalu kamu datang ke rumah Pak Lurah panggil Sintia agar membuka jendela kamarnya, lalu lemparkan puisi itu kepadanya” Jelas Agus.

Sore jam 4 setelah menutup kios, dengan berpakaian kemeja berambut klimis, Kikuk dan Agus berboncengan vespa antik menuju rumah Pak Lurah. Sampai kira-kira 10 meter dari rumah Pak Lurah, Agus menghentikan Vespanya.

“Kok berenti? Tanya Kikuk. “Kita susun rencana dulu. Aku akan lewat depan mengalihkan Pak Lurah. Kamu kesamping rumah ke kamar Sintia”terang Agus.

“Tapi nanti kalo ketahuan gimana Gus?”tanya Kikuk khawatir.

“Sudah tenang saja, gak bakal ketahuan. Kasih puisinya langsung pergi.”Agus mencoba meyakinkan.

“Oke” Merekapun menuju rumah Pak Lurah, Seperti rencana, Kikuk berbelok lebih dulu ke samping rumah. Agus menuju pintu depan rumah. Terlihat Pak Lurah sedang ngopi sambil merokok santai. “Assalamualaikum Pak Lurah”sapa Agus.

“Waalaikumsalam, duduk Gus”jawab Pak Lurah. “Ada apa Gus, tumben kamu kesini.”tanya Pak Lurah curiga.

“Ini Pak, saya mau ngobrol saja sama mau usul Pak. Desa kita ini belum ada fasilitas lapangan untuk nanggap orkes dangdut Pak. Saya usul dibikinkan Pak, pemuda desa kan juga perlu hiburan” kata Agus sambil nyengir.

“Emang mau nanggap siapa?” tanya Pak Lurah penasaran.

“Ya siapa lagi kalo bukan Via Vallen Pak”jawab Agus. “Selain suaranya merdu bagai manuk prenjak. Body dan goyangannya Pak, hmmm,,,……..”

“Huss… jangan keras-keras, ada Bu Lurah didalam” kata Pak Lurah memperingatkan.


Sedangkan disamping rumah, Kikuk mengendap-endap tepat dibawah jendela kamar Sintia. Pelan sekali dia mengetuk jendela. Jantungnya berdebar cepat sekali, tangannya ndredeg. Keringat dingin mengucur. Kacamatanya sampai basah.

Begitu Sintia membuka jendela, Sintia kaget karena ada Kikuk. Namun dalam sekejap Sintia dapat mengendalikan kekagetannya.

“Mas Kikuk kok disini? Ada apa?” Tanya Sintia sambil memandang heran.

Kikuk tidak berani menganggat wajahnya, ia menunduk gemetar. Dia diam cukup lama lalu pelan-pelan tangan kanannya mengambil kertas puisi itu, masih dengan tangan gemetar ia ulurkan kertas itu dan diterima oleh Sintia. Tentu saja Sintia bingung.

Lalu pelan dan lirih sambil tetap menunduk gemetar Kikuk berkata “Aku suka sama Sintia”. Suara Kikuk pelan sekali. Namun Sintia mendengarnya dengan jelas. Tanpa melihat reaksi Sintia, Kikuk langsung balik kanan dan berlari. Sampai dipinggir jalan, ia memberi kode pada Agus kalau misinya sudah selesai.

Agus pun berpamitan dengan Pak Lurah, lalu memboncengkan Kikuk yang sudah basah oleh keringat dingin. Sambil mengendarai vespa antik, Agus bertanya “Hahaha.. gimana, sukses kan kuk? Sukses pasti. Sintia suka kan sama puisinya? Pasti suka lah” kata Agus sumringah sambil tetap fokus mengendari vespa.

Kikuk diam saja, tidak memberi respon apa-apa. “Kamu kenapa sih kuk, diam begitu, kan misimu sudah sukses, kenapa lagi?”tanya Agus penasaran.

“Nganu Gus…. Aku ngompol” bisik Kikuk.

“Bajingan…. Pantesan ini vespa kok aromanya ganti jadi aroma pete. Cah goblok..!” Maki Agus.


((Ini adalah tulisan kedua dari beberapa tulisan seri mengenai cerita Mas Kikuk. Nantikan seri berikutnya)