Cerita Mas Kikuk : Tupperware dan Kengerian yang Mengikutinya

23.52 lewatengah 0 Comments

Beberapa hari terakhir kampung sedang tidak aman, hal ini karena banyak maling berkeliaran. Musim paceklik panen memang menjadi masa yang rawan. Karena banyak hasil panen yang gagal membuat beberapa orang yang tipis iman memutuskan menjadi garong demi menghidupi anak istri. Salah satu kampung yang sering disatroni oleh para pencuri ini adalah desa tempat tinggal Kikuk.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Pak Lurah sebagai pemimpin merasa perlu untuk melakukan himbauan kepada warga agar lebih berhati-hati dan waspada. Pak Lurah mengutus Pak RT untuk menginformasikan himbauan tersebut kepada warga.

“Mas Kikuk, lagi sibuk ndak?” Pak RT datang ke kios Kikuk.

Kikuk yang masih ngobrol dengan Agus heran. Tumben Pak RT datang ke rumah. “Ndak Pak, ini masih ngobrol saja sama Agus. Ada apa ini Pak? kok tumben datang kesini? Biasanya kalo mau servis hape nyuruh Si Dodi” Tanya Kikuk.

“Iya Mas, ini saya dapat tugas dari Pak Lurah. Karena kampung kita ini sedang tidak aman, Pak Lurah menugaskan saya untuk menghimbau warga agar waspada.” Jelas Pak RT.

Agus dan Kikuk manggut-manggut. “Kalo gitu masuk saja Pak RT ke dalam, Bapak dan Mamak saya kebetulan sedang dirumah” Lanjut Kikuk.

“Ayo, Mas Kikuk dan Mas Agus juga ikut, biar tahu informasi dan biar ikut wapada juga” ajak Pak RT.

Kikuk dan Agus pun menurut ikut masuk ke rumah. Setengah teriak Kikuk memanggil orang tuanya. “Mak, Pak, ada tamu, Pak RT” teriak Kikuk.

Sekejap Bapak, Mamak, Mawar, Kikuk, Agus, dan Pak RT sudah berkumpul di ruang tamu. Pak RT pun menjelaskan maksut dan tujuannya datang ke rumah.

“Gitu Pak Budi. Sudah tidak aman kampung kita, banyak maling. Makanya Pak Lurah minta kita harus waspada. Rumah Pak Sapto aja sudah kehilangan sepeda motornya Pak Bud, rawan pokoknya” Jelas Pak RT.

“Nah sekarang kira harus waspada. Kalau sudah malam rumah harus dikunci Pak Bud. Kiosnya Mas Kikuk juga harus dijaga, kalo sudah selesai kerja ya dikunci biar lebih aman. Setiap malam nanti kita bikin ronda” lanjut Pak RT,

Semua orang mendengarkan sambil manggut-manggut serius mendengarkan Pak RT.

“Yang paling penting itu, semoga warung sembako Bu Nani tidak kemalingan ya Bu Yayuk” kata Pak RT.

“Lha kenapa Pak RT?” Tanya Bu Yayuk penasaran.

“Ya biar  Bu Yayuk bisa belanja kopi sama gula. Biar bisa nyuguh kopi ke tamu” sindir Pak RT sambil senyam-senyum.

“Hoalaaah……njaluk kopi” kata semua orang.

“Halaah Pak RT, kopi aja kok ya pakai nyindir. Hambok tinggal bilang tho” kata Mamak sambil menuju ke dapur membuat kopi.

Sambil menunggu Mamak bikin Kopi, mereka melanjutkan diskusinya.

“Kalau yang soal ronda malam itu perwakilan saja kan ya Pak RT?”tanya Bapak.

“Betul Pak Bud, nanti setiap keluarga mengirim perwakilan untuk ikut rondam malam untuk nanti berkeliling kampung, patroli Pak Bud”jawab Pak RT.

Mendengar penjelasan Pak RT, Bapak manggut-manggut sambil menepuk-nepuk pundak Kikuk. Kikuk sudah paham maksud Bapaknya, bahwa dirinya yang akan mewakili keluarga Cahyadi untuk ikut ronda malam. Bapaknya pasti malas dan memilih nonton bola.

“Lha kenapa tho Pak Bud, mau ngeles ya? gak mau ikut ronda ya?” tanya Agus setengah mengejek.

“Hayooo mesti Gus, kan sudah ada Kikuk. Ya aku ndak usah dong” jawab Bapak sambil tertawa.

Mendengar itu, Agus Cuma bisa memajukan bibirnya, mencibir Bapak.

***

Setelah siangnya bertemu dengan Pak RT. Kikuk, Agus dan Pak Jo mendapat giliran pertama untuk ronda keliling. Mereka bertiga janjian untuk ketemu di pos kampling dekat rumah Pak Sapto. Sekitar pukul 9 malam mereka sudah mulai berkumpul di pos kampling. Rencananya mereka akan mulai keliling kampung pukul 10 malam, untuk menghabiskan waktu, mereka pun ngobrol asik di pos kampling.

“Pak Jo, kemarin aku makan mie ayam diwarung sampeyan, aku jadi sakit perut, akhirnya aku putus sama Evi, gara-gara Pak Jo aku putus” Protes Agus.

“Loh, kok nyalahin aku. Kamu sendiri yang minta mie ayam yang pedes, ya kalo kamu jadi mencret jangan salahin aku Gus. Lagian emang kamu ndak cocok sama Evi, menurutku kamu lebih cocok sama Yuli” sangkal Pak Jo.

Kikuk cuma tertawa mendengar percakapan mereka berdua, dia jadi ingat kalo vespa nya jadi bau tai gara-gara cepirit Agus. “Lagian kamu ini tadinya bilang aja sama Evi tho Gus, kalo kamu sakit perut, trus izin ke WC dulu tho” sambung Kikuk.

“Malu laah Kuk, lagian jalan dari warung Pak Jo ke rumah Evi kan sepi Kuk, ndak ada WC. Masak aku setor dibawah pohon pisang, ceboknya pakai apa nanti” jawab Agus.

Merekapun tertawa bersama. Pembahasan soal cepirit dan Evi cukup panjang sehingga tak terasa sudah jam 10 malam.

“Eh,, udah jam 10 ini Pak Jo, ayok keliling” ajak Kikuk.

Mereka bertiga bulai jalan. Disepakati untuk arahnya mereka akan pergi kearah rumah Kikuk. Sekitar 10 menit mereka berjalan, dari kejauhan mereka melihat orang yang mencurigakan sedang mengendap-endap di semak-semak dekat rumah Kikuk.

“Pak Jo, itu siapa? Mencurigakan gerak-geriknya.”Kata Agus.

“Mana Gus?” jawab Pak Jo, sambil celingak-celinguk mencari orang yang dimaksut oleh Agus.

“Itu looh,,, deket rumah Kikuk. Orangnya pakai sarung itu loh Pak Jo. Kamu liyat kan Kuk? Jawab Agus geregetan.

“Iya aku liyat Gus” kata Kikuk. Mereka pun langsung pelan-pelan berusaha mendekati sosok tersebut.

Setelah semakin dekat dengan sosok tersebut. Agus langsung menerkam sosok tersebut. Menutupnya dengan sarung dan mencekik leher sosok tersebut. Sampai sosok tersebut teriak-teriak.

“Pak Jo, aku entuk maling e iki, bantu pegangin Pak Jo, jangan sampai lolos Pak Jo” Ajak Agus.

Pak Jo segera tanggap, langsung menindih sosok tersebut. “Mampus koe,, maling bangsat” Maki Pak Jo.

Sosok tersebut pun memberontak sambil memaki-maki. Mendengar makian itu, Kikuk merasa suara tersebut familiar. “Seperti suara Bapak” batin Kikuk.

“Gus, Pak Jo…. Stop-stop, buka sarungnya,” perintah Kikuk.

Setelah dirasa sosok tersebut sudah tidak bisa bergerak lagi, Agus membuka sarung penutupnya. Dan ternyata itu adalah Bapak Kikuk. Budi Cahyadi.

“Asu,… aku dudu maling. Aku Pak Budi.!!” Umpat Pak Budi. “Lepas… lepas…. “suruh Pak Budi dengan wajah merah padam.

“Pak Bud, situ ngapain ngumpet disemak-semak kaya maling gitu” tanya Pak Jo sambil menahan tawa. “Iyo Pak Bud, aku kira maling motornya Pak Sapto” Imbuh Agus.

“Maling matamu, aku lagi sembunyi dari Mamaknya si Kikuk” jawab Pak Budi.

“Lha kenapa to Pak, kok sampai sembunyi-sembunyi segala?” Tanya Kikuk.

“Tadi Bapak…..” Belum sempat Pak Budi menyelesaikan kalimatnya, dari arah rumah Kikuk terdengar suara Mamak kencang sekali.

“Budiiiiii Cahyadiiiiiiii…….!!!!”Teriak Mamak, “Kenapa Tupperware-ku pecaaaaah…!!!!??” Tariak Mamak makin kencang.

Mendengar itu, Agus dan Pak Jo langsung lari sambil teriak, “Aku ndak ikut-ikut Pak Bud”. Kikuk masih berdiri, ingin hati berlari juga tapi dia melihat bapaknya, memandang matanya. Seolah-olah ingin berkata “Semoga berhasil kisanak”. Setelah itu Kikuk pun berlari menyusul Agus dan Pak Jo.

Sementara Bapak seperti tersengat listrik, hanya mematung beberapa saat. Kemudian dia berjalan gontai menuju rumah. Entah kenapa rumah saat itu terlihat suram, seolah ada awan hitam penuh badai diatas atapnya. Dengan penuh kesadaran dia berjalan menuju sebuah pertarungan yang tidak mungkin akan dimenangkan. Dia pasrah sambil menyaut “i..iiyaa sayang”.

You Might Also Like

0 komentar: