Cerita Mas Kikuk : Lelaki Beraroma Jamban
Sudah 6 bulan Kikuk menjalin asmara dengan Sintia, selama 6 bulan tersebut hamper tidak ada ribut yang berarti diantara mereka berdua, semua berjalan lancar dan mulus-mulus saja. Berbeda dengan Agus yang masih saja bergonta ganti pacar. Selama 6 bulan Agus sudah berganti pasangan sebanyak tiga kali, melihat kondisi ini Agus menyadari bahwa ada yang salah dengan kisah asmaranya.
“Kuk, aku kok nggak bisa langgeng ya kalo pacara?” tanya Agus disuatu sore di kios bengkel Kikuk. “Padahal aku ini setia dan baik hati Kuk, apa kira-kira yang kurang ya” lanjut Agus.
“Baik hati kok ngaku-ngaku tho Gus, nggak ada orang baik yang ngaku-ngaku baik” Jawab Kikuk sambil tetap focus mengotak-atik hape nya Pak RW yang sedang diservice.
“Lha gimana nggak baik Kuk, semua yang diminta sama pacarku itu selalu ku kasih jee. Setiap malam minggu juga aku ajak jalan dan kutraktir, ya walupun cuma makan mie ayam Pak Jo” Jelas Agus.
“Ya mungkin memang nggak cocok aja Gus. Udahlah jangan terlalu dipikir. Ini sekarang kamu pacarana sama siapa?” tanya Kikuk.
“Evi Kuk, anaknya Pak Sapto yang rumahnya pas didepan rumah Pak RT”Jawab Agus.
Kikuk meletakkan alat service nya dan mulai serius menanggapi cerita Agus. Sambil sedikit menghela nafas Kikuk berkata “Ya sudah dijaga saja sama Evi, toh dia anak baik-baik kan, jangan sering bertengkar, kamu harus yang selalu mengalah Gus” Jelas Kikuk panjang lebar.
Agus yang tadinya cuma duduk menghadap ke arah jalan langsung menengok memandang Kikuk sambil mbatin. “Kemaki, baru juga pacara sekali kok sok ngajari”
“Kuk, aku pinjem vespamu ya, nanti malam aku mau jalan sama Evi” tanya Agus. “Iya, boleh, yang penting diisi bensin” jawab Kikuk
***
Dengan kemeja batik andalan, Agus mengendarai Vespa menuju rumah Evi. Sesampainya di rumah Evi dia langsung bertemu dengan Pak Sapto yang masih ngadem didepan rumah.
“Assalamualaikum Pak Sapto,” sapa Agus ramah.
“Waalaikumsalam, ono opo Gus, mau narikin iuran bulanan? Aku udah bayar Gus” Jawab Pak Sapto.
“Ndak Pak, masak udah rapi pake batik gini mau narikin iuran bulanan. Nganu Pak, saya mau ngajak Evi keluar Pak” Jelas Agus agak berhati-hati.
Evi yang sudah berdandan dan menunggu Agus sejak tadi pun keluar mendengar percakapan Agus dan Bapaknya.
“Mau kemana?” Tanya Pak Sapto tegas
“Ke pasar malam Pak, kebetulas kampung sebelah ada pasar malam” Jawab Agus. “Jangan kemalaman pulangnya, Jam 9.30 harus sudah dirumah, awas kalo lebih kukasih kamu Gus” Jawab Pak Sapto sambil mengacungkan kepalan tangannya ke Agus.
“Iya Pak Siap” sahut Agus agak bergetar.
Agus dan Evi pun pergi berboncengan menuju pasar malam. Sampai dilokasi mereka pun berjalan-jalan berkeliling pasar malam, mencoba berbagai wahana khas hiburan rakyat kampung. Sampai dirasa cukup puas merekapun mampir ke mie ayam Pak Jo.
“Pak Jo, biasa ya dua “kata Agus. “Loh baru lagi ini Gus?”Jawab Pak Jo.
“Huss udah, Pak Jo ini kaya ndak pernah muda saja, bikinkan yang agak pedes mie ayamnya ya Pak.” Jelas Agus.
Pak Jo sambil membuatkan mie ayam cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Agus. Selesai membuat mie ayam, Pak Jo mengantarnya ke meja Agus. “Nih, jangan lupa baca Bismilah” kata Pak Jo.
Sambil sesekali menggoda Evi, Agus melahap mie ayamnya. Kurang lebih waktu menunjukan pukul 9.00 malam. Setelah membayar mereka berdua pun langsung pulang menuju rumah Evi.
Ditengah jalan tiba-tiba Evi mencium aroma kurang enak, semacam aroma kentut. Namun Evi diam saja sambil berfikir, mungkin Agus kentut, dia tidak mau mempermalukan Agus dengan bertanya. Namun lebih dari 5 menit aroma tersebut tidak hilang dan semakin menyengat. Tidak tahan Evi pun bertanya.
“Mas Agus kentut ya?, kok bau kentut dari tadi” tanya Evi ragu.
“Ndak kok, mungkin bau selokan, kan tadi kita jalan lewat penggir selokan” Jawab Agus sambil menahan gejolak diperutnya. “Asu, Pak Jo ngasih mie ayam nya pakai apa sih, kok bisa bikin mules begini” Batin Agus.
Makin lama Agus merasa makin tidak tahan, tapi dia malus ama Evi kalo mengaku sakit perut. Nanti malah Evi mengira dia adalah lelaki yang tidak higienis, yang tidak memperhatikan kebersihan makanan, lelaki yang tidak empat sehat lima sempurna. Semakin ditahan dorongan untuk keluar semakin kuat, akhirnya sedikit ampas keluar dari celana Agus. “Asu, cepirit!!” batin Agus.
Evi makin tidak tahan, yang tadinya aromanya hanya sempriwing saja, kini semakin menyengat karena Agus sudah cepirit. Tak berapa lama mereka sampai di rumah Evi. Agus hendak turun dan pamitan dengan Pak Sapto ditahan oleh Evi.
“Mas ndak usah turun, langsung pulang saja” suruh Evi.
“Kenapa Dek?” tanya Agus penasaran. “Ndak papa Mas. Mas Agus ndak usah kesini lagi ya, kita putus aja” ucap Evi.
“Loh, kok gitu, kenapa Vi, kamu kok tega sama Mas” Agus ngotot tak terima.
“Nganu Mas, badan Mas Agus bau tai” Kata Evi sambil berlari masuk rumah.
Sambil memandang Evi yang masuk rumah, tanpa disadari air mata Agus menetes, hatinya remuk ajur, babak belur mendapati kenyataan asmaranya kandas. Sambil memutar bali vespa nya, Agus bergumam “Duh Gusti, Panjenangan maringi cepirit kok yo ora milih-milih wayah tho”.

0 komentar: