Cerita Mas Kikuk : Lelaki yang Ketiban Ndaru
Semenjek
mendapatkan puisi dari Kikuk, Sintia sering senyum-senyum sendiri saat melihat
kertas puisi tersebut. Pasalnya ini baru pertama kali nya Sintia mendapatkan
puisi dari seorang lelaki. Biasanya laki-laki yang mendekatinya selalu mengajak
makan berdua di café atau nonton bioskop. Sambil membaca ulang puisi Kikuk, dia
kembali mengingat saat Kikuk menyerahkan kertas puisi tanpa berani memandang
wajahnya, mengingat itu Sintia selalu tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya apa
yang dikatakan oleh Agus benar adanya. Sintia telah jatuh hati pada Kikuk.
Sementara itu Kikuk
di kios juga khawatir menunggu response dari Sintia atas puisinya tempo hari. Dia
mulai tidak focus bekerja. Sambil sesekali mengajak ngobrol Agus yang memang
setiap hari nongkrong di kios. “Gus, kok Sintia belum meresponse puisiku ya??”
tanya Kikuk khawatir.
“Tenang Kuk, sabar.
Kamu harus siap semua kemungkinan, kalau kamu sudah berani membuka hati ya kamu
siap untuk sakit hati” kata Agus bijak.
Kikuk memandangi
Agus sambil plonga-plongo. Melihat itu Agus kembali menjelaskan. “Gini loh Kuk.
Ada kemungkinan Sintia menolak perasaanmu, jadi kamu harus siap” Jelas Agus.
Kikuk
manggut-manggut dengan raut wajah berfikir. Tiba-tiba ada sebuah motor matic
berhenti tak jauh dari kios. Kikuk hanya melihat sekilas wajah tamu misterius
tersebut. Seperti terkena sengatan listrik. Jantung Kikuk langsung
berdebar-debar, keringat dingin keluar semua.
Wanita yang
sedang dibicarakan itu kini berada selemparan batu didepan Kikuk. Melihat
gelagat Kikuk, Agus segera mengambil inisiatif. “Eh, Sintia. Tumben kesini mau
servis apa?”tanya Agus meredakan suasana.
“Nggak servis
apa-apa Mas Agus, Cuma mau ketemu Mas Kikuk aja” jawab Sintia sambil melempar lirikan
dan senyum ke Kikuk.
Mendengar hal
tersebut, Kikuk berusaha mengendalikan dirinya. “Mau ngobrol dimana dek Tia?”
kata Kikuk gagap
Sintia tersenyum,
baru kali ini dia dipanggil begitu oleh laki-laki yang mendekatinya. “Disini
aja Mas, depan kios aja” jawab Sintia sambil tetap tersenyum.
“Gus, kamu nggak
mau ketemu Bapak, katanya mau bahas soal bola” kata Kikuk pada Agus.
“Nggak ah,,, kakiku masih pegel gara-gara gendong Pak Bud kelilig desa kemarin.”jawab Agus sekenanya. Sebagai orang yang masih belajar, tentu Kikuk bingung dengan jawaban Agus. Namun Agus paham, akhirnya dia mengalah masuk ke rumah.
“Nggak ah,,, kakiku masih pegel gara-gara gendong Pak Bud kelilig desa kemarin.”jawab Agus sekenanya. Sebagai orang yang masih belajar, tentu Kikuk bingung dengan jawaban Agus. Namun Agus paham, akhirnya dia mengalah masuk ke rumah.
“Ngapain kamu
masuk Gus, bukannya Kikuk lagi dikios?”tanya Bapak saat tiba-tiba Agus duduk
disebalahnya yang sedang nonton tivi.
“Kikuk lagi pacaran,
aku disuruh masuk” jawab Agus sambil mengambil tahu goreng dihadapannya.
Bapak tentu saja
kaget, Selama ini dia mengira tidak ada perempuan yang bakal mau sama Kikuk,
mengingat Kikuk sama sekali tidak punya nyali didepan perempuan. “Siapa Gus
perempuannya?” tanya Bapak Penasaran.
“Sintia, anak
Pak Lurah” jawab Agus sambil mengunyah tahu
Mendengar itu,
Bapak tentu kaget. Dia memanggil Istrinya, Yayuk Astuti sang mantan duta CTPS. “Mak,
sini,” kata Bapak. Disampaikanlah informasi dari Agus tersebut kepada sang
istri. Mamak juga ikut kaget, mereka berdua tiba-tiba ke ruang tamu mengintip Kikuk
dari jendela samping rumah. Melihat tingkah kedua orang tua Kikuk, Agus juga
ikut penasaran, sambil menyomot tahu goren lagi, dia ikuti Bapak dan mamak
mengintip Kikuk.
Tak lebih dari 45
menit, Sintia pamit pulang. Kikuk langsung balik kanan menuju rumah, sudah
waktunya sholat ashar dan makan. Belum sampai membuka pintu, tiba-tiba daun
pintu terbuka dan 3 wajah muncul dari pintu, Bapak, Mamak, dan Agus. Mereka penasaran
dengan pembicaraan Kikuk dan Sintia.
“Piye Kuk?”
tanya Agus, mamak dan bapak ikut menunggu jawaban.
Sambil malu-malu
Kikuk mangangguk, “jadian” katanya pelan menahan malu.
Seketika Mamak teriak
kecang sekali. “ Anaaakku duwe pacaaaaar” dengan expresi kegirangan, sambil
lompat memeluk Bapak.
Selepas Sholat
Ashar, Kikuk dan Agus duduk di teras. Kikuk mengataka kalau malam minggu besok Sintia
mengajak berjalan-jalan melihat pasar malam dilapangan. Tapi dia bingung karena
seumur hidup belum pernah kencan dengan wanita.
“Tenangno pikirmu
Den, ada Agus Rahmadi Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia” Katanya berbangga “Pertama,
kamu harus bawa duit, lalu belikan apa yang dia minta, gampang toh” kata Agus sambil
nyengir. “Asu” jawab Kikuk.
…
Hari yang ditentukan
tiba, sekitar pukul 7 malam, Agus mengantar Kikuk ke rumah Sintia untuk kencan
pertama. Pak Lurah kebetulan sedang tugas di kabupaten sehingga Kikuk bisa agak
laluasa.
Sintia berjalan
menghampiri Kikuk, berdandan sederhana, kemeja lengan panjang dipadukan rok dibawah
lutut, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai disebelah kiri, sedang
disebalah kanannya diselempitkan di daun telinga. “Cantik” gumam Kikuk.
Agus yang
berdiri disebelah Vespa pun berpendapat sama, kecantikan Sintia memang tidak bisa
disangkal siapapun.
“Ayok” kata Kikuk.
Sintia langsung
naik membonceng vespa Kikuk, dan meluncurlah mereka berdua kearah lapangan. Agus
cuma memandang mereka sampai tak terlihat lagi sambil membatin “Kamu memang
laki-laki beruntung Kuk, lelaki yang ketiban ndaru, bisa mendapatkan Sintia”
Namun tiba-tiba Agus
sadar. “Lha, aku pulangnya gimana? Hooo…Kikuk Jingan og” umpat Agus sambil
berjalan pulang dan mebayangkan Yuli, kekasihnya bulan ini.

0 komentar: