Cerita Mas Kikuk : Lelaki yang Ketiban Ndaru

00.11 lewatengah 0 Comments


Semenjek mendapatkan puisi dari Kikuk, Sintia sering senyum-senyum sendiri saat melihat kertas puisi tersebut. Pasalnya ini baru pertama kali nya Sintia mendapatkan puisi dari seorang lelaki. Biasanya laki-laki yang mendekatinya selalu mengajak makan berdua di café atau nonton bioskop. Sambil membaca ulang puisi Kikuk, dia kembali mengingat saat Kikuk menyerahkan kertas puisi tanpa berani memandang wajahnya, mengingat itu Sintia selalu tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Agus benar adanya. Sintia telah jatuh hati pada Kikuk.

Sementara itu Kikuk di kios juga khawatir menunggu response dari Sintia atas puisinya tempo hari. Dia mulai tidak focus bekerja. Sambil sesekali mengajak ngobrol Agus yang memang setiap hari nongkrong di kios. “Gus, kok Sintia belum meresponse puisiku ya??” tanya Kikuk khawatir.

“Tenang Kuk, sabar. Kamu harus siap semua kemungkinan, kalau kamu sudah berani membuka hati ya kamu siap untuk sakit hati” kata Agus bijak.

Kikuk memandangi Agus sambil plonga-plongo. Melihat itu Agus kembali menjelaskan. “Gini loh Kuk. Ada kemungkinan Sintia menolak perasaanmu, jadi kamu harus siap” Jelas Agus.

Kikuk manggut-manggut dengan raut wajah berfikir. Tiba-tiba ada sebuah motor matic berhenti tak jauh dari kios. Kikuk hanya melihat sekilas wajah tamu misterius tersebut. Seperti terkena sengatan listrik. Jantung Kikuk langsung berdebar-debar, keringat dingin keluar semua.

Wanita yang sedang dibicarakan itu kini berada selemparan batu didepan Kikuk. Melihat gelagat Kikuk, Agus segera mengambil inisiatif. “Eh, Sintia. Tumben kesini mau servis apa?”tanya Agus meredakan suasana.

“Nggak servis apa-apa Mas Agus, Cuma mau ketemu Mas Kikuk aja” jawab Sintia sambil melempar lirikan dan senyum ke Kikuk.

Mendengar hal tersebut, Kikuk berusaha mengendalikan dirinya. “Mau ngobrol dimana dek Tia?” kata Kikuk gagap

Sintia tersenyum, baru kali ini dia dipanggil begitu oleh laki-laki yang mendekatinya. “Disini aja Mas, depan kios aja” jawab Sintia sambil tetap tersenyum.

“Gus, kamu nggak mau ketemu Bapak, katanya mau bahas soal bola” kata Kikuk pada Agus.

“Nggak ah,,, kakiku masih pegel gara-gara gendong Pak Bud kelilig desa kemarin.”jawab Agus sekenanya. Sebagai orang yang masih belajar, tentu Kikuk bingung dengan jawaban Agus. Namun Agus paham, akhirnya dia mengalah masuk ke rumah.

“Ngapain kamu masuk Gus, bukannya Kikuk lagi dikios?”tanya Bapak saat tiba-tiba Agus duduk disebalahnya yang sedang nonton tivi.

“Kikuk lagi pacaran, aku disuruh masuk” jawab Agus sambil mengambil tahu goreng dihadapannya.

Bapak tentu saja kaget, Selama ini dia mengira tidak ada perempuan yang bakal mau sama Kikuk, mengingat Kikuk sama sekali tidak punya nyali didepan perempuan. “Siapa Gus perempuannya?” tanya Bapak Penasaran.

“Sintia, anak Pak Lurah” jawab Agus sambil mengunyah tahu

Mendengar itu, Bapak tentu kaget. Dia memanggil Istrinya, Yayuk Astuti sang mantan duta CTPS. “Mak, sini,” kata Bapak. Disampaikanlah informasi dari Agus tersebut kepada sang istri. Mamak juga ikut kaget, mereka berdua tiba-tiba ke ruang tamu mengintip Kikuk dari jendela samping rumah. Melihat tingkah kedua orang tua Kikuk, Agus juga ikut penasaran, sambil menyomot tahu goren lagi, dia ikuti Bapak dan mamak mengintip Kikuk.

Tak lebih dari 45 menit, Sintia pamit pulang. Kikuk langsung balik kanan menuju rumah, sudah waktunya sholat ashar dan makan. Belum sampai membuka pintu, tiba-tiba daun pintu terbuka dan 3 wajah muncul dari pintu, Bapak, Mamak, dan Agus. Mereka penasaran dengan pembicaraan Kikuk dan Sintia.

“Piye Kuk?” tanya Agus, mamak dan bapak ikut menunggu jawaban.

Sambil malu-malu Kikuk mangangguk, “jadian” katanya pelan menahan malu.

Seketika Mamak teriak kecang sekali. “ Anaaakku duwe pacaaaaar” dengan expresi kegirangan, sambil lompat memeluk Bapak.

Selepas Sholat Ashar, Kikuk dan Agus duduk di teras. Kikuk mengataka kalau malam minggu besok Sintia mengajak berjalan-jalan melihat pasar malam dilapangan. Tapi dia bingung karena seumur hidup belum pernah kencan dengan wanita.

“Tenangno pikirmu Den, ada Agus Rahmadi Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia” Katanya berbangga “Pertama, kamu harus bawa duit, lalu belikan apa yang dia minta, gampang toh” kata Agus sambil nyengir. “Asu” jawab Kikuk.


Hari yang ditentukan tiba, sekitar pukul 7 malam, Agus mengantar Kikuk ke rumah Sintia untuk kencan pertama. Pak Lurah kebetulan sedang tugas di kabupaten sehingga Kikuk bisa agak laluasa.

Sintia berjalan menghampiri Kikuk, berdandan sederhana, kemeja lengan panjang dipadukan rok dibawah lutut, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai disebelah kiri, sedang disebalah kanannya diselempitkan di daun telinga. “Cantik” gumam Kikuk.

Agus yang berdiri disebelah Vespa pun berpendapat sama, kecantikan Sintia memang tidak bisa disangkal siapapun.

“Ayok” kata Kikuk.

Sintia langsung naik membonceng vespa Kikuk, dan meluncurlah mereka berdua kearah lapangan. Agus cuma memandang mereka sampai tak terlihat lagi sambil membatin “Kamu memang laki-laki beruntung Kuk, lelaki yang ketiban ndaru, bisa mendapatkan Sintia”

Namun tiba-tiba Agus sadar. “Lha, aku pulangnya gimana? Hooo…Kikuk Jingan og” umpat Agus sambil berjalan pulang dan mebayangkan Yuli, kekasihnya bulan ini.


You Might Also Like

0 komentar: