Cerita Mas Kikuk : Perkara Hati, Wanita dan Puisi

06.01 lewatengah 0 Comments

Semenjak tragedi Hape Tai tersebut, hubungan Kikuk dan Agus sama sekali tidak berubah. Kikuk tau cuma Agus teman yang dia punya sejak kecil. Dia sudah memaafkan polah Agus yang kadang kelewatan tersebut. Agus memang jahil sejak kecil, perawakannya sedang agak kurus, kulitnya sawo mateng, wajahnya standar, selalu memakai kemeja garis-garis dan bercelana kain dengan rambutnya dibuat klimis jambul.

Yang membuat Kikuk heran adalah dengan modal tampang dan penampilan begitu, Agus selalu menjadi incaran para wanita. Kemampuannya untuk menggaet wanita memang mahsyur di desa. Terbukti hampir setiap bulan Agus selalu jalan dengan wanita yang beda-beda. Berbeda dengan Kikuk yang secara wajah mungkin sedikit lebih tampan dan kulitnya lebih cerah, namun selama hidupnya dia belum pernah pacaran sekalipun. Sehingga Agus secara tidak langsung menjadi penasihat percintaan Kikuk.

Seperti saat anak tunggal Pak Lurah yang kuliah di Bandung pulang mudik. Namanya Sintia, sejak SMP Kikuk sudah naksir, namun angan hanya sebatas angan. Dasar memang lelaki malu-malu marmut, dia cuma bisa memandang Sintia sambil senyam-senyum saja. Sintia sendiri adalah gadis manis campuran Sunda-Jawa. Keluarga Ibunya dari Sunda sedang Bapaknya dari Jawa. Kulitnya kuning langsat hidung mancung, rajin nan trengginas. Laki-laki manapun pasti setuju bahwa Sintia mendapatkan skor 8 dari 10. Namun sayang, Bapaknya yaitu Pak Lurah galaknya minta ampun. Walau hanya mellirik saja, Pak Lurah sudah melotot.

Agus tahu benar kalau Kikuk memendam rasa dengan Sintia sejak SMP, namun tidak berani mengungkapkannya. “Kuk, kamu tahu Sintia pulang kampung tuh” Kata Agus yang saat itu sedang nongkrong di kios Kikuk.

“Iya udah tahu, tadi aku lihat lewat jalan depan situ” Jawab Kikuk pura-pura tidak tertarik membahas Sintia. Padahal dihatinya sedang bergejolak.

“Biar kutebak, kamu pasti ndak nyapa. Pasti kamu diem aja kaya krupuk melempem” serang Agus. “Kuk… kalo kamu suka sama Sintia, ya sudah katakan saja, apa susahnya sih. Kaya aku ini loh, kalo aku suka sama cewek ya kubilang aku suka. Cewek itu suka laki-laki yang sat-set Kuk, yang trengginas gitu. Kalo kata Didi Kempot, Loss ke ae” cerocos Agus menceramai Kikuk.

“Lah gimana mau ngomong tha Gus, orang aku ngelihat dia dari deket aku udah ndredeg kok. Apalagi ngomomg, bisa mati berdiri aku.”kata Kikuk pasrah.

“Sudah sini, kuajari kamu biar bisa mengungkapkan perasaanmu pada Sintia. Bikinlah puisi Kuk, kata para pujangga, wanita itu lembut, suka bunga dan puisi” terang Agus.

“Gus aku ini sarjana Teknik Elektro. Kok disuruh bikin puisi” kata Kikuk

Tenangno pikirmu Den, masih ada Mas Agus Rahmadi Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kubikinkan puisi-puisi terbaik buat kamu” bangga Agus sambil tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya.

Besoknya, selepas mengajar, Agus pergi kios Kikuk. “Oh wahai pemuda loyo, penyelamat cintamu sudah datang” kata Agus meledek. “Ndasmu..!”jawab Kikuk.

“Ahahaha, tenang lurahe. Sudah kubikinkan puisi untuk kamu kasih ke Sintia.” kata Agus sambil mengeluarkan sebuah kertas dari kantong belakang celana kainnya. “Nih baca”.

Sambil menerima kertas tersebut, Kikuk membukanya dan membacanya;

Tahun-tahun berlalu menjadikanmu satu diantara manusia
 yang memuja kedekatan bukan ketulusan.

Padahal kemanapun aku pergi, pesonamu tak adakan pernah 
redup dan disitulah aku memutuskan hidup.

Aku tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan hati untuk akhitnya 
setiap manusia memiliki perasaan, juga otak yang tak berhenti memikirkan 
bagaimana cara mendapatkan waktu bersamaan, 

Karena mencintaimu adalah patah hati paling sengaja

“Bagus juga puisimu Gus, keren. Tapi apa ini akan berhasil Gus?”tanya Kikuk kuatir.

“Tenang saja Kuk, semua cewek yang aku pacarin semuanya aku taklukan dengan puisi ini”jawab Agus bangga. “Sudah, sekarang kamu mandi, biar badanmu gak berbau sangit bekas solder. Lalu kamu datang ke rumah Pak Lurah panggil Sintia agar membuka jendela kamarnya, lalu lemparkan puisi itu kepadanya” Jelas Agus.

Sore jam 4 setelah menutup kios, dengan berpakaian kemeja berambut klimis, Kikuk dan Agus berboncengan vespa antik menuju rumah Pak Lurah. Sampai kira-kira 10 meter dari rumah Pak Lurah, Agus menghentikan Vespanya.

“Kok berenti? Tanya Kikuk. “Kita susun rencana dulu. Aku akan lewat depan mengalihkan Pak Lurah. Kamu kesamping rumah ke kamar Sintia”terang Agus.

“Tapi nanti kalo ketahuan gimana Gus?”tanya Kikuk khawatir.

“Sudah tenang saja, gak bakal ketahuan. Kasih puisinya langsung pergi.”Agus mencoba meyakinkan.

“Oke” Merekapun menuju rumah Pak Lurah, Seperti rencana, Kikuk berbelok lebih dulu ke samping rumah. Agus menuju pintu depan rumah. Terlihat Pak Lurah sedang ngopi sambil merokok santai. “Assalamualaikum Pak Lurah”sapa Agus.

“Waalaikumsalam, duduk Gus”jawab Pak Lurah. “Ada apa Gus, tumben kamu kesini.”tanya Pak Lurah curiga.

“Ini Pak, saya mau ngobrol saja sama mau usul Pak. Desa kita ini belum ada fasilitas lapangan untuk nanggap orkes dangdut Pak. Saya usul dibikinkan Pak, pemuda desa kan juga perlu hiburan” kata Agus sambil nyengir.

“Emang mau nanggap siapa?” tanya Pak Lurah penasaran.

“Ya siapa lagi kalo bukan Via Vallen Pak”jawab Agus. “Selain suaranya merdu bagai manuk prenjak. Body dan goyangannya Pak, hmmm,,,……..”

“Huss… jangan keras-keras, ada Bu Lurah didalam” kata Pak Lurah memperingatkan.


Sedangkan disamping rumah, Kikuk mengendap-endap tepat dibawah jendela kamar Sintia. Pelan sekali dia mengetuk jendela. Jantungnya berdebar cepat sekali, tangannya ndredeg. Keringat dingin mengucur. Kacamatanya sampai basah.

Begitu Sintia membuka jendela, Sintia kaget karena ada Kikuk. Namun dalam sekejap Sintia dapat mengendalikan kekagetannya.

“Mas Kikuk kok disini? Ada apa?” Tanya Sintia sambil memandang heran.

Kikuk tidak berani menganggat wajahnya, ia menunduk gemetar. Dia diam cukup lama lalu pelan-pelan tangan kanannya mengambil kertas puisi itu, masih dengan tangan gemetar ia ulurkan kertas itu dan diterima oleh Sintia. Tentu saja Sintia bingung.

Lalu pelan dan lirih sambil tetap menunduk gemetar Kikuk berkata “Aku suka sama Sintia”. Suara Kikuk pelan sekali. Namun Sintia mendengarnya dengan jelas. Tanpa melihat reaksi Sintia, Kikuk langsung balik kanan dan berlari. Sampai dipinggir jalan, ia memberi kode pada Agus kalau misinya sudah selesai.

Agus pun berpamitan dengan Pak Lurah, lalu memboncengkan Kikuk yang sudah basah oleh keringat dingin. Sambil mengendarai vespa antik, Agus bertanya “Hahaha.. gimana, sukses kan kuk? Sukses pasti. Sintia suka kan sama puisinya? Pasti suka lah” kata Agus sumringah sambil tetap fokus mengendari vespa.

Kikuk diam saja, tidak memberi respon apa-apa. “Kamu kenapa sih kuk, diam begitu, kan misimu sudah sukses, kenapa lagi?”tanya Agus penasaran.

“Nganu Gus…. Aku ngompol” bisik Kikuk.

“Bajingan…. Pantesan ini vespa kok aromanya ganti jadi aroma pete. Cah goblok..!” Maki Agus.


((Ini adalah tulisan kedua dari beberapa tulisan seri mengenai cerita Mas Kikuk. Nantikan seri berikutnya)

You Might Also Like

0 komentar: