Cerita Mas Kikuk : Perkara Hati, Wanita dan Puisi
Semenjak tragedi
Hape Tai tersebut, hubungan Kikuk dan Agus sama sekali tidak berubah. Kikuk tau
cuma Agus teman yang dia punya sejak kecil. Dia sudah memaafkan polah Agus yang
kadang kelewatan tersebut. Agus memang jahil sejak kecil, perawakannya sedang agak
kurus, kulitnya sawo mateng, wajahnya standar, selalu memakai kemeja garis-garis
dan bercelana kain dengan rambutnya dibuat klimis jambul.
Yang membuat Kikuk
heran adalah dengan modal tampang dan penampilan begitu, Agus selalu menjadi
incaran para wanita. Kemampuannya untuk menggaet wanita memang mahsyur di desa.
Terbukti hampir setiap bulan Agus selalu jalan dengan wanita yang beda-beda.
Berbeda dengan Kikuk yang secara wajah mungkin sedikit lebih tampan dan
kulitnya lebih cerah, namun selama hidupnya dia belum pernah pacaran sekalipun.
Sehingga Agus secara tidak langsung menjadi penasihat percintaan Kikuk.
Seperti saat
anak tunggal Pak Lurah yang kuliah di Bandung pulang mudik. Namanya Sintia,
sejak SMP Kikuk sudah naksir, namun angan hanya sebatas angan. Dasar memang lelaki
malu-malu marmut, dia cuma bisa memandang Sintia sambil senyam-senyum saja. Sintia
sendiri adalah gadis manis campuran Sunda-Jawa. Keluarga Ibunya dari Sunda
sedang Bapaknya dari Jawa. Kulitnya kuning langsat hidung mancung, rajin nan
trengginas. Laki-laki manapun pasti setuju bahwa Sintia mendapatkan skor 8 dari
10. Namun sayang, Bapaknya yaitu Pak Lurah galaknya minta ampun. Walau hanya
mellirik saja, Pak Lurah sudah melotot.
Agus tahu benar kalau
Kikuk memendam rasa dengan Sintia sejak SMP, namun tidak berani
mengungkapkannya. “Kuk, kamu tahu Sintia pulang kampung tuh” Kata Agus yang
saat itu sedang nongkrong di kios Kikuk.
“Iya udah tahu,
tadi aku lihat lewat jalan depan situ” Jawab Kikuk pura-pura tidak tertarik
membahas Sintia. Padahal dihatinya sedang bergejolak.
“Biar kutebak,
kamu pasti ndak nyapa. Pasti kamu diem aja kaya krupuk melempem” serang Agus. “Kuk…
kalo kamu suka sama Sintia, ya sudah katakan saja, apa susahnya sih. Kaya aku
ini loh, kalo aku suka sama cewek ya kubilang aku suka. Cewek itu suka laki-laki
yang sat-set Kuk, yang trengginas gitu. Kalo kata Didi Kempot, Loss
ke ae” cerocos Agus menceramai Kikuk.
“Lah gimana mau
ngomong tha Gus, orang aku ngelihat dia dari deket aku udah ndredeg kok.
Apalagi ngomomg, bisa mati berdiri aku.”kata Kikuk pasrah.
“Sudah sini, kuajari
kamu biar bisa mengungkapkan perasaanmu pada Sintia. Bikinlah puisi Kuk, kata
para pujangga, wanita itu lembut, suka bunga dan puisi” terang Agus.
“Gus aku ini sarjana
Teknik Elektro. Kok disuruh bikin puisi” kata Kikuk
“Tenangno
pikirmu Den, masih ada Mas Agus Rahmadi Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Kubikinkan puisi-puisi terbaik buat kamu” bangga Agus sambil tersenyum
dan menepuk-nepuk dadanya.
Besoknya, selepas
mengajar, Agus pergi kios Kikuk. “Oh wahai pemuda loyo, penyelamat cintamu
sudah datang” kata Agus meledek. “Ndasmu..!”jawab Kikuk.
“Ahahaha, tenang
lurahe. Sudah kubikinkan puisi untuk kamu kasih ke Sintia.” kata Agus sambil
mengeluarkan sebuah kertas dari kantong belakang celana kainnya. “Nih baca”.
Sambil menerima
kertas tersebut, Kikuk membukanya dan membacanya;
Tahun-tahun
berlalu menjadikanmu satu diantara manusia
yang memuja kedekatan bukan
ketulusan.
Padahal
kemanapun aku pergi, pesonamu tak adakan pernah
redup dan disitulah aku
memutuskan hidup.
Aku
tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan hati untuk akhitnya
setiap manusia
memiliki perasaan, juga otak yang tak berhenti memikirkan
bagaimana cara
mendapatkan waktu bersamaan,
Karena mencintaimu adalah patah hati paling sengaja
“Bagus juga puisimu
Gus, keren. Tapi apa ini akan berhasil Gus?”tanya Kikuk kuatir.
“Tenang saja
Kuk, semua cewek yang aku pacarin semuanya aku taklukan dengan puisi ini”jawab Agus
bangga. “Sudah, sekarang kamu mandi, biar badanmu gak berbau sangit bekas
solder. Lalu kamu datang ke rumah Pak Lurah panggil Sintia agar membuka jendela
kamarnya, lalu lemparkan puisi itu kepadanya” Jelas Agus.
Sore jam 4
setelah menutup kios, dengan berpakaian kemeja berambut klimis, Kikuk dan Agus
berboncengan vespa antik menuju rumah Pak Lurah. Sampai kira-kira 10 meter dari
rumah Pak Lurah, Agus menghentikan Vespanya.
“Kok berenti?
Tanya Kikuk. “Kita susun rencana dulu. Aku akan lewat depan mengalihkan Pak
Lurah. Kamu kesamping rumah ke kamar Sintia”terang Agus.
“Tapi nanti kalo
ketahuan gimana Gus?”tanya Kikuk khawatir.
“Sudah tenang
saja, gak bakal ketahuan. Kasih puisinya langsung pergi.”Agus mencoba meyakinkan.
“Oke” Merekapun
menuju rumah Pak Lurah, Seperti rencana, Kikuk berbelok lebih dulu ke samping
rumah. Agus menuju pintu depan rumah. Terlihat Pak Lurah sedang ngopi sambil
merokok santai. “Assalamualaikum Pak Lurah”sapa Agus.
“Waalaikumsalam,
duduk Gus”jawab Pak Lurah. “Ada apa Gus, tumben kamu kesini.”tanya Pak Lurah curiga.
“Ini Pak, saya mau
ngobrol saja sama mau usul Pak. Desa kita ini belum ada fasilitas lapangan untuk
nanggap orkes dangdut Pak. Saya usul dibikinkan Pak, pemuda desa kan juga perlu
hiburan” kata Agus sambil nyengir.
“Emang mau
nanggap siapa?” tanya Pak Lurah penasaran.
“Ya siapa lagi
kalo bukan Via Vallen Pak”jawab Agus. “Selain suaranya merdu bagai manuk
prenjak. Body dan goyangannya Pak, hmmm,,,……..”
“Huss… jangan keras-keras,
ada Bu Lurah didalam” kata Pak Lurah memperingatkan.
…
Sedangkan
disamping rumah, Kikuk mengendap-endap tepat dibawah jendela kamar Sintia.
Pelan sekali dia mengetuk jendela. Jantungnya berdebar cepat sekali, tangannya
ndredeg. Keringat dingin mengucur. Kacamatanya sampai basah.
Begitu Sintia
membuka jendela, Sintia kaget karena ada Kikuk. Namun dalam sekejap Sintia
dapat mengendalikan kekagetannya.
“Mas Kikuk kok
disini? Ada apa?” Tanya Sintia sambil memandang heran.
Kikuk tidak
berani menganggat wajahnya, ia menunduk gemetar. Dia diam cukup lama lalu
pelan-pelan tangan kanannya mengambil kertas puisi itu, masih dengan tangan gemetar
ia ulurkan kertas itu dan diterima oleh Sintia. Tentu saja Sintia bingung.
Lalu pelan dan
lirih sambil tetap menunduk gemetar Kikuk berkata “Aku suka sama Sintia”. Suara
Kikuk pelan sekali. Namun Sintia mendengarnya dengan jelas. Tanpa melihat
reaksi Sintia, Kikuk langsung balik kanan dan berlari. Sampai dipinggir jalan,
ia memberi kode pada Agus kalau misinya sudah selesai.
Agus pun berpamitan
dengan Pak Lurah, lalu memboncengkan Kikuk yang sudah basah oleh keringat
dingin. Sambil mengendarai vespa antik, Agus bertanya “Hahaha.. gimana, sukses
kan kuk? Sukses pasti. Sintia suka kan sama puisinya? Pasti suka lah” kata Agus sumringah sambil tetap fokus mengendari vespa.
Kikuk diam saja,
tidak memberi respon apa-apa. “Kamu kenapa sih kuk, diam begitu, kan misimu sudah
sukses, kenapa lagi?”tanya Agus penasaran.
“Nganu Gus…. Aku
ngompol” bisik Kikuk.
“Bajingan…. Pantesan ini vespa
kok aromanya ganti jadi aroma pete. Cah goblok..!” Maki Agus.

0 komentar: