Dewatanisasi Insani

04.29 lewatengah 0 Comments

Istilah Devine Human pertama kali saya temukan dalam penelitian Nengah Bawa Atmadja, salah seorang Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha, yang berjudul Dewatanisasi Insani : Pemaknaan Pendidikan Dalam Perspektif Filsafat Hindu. Devine Human dimaknai sebagai insan yang berkarakter kedewataan yang sekaligus mencegah kehadiran manusia berkarakter keraksasaan. Karakter dewata dalam diri manusia juga bisa dikatakan sebagai manusia yang ideal, yairu memiliki ciri-ciri diantaranya adalah ; pertama, mampu mengendalikan dominasi dan hegemoni tubuh, panca indra dan hasrat serta manah (pikiran) dan budhi (kecerdasan), kedua adalah mengendali sifat keraksasaan dirinya sendiri (dalam gagasan filosofis Hindu, semua manusia memiliki kedewataan dan keraksasaan dalam satu tubuh). Lalu lebih mengedepankan sifat sifat kebaikan dalam diri manusia dari pada sifat keburukan.

Apa yang dikatakan sebagai Devine Human diatas merupakan gambaran mengenai manusia madani, yaitu manusia dengan karakter unggul dengan sifat-sifat kebaikan. Sehingga tujuan pendidikan bukan lagi membuat manusia dari tidak tahu menjadi tahu, tujuan pendidikan bukan juga untuk membuat manusia mampu mengambangkan dirinya. Sebab untuk sampai pada pengembangan diri, manusia haruslah mengetahui bagian dari dirinya yang mana yang harus dikembangkan. Teori-teori pembelajaran yang ada saat ini menekankan pendidikan sebagai suatu proses untuk membuat orang yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, orang yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Namun sesungguhkan tahapan tahu dan mengerti adalah tahapan sementara dalam proses pencapaikan tujuan yang utama. Jika melalui pendidikan, seseorang mengetahui bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, kemudian dia tetap mencuri, apakah pendidikan yang dberikan pada orang tersebut berhasil?. Tujuan pendidikan adalah membuat orang menjadi baik.

Selain itu dalam pendidikan kita juga masih sering terjebak dalam dua pilihan yang sebenarnya keduanya tidak benar, yaitu pilih nilai atau ilmu. Sedangkan nilai dan ilmu itu bukanlah hasil akhir yang ingin dicapai oleh pendidikan. Ironisnya, para kaum intelektual merasa bahwa proses pendidikan yang mereka lakukan berhasil, jika pertama, memiliki ijazah dengan nilai baik. dan kedua, kemampuan intelektualnya yang meningkat dibandingkan sebelum mengalami proses pendidikan. Mereka tidak memahami bahwa kemampuan intelektual dan nilai bagus itu masih baru setengah jalan menuju tujuan sesungguhnya. Jika dengan kemampuan intelektual yang tinggi dan nilai yang baik, namun tidak bisa mengubah dirinya menjadi bersifat kedewataan maka pendidikan yang dilakukannya gagal total.

Dalam perspektif Devine Human, maka akan sangat sulit sekali mempercayai, atau bahwa tidak mungkin seseorang yang terdidik bisa melakukan tindakan-tindakan yang bersebrangan dengan nilai dan norma serta bersebrangan dengan hukum. Karena adalah hal yang tidak mungkin seseorang dengan karakter dewata mampu berbuat hal-hal durjana. Lalu yang apa yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini. bagitu banyak kelakuan mereka yang notabene terdidik namun tidak menjadi berakhlak dewata, namun justru berakhlak raksasa. Hampir rata-rata, atau mungkin semua tersangka kasus korupsi adalah manusia-manusia yang mengenyam pendidikan dari sejak SD hingga Perguruan tinggi, bahkan ada yang sudah sampai jenjang S3, dan lulusan dari universitas yang memiliki kualitas mentereng. Namun pendidikan yang mereka terima selama lebih dari 15 tahun itu tidak membekas apa-apa pada tingkah laku mereka.

Mungkin pendidikan kita memang tidak pernah menyimpang dari tujuannya, karena memamg sejak awal tujuan pendidikan kita bukan untuk membentuk insan berakhlak dewata. Logikanya demikian; mereka yang melakukan korupsi saat ini adalah manusia–manusia hasil pendidikan 20 tahun silam, pada masa orde baru, yang sering dikatakan KKN merajalela, adalah hasil didikan 20 tahun sebelumnya, sehingga mungkin memang sejak awal berdirinya republic ini pendidikan kita bukan untuk mencetak generasi mulia berkahlak dewata atau generasi madani. Namun hanya sekedar mencatak orang pintar, orang ahli, orang pandai. Mungkin pendidikan yang paling ideal sterjadi pada masa sebelum proklamasi, yaitu di rumah Hos Tjokroaminoto. Sang Guru Bangsa yang menghasilkan para intelektual macam Soekarno.

            Apabila hal ini terus belanjut maka, manusia akan menjadi asing terhadap kebaikan. Meraka akan menganggap kebaikan, kejujuran, kesederhanaan adalah hal yang tidak seharusnya ada. sifat bohong, tidak jujur, dan sebagainya, akan dianggap sebagai hal lumrah.  Manusia akan lupa akan potensi kebaikan yang ada dalam diri mereka sendiri. Manusia akan tidak lagi mempercayai bahwa selain ada raksasa dalam diri kita juga ada dewata. Sudah sering terjadi setiap ada orang berbuat baik akan dielu-elukan, disanjung-sanjung. Padahal mereka lupa, bahwa kita semua ini manusia, dan manusia berbuat kebaikan adalah sebuah hal yang sudah seharusnya. Tidak perlu gumun, dan kaget. Terkecuali jika ang melakukan kebaikan itu hewan atau tumbuhan, maka kita boleh sedikit keget, karena mereka tidak dibekali kemampuan akal berfikir seperti kita.


            Bukan perkara mudah memang, namun jika kita tidak mulai memahami mengenai tujuan dari belajar dan sekolah, maka proses pendidikan yang sekian lama tersebut tidak akan mekasimal membangun bangsa, Sebab membangun bangsa bukan melulu perkara membangun bendungan, kereta cepat, pembangkit listrik, atau gedung-gedung pencakar langit. Namun membangun bangsa juga tentang membangun kesadaran manusianya agar menjadi manusia yang madani, yang berakhlak dewata. Apa yang lebih membahagiakan selain melihat negara yang baik infratrukturnya dan baik pula akhlak manusianya.(*)  

You Might Also Like

0 komentar: