Dewatanisasi Insani
Istilah
Devine Human pertama kali saya
temukan dalam penelitian Nengah Bawa Atmadja, salah seorang Dosen Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Pendidikan Ganesha, yang berjudul Dewatanisasi Insani :
Pemaknaan Pendidikan Dalam Perspektif Filsafat Hindu. Devine Human dimaknai sebagai insan yang berkarakter kedewataan
yang sekaligus mencegah kehadiran manusia berkarakter keraksasaan. Karakter
dewata dalam diri manusia juga bisa dikatakan sebagai manusia yang ideal, yairu
memiliki ciri-ciri diantaranya adalah ; pertama, mampu mengendalikan dominasi
dan hegemoni tubuh, panca indra dan hasrat serta manah (pikiran) dan budhi
(kecerdasan), kedua adalah mengendali sifat keraksasaan dirinya sendiri (dalam
gagasan filosofis Hindu, semua manusia memiliki kedewataan dan keraksasaan
dalam satu tubuh). Lalu lebih mengedepankan sifat sifat kebaikan dalam diri
manusia dari pada sifat keburukan.
Apa
yang dikatakan sebagai Devine Human
diatas merupakan gambaran mengenai manusia madani, yaitu manusia dengan karakter
unggul dengan sifat-sifat kebaikan. Sehingga tujuan pendidikan bukan lagi
membuat manusia dari tidak tahu menjadi tahu, tujuan pendidikan bukan juga
untuk membuat manusia mampu mengambangkan dirinya. Sebab untuk sampai pada
pengembangan diri, manusia haruslah mengetahui bagian dari dirinya yang mana
yang harus dikembangkan. Teori-teori pembelajaran yang ada saat ini menekankan
pendidikan sebagai suatu proses untuk membuat orang yang sebelumnya tidak tahu
menjadi tahu, orang yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Namun
sesungguhkan tahapan tahu dan mengerti adalah tahapan sementara dalam proses
pencapaikan tujuan yang utama. Jika melalui pendidikan, seseorang mengetahui
bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, kemudian dia tetap mencuri,
apakah pendidikan yang dberikan pada orang tersebut berhasil?. Tujuan
pendidikan adalah membuat orang menjadi baik.
Selain
itu dalam pendidikan kita juga masih sering terjebak dalam dua pilihan yang
sebenarnya keduanya tidak benar, yaitu pilih nilai atau ilmu. Sedangkan nilai
dan ilmu itu bukanlah hasil akhir yang ingin dicapai oleh pendidikan.
Ironisnya, para kaum intelektual merasa bahwa proses pendidikan yang mereka
lakukan berhasil, jika pertama, memiliki ijazah dengan nilai baik. dan kedua,
kemampuan intelektualnya yang meningkat dibandingkan sebelum mengalami proses
pendidikan. Mereka tidak memahami bahwa kemampuan intelektual dan nilai bagus
itu masih baru setengah jalan menuju tujuan sesungguhnya. Jika dengan kemampuan
intelektual yang tinggi dan nilai yang baik, namun tidak bisa mengubah dirinya
menjadi bersifat kedewataan maka pendidikan yang dilakukannya gagal total.
Dalam
perspektif Devine Human, maka akan
sangat sulit sekali mempercayai, atau bahwa tidak mungkin seseorang yang
terdidik bisa melakukan tindakan-tindakan yang bersebrangan dengan nilai dan
norma serta bersebrangan dengan hukum. Karena adalah hal yang tidak mungkin
seseorang dengan karakter dewata mampu berbuat hal-hal durjana. Lalu yang apa
yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini. bagitu banyak kelakuan mereka
yang notabene terdidik namun tidak menjadi berakhlak dewata, namun justru
berakhlak raksasa. Hampir rata-rata, atau mungkin semua tersangka kasus korupsi
adalah manusia-manusia yang mengenyam pendidikan dari sejak SD hingga Perguruan
tinggi, bahkan ada yang sudah sampai jenjang S3, dan lulusan dari universitas
yang memiliki kualitas mentereng. Namun pendidikan yang mereka terima selama
lebih dari 15 tahun itu tidak membekas apa-apa pada tingkah laku mereka.
Mungkin
pendidikan kita memang tidak pernah menyimpang dari tujuannya, karena memamg
sejak awal tujuan pendidikan kita bukan untuk membentuk insan berakhlak dewata.
Logikanya demikian; mereka yang melakukan korupsi saat ini adalah
manusia–manusia hasil pendidikan 20 tahun silam, pada masa orde baru, yang
sering dikatakan KKN merajalela, adalah hasil didikan 20 tahun sebelumnya,
sehingga mungkin memang sejak awal berdirinya republic ini pendidikan kita
bukan untuk mencetak generasi mulia berkahlak dewata atau generasi madani.
Namun hanya sekedar mencatak orang pintar, orang ahli, orang pandai. Mungkin
pendidikan yang paling ideal sterjadi pada masa sebelum proklamasi, yaitu di
rumah Hos Tjokroaminoto. Sang Guru Bangsa yang menghasilkan para intelektual
macam Soekarno.
Apabila hal ini terus belanjut maka,
manusia akan menjadi asing terhadap kebaikan. Meraka akan menganggap kebaikan,
kejujuran, kesederhanaan adalah hal yang tidak seharusnya ada. sifat bohong,
tidak jujur, dan sebagainya, akan dianggap sebagai hal lumrah. Manusia akan lupa akan potensi kebaikan yang
ada dalam diri mereka sendiri. Manusia akan tidak lagi mempercayai bahwa selain
ada raksasa dalam diri kita juga ada dewata. Sudah sering terjadi setiap ada
orang berbuat baik akan dielu-elukan, disanjung-sanjung. Padahal mereka lupa,
bahwa kita semua ini manusia, dan manusia berbuat kebaikan adalah sebuah hal
yang sudah seharusnya. Tidak perlu gumun,
dan kaget. Terkecuali jika ang melakukan kebaikan itu hewan atau tumbuhan, maka
kita boleh sedikit keget, karena mereka tidak dibekali kemampuan akal berfikir
seperti kita.
Bukan perkara mudah memang, namun
jika kita tidak mulai memahami mengenai tujuan dari belajar dan sekolah, maka
proses pendidikan yang sekian lama tersebut tidak akan mekasimal membangun
bangsa, Sebab membangun bangsa bukan melulu perkara membangun bendungan, kereta
cepat, pembangkit listrik, atau gedung-gedung pencakar langit. Namun membangun
bangsa juga tentang membangun kesadaran manusianya agar menjadi manusia yang
madani, yang berakhlak dewata. Apa yang lebih membahagiakan selain melihat
negara yang baik infratrukturnya dan baik pula akhlak manusianya.(*)

0 komentar: