Alay Buku Radikal

20.12 lewatengah 0 Comments

Akhir-akhir ini dunia pendidikan dasar negeri ini digegerkan oleh sebuah klaim yang mengatakan bahwa ada unsur radikalisme dalam buku yang diajarkan di taman kanak-kanak. Bahkan ada desakan yang dilayangkan pada Menteri Pendidikan Anis Baswedan untuk menarik buku-buku tersebut. Akhirnya buku-buku tersebut tidak lagi digunakan untuk mengajar anak TK. Namun apakah memang demikian berbahanya buku tersebut. Apakah buku tersebut lebih berbahaya daripada tayangan televisi yang menayangkan sinetron picisan anak-anak SMA yang tidak layak itu. Sehingga orang-orang ramai mendesak agar buku tersebut ditarik.

Saya coba untuk iseng mencari tahu apa yang membuat buku tersebut demikian berbahaya dan bisa menumbuhkan bibit-bibit radikalisme pada anak-anak TK. Setelah beberapa judul berita saya buka di salah satu portal online, saya temukan bahwa yang membuat buku tersebut dianggap berbahaya dan mengandung unsur radikal adalah adanya kata “Jihad”, “Bom”, “Gegana” dan “Syahid”. Demikian kutipan yang saya ambil dari kompas.com

“Sedikitnya, GP Ansor menemukan ada 32 kalimat dalam lima buku tersebut yang dianggap mengarah para radikalisme. Beberapa diantaranya adalah “Gegana ada dimana”, “Bahaya Sabotase”, “Cari Lokasi Dibekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”, “Bom”, “Sahid di Medan Jihad”, hingga “Selesai Raih Bantai Kiai”.
“Kata-kata yang dimaksud tidak tepat untuk menjadi bagian dari metoda belajar kepada usia TK. Kata-kata ini cenderung menumbuhkan benih-benih radikalisme,” kata Wakil ketua Umum GP Ansor, Benny Ramdhani.”

Itu adalah penggalan kalimat berita yang saya baca di Kompas Online. Ada sebuah kealayan yang luar biasa dalam tuduhan yang dilayangkan pada buku TK itu. Bagaimana mungkin kalimat-kalimat itu menumbuhkan benih-benih radikalisme. Logika macam apa yang digunakan untuk mengeluarkan statement itu. Itu hanya sebuah kata yang tersusun menjadi kalimat. Apa dosa mereka sehingga mereka harus dinistakan sedemikian rupa dan dituduh menumbuhkan benih-benih radikalisme. Mereka sama dan tidak berbeda dengan kalimat “Budi Bermain Bola” dan “Ani Membantu Ibu”.

Selain itu, apa kalian tidak kasian dengan adik-adik TK yang masih unyu itu, tidakkah engkau pahami bahwa usia mereka adalah usia Golden Age, dimana usia tersebut adalah usia terbaik untuk belajar dan memperolah informasi sebanyak-banyaknya. Otak mereka sedang kelaparan dengan ilmu. Lalu kalian tega melarang mereka mempelajari kalimat-kalimat tertentu hanya kalian takut mereka akan menjadi teroris suatu saat kelak. Oh, sungguh kalian  telah melanggar hak konstitusi mereka untuk mendapatkan pendidikan. Seharusnya kalian yang dilarang beredar, bukan buku-buku itu.

Kalau kemudian dikatakan bahwa kata-kata tersebut tidak tepat untuk metoda belajar usia TK. Memangnya metoda belajar usia TK itu seperti apa.? . Saya beritahu sedikit, menurut teori pendidikan, bahwa pendidikan dasar bagi anak-anak TK ditekankan pada permainan, serta baca tulis. Artinya sebagaian besar waktu anak TK itu untuk bermain serta belajar membaca dan menulis dengan permainan pula. Dalam teori Taksonomi Bloom, kemampuan mereka masih dalam kategori pengetahuan fakta. Sehingga kita tidak perlu khawatir dan kebakaran jenggot kalau kemudian anak TK jadi radikal gara-gara mendengar kata Jihad dan Syahid. Mereka belum sampai untuk memahami konsep Jihad dan Syahid.

Diatambah lagi, dalam ajaran Islam kata Jihad dan Sahid adalah kata yang sangat umum dan biasa sekali. Bukan kata yang khusus dan special. Tidak ada yang perlu ditakuti dari dua kata tersebut. kalau kata tersebut tidak boleh diucapkan di depan anak TK, berarti anak-anak TK tidak boleh beritahu dan diceritakan kisah-kisah mulia Rosul bersama para sahabat saat berjuang memperjuangkan Islam. Karena kedua kata tersebut pasti muncul dalam kisah-kisah Rosul dan Sahabat. Hayoo…. Mingkem kwe..

Yang menjadikan kedua kata tersebut menjadi kata yang identik dengan aksi terror adalah interpretasi dan pemaknaan yang kurang tepat dari kata tersebut. Selama kemudian guru atau pengajar bisa mengajarkan kata-kata dan kalimat tadi dengan benar dan pemaknaan yang tepat, tidak perlu takut anak-anak kita menjadi calon teroris. Menjadi radikal dan teroris bukan karena buku, namun seringnya karena cuci otak yang dilakukan oleh mereka yang merekrut. Sekali lagi membaca buku dengan kata “Bahaya Sabotase”, “Cari Lokasi Dibekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”, “Bom”, “Sahid di Medan Jihad”, hingga “Selesai Raih Bantai Kiai” tidak membuat anak TK menjadi radikal nantinya. Sama seperti halnya kalian tidak akan berkelakuan seperti monyet gara-gara makan buah pisang diwaktu kecil.(*)



You Might Also Like

0 komentar: