Alay Buku Radikal
Akhir-akhir
ini dunia pendidikan dasar negeri ini digegerkan oleh sebuah klaim yang
mengatakan bahwa ada unsur radikalisme dalam buku yang diajarkan di taman kanak-kanak.
Bahkan ada desakan yang dilayangkan pada Menteri Pendidikan Anis Baswedan untuk
menarik buku-buku tersebut. Akhirnya buku-buku tersebut tidak lagi digunakan
untuk mengajar anak TK. Namun apakah memang demikian berbahanya buku tersebut. Apakah
buku tersebut lebih berbahaya daripada tayangan televisi yang menayangkan
sinetron picisan anak-anak SMA yang tidak layak itu. Sehingga orang-orang ramai
mendesak agar buku tersebut ditarik.
Saya
coba untuk iseng mencari tahu apa yang membuat buku tersebut demikian berbahaya
dan bisa menumbuhkan bibit-bibit radikalisme pada anak-anak TK. Setelah
beberapa judul berita saya buka di salah satu portal online, saya temukan bahwa
yang membuat buku tersebut dianggap berbahaya dan mengandung unsur radikal
adalah adanya kata “Jihad”, “Bom”, “Gegana” dan “Syahid”. Demikian kutipan yang
saya ambil dari kompas.com
“Sedikitnya, GP
Ansor menemukan ada 32 kalimat dalam lima buku tersebut yang dianggap mengarah
para radikalisme. Beberapa diantaranya adalah “Gegana ada dimana”, “Bahaya
Sabotase”, “Cari Lokasi Dibekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”, “Bom”, “Sahid di
Medan Jihad”, hingga “Selesai Raih Bantai Kiai”.
“Kata-kata yang
dimaksud tidak tepat untuk menjadi bagian dari metoda belajar kepada usia TK.
Kata-kata ini cenderung menumbuhkan benih-benih radikalisme,” kata Wakil ketua
Umum GP Ansor, Benny Ramdhani.”
Itu
adalah penggalan kalimat berita yang saya baca di Kompas Online. Ada sebuah
kealayan yang luar biasa dalam tuduhan yang dilayangkan pada buku TK itu. Bagaimana
mungkin kalimat-kalimat itu menumbuhkan benih-benih radikalisme. Logika macam
apa yang digunakan untuk mengeluarkan statement itu. Itu hanya sebuah kata yang
tersusun menjadi kalimat. Apa dosa mereka sehingga mereka harus dinistakan
sedemikian rupa dan dituduh menumbuhkan benih-benih radikalisme. Mereka sama
dan tidak berbeda dengan kalimat “Budi Bermain Bola” dan “Ani Membantu Ibu”.
Selain
itu, apa kalian tidak kasian dengan adik-adik TK yang masih unyu itu, tidakkah
engkau pahami bahwa usia mereka adalah usia Golden Age, dimana usia tersebut
adalah usia terbaik untuk belajar dan memperolah informasi sebanyak-banyaknya.
Otak mereka sedang kelaparan dengan ilmu. Lalu kalian tega melarang mereka
mempelajari kalimat-kalimat tertentu hanya kalian takut mereka akan menjadi
teroris suatu saat kelak. Oh, sungguh kalian
telah melanggar hak konstitusi mereka untuk mendapatkan pendidikan.
Seharusnya kalian yang dilarang beredar, bukan buku-buku itu.
Kalau
kemudian dikatakan bahwa kata-kata tersebut tidak tepat untuk metoda belajar
usia TK. Memangnya metoda belajar usia TK itu seperti apa.? . Saya beritahu
sedikit, menurut teori pendidikan, bahwa pendidikan dasar bagi anak-anak TK
ditekankan pada permainan, serta baca tulis. Artinya sebagaian besar waktu anak
TK itu untuk bermain serta belajar membaca dan menulis dengan permainan pula.
Dalam teori Taksonomi Bloom, kemampuan mereka masih dalam kategori pengetahuan
fakta. Sehingga kita tidak perlu khawatir dan kebakaran jenggot kalau kemudian
anak TK jadi radikal gara-gara mendengar kata Jihad dan Syahid. Mereka belum
sampai untuk memahami konsep Jihad dan Syahid.
Diatambah
lagi, dalam ajaran Islam kata Jihad dan Sahid adalah kata yang sangat umum dan
biasa sekali. Bukan kata yang khusus dan special. Tidak ada yang perlu ditakuti
dari dua kata tersebut. kalau kata tersebut tidak boleh diucapkan di depan anak
TK, berarti anak-anak TK tidak boleh beritahu dan diceritakan kisah-kisah mulia
Rosul bersama para sahabat saat berjuang memperjuangkan Islam. Karena kedua
kata tersebut pasti muncul dalam kisah-kisah Rosul dan Sahabat. Hayoo…. Mingkem
kwe..
Yang
menjadikan kedua kata tersebut menjadi kata yang identik dengan aksi terror
adalah interpretasi dan pemaknaan yang kurang tepat dari kata tersebut. Selama
kemudian guru atau pengajar bisa mengajarkan kata-kata dan kalimat tadi dengan
benar dan pemaknaan yang tepat, tidak perlu takut anak-anak kita menjadi calon
teroris. Menjadi radikal dan teroris bukan karena buku, namun seringnya karena
cuci otak yang dilakukan oleh mereka yang merekrut. Sekali lagi membaca buku
dengan kata “Bahaya Sabotase”, “Cari Lokasi Dibekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”,
“Bom”, “Sahid di Medan Jihad”, hingga “Selesai Raih Bantai Kiai” tidak membuat
anak TK menjadi radikal nantinya. Sama seperti halnya kalian tidak akan
berkelakuan seperti monyet gara-gara makan buah pisang diwaktu kecil.(*)

0 komentar: