Mas Menteri Anies Baswedan

19.55 lewatengah 0 Comments

Bagi saya cuma ada dua peristiwa baik yang bisa kita ambil selama pelaksanaan pemilu presiden 2014 yang lalu. Yang pertama yaitu pada saat Pak Jokowi mengajak Pak JK untuk melakukan selfie dengan wajah kaku. Yang kedua adalah debat berkualitas antara Anies Baswedan dan Mahfud MD di acara Mata Najwa. Untuk peristiwa pertama, alasan saya sederhana: momen  tersebut lucu. Sedangkan untuk peristiwa kedua, itu  adalah sebuah momen langka.Yaitu pertemuan dan perdebatan dua orang sarat ilmu yang sangat luar biasa menawan. Untuk hal ini saya rasa banyak orang yang sepakat dengan saya. Dalam momen itu, Anies dan Mahfud MD yang memang beda generasi tersebut menunjukan bagaimana seharusnya seorang yang berilmu tampil dan berbicara. Argumen-argumen yang dilontarkan keduanya sangat rapi, terukur, berkualitas dan disampaikan dengan kesantunan yang sangat luar biasa. Tidak ada saling memotong ucapan, atau menyerang secara individu dan menjelek-jelekan. Semua argumennya sangat masuk akal dan sangat substansif mengenai tantangan Indonesia kedepan. Sudah lama sekali kita tidak menemukan momen sekelas itu.
Telepas dari  dukungan politik Anies Baswedan. Saya mengetahui beliau pertama kali saat Anies masih menjabat sebagai rektor termuda di Universitas Paramadina. Dan membuat surat terbuka bagi para profesional untuk bergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar sebagai pengajar muda. Namun saya mulai tertarik dengan lelaki tinggi besar itu saat beliau menjadi salah satu  Tim 8 KPK. Dari situlah kemudian saya mulai mencari informasi mengenai salah satu tokoh muda yang berpengaruh di dunia satu ini. Gayanya yang tenang, tatapannya yang hangat dan postur tubuhnya yang tinggi besar, membuat saya -secara kurang ajar- menyamakannya dengan diri saya sndiri. Karena saya juga memiliki sifat-sifat demikian. Dari situlah saya menempatkan beliau sebagai idola baru. Setelah sejak lama saya hanya mengidolakan Mario Teguh. Pernah ada suatu peristiwa pada  tahun 2014. Pada saat itu saya masih bekerja sebagai wartawan. Dan pada waktu itu nuansa persaingan sengit kandidat capres begitu luar biasanya, dan hal tersebut sampai juga di kantor. Sebagaian besar kawan-kawan memilih Prabowo, saya pun begitu. Hanya Mas Triono yang memihak Jokowi pada saat itu. Saya ingat pada waktu itu saya ditanya oleh bos saya mengenai pilihan capres saya. Jawaban saya persisnya saya sendiri lupa. Tapi intinya begini: ada dua orang yang akan saya pilih sebagai Presiden, siapapun lawannya. Yang pertama adalah Anies Baswedan, yang kedua adalah Dahlan Ishkan. Pada waktu itu keduanya masuk dalam konvensi capres partai Demokrat. Namun sayang, karena konstelasi perpolitikan, akhirnya yang muncul sebagai capres adalah Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Saya pun pada akhirnya secara tidak sengaja memilih golput. Walaupun saya pribadi lebih memilih Pak Prabowo.
Dan dari buku biografinya saya semakin tahu seperti apa Mas Anies Baswedan  dari kecil hingga seperti sekarang (saya panggil beliau “Mas”, siapa tahu garis tangannya menurun ke saya dan menggantikan posisi beliau sebagai Menteri Pendidikan suatu saat nanti. Hehehe…) . Konon katanya penulisan buku biografi yang berjudul “Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi Anies Rasyid Baswedan” yang ditulis oleh Muhammad Husnil pun memiliki cerita unik. Dikatakan sang penulis, bahwa sebenarnya sebelumnya, sudah ada beberapa orang yang menawarkan kepada Mas Anies untuk menuliskan biografinya, namun selalu ditolak. Saat beliau ditanya, mengapa mau menerima untuk ditulis biografinya oleh Bang Husnil. Beliau menjawab, karena konsep yang diusung dari perspektif pendidikan. Mas Anies tidak hanya memikirkan mengenai seberapa baik dirinya akan diceritakan, namun juga berfikir mengenai manfaat buku tersebut apabila dibaca anak muda. Sampai disini saya tertinggal 1-0 dari beliau. Dan memang sesudah saya baca buku tersebut, saya sangat terinspirasi atas segala pengalaman hidup beliau yang dikemas dalam perspektif pendidikan.
Dalam buku terebut diceritakan Mas Anies  yang begitu kreatif. Kreatifitas Anies kecil cukup mirip dengan saya, sudah saya bandingkan dalam tulisan Antara Saya, Cinta dan Rangga, silahkeun dibaca. Anies kecil sudah dilatih menulis oleh kakeknya. Selain itu buku bacaan dan perpustakaan menjadi makanan Anies kecil. Kebiasaan mengkliping koran yang dilakukannya sewaktu muda serta diskusi-diskusi dengan aktivis yang berkumpul dirumahnya di Jogja juga memperkaya wawasan Anies muda. Hingga  akhirnya  mampu  mengantarkannya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 ke Amerika. Dan segudang cerita dan pengalaman lain dari Menteri muda ini. Ada satu hobby beliau yang sedang saya tiru. Yaitu membaca biografi tokoh-tokoh besar. Menurut beliau, melalui biografi kita bisa mengenal sosok tersebut, dan mengerti cara berfikirnya. Ada banyak ilmu yang bisa didapatkan dari situ. Selain itu prinsip beliau dalam memilih pekerjaan juga cukup tidak biasa. Ceritanya begini, setelah selesai menempuh pendidikan S3 di Amerika, Mas Anies pulang ketanah air dan ditawari untuk menjadi dosen dibeberapa universitas ternama. Namun hal itu ditolaknya. Menurutnya, memilih pekerjaan ada tiga prinsip, yaitu : cukup bagi keluarga, bersentuhan dengan dunia sosial, dan memperkaya intelektualitas. Dan melihat dari track recordnya, saya rasa beliau tidak pernah mengkhianati  prinsipnya tersebut.
Saya biasa  menirukan gesture tubuhnya ketika menatap orang, ketika mendengarkan orang lain bicara, ketika bersalaman, dan sebagainya. Namun ada satu hal yang sulit sekali bahkan tidak mungkin ditiru. Yaitu caranya bertutur ide dan gagasan, keruntutan cara berfikirnya, serta pemilihan intonasi serta diksi yang ciamik. Sehingga membuat orang betah dan memperhatikan saat beliau berbicara. Memang apa yang saya tulis ini cenderung bersifat subyektif karena ditulis oleh seorang pengagum.  Dan saya akui, saya memang mengagumi beliau secara kualitas, bukan karena pilihan politiknya. Kalau anda  masih tidak setuju atau tidak suka dengan cara saya menulis ini, silahkeun baca biografi beliau atau baca salah satu tulisan beliau yang bikin saya ngrentes berjudul “Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!” yang akan saya posting juga di Blog ini.  Kamsia
.
           

You Might Also Like

0 komentar: