Mas Menteri Anies Baswedan
Bagi
saya cuma ada dua peristiwa baik yang bisa kita ambil selama pelaksanaan pemilu
presiden 2014 yang lalu. Yang pertama yaitu pada saat Pak Jokowi mengajak Pak
JK untuk melakukan selfie dengan wajah kaku. Yang kedua adalah debat
berkualitas antara Anies Baswedan dan Mahfud MD di acara Mata Najwa. Untuk
peristiwa pertama, alasan saya sederhana: momen
tersebut lucu. Sedangkan untuk peristiwa kedua, itu adalah sebuah momen langka.Yaitu pertemuan
dan perdebatan dua orang sarat ilmu yang sangat luar biasa menawan. Untuk hal
ini saya rasa banyak orang yang sepakat dengan saya. Dalam momen itu, Anies dan
Mahfud MD yang memang beda generasi tersebut menunjukan bagaimana seharusnya
seorang yang berilmu tampil dan berbicara. Argumen-argumen yang dilontarkan
keduanya sangat rapi, terukur, berkualitas dan disampaikan dengan kesantunan
yang sangat luar biasa. Tidak ada saling memotong ucapan, atau menyerang secara
individu dan menjelek-jelekan. Semua argumennya sangat masuk akal dan sangat
substansif mengenai tantangan Indonesia kedepan. Sudah lama sekali kita tidak menemukan
momen sekelas itu.
Telepas
dari dukungan politik Anies Baswedan. Saya
mengetahui beliau pertama kali saat Anies masih menjabat sebagai rektor termuda
di Universitas Paramadina. Dan membuat surat terbuka bagi para profesional untuk
bergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar sebagai pengajar muda. Namun saya
mulai tertarik dengan lelaki tinggi besar itu saat beliau menjadi salah
satu Tim 8 KPK. Dari situlah kemudian
saya mulai mencari informasi mengenai salah satu tokoh muda yang berpengaruh di
dunia satu ini. Gayanya yang tenang, tatapannya yang hangat dan postur tubuhnya
yang tinggi besar, membuat saya -secara kurang ajar- menyamakannya dengan diri
saya sndiri. Karena saya juga memiliki sifat-sifat demikian. Dari situlah saya
menempatkan beliau sebagai idola baru. Setelah sejak lama saya hanya
mengidolakan Mario Teguh. Pernah ada suatu peristiwa pada tahun 2014. Pada saat itu saya masih bekerja
sebagai wartawan. Dan pada waktu itu nuansa persaingan sengit kandidat capres
begitu luar biasanya, dan hal tersebut sampai juga di kantor. Sebagaian besar
kawan-kawan memilih Prabowo, saya pun begitu. Hanya Mas Triono yang memihak Jokowi
pada saat itu. Saya ingat pada waktu itu saya ditanya oleh bos saya mengenai
pilihan capres saya. Jawaban saya persisnya saya sendiri lupa. Tapi intinya
begini: ada dua orang yang akan saya pilih sebagai Presiden, siapapun lawannya.
Yang pertama adalah Anies Baswedan, yang kedua adalah Dahlan Ishkan. Pada waktu
itu keduanya masuk dalam konvensi capres partai Demokrat. Namun sayang, karena
konstelasi perpolitikan, akhirnya yang muncul sebagai capres adalah Pak Jokowi
dan Pak Prabowo. Saya pun pada akhirnya secara tidak sengaja memilih golput. Walaupun
saya pribadi lebih memilih Pak Prabowo.
Dan
dari buku biografinya saya semakin tahu seperti apa Mas Anies Baswedan dari kecil hingga seperti sekarang (saya
panggil beliau “Mas”, siapa tahu garis tangannya menurun ke saya dan menggantikan
posisi beliau sebagai Menteri Pendidikan suatu saat nanti. Hehehe…) . Konon
katanya penulisan buku biografi yang berjudul “Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi
Anies Rasyid Baswedan” yang ditulis oleh Muhammad Husnil pun memiliki cerita
unik. Dikatakan sang penulis, bahwa sebenarnya sebelumnya, sudah ada beberapa
orang yang menawarkan kepada Mas Anies untuk menuliskan biografinya, namun
selalu ditolak. Saat beliau ditanya, mengapa mau menerima untuk ditulis
biografinya oleh Bang Husnil. Beliau menjawab, karena konsep yang diusung dari
perspektif pendidikan. Mas Anies tidak hanya memikirkan mengenai seberapa baik
dirinya akan diceritakan, namun juga berfikir mengenai manfaat buku tersebut
apabila dibaca anak muda. Sampai disini saya tertinggal 1-0 dari beliau. Dan memang
sesudah saya baca buku tersebut, saya sangat terinspirasi atas segala
pengalaman hidup beliau yang dikemas dalam perspektif pendidikan.
Dalam
buku terebut diceritakan Mas Anies yang begitu
kreatif. Kreatifitas Anies kecil cukup mirip dengan saya, sudah saya bandingkan
dalam tulisan Antara Saya, Cinta dan
Rangga, silahkeun dibaca. Anies kecil sudah dilatih menulis oleh kakeknya. Selain
itu buku bacaan dan perpustakaan menjadi makanan Anies kecil. Kebiasaan mengkliping
koran yang dilakukannya sewaktu muda serta diskusi-diskusi dengan aktivis yang
berkumpul dirumahnya di Jogja juga memperkaya wawasan Anies muda. Hingga akhirnya
mampu mengantarkannya mendapatkan
beasiswa S2 dan S3 ke Amerika. Dan segudang cerita dan pengalaman lain dari Menteri
muda ini. Ada satu hobby beliau yang sedang saya tiru. Yaitu membaca biografi
tokoh-tokoh besar. Menurut beliau, melalui biografi kita bisa mengenal sosok
tersebut, dan mengerti cara berfikirnya. Ada banyak ilmu yang bisa didapatkan
dari situ. Selain itu prinsip beliau dalam memilih pekerjaan juga cukup tidak
biasa. Ceritanya begini, setelah selesai menempuh pendidikan S3 di Amerika, Mas
Anies pulang ketanah air dan ditawari untuk menjadi dosen dibeberapa universitas
ternama. Namun hal itu ditolaknya. Menurutnya, memilih pekerjaan ada tiga
prinsip, yaitu : cukup bagi keluarga, bersentuhan dengan dunia sosial, dan
memperkaya intelektualitas. Dan melihat dari track recordnya, saya rasa beliau
tidak pernah mengkhianati prinsipnya
tersebut.
Saya
biasa menirukan gesture tubuhnya ketika
menatap orang, ketika mendengarkan orang lain bicara, ketika bersalaman, dan
sebagainya. Namun ada satu hal yang sulit sekali bahkan tidak mungkin ditiru. Yaitu
caranya bertutur ide dan gagasan, keruntutan cara berfikirnya, serta pemilihan
intonasi serta diksi yang ciamik. Sehingga membuat orang betah dan
memperhatikan saat beliau berbicara. Memang apa yang saya tulis ini cenderung
bersifat subyektif karena ditulis oleh seorang pengagum. Dan saya akui, saya memang mengagumi beliau
secara kualitas, bukan karena pilihan politiknya. Kalau anda masih tidak setuju atau tidak suka dengan
cara saya menulis ini, silahkeun baca biografi beliau atau baca salah satu tulisan
beliau yang bikin saya ngrentes berjudul
“Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!” yang akan saya posting juga di Blog ini. Kamsia
.

0 komentar: