Soekarno : Saya Tidak Lahir di Blitar…!!!
BEBERAPA
waktu terakhir ini masyarakat ramai oleh kesalahan Presiden Jokowi menyebutkan
tempat kelahiran Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Kejadian itu terjadi
pada saat Presiden Jokowi memberikan pidato dalam peringatan hari kelahiran
Pancasila di Kota Blitar, tempat Presiden Soekarno dikembumikan. Dalam
peringatan tersebut Presiden Jokowi bersama dengan sejumlah pejabat dan beliau
didapuk untuk memberikan pidato,pada saat itulah detik-detik Jokowi salah menyebutkan
tempat lahir Soekarno.
“Setiap
kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, bapak bangsa kita,
Bung Karno, hati saya selalu bergetar,”. Itulah kata-kata sang Presiden pada
saat menyampaikan pidato dalam peringatan hari kelahiran Pancasila di Blitar
beberapa waktu lalu. Tentu pada waktu itu tidak ada yang mengingatkan dan
mungkin saja tidak ada yang menyadari hal tersebut. Namun beberapa hari setelah
itu, diberbagai media mulai ramai membicarakan mengenai kesalahan Jokowi
tersebut. Hingga pejabat dan politikus ikut berkomentar, bisa jadi bagi
politikus oposisi hal-hal semacam ini menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu
untuk menyerang Presiden Jokowi.
Seperti
yang dikatakan oleh Fadli Zon, politisi Partai Gerindra yang juga menjabat
sebagai salah satu pimpinan DPR. Ia mengatakan bahwa kebangetan sekali jika
orang Indonesia tidak mengetahui tempat lahir Presiden Pertama Indoenesia Ir. Soekarno,
seperti diberitakan oleh Kompas.com. Dalam wawancaranya dengan kompas, lelaki
tambun tersebut menyatakan keheranannya terhadap Presiden Jokowi yang menyebut
kota Blitar sebagai tempat kelahiran Soekarno. Fadli menekankan bahwa seharusnya Presiden Jokowi
tahu sejarah Bung karno, karena Presiden ke tujuh Indonesia tersebut adalah
kader partai yang mengusung ideologi dari sang Proklamator. “Dia kan kader
partai yang mengusung Soekarno sebagai basis ideologi,”ucap Fadli, seperti yang
ditulis oleh kompas.com.
Namun
ternyata, perihal kesalahan penyebutan tempat lahir Bung Karno ini juga
mengundang reaksi dari partai pemerintah yang mengusung Jokowi, yaitu partai
PDI Perjuangan. Salah satu kader partai berlambang banteng bermoncong putih
tersebut, Effendi Simbolon, yang kini menjadi anggota DPR, mengatakan bahwa Jokowi
harus meminta maaf kepada publik
mengenai kesalahan penyebutan tempat lahir dari Bung Karno. Selain minta maaf
menurut Effendi, Jokowi juga harus menjelaskan ke publik bagaimana kesalahan
tersebut dapat terjadi. “Jokowi sebagai Presiden harus minta maaf, Bayangkan,
Bagaimana kita mau ikuti Presiden kalau Presidennya salah.” Kata Effendi
seperti dikutip kompas.com.
Bahkan
Effendi menjadi meragukan kalau Presiden Jokowi juga tidak mengetahui tentang
Nawa Cita yang selalu digembar gemborkan oleh pemerintah. Selain tanggapan dari
dua tokoh nasional tersebut, ada beberapa tanggapan lain, bahkan Ketua komisi
VI DPR RI, Hafisz Tohir mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh preseden
Jokowi adalah sangat fatal. Dan meminta Jokowi melakukan restrukturisasi (Reshuffle)
pata tim nya. Lebih lanjut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menunjuk
salah satu pos kementerian untuk segera dilakukan restrukturisasi.
“Sehingga, harus ada reshuffle yang mendasar
karena sudah merusak bernegara, yang harus direshuffle adalah Sekneg,Menkumham,
dan Staf ahli Presiden,” katanya. Seperti yang diberitakan oleh Republika
Online. Pandangan tersebut belum lagi dari media social twitter dimana pada
pengalaman-pengalaman sebalumnya, justru netizen sangat kritis pada hal-hal
semacam ini
***
Dalam
sejarah Indonesia disebutkan bahwa Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno
lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 6 Juni 1901. Tentu hal ini seharusnya sudah menjadi makanan anak-anak sejak Sekolah
Dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Mungkin reaksi publik pada salah sebut tempat
lahir Soekarno tidak akan menjadi perhatian jika bukan Jokowi. Dalam benak
publik, orang Indonesia sekelas Presiden yang notabene adalah orang nomor satu
di tanah air ini, seharusnya sudah sangat mengerti dan memahami, tidak lagi
hanya sekedar hafal mengenai sejarah Presiden pertama yang sering diajarkan di
Sekolah Dasar dan Menengah itu.
Menjadi
lebih fatal lagi pidato Presiden Jokowi tersebut disampaikan pada peringatan
hari lahir Pancasila yang merupakan hasil rumusan pendiri bangsa ini salah satunya
adalah Bung Karno, yang kini dijadikan dasar Negara kita. Publik menjadi
bertanya-tanya, tempat lahir Bung Karno saja, President Jokowi tidak tahu,
jangan-jangan makna Pancasila yang sedang diperingati hari lahirnya itu juga President
Jokowi tidak mengerti, dan hanya melihat Pancasila hanya baris-baris kata tanpa
makna. Jika hal itu benar maka bagaimana beliau akan mengimplementasikan Pancasila
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terlalu jauh memang jika kita berfikir sampai
pada batas tersebut. Namun yang jelas apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi
adalah sudah melanggar semboyan dan wejangan dari sang Proklamator, yaitu Jas
Merah:Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Jika Sejarah sang Proklamator
yang juga Presiden pertama negeri ini sudah dilupakan, bagaimana dengan sejarah
para pahlawan-pahlawan yang dulu berjuang memperjuangkan kemerdekaan. Atau
lebih jauh, bagaimana sejarah mengenai kerajaan-kerajaan masa lalu yang lebih
tua dari masa Soekarno, sebagai pelatak dasar kebudayaan ketimuran kita.(*)
(*)Yoga
Triono


0 komentar: