Gumamku
Plateu. Dalam diet ada istilah
yang dinamakan plateu. Kondisi ini adalah kondisi dimana tubuh menjadi terbiasa
mendapatkan asupan kalori yang sidikit. Sehingga sistem metabolisme melambat
menyesuaikan jumlah kalori yang masuk. Alhasil, lemak yang ada dalam tubuh
tidak terbakar. Cara mengatasi hal ini adalah dengan mengembalikan kondisi
tubuh seperti pada kondisi sebelum diet. Hal ini agar metabolisme kembali naik.
Dalam keseharian kita juga kadang seperti itu. Merindukanmu juga lama-lama jadi
membiasa dan tidak memiliki getar kembali untuk berbangga bahwa aku adalah
pejuang rindu.
Pejuang rindu yang paripurna
kadang justru lupa apa yang dirindukan, siapa yang dirindukan, bagaimana bisa
merindukannya. Pejuang rindu yang paripurna juga tidak peduli apakah puisi-puisi
yang selama ini disusunnya menyesap dalam hati sang pujaan.
Aku? Aku belum se-paripurna itu. Aku
masih ingat betul pertemuan pertama mata kita siang itu. Kau tersenyum menanyakan
apakah aku sudah makan siang. Dan aku tanpa sadar tak bereaksi hanya memandang
mata indahmu. “Eh,, sudah, kamu sudah?” kataku pada waktu itu terbata-bata.
Aku juga masih ingat kebodohanku saat aku ingin sekali memiliki gambarmu. Dan
tanpa kusadari flash kamera bersinar saat aku mencoba memotretmu. Tentu saja
kau menyadari bahwa aku sedang memotretmu. Malu, sudah pasti. Namun aku bisa
apa. Aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa kau sudah bersemayam di
kalbu.
Namun itu hanya fatamorgana. Hanya
efek slow motion jika dalam sebuah film. Aku tau dalam benakmu itu semua tidak sesepecial
yang kurasakan. Siang itu hanya sebuah siang yang sama dengan siang-siang lainnya.
Dan tidak papa, bagi penikmat keindahan
sepertiku. Melihat indah bola matamu saja cukup untuk menambah stok rinduku.
Cita-citaku sederhana, menjadi
seseorang yang kau cari ketika dunia mengecewakanmu. Memberikan pundak untuk
setiap gontai kesedihanmu, dan menyediakan tissue kecil saat linang air matamu
mengalir. Aku ingin menjadi orang yang akan selalu bilang “Tidak apa-apa, semua
akan baik-baik saja” lalu mencoba melucu demi memunculkan kembali senyummu
yang ditelan dunia. Ah, khas pujangga.
Lalu apakah aku tidak ingin memilikimu?
Tentu saja aku ingin memilikimu. Kalau bisa tak kubiarkan dunia melihatmu. Hanya
aku yang boleh melihat keindahanmu. Namun aku sudah banyak mendapati bahwa kehilangan
sesuatu yang begitu ingin kita miliki itu begitu menyakitkan. Dan kali ini aku
tidak ingin itu tejadi pada cerita ini. Lagi pula kau ini kan bukan piala yang
harus kukejar lalu kudapatkan dan bersaing dengan laki-laki lain, lalu
kupamerkan sebagai keberhasilanku. Aku tidak sampai hati memperlakukanmu
seperti itu. Percayalah.
Namun aku hanya meminta satu hal
saja darimu, cukup satu. Izinkan aku berjuang untukmu. Bukan untuk memilikimu,
namun justru untuk menjadikanku pantas untuk kelak jika kau ingin mempunyai partner
dalam hidupmu, aku ada dalam baris nomor satu. Ini tidak akan rumit, tetapi
juga menjadi sangat sulit. Sebab bukanlah cinta bila benar-benar sederhana, dan
bukanlah hati bila ketenangannya tidak menimbulkan tanya.
Itulah semua gumamku!

0 komentar: