Istana Megah di Dada Rahwana

12.42 lewatengah 0 Comments


Rahwana keluar dari ruang singgasana menuju "penjara” Dewi Shinta. Namun Rahwana tidak berani masuk kedalam Tamansari tempat Shinta dipenjarakan. Dia hanya mengintip dari lobang yang ada di pintu Tamansari. Cukup lama Sang Dasamuka memperhatikan kecantikan Shinta. Lalu setelah cukup lama mengintip Rahwana kembali ke ruang singgasana sambil terlihat bingung. Kejadian ini terjadi setiap hari selama tiga purnama.

Dalam fase itu para senopati kerajaan tidak ada yang berani menegurnya. Selain karena takut kena marah, mereka juga ikut kebingungan dengan kelakuan raja mereka. Padahal pada saat pertama kali menculik Shinta dari Sri Rama, Rahwana benar-benar bahagia. Dia tertawa-tawa Bersama para patih nya. Setiap hari selalu masuk ke Tamansari dan merayu-rayu Sang Shinta untuk diperistri. Lalu kembali ke singgasana untuk minum arak bersama para senopati sambil sesekali mendengarkan laporan dari telik sandi mengenai pergerakan pasukan Sri Rama.

Ternyata perubahan sikap Rahwana tidak hanya mengusik para penghuni kerajaan. Para dewa juga ikut terganggu. Para dewa memutuskan mengutus Batara Naradha untuk menemui Rahwana dan menanyakan apa yang menggangu pikirannya. Maka dalam suatu malam saat Rahwana sedang memandang bintang di bale pesanggrahan. Batara Naradha hadir dan menyapa dengan lembut.

“Ngger anakku Rahwana, ada apa gerangan engkau melamun begitu?” Tanya Batara Naradha.

Rahwana tidak bereaksi. Hanya melirik saja. Lalu membalikan badan dan menghela nafas Panjang. Seolah pundaknya penuh dengan beban yang begitu berat.

“Tidak ada apa-apa Bopo”Jawabnya.

Batara Naradha tidak mencoba bertanya lebih lanjut.  Namun lebih memilih pergi setelah melihat Rahwana belum mau bercerita mengenai apa yang terjadi padanya.

Kejadian ini terjadi 3 malam berturut-turut. Hingga malam ketiga, Rahwana berbicara kepada Batara Naradha.

“Aku ingin mengembalikan Shinta kepada Rama” Ucapnya.

Batara Naradha kaget bukan main. Karena dia tahu bagaimana megahnya perasaan Rahwana kepada Shinta. Bahkan para Dewa sepakat bahwa cinta Rahwana kepada Shinta lebih besar daripada cinta Sri Rama kepada Shinta. Namun kini setelah berhasil menculik Shinta dari Rama. Rahwana justru ingin mengembalikannya kepada Sri Rama.

“Kenapa ngger anakku? Apakah kau sudah tidak mencintai Shinta?” Tanya Batara Naradha

“Masih bopo, Perasaanku terhadap Shinta tidak berubah sedikitpun. Justru semakin megah saja karena setiap hari aku bisa memandangnya di Tamansari, melihatnya bermain air dan merpati” Jawab Rahwana.

Batara Naradha tidak bereaksi. Dia tahu bahwa ucapan Rahwana belum selesai. Masih ada hal yang ingin dia sampaikan. Dia mendekati Rahwana dari samping. Lalu Rahwana berbalik badan dan berjalan kearah singgasananya.

“Sudah 3 purnama aku memiliki tubuh Shinta yang kuletakkan di Tamansari. Aku mengira kini aku memiliki dia sepenuhnya. Namun ternyata tidak. Hatinya masih milih Rama. Pikirannya masih ada Rama. Setiap sudut Tamansari kemanapun dia memandang, yang dilihatnya hanya wajah Rama.” Jelas Rahwana.

“Tidak ada tempat dihatinya untuk aku. Bahkan dia tidak menyisakan rasa benci untuk aku Bopo. Aku seolah tidak pernah ada di dunia ini baginya. Aku hanya sebatas burung Belibis yang hinggap di dahan dekat Tamansari, namun dia tak pernah melihatnya.” Lanjut Rahwana

“Aku mengerti ngger“ jawab Batara Naradha sambil merasa bersalah.

Hal ini karena pada saat mencipta Mayapada dan menitisnya Rahwana. Batara Naradha adalah salah satu dewa yang mengusulkan agar ditanamkan perasaan cinta dihati Rahwana kepada Dewi Shinta. Tentu para dewa yang bijak bestari pada waktu itu sadar betul bahwa soal perasaan Rahwana ini akan menuntun pada perang antara Rahwana dan Sri Rama. Namun itu dilakukan agar cerita Ramayana dapat dijadikan pelajaran.

“Aku bisa membayangkan bagaimana perasaanmu pada Shinta, Ngger. Karena dulu aku yang menanamkannya dihatimu.” Lanjut Batara Naradha.

“Cabut saja bopo, hilangkan perasaan yang kau bangun megah ini dari dadaku. Aku tidak sanggup menahanya lagi. Cabut sekarang bopo” Rengek Rahwana.

Batara Naradha menundukan wajahnya sambil menggelengkan kepala. Kemudian sambil  melihat mata Rahwana dengan iba dia berkata.

“Maafkan aku Ngger. Itu sudah menjadi suratan Dewata untukmu. Istana cinta megah itu akan tetap ada didadamu. Hal itu tidak bisa dihilangkan atau diubah. Bahkan jika kau mengorbankan seluruh kerajaan ini” jelas Batara Naradha.

Mendengar jawaban itu Rahwana menangis tersedu-sedu. Namun ternyata, tanpa sepengetahuan mereka. Ada sepasang mata dan telinga yang menyaksikan percakapan mereka berdua. Mata indah yang sejak tadi mengamati itu berkaca-kaca mendengarkan pengakuan Sang Dasamuka soal perasaan cintanya kepada Shinta.

Pemilik mata indah itu adalah Sang Shinta






You Might Also Like

0 komentar: