Istana Megah di Dada Rahwana
Rahwana keluar dari ruang
singgasana menuju "penjara” Dewi Shinta. Namun Rahwana tidak berani masuk
kedalam Tamansari tempat Shinta dipenjarakan. Dia hanya mengintip dari lobang
yang ada di pintu Tamansari. Cukup lama Sang Dasamuka memperhatikan kecantikan Shinta.
Lalu setelah cukup lama mengintip Rahwana kembali ke ruang singgasana sambil terlihat
bingung. Kejadian ini terjadi setiap hari selama tiga purnama.
Dalam fase itu para senopati kerajaan
tidak ada yang berani menegurnya. Selain karena takut kena marah, mereka juga
ikut kebingungan dengan kelakuan raja mereka. Padahal pada saat pertama kali
menculik Shinta dari Sri Rama, Rahwana benar-benar bahagia. Dia tertawa-tawa Bersama
para patih nya. Setiap hari selalu masuk ke Tamansari dan merayu-rayu Sang Shinta
untuk diperistri. Lalu kembali ke singgasana untuk minum arak bersama para
senopati sambil sesekali mendengarkan laporan dari telik sandi mengenai
pergerakan pasukan Sri Rama.
Ternyata perubahan sikap Rahwana
tidak hanya mengusik para penghuni kerajaan. Para dewa juga ikut terganggu. Para
dewa memutuskan mengutus Batara Naradha untuk menemui Rahwana dan menanyakan apa
yang menggangu pikirannya. Maka dalam suatu malam saat Rahwana sedang memandang
bintang di bale pesanggrahan. Batara Naradha hadir dan menyapa dengan lembut.
“Ngger anakku Rahwana, ada apa
gerangan engkau melamun begitu?” Tanya Batara Naradha.
Rahwana tidak bereaksi. Hanya melirik
saja. Lalu membalikan badan dan menghela nafas Panjang. Seolah pundaknya penuh
dengan beban yang begitu berat.
“Tidak ada apa-apa Bopo”Jawabnya.
Batara Naradha tidak mencoba bertanya
lebih lanjut. Namun lebih memilih pergi
setelah melihat Rahwana belum mau bercerita mengenai apa yang terjadi padanya.
Kejadian ini terjadi 3 malam
berturut-turut. Hingga malam ketiga, Rahwana berbicara kepada Batara Naradha.
“Aku ingin mengembalikan Shinta
kepada Rama” Ucapnya.
Batara Naradha kaget bukan main. Karena
dia tahu bagaimana megahnya perasaan Rahwana kepada Shinta. Bahkan para Dewa sepakat
bahwa cinta Rahwana kepada Shinta lebih besar daripada cinta Sri Rama kepada Shinta.
Namun kini setelah berhasil menculik Shinta dari Rama. Rahwana justru ingin
mengembalikannya kepada Sri Rama.
“Kenapa ngger anakku? Apakah kau
sudah tidak mencintai Shinta?” Tanya Batara Naradha
“Masih bopo, Perasaanku terhadap Shinta
tidak berubah sedikitpun. Justru semakin megah saja karena setiap hari aku bisa
memandangnya di Tamansari, melihatnya bermain air dan merpati” Jawab Rahwana.
Batara Naradha tidak bereaksi.
Dia tahu bahwa ucapan Rahwana belum selesai. Masih ada hal yang ingin dia
sampaikan. Dia mendekati Rahwana dari samping. Lalu Rahwana berbalik badan dan
berjalan kearah singgasananya.
“Sudah 3 purnama aku memiliki
tubuh Shinta yang kuletakkan di Tamansari. Aku mengira kini aku memiliki dia
sepenuhnya. Namun ternyata tidak. Hatinya masih milih Rama. Pikirannya masih
ada Rama. Setiap sudut Tamansari kemanapun dia memandang, yang dilihatnya hanya
wajah Rama.” Jelas Rahwana.
“Tidak ada tempat dihatinya untuk
aku. Bahkan dia tidak menyisakan rasa benci untuk aku Bopo. Aku seolah tidak
pernah ada di dunia ini baginya. Aku hanya sebatas burung Belibis yang hinggap
di dahan dekat Tamansari, namun dia tak pernah melihatnya.” Lanjut Rahwana
“Aku mengerti ngger“ jawab Batara
Naradha sambil merasa bersalah.
Hal ini karena pada saat mencipta
Mayapada dan menitisnya Rahwana. Batara Naradha adalah salah satu dewa yang
mengusulkan agar ditanamkan perasaan cinta dihati Rahwana kepada Dewi Shinta. Tentu
para dewa yang bijak bestari pada waktu itu sadar betul bahwa soal perasaan Rahwana
ini akan menuntun pada perang antara Rahwana dan Sri Rama. Namun itu dilakukan agar
cerita Ramayana dapat dijadikan pelajaran.
“Aku bisa membayangkan bagaimana perasaanmu
pada Shinta, Ngger. Karena dulu aku yang menanamkannya dihatimu.” Lanjut Batara
Naradha.
“Cabut saja bopo, hilangkan
perasaan yang kau bangun megah ini dari dadaku. Aku tidak sanggup menahanya
lagi. Cabut sekarang bopo” Rengek Rahwana.
Batara Naradha menundukan
wajahnya sambil menggelengkan kepala. Kemudian sambil melihat mata Rahwana dengan iba dia berkata.
“Maafkan aku Ngger. Itu sudah
menjadi suratan Dewata untukmu. Istana cinta megah itu akan tetap ada didadamu.
Hal itu tidak bisa dihilangkan atau diubah. Bahkan jika kau mengorbankan
seluruh kerajaan ini” jelas Batara Naradha.
Mendengar jawaban itu Rahwana
menangis tersedu-sedu. Namun ternyata, tanpa sepengetahuan mereka. Ada sepasang
mata dan telinga yang menyaksikan percakapan mereka berdua. Mata indah yang
sejak tadi mengamati itu berkaca-kaca mendengarkan pengakuan Sang Dasamuka soal
perasaan cintanya kepada Shinta.
Pemilik mata indah itu adalah Sang
Shinta

0 komentar: