Dua Surat Sang Shinta

18.38 lewatengah 0 Comments


Kata orang perasaan wanita sangat lembut. Kedipan mata mampu menembus dan mengoyaknya berkeping. Mungkin itu yang dialami oleh Dewi Shinta setelah mencuri dengar pengakuan dari Rahwana dan Batara Naradha tempo hari. Yang terjadi dengan perasaan Shinta bukan saja soal kedipan mata. Namun bogem keras dari istana cinta Sang Dasamuka. Shinta sama sekali tidak menyangka bahwa Rahwana memendam cinta yang begitu besar terhadapnya. Selama ini dia hanya berfikir bahwa Rahwana adalah sosok raksasa jahat yang memisahkannya dari kekasih hatinya, Sri Rama.

Sementara itu, Rahwana tidak tahu bahwa Shinta telah menyelinap dalam ruangan tempatnya dan Batara Naradha berbincang. Sehingga dia masih saja melakukan rutinitasnya. Setiap hari datang ke Tamansari untuk mengintip Shinta dari pintu. Namun Sang Raja merasa aneh karena Shinta lebih banyak melamun akhir-akhir ini. “Ah,, mungkin merindukan Rama” Gumamnya.

Shinta bingung dengan perasaanya sendiri. Hatinya goyah, kini tidak hanya Rama yang ada dipikirannya, namun sang Dasamuka juga diam-diam menyelinap dalam celebral otak Shinta. Sehingga dengan tidak sadar Shinta memikirkan Rahwana. Terutama mengenai besarnya rasa cinta Rahwana untuknya. Semakin dia melamun dan merenung maka semakin kacau pikirannya. Shinta benar-benar telah dibuat bimbang. Disatu sisi dia masih begitu mencintai Rama. Disisi lain dia begitu melambung dan tersanjung atas besarnya perasaan cinta yang diterimanya dari Rahwana.

Tak ingin semakin berlarut. Maka Shinta memutuskan menulis surat untuk Rama dan juga untuk Rahwana. Pertama yang dia tulis adalah surat untuk kekasihnya, Sri Rama.


Kepada belahan jiwaku.
Kakang Prabu Sri Rama.

Kakanda Prabu sungguh dewata bermurah hati kepada kekasihmu ini. Sehingga purnama masih
setia memberikan sinarnya setiap malam sebagai pengganti sinar wajahmu. Sungguh tak ada
kerinduan yang bisa Adinda tanggung melebihi kerinduan terhadapmu wahai Prabu Ayodya.

Namun kakanda prabu tidak perlu khawatir. Adinda baik-baik saja disini. Rahwana memenjarakan Adinda di Tamansari. Dia sendiri tidak berani mengusik Adinda. Sehingga Adinda disini hanya ditemani oleh dayang-dayang saja.

Kakanda Prabu, Adinda menemukan sebuah pertanyaan yang begitu mengganggu pikiran Adinda.
Adakah cinta seorang perempuan bisa terbagi? Adakah hati perempuan bisa terisi oleh dua cinta dari dua lelaki?

Dari kekasihmu
Shinta


Selesai menulis surat untuk Rama. Sambil masih kalut pikirannya, Sang Dewi mengambil selembar lontar lainnya dan mulai menulis surat untuk Sang Dasamuka.


Kepada Penculikku
Prabu Alengkadiraja

Kebencianku terhadapmu sebesar gunung. Kelakuan licikmu memisahkanku dari kekasihku Rama adalah penyiksaan terbesar untukku. Jika aku bisa mengangkat Samudra akan kutenggelamkan kerajaanmu, jika aku mampu mengangkat gunung akan kuratakan singgasanamu.

Prabu Alengka, aku adalah wanita yang berperasaan halus. Bahkan tetasan embun pagi di Tamansarimu mampu menggetarkan perasaanku. Jika alasanmu menculikku adalah cinta, maka buktikan itu.

Mana yang akan kau pilih wahai Prabu Alengka? Aku atau singgasanamu?

Dari
Shinta


Setelah selesai menulis kedua surat itu Shinta merenung sejenak. Apakah yang dilakukannya sudah benar? Namun dia segera meyakinkan dirinya, bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri kemelut hatinya. Segera setelah itu Shinta menangkap seekor merpati warna putih. Diikatkan surat untuk Rama dikakinya, kemudian dia berbisik kepada merpati putih tersebut.

“Sampaikan surat ini untuk kekasihku, Prabu Ayodya” bisiknya. lalu dilepaskannya merpati itu terbang kearah timur.

Shinta mengambil surat untuk Rahwana. Kemudian mengikatkannya dileher seekor kelinci putih dan berkata. “Pergilah kesinggasana raja, berikan surat ini untuk junjunganmu”. Selesai berkata Shinta lepaskan kelinci tersebut. Lalu kelinci itu melompat-lompat keluar Tamansari.

***
Rama sedang berlatih memanah saat kemudian seekor merpati putih hinggap diujung anak panahnya…

You Might Also Like

0 komentar: