Dua Surat Sang Shinta
Kata orang perasaan wanita sangat
lembut. Kedipan mata mampu menembus dan mengoyaknya berkeping. Mungkin itu yang
dialami oleh Dewi Shinta setelah mencuri dengar pengakuan dari Rahwana dan Batara
Naradha tempo hari. Yang terjadi dengan perasaan Shinta bukan saja soal kedipan
mata. Namun bogem keras dari istana cinta Sang Dasamuka. Shinta sama sekali
tidak menyangka bahwa Rahwana memendam cinta yang begitu besar terhadapnya.
Selama ini dia hanya berfikir bahwa Rahwana adalah sosok raksasa jahat yang memisahkannya
dari kekasih hatinya, Sri Rama.
Sementara itu, Rahwana tidak tahu
bahwa Shinta telah menyelinap dalam ruangan tempatnya dan Batara Naradha
berbincang. Sehingga dia masih saja melakukan rutinitasnya. Setiap hari datang
ke Tamansari untuk mengintip Shinta dari pintu. Namun Sang Raja merasa aneh
karena Shinta lebih banyak melamun akhir-akhir ini. “Ah,, mungkin merindukan Rama”
Gumamnya.
Shinta bingung dengan perasaanya sendiri.
Hatinya goyah, kini tidak hanya Rama yang ada dipikirannya, namun sang Dasamuka
juga diam-diam menyelinap dalam celebral otak Shinta. Sehingga dengan tidak sadar
Shinta memikirkan Rahwana. Terutama mengenai besarnya rasa cinta Rahwana
untuknya. Semakin dia melamun dan merenung maka semakin kacau pikirannya. Shinta
benar-benar telah dibuat bimbang. Disatu sisi dia masih begitu mencintai Rama. Disisi
lain dia begitu melambung dan tersanjung atas besarnya perasaan cinta yang
diterimanya dari Rahwana.
Tak ingin semakin berlarut. Maka
Shinta memutuskan menulis surat untuk Rama dan juga untuk Rahwana. Pertama yang
dia tulis adalah surat untuk kekasihnya, Sri Rama.
Kepada
belahan jiwaku.
Kakang
Prabu Sri Rama.
Kakanda Prabu sungguh dewata bermurah hati kepada kekasihmu
ini. Sehingga purnama masih
setia memberikan sinarnya setiap malam sebagai
pengganti sinar wajahmu. Sungguh tak ada
kerinduan yang bisa Adinda tanggung
melebihi kerinduan terhadapmu wahai Prabu Ayodya.
Namun kakanda prabu tidak perlu khawatir. Adinda baik-baik
saja disini. Rahwana memenjarakan Adinda di Tamansari. Dia sendiri tidak berani
mengusik Adinda. Sehingga Adinda disini hanya ditemani oleh dayang-dayang saja.
Kakanda Prabu, Adinda menemukan sebuah pertanyaan yang
begitu mengganggu pikiran Adinda.
Adakah cinta seorang perempuan bisa terbagi? Adakah
hati perempuan bisa terisi oleh dua cinta dari dua lelaki?
Dari kekasihmu
Shinta
Selesai menulis surat untuk Rama.
Sambil masih kalut pikirannya, Sang Dewi mengambil selembar lontar lainnya dan
mulai menulis surat untuk Sang Dasamuka.
Kepada
Penculikku
Prabu
Alengkadiraja
Kebencianku terhadapmu sebesar gunung. Kelakuan licikmu
memisahkanku dari kekasihku Rama adalah penyiksaan terbesar untukku. Jika aku bisa
mengangkat Samudra akan kutenggelamkan kerajaanmu, jika aku mampu mengangkat
gunung akan kuratakan singgasanamu.
Prabu Alengka, aku adalah wanita yang berperasaan halus. Bahkan
tetasan embun pagi di Tamansarimu mampu menggetarkan perasaanku. Jika alasanmu
menculikku adalah cinta, maka buktikan itu.
Mana yang akan kau pilih wahai Prabu Alengka? Aku atau singgasanamu?
Dari
Shinta
Setelah selesai menulis kedua
surat itu Shinta merenung sejenak. Apakah yang dilakukannya sudah benar? Namun dia
segera meyakinkan dirinya, bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri
kemelut hatinya. Segera setelah itu Shinta menangkap seekor merpati warna putih.
Diikatkan surat untuk Rama dikakinya, kemudian dia berbisik kepada merpati
putih tersebut.
“Sampaikan surat ini untuk
kekasihku, Prabu Ayodya” bisiknya. lalu dilepaskannya merpati itu terbang
kearah timur.
Shinta mengambil surat untuk Rahwana.
Kemudian mengikatkannya dileher seekor kelinci putih dan berkata. “Pergilah
kesinggasana raja, berikan surat ini untuk junjunganmu”. Selesai berkata Shinta
lepaskan kelinci tersebut. Lalu kelinci itu melompat-lompat keluar Tamansari.
***
Rama sedang berlatih memanah saat
kemudian seekor merpati putih hinggap diujung anak panahnya…

0 komentar: