Aku, Tuhan & Dirimu

07.32 lewatengah 0 Comments


Beri aku sedikit waktu untuk bisa membentengi diri dari perasaan khawatir. Berikan sedikti masa untuk bisa merasa semua udah tertulis dalam Bahasa yang Kuasa. Karena aku menyadari pada akhirnya semua ini sementara, tawa, senyum dan rasa bahagia adalah fatamorgana belaka.

Jika sedih dan gagal dikatakan sementara, maka Bahagia dan kesenangan adalah semasa kedip mata. dengan begitu cara kita menikmati adalah yang utama. Bahagia melihatmu bahagia dan sedih melihatmu menangis, sudah itu saja kemampuan yang ingin aku latih.

Aku belajar kembali untuk melangkah dalam realita. Melihat diri lebih dalam, melihat realita dalam kacamata sederhana. Bahwa kita adalah dua makhluk yang berbeda, lalu sebagian hatiku berontak mengatakan bahwa “Tuhan menciptakan manusia berbeda untuk saling mengenal”. Jadi tak bisakah kita yang berbeda ini saling mengenal dan menumbuhkan perasaan untuk kemudian saling memiliki dalam naungan perjanjian paling sakral dunia akhirat. 

Namun pemberontakan tetaplah tidak dibenarkan. Hati tetaplah hati, dia suka berkhayal, melambung tinggi untuk kemudian terhempas kembali, berkali-kali, berharap mati namun bangkit kembali.

Aku ingin menjadi manusia saja, menjalani apa yang digariskan. Jika memang aku harus jatuh, maka biarkan aku jatuh asalkan itu memang kehendak yang Maha Tau. Jika memang aku harus berbahagia maka, itu bukan karena siapa-siapa kecuali Sang Pemilik Dunia.

Seperti saat kau menolak kupanggil kekasih, Tuhan menolak didikte oleh perasaan, namun Tuhan dekat dengan prasangka hambanya. Aku tidak berusaha mendikte Tuhan melalui doa-doa yang kuawali dengan kebaikanmu di dalamnya. Namun hatiku selalu memberikan bayangan akan masa depan kita. Lokasi kota kita tinggal, warna rumah, jumlah kamar, jumlah anak, dan hal-hal baik lainnya. Bukan untuk mendahului takdirNya, hanya memberi tahuNya bahwa prasangkaku baik terhadapmu.

Namun, Jika kemudian Tuhan setuju dengan sebaliknya pun aku tidak akan meratap. Ini hanya akan menjadi salah satu episode dari sekian banyak peran yang Tuhan berikan kepadaku. Tidak perlu khawatir, doaku akan tetap. Kebaikanmu akan menjadi agenda tetap dialogku dengan Tuhanku.

Walaupun kemudian aku akan mati-matian melawan arus rindu, Mengejar lebih banyak senja, meghabiskan lebih banyak batang rokok dan kertas untuk menaruh puisi-puisi patah hatiku. Media sosialmu akan menjadi sasaran amukan rinduku. Namun jangan khawatir, aku tidak akan sampai hati memberitahumu soal semua yang akan kulakukan jika itu semua terjadi. Akan kubiarkan kau hidup dalam gelembung bahagiamu. Tidak akan kupecahkan itu.(*)


You Might Also Like

0 komentar: