Aku, Tuhan & Dirimu
Beri aku sedikit waktu untuk bisa membentengi diri dari perasaan khawatir.
Berikan sedikti masa untuk bisa merasa semua udah tertulis dalam Bahasa yang
Kuasa. Karena aku menyadari pada akhirnya semua ini sementara, tawa, senyum dan
rasa bahagia adalah fatamorgana belaka.
Jika sedih dan gagal dikatakan sementara, maka Bahagia dan kesenangan adalah
semasa kedip mata. dengan begitu cara kita menikmati adalah yang utama. Bahagia
melihatmu bahagia dan sedih melihatmu menangis, sudah itu saja kemampuan yang
ingin aku latih.
Aku belajar kembali untuk melangkah dalam realita. Melihat diri lebih
dalam, melihat realita dalam kacamata sederhana. Bahwa kita adalah dua makhluk
yang berbeda, lalu sebagian hatiku berontak mengatakan bahwa “Tuhan menciptakan
manusia berbeda untuk saling mengenal”. Jadi tak bisakah kita yang berbeda ini
saling mengenal dan menumbuhkan perasaan untuk kemudian saling memiliki dalam
naungan perjanjian paling sakral dunia akhirat.
Namun pemberontakan tetaplah
tidak dibenarkan. Hati tetaplah hati, dia suka berkhayal, melambung tinggi untuk
kemudian terhempas kembali, berkali-kali, berharap mati namun bangkit kembali.
Aku ingin menjadi manusia saja, menjalani apa yang digariskan. Jika
memang aku harus jatuh, maka biarkan aku jatuh asalkan itu memang kehendak yang
Maha Tau. Jika memang aku harus berbahagia maka, itu bukan karena siapa-siapa
kecuali Sang Pemilik Dunia.
Seperti saat kau menolak kupanggil kekasih, Tuhan menolak didikte oleh
perasaan, namun Tuhan dekat dengan prasangka hambanya. Aku tidak berusaha
mendikte Tuhan melalui doa-doa yang kuawali dengan kebaikanmu di dalamnya. Namun
hatiku selalu memberikan bayangan akan masa depan kita. Lokasi kota kita
tinggal, warna rumah, jumlah kamar, jumlah anak, dan hal-hal baik lainnya. Bukan
untuk mendahului takdirNya, hanya memberi tahuNya bahwa prasangkaku baik
terhadapmu.
Namun, Jika kemudian Tuhan setuju dengan sebaliknya pun aku tidak akan
meratap. Ini hanya akan menjadi salah satu episode dari sekian banyak peran
yang Tuhan berikan kepadaku. Tidak perlu khawatir, doaku akan tetap. Kebaikanmu
akan menjadi agenda tetap dialogku dengan Tuhanku.
Walaupun kemudian aku akan mati-matian melawan arus rindu, Mengejar lebih banyak senja, meghabiskan lebih banyak batang rokok dan kertas untuk menaruh puisi-puisi patah hatiku. Media sosialmu akan menjadi sasaran amukan rinduku. Namun jangan khawatir, aku tidak akan sampai hati memberitahumu soal semua yang akan kulakukan jika itu semua terjadi. Akan kubiarkan kau hidup dalam gelembung bahagiamu. Tidak akan kupecahkan itu.(*)

0 komentar: