Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.

06.59 lewatengah 0 Comments


Palu, 5 Juni 2019, hari raya idul fitri.

Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar,..

Lailahailallahuallahuakbar,,, Allahuakbar,, Walillahilham.

Takbir berkumandang pada pagi itu namun suasananya sepi. Tidak ada yang membangunkan untuk sholat ied. Tidak ada aroma sambel goreng kentang dan opor ayam dari dapur. Tidak ada aroma sumringah dari sudut-sudut rumah. Tidak ada yang menyiapkan baju koko warna putih dan sarung untuk shola ied ke masjid. Hanya ada sepi dan termangu mendengar takbir yang saling bersahutan satu sama lain. Eluh  mata seakan ingin keluar dan mewakili perasaan terharu yang begitu dalam karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga pada saat momen idul fitri.

Ini adalah lebaran pertama saya yang tidak pulang ke rumah. Selama masa hidup, saya selalu berlebaran bersama dengan orang tua saya di desa tempat saya dibesarkan. Namun apa boleh buat keadaan memaksa saya untuk tidak merayakan idul fitri bersama mereka pada tahun ini. Rasanya ada yang kurang dan ada rasa haru yang begitu dalam. Setiap lantunan takbir membawa keharuan semakin dalam direlung hati, Suasana sholat ied dipagi yang dingin di desa Lebakbarang, suasana memakan ketupat bersama-sama didepan masjid, dan suasana sungkeman saling bermaafan dengan orang tua. Semuanya saling berseliweran mengisi pelupuk mata dalam dua hari masa lebaran.

Namun, akan selalu ada hikmah dalam setiap hal yang terjadi, lebaran tahun ini saya rayakan bersama Ibu Ery, Kak Ella, Mas Budi, dan Kak Uli, dikediaman Ibu Ery. Opor ayam, sambel goreng kentang, dan tumis daun kates hasil masakan Ibu Ery dan kawan-kawan adalah sebuah kebaikan yang saya nilai begitu besar. Masakan mereka menyelamatkan saya dari rasa sepi berlebaran sendirian di rumah. Tuhan selalu mengirimkan orang-orang baik untuk hadir disekitar kita tanpa kita sadari.

Dengan berdandan seperti bapak Bupati, dengan memakai baju batik saya datang ke rumah Ibu Ery. Persis setelah masakan matang. Untuk hal ini saya sampaikan terima kasih kepada Kak Ella, karena memberitahu secara tepat waktu kapan saya harus datang. Kami berlima menyantap masakan yang dihidangkan dengan lahap. Favorit saya adalah sambel goreng kentangnya, rasanya hampir menyamai sambel goreng kentang buatan ibu saya. Ingin rasanya saya habiskan itu masakan sambel gorengnya, namun rasa malu saya masih cukup besar. Jadi dengan menjaga image saya makan dengan porsi orang pada umumnya. Oh sambal goreng,,, maafkan aku yang tidak menghabiskanmu.

Selepas selesai makan, Ibu Ery membuatkan soup buah. Tentu saja menyegarkan. Bayangkan saja setelah kenyang makan masakan bersantan macam opor ayam dan sambal goreng, kemudian diisi kembali dengan es buah yang menyegarkan. Ah… Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan. Oleh karena itu saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ibu Ery, Kak Ella, Mas Budi, dan Kak Uli atas kebaikan ini. Semoga Tuhan balas dengan ribuan kebaikan lainnya.

Lebaran kali ini saya pelajari bahwa terkadang kita dihadapkan pada kondisi yang memang sangat tidak ideal bagi kita. Namun jika kemudian kita terima itu sebagai kabaikan, niscaya akan ada kebaikan datang pada kita. Tuhan itu baik, tidak ada niat Tuhan menempatkan kita pada suatu posisi walaupun itu sulit, selain hal baik yang akan Ia berikan untuk kita. Seperti saat Lebaran saya yang terancam kelabu, Tuhan mengirimkan Mbak Ery dan kawan-kawan dengan opor ayam dan sambel gorengnya.

Pesan moralnya : Berkawanlah dengan orang yang pandai memasak opor ayam dan sambel goreng. *nah loh.

Ramadhan sudah selesai, ada sesal tidak bisa memanfaatkan Ramadhan dengan maksimal untuk mendekat dengan Sang Rahim. Getar haru masih ada di relung hati setiap takbir idul fitri dikumandangkan. Ya Rabb… semoga tidak kau ambil perasaan haru karena mendengar kalamMu ini, biarkan saja haru ini tetap ada. Biarkan dia mengakar dikalbu, biarkan aku menjadi cengeng karena getar takbirMu. Ya Rabb.. Pertemukan aku dengan RamadhanMu tahun depan.


You Might Also Like

0 komentar: