Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.
Palu, 5 Juni 2019, hari
raya idul fitri.
Allahuakbar…
Allahuakbar… Allahuakbar,..
Lailahailallahuallahuakbar,,,
Allahuakbar,, Walillahilham.
Takbir berkumandang pada pagi itu namun suasananya sepi. Tidak ada yang
membangunkan untuk sholat ied. Tidak ada aroma sambel goreng kentang dan opor
ayam dari dapur. Tidak ada aroma sumringah dari sudut-sudut rumah. Tidak ada
yang menyiapkan baju koko warna putih dan sarung untuk shola ied ke masjid. Hanya
ada sepi dan termangu mendengar takbir yang saling bersahutan satu sama lain. Eluh
mata seakan ingin keluar dan mewakili
perasaan terharu yang begitu dalam karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga pada
saat momen idul fitri.
Ini adalah lebaran pertama saya yang tidak pulang ke rumah. Selama masa
hidup, saya selalu berlebaran bersama dengan orang tua saya di desa tempat
saya dibesarkan. Namun apa boleh buat keadaan memaksa saya untuk tidak
merayakan idul fitri bersama mereka pada tahun ini. Rasanya ada yang kurang dan
ada rasa haru yang begitu dalam. Setiap lantunan takbir membawa keharuan
semakin dalam direlung hati, Suasana sholat ied dipagi yang dingin di desa
Lebakbarang, suasana memakan ketupat bersama-sama didepan masjid, dan suasana
sungkeman saling bermaafan dengan orang tua. Semuanya saling berseliweran
mengisi pelupuk mata dalam dua hari masa lebaran.
Namun, akan selalu ada hikmah dalam setiap hal yang terjadi, lebaran
tahun ini saya rayakan bersama Ibu Ery, Kak Ella, Mas Budi, dan Kak Uli, dikediaman
Ibu Ery. Opor ayam, sambel goreng kentang, dan tumis daun kates hasil masakan Ibu Ery
dan kawan-kawan adalah sebuah kebaikan yang saya nilai begitu besar. Masakan mereka menyelamatkan saya dari rasa
sepi berlebaran sendirian di rumah. Tuhan selalu mengirimkan orang-orang baik
untuk hadir disekitar kita tanpa kita sadari.
Dengan berdandan seperti bapak Bupati, dengan memakai baju batik saya datang
ke rumah Ibu Ery. Persis setelah masakan matang. Untuk hal ini saya sampaikan
terima kasih kepada Kak Ella, karena memberitahu secara tepat waktu kapan saya
harus datang. Kami berlima menyantap masakan yang dihidangkan dengan lahap. Favorit saya adalah sambel goreng kentangnya, rasanya hampir menyamai sambel
goreng kentang buatan ibu saya. Ingin rasanya saya habiskan itu masakan sambel
gorengnya, namun rasa malu saya masih cukup besar. Jadi dengan menjaga image
saya makan dengan porsi orang pada umumnya. Oh sambal goreng,,, maafkan aku
yang tidak menghabiskanmu.
Selepas selesai makan, Ibu Ery membuatkan soup buah. Tentu saja
menyegarkan. Bayangkan saja setelah kenyang makan masakan bersantan macam opor
ayam dan sambal goreng, kemudian diisi kembali dengan es buah yang menyegarkan.
Ah… Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan. Oleh karena itu saya ucapkan
terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ibu Ery, Kak Ella, Mas Budi, dan Kak Uli
atas kebaikan ini. Semoga Tuhan balas dengan ribuan kebaikan lainnya.
Lebaran kali ini saya pelajari bahwa terkadang kita dihadapkan pada
kondisi yang memang sangat tidak ideal bagi kita. Namun jika kemudian kita terima
itu sebagai kabaikan, niscaya akan ada kebaikan datang pada kita. Tuhan itu baik,
tidak ada niat Tuhan menempatkan kita pada suatu posisi walaupun itu sulit,
selain hal baik yang akan Ia berikan untuk kita. Seperti saat Lebaran saya yang terancam kelabu, Tuhan
mengirimkan Mbak Ery dan kawan-kawan dengan opor ayam dan sambel gorengnya.
Pesan moralnya : Berkawanlah dengan orang yang pandai memasak opor ayam
dan sambel goreng. *nah loh.
Ramadhan sudah selesai, ada sesal tidak bisa memanfaatkan Ramadhan dengan
maksimal untuk mendekat dengan Sang Rahim. Getar haru masih ada di relung hati
setiap takbir idul fitri dikumandangkan. Ya Rabb… semoga tidak kau ambil perasaan
haru karena mendengar kalamMu ini, biarkan saja haru ini tetap ada. Biarkan dia
mengakar dikalbu, biarkan aku menjadi cengeng karena getar takbirMu. Ya Rabb..
Pertemukan aku dengan RamadhanMu tahun depan.

0 komentar: