Wikarna, Ini Masih Subuh.
Ini masih subuh Wikarna.
Tolong
berhentilah sejenak dari celotehanmu mengenai negeri khayalanmu itu, mana ada
negeri gemah ripah loh jinawi yang kau sebut-sebut sejak dari tadi?. Negeri itu
hanya ada dalam dongeng sebelum tidur untuk anakmu Wikarna, bukalah matamu,
negeri yang kau tinggali ini adalah negeri terbaik yang pernah diberikan Tuhan
untuk manusia. Ini adalah negeri pemaaf Wikarna, apa yang lebih baik dari itu?.
Mereka yang mencuri bermilyar-milyar akan menyerahkan diri, kemudian
melambai-lambai di layar televisi. Setahun kemudian mereka akan dimaafkan,
bukankan itu kabar yang bagus kawanku?. Tuhan pasti senang dengan orang-orang
itu, karena mereka suka memaafkan. Lalu kalau ada nenek tua yang dipenjara gara-gara mencuri buah coklat, ah
itu hanya konspirasi Wikarna, jangan percaya berita-berita seperti itu
sahabatku.
Ini masih subuh Wikarna.
Bapak pejabat kita masih tertidur pulas
menikmati kasur empuknya yang didapat dari proyek bakar lahan itu sabahatku,
jangan kau ganggu mereka dengan celotehanmu yang basi itu. Mereka itu
orang-orang pintar dan terhormat. Kau tidak lihat perut mereka yang membuncit
itu, itulah letak otak mereka Wikarna. Coba bandingkan dengan otakmu yang cuma
sebesar buah persik di belakang kepalamu itu, sungguh kau bukan tandingan
kepandaian mereka sahabatku. Tau apa kau mengenai memimpin negeri Wikarna?,
para pejabat itu sudah berpengalaman dalam kong kalikong, sudah berpengalaman
tentang membuat perusahaan fiktif untuk memenangi tender proyek, sudah berpengalaman
menyulap kursi empuk senayan sebagai tempat tidur yang nyaman Wikarna.
Sedangkan kau, kau hanya memiliki semangat dan kecintaan berlebih kepada tanah
air, kau hanya punya rasa prihatin terhadap negerimu ini, kau hanya punya
semangat dan solusi. Kau bukan tandingan mereka kawanku.
Ini masih subuh Wikarna.
Kalau kau tidak berhenti untuk berbicara
mengenai merubah negeri ini menjadi negeri yang katamu gemah ripah loh jinawi,
kau akan dikira orang gila Wikarna. Mereka akan memusuhimu, mereka akan memandang
dirimu sebagai lawan yang harus dibunuh dan dihancurkan, mungkin bukan dengan
bedil seperti yang dialami oleh almarhum bapakmu pada zaman pertengahan lalu,
namun mereka pasti punya cara untuk mematikan langkahmu itu sahabatku. Untuk
itu, saranku padamu wahai Wikarna sahabatku, Setidaknya kalau kau tidak bisa berhenti,
pelankanlah suaramu Wikarna, atau setidaknya kritikmu itu jangan kau beri cabai
banyak-banyak, sehingga tidak terlalu pedas, siapa tahu, kemudian kau dijadikan
komisaris oleh mereka yang memimpin negeri ini sahabatku. Katanya jadi
komisaris itu enak Wikarna, setidaknya kau bisa tidur nyenyak nantinya, tidak
seperti sekarang, ngrundel setiap subuh tentang ketidakadilan pemimpin negeri
ini.
Ini masih subuh Wikarna.
Tunggulah sampai matahari terbit
sepenggalah Wikarna. Lalu belilah koran pagi hari ini. Lalu kau baca berita
pagi ini, apa ada berita mengenai ketidakadilan seperti katamu sahabatku. Pasti
tidak ada. Coba kau perhatikan. Semuanya sudah adil Wikarna, yang suka nyocot
akan diberi sumpal jabatan dan uang, yang tidak bisa bernafas karena asap akan
dibiarkan mati, yang tidak bisa makan karena gagal panen, akan dibiarkan
menderita memakan buah-buah hutan. Lalu dimana letak ketidakadilan yang kau
katakana itu sabahatku. Semuanya sudah sesuai dengan aturan negara Wikarna. Kau
ini jangan macam-macam dengan aturan negara Wikarna, itu aturan sudah mutlak
tidak bisa diganggu gugat, kau tau inti aturannya Wikarna?. Yang kaya harus
jadi makin kaya, yang miskin biarkan tetap miskin. Itulah kawan. Kalau yang miskin jadi kaya, maka pemilu
selanjutnya para calon-calon pejabat itu tidak punya lagi suara yang bisa dibeli
Wikarna, tidakkah kau pahami itu sahabatku. Kalau kau masih keukeuh menyebut
itu tidak adil, maka yang tidak adil ini biarlah seperti itu.
Wikarna sahabatku.
Sebagai sahabat, dalam lubuk hatiku yang
terdalam, aku percaya padamu bahwa akan ada masa dimana semua yang kau katakan
itu benar-benar terjadi. semua
pejabat-pejabat laknat itu tumbang satu persatu. Dan orang-orang sepertimu yang
masih percaya bahwa jujur adalah harta berharga, akan muncul dan membawa negeri
ini keluar dari yang kau sebut sebagai ketidakadilan. Tapi Wikarna..
Ini masih subuh, masih terlalu lama
menunggu masa itu datang. (*)
(*)Yoga Triono

0 komentar: