Wikarna, Ini Masih Subuh.

18.24 lewatengah 0 Comments

Ini masih subuh Wikarna.
Tolong berhentilah sejenak dari celotehanmu mengenai negeri khayalanmu itu, mana ada negeri gemah ripah loh jinawi yang kau sebut-sebut sejak dari tadi?. Negeri itu hanya ada dalam dongeng sebelum tidur untuk anakmu Wikarna, bukalah matamu, negeri yang kau tinggali ini adalah negeri terbaik yang pernah diberikan Tuhan untuk manusia. Ini adalah negeri pemaaf Wikarna, apa yang lebih baik dari itu?. Mereka yang mencuri bermilyar-milyar akan menyerahkan diri, kemudian melambai-lambai di layar televisi. Setahun kemudian mereka akan dimaafkan, bukankan itu kabar yang bagus kawanku?. Tuhan pasti senang dengan orang-orang itu, karena mereka suka memaafkan. Lalu kalau ada nenek tua yang  dipenjara gara-gara mencuri buah coklat, ah itu hanya konspirasi Wikarna, jangan percaya berita-berita seperti itu sahabatku.

Ini masih subuh Wikarna.
Bapak pejabat kita masih tertidur pulas menikmati kasur empuknya yang didapat dari proyek bakar lahan itu sabahatku, jangan kau ganggu mereka dengan celotehanmu yang basi itu. Mereka itu orang-orang pintar dan terhormat. Kau tidak lihat perut mereka yang membuncit itu, itulah letak otak mereka Wikarna. Coba bandingkan dengan otakmu yang cuma sebesar buah persik di belakang kepalamu itu, sungguh kau bukan tandingan kepandaian mereka sahabatku. Tau apa kau mengenai memimpin negeri Wikarna?, para pejabat itu sudah berpengalaman dalam kong kalikong, sudah berpengalaman tentang membuat perusahaan fiktif untuk memenangi tender proyek, sudah berpengalaman menyulap kursi empuk senayan sebagai tempat tidur yang nyaman Wikarna. Sedangkan kau, kau hanya memiliki semangat dan kecintaan berlebih kepada tanah air, kau hanya punya rasa prihatin terhadap negerimu ini, kau hanya punya semangat dan solusi. Kau bukan tandingan mereka kawanku.

Ini masih subuh Wikarna.
Kalau kau tidak berhenti untuk berbicara mengenai merubah negeri ini menjadi negeri yang katamu gemah ripah loh jinawi, kau akan dikira orang gila Wikarna. Mereka akan memusuhimu, mereka akan memandang dirimu sebagai lawan yang harus dibunuh dan dihancurkan, mungkin bukan dengan bedil seperti yang dialami oleh almarhum bapakmu pada zaman pertengahan lalu, namun mereka pasti punya cara untuk mematikan langkahmu itu sahabatku. Untuk itu, saranku padamu wahai Wikarna sahabatku,  Setidaknya kalau kau tidak bisa berhenti, pelankanlah suaramu Wikarna, atau setidaknya kritikmu itu jangan kau beri cabai banyak-banyak, sehingga tidak terlalu pedas, siapa tahu, kemudian kau dijadikan komisaris oleh mereka yang memimpin negeri ini sahabatku. Katanya jadi komisaris itu enak Wikarna, setidaknya kau bisa tidur nyenyak nantinya, tidak seperti sekarang, ngrundel setiap subuh tentang ketidakadilan pemimpin negeri ini.

Ini masih subuh Wikarna.
Tunggulah sampai matahari terbit sepenggalah Wikarna. Lalu belilah koran pagi hari ini. Lalu kau baca berita pagi ini, apa ada berita mengenai ketidakadilan seperti katamu sahabatku. Pasti tidak ada. Coba kau perhatikan. Semuanya sudah adil Wikarna, yang suka nyocot akan diberi sumpal jabatan dan uang, yang tidak bisa bernafas karena asap akan dibiarkan mati, yang tidak bisa makan karena gagal panen, akan dibiarkan menderita memakan buah-buah hutan. Lalu dimana letak ketidakadilan yang kau katakana itu sabahatku. Semuanya sudah sesuai dengan aturan negara Wikarna. Kau ini jangan macam-macam dengan aturan negara Wikarna, itu aturan sudah mutlak tidak bisa diganggu gugat, kau tau inti aturannya Wikarna?. Yang kaya harus jadi makin kaya, yang miskin biarkan tetap miskin. Itulah kawan.  Kalau yang miskin jadi kaya, maka pemilu selanjutnya para calon-calon pejabat itu tidak punya lagi suara yang bisa dibeli Wikarna, tidakkah kau pahami itu sahabatku. Kalau kau masih keukeuh menyebut itu tidak adil, maka yang tidak adil ini biarlah seperti itu.

Wikarna sahabatku.
Sebagai sahabat, dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku percaya padamu bahwa akan ada masa dimana semua yang kau katakan itu  benar-benar terjadi. semua pejabat-pejabat laknat itu tumbang satu persatu. Dan orang-orang sepertimu yang masih percaya bahwa jujur adalah harta berharga, akan muncul dan membawa negeri ini keluar dari yang kau sebut sebagai ketidakadilan. Tapi Wikarna..
Ini masih subuh, masih terlalu lama menunggu masa itu datang. (*)
(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: