Manut Ing pandum (Kereta Berangkat Pukul Berapa?)
Menunggu merupakan kegiatan yang menyebalkan, itulah pandangan paling mainstream dari masyarakat kebanyakan. Bagi mereka menunggu adalah kegiatan yang membuang waktu dan membosankan karena terikat oleh waktu. Jangankan menunggu berjam-jam, menunggu dalam hitungan menitpun banyak yang mengeluh. Walaupun baru lima menit namun terasa seperti sejam. Bahkan dalam kalimat sederhana Albert Einsten menjelaskan relativitas waktu seperti ini : kalau kau duduk disebelah wanita cantik, walau duduk sudah 3 jam terasa seperti 5 menit, namun saat kau duduk disebuah kursi panas, walaupun duduk 2 menit terasa seperti dua jam.
Begitulah, hingga kemudian Einstein melogikakan hal
tersebut dalam rumus relativitas, yang terkenal itu, namun mungkin tidak semua
memahami ini, kebanyakan para intelektual memandang relativitas sebagai suatu
teori yang njlimet sebagai rumus energy E= m.c2. Meski begitu, bagi
pribumi nusantara, terutama orang jawa, yang terbiasa dengan prinsip manut ing pandum, bahwa semua yang
terjadi pada dirinya adalah kehendak tuhan dan dengan ikhlas mengikutinya. Bisa
jadi logika berfikir ini adalah antitesis dari logika relativitas milik Einstein.
Se-tidak enak apapun, akan tetap berusaha untuk menikmatinya.
Dan sebagai orang berdarah jawa tulen, saya
seharusnya cenderung bersikap
antirelativitas waktu. Walaupun secara logika keilmuan, apalagi orang barat,
dianggap tidak masuk akal. Karena pernah kejadian saat saya mencoba menjelaskan
manut ing pandum kepada seorang kawan
dari Belgia, ia merasa heran, bagaimana bisa orang menikmati sesuatu yang
dianggapnya sendiri tidak nikmat. Namun itulah orang jawa, manut ing pandum seperti ilmu yang memperkuat anggapan bahwa orang
jawa adalah orang yang sabar dan ulet. Seperti saat saya hendak pergi dari Banyuwangi
ke Surabaya dengan naik kereta. kereta
saya di stasiun Banyuwangi Baru berangkat pukul 6 pagi. Saya datang ke stasiun
pukul 6 sore pada hari sebelumnya. Saya mau menguji diri sendiri, seberapa manut ing pandumkah diri ini. ?
Selama 12 jam memunggu jadwal kereta berangkat, saya
mencoba untuk menikmati waktu, saya mulai memainkan hape dan berselancar di
dunia maya. Namun ternyata hanya kuat 3 jam. Bukan, bukan karena dilanda
kebosanan namun batrei hape saya tidak mampu menuruti nafsu surfing saya di dunia
maya. Kemudian saya alihkan perhatian saya pada beberapa penumpang, ada yang
seperti saya, sendirian, ada yang berpasangan, dan ada yang bersama keluarga.
Dari yang saya lihat, sepertinya penumpang yang
bersama keluarga dan pasangan lebih bisa menghabiskan waktu dengan
menyenangkan, karena ada partner untuk berkomunikasi. Maka saya coba ajak
ngobrol beberapa penumpang yang ada, namun hanya bertahan tidak lebih dari 30
menit, obrolan kami terhenti karena kehabisan bahan. Saya kembali tenggelam
dalam kesendirian.
Saya melamun sendiri serta berfikir apa yang harus
saya lakukan agar tidak bosan. Dalam lamunan, saya menyadari bahwa saya telah
gagal sejak pertama untuk menerapkan prinsip manut ing pandum. Mata saya terbuka bahwa manut ing pandum adalah
ikhlas itu sendiri. Saat saya mencoba untuk mencari kegiatan mengusir
kebosanan, maka saat itulah saya gagal. Seharusnya saya menerima dan menikmati
rasa bosan itu, iklas untuk menjadi bosan, sampai saya temukan keindahan dari rasa
bosan. Kalau saya mencoba menghalau rasa bosan itu berarti saya tidak menikmati
dan mensyukuri rasa bosan yang diberikan tuhan untuk saya.
Manut ing pandum
adalah ilmu tingkat tinggi mengenai pengendalian diri dan hawa nafsu untuk
selalu ikhlas dan berkhusnudhon kepada pencipta, bahwa apa yang terjadi dengan
kkita hari ini adalah sebuah karunia, Karunia yang seharusnya kita syukuri,
walaupun karunia itu adalah rasa bosan. Sama seperti ikhlas, selama anda masih
menimbang mengingat dan mencoba menunjukan bahwa anda ikhlas maka anda belum
ikhlas. Seperti saat buang hajat, kita buang hajat tidak ada yang menyuruh,
tidak ada yang memaksa, dan ketika kotoran kita sudah kita keluarkan, kita
tidak mungkin untuk melihat-lihat kotoran kita, seberapa ons kotoran yang kita
keluarkan. Itulah ikhlas, Maka dalam perkara manut ingpandum dalam menunggu,
kita seharusnya menempatkan rasa bosan seperti kotoran, biarkan datang, terima
dengan tangan terbuka, nikmati kebosanan tersebut, jangan dilawan. Kemudian
endapkan dan biarkan pergi, (*)
(*)Yoga
Triono

0 komentar: