Antara Saya, Cinta, dan Rangga

07.54 lewatengah 6 Comments

         Saya punya satu kebiasaan, saya tidak tahu apakah ini kebiasaan baik atau kebiasaan buruk. Setiap saya mendengar suatu kisah, biasanya kisah hidup seorang tokoh, atau kisah asmara terkenal. Saya selalu mencocok-cocokannya dengan kisah hidup saya sendiri. Mungkin semacam baper, namun lebih bersifat holistic dan komprehensif, karena yang saya baper’i tidak hanya pada satu atau dua hal dikisah tersebut, namun keseluruhan dari kisah tersebut. Saya menyadari bahwa terkadang kebiasaan saya membuat saya menjadi tidak tahu diri. Seperti saat saya mencocok-cocokkan kisah saya dengan kisah mantan wartawan dan scholarship hunter, yang sukses menelurkan beberapa novel, Ahmad Fuadi. Kisah Ahmad Fuadi ditulis dan dibukukan pada novel trilogi Negeri Lima Menara. Setelah khatam membaca 3 novel tersebut, tanpa saya sadari kebiasaan mencocok-cocokan itu muncul dan berkecambah dalam pikiran saya. Disebutkan bahwa Ahmad Fuadi adalah seorang wartawan yang mendapatkan beasiswa S2 ke negara Amerika Serikat. Persis pada waktu itu, saya baru lulus S1, dan kebetulan sekali saya  bekerja sebagai wartawan, cocok sekali bukan. Ahmad Fuadi yang dalam buku tersebut bernama Alif Fikri, berkenalan dan berpasangan dengan seorang mahasiswi jurusan bahasa Inggris dari LPIA Jakarta bernama Dinara. Dan kebetulan juga, pada waktu itu, saya juga sedang menjalin komunikasi dengan mahasiswa LPIA Jakarta yang tidak bisasaya sebutkan namanya. Semakin cocok saja kisah dua anak manusia beda nasib ini. Namun sayangnya sisa kisahnya bertolak 180  derajat, Alif Fikri mendapat beasiswa S2, sedangkan saya tidak. Alif Fikri orang Bukitinggi,  saya  orang Jawa. Alif Fikri pandai menulis di surat kabar, saya boro-boro di surat kabar, menulis pesan singkat  saja harus dibaca 3 kali. Namun entah mengapa nurani  saya tetap saja meyakini kalau saya mirip Alif Fikri. Ah tidak tahu diri sekali saya waktu itu.
            Kali lain, saya membaca buku biografi dari Mentri Pendidikan saat ini, Anies Baswedan. Saya lupa judulnya, sebagai catatan saja, saya membaca buku tersebut pada saat Pak Anies belum menjadi Mentri Pendidikan. Pada buku tersebut, dikatakan bahwa masa kecil Anies Baswedan, beliau termasuk anak yang penuh dengan kejutan dan kreatifitas. Bahkan dalam buku tersebut, Anies kecil membentuk sebuah organisasi bersama kawan-kawannya, (Nama organisasinya saya lupa), dan dia sempat dikira hilang dan dicari-cari oleh ayahnya  akibat bermain hingga magrib tidak pulang. Kreatifitas masa kecil Pak Anies ini mengingatkan mengenai masa kecil saya yang cukup kreatif. Walaupun tidak sampai membentuk sebuah organisasi, namun dengan mainan-mainan saya waktu dulu, saya  termasuk anak yang berfikir out of the box, setidaknya itu menurut saya sendiri. Seperti pada saat saya dibelikan mainan oleh bapak saya  berupa mobil-mobilan berbentuk bus dari bahan plastk. Seperti halnya  anak-anak, selama beberapa hari mobil-mobilan tersebut menjadi mainan favorit, hingga saya mulai jenuh dengan mainan tersebut, otak kreatif saya yang seperti Pak Anies itu muncul, mobil-mobilan saya bakar, kemudian saya  tarik-tarik sambil berteriak, “wiiiiuuuu….wiiiiuuuu….wiiiiuuuu. bis’e bar tabrakan, dadi kebarakan”. Bayangkan saja, betapa tinggi daya imaji saya, bahkan pada waktu itu, saya melihat bus saja hanya melalui televisi. Namun otak kecil saya sudah bisa mengimajinasikan kondisi yang terjadi bila sebuah bus tabrakan dan terbakar.
            Pernah juga pada waktu itu saya sedang keranjingan dengan segala hal yang berhubungan dengan pesawat dan tentang luar angkasa. Hal ini  akibat dari sebuah buku, judulnya  saya lupa, namun buku itu menceritakan seorang  anak yang memiliki paman sangat pintar dan dari pamannya tersebut ia mendapatkan semua ilmu dan pengetahuan mengenai dunia pesawat dan luar angkasa. Bahkan dari buku itulah pertama kali saya  ketahui bahwa pesawat yang mendarat dibulan itu Apollo 11. Singkat cerita saking terobsesinya, saya membuat sebuah pemancar satelit sendiri, dengan menggunakan batok kelapa yang dibelah menjadi dua bagian. Bentuk belahannya itu mirip sekali dengan pemancar signal keluar angkasa yang berbentuk cekung. Lalu dengan sedikit kawat dan kayu serta paku, jadilah alat pemancar satelit saya. Setiap malam benda itu saya  taruh di luar rumah dan saya menungguinya, seolah-olah alien diluar sana mendengar signal saya. Hal itu terjadi selama beberapa hari. Kreatifitas itulah yang secara kurang ajar saya cocokan dengan masa kecil Anies Baswedan. Walaupaun kemudian saya sadari perjalanan pendidikan dan pemikiran kami sangat jauh sekali untuk dibandingkan.
            Lalu yang terbaru muncul adalah sekuel dari film  Ada Apa Dengan Cinta. Yang mengangkat cerita mengenai kisah cinta Rangga dan Cinta yang terpisah jarak. Jujur saja, saya tidak terlalu mengikuti kisah ini pada penayangan AADC yang pertama. Maklum, pada AADC yang pertama saya masih imut-imut, belum mengerti mengenai cinta dan wanita. Walaupun inti cerita AADC 2 itu tidak fokus LDR, namun kepergian Rangga ke Amerika untuk kuliah, senada dengan kepergian saya dari Kota Pekalongan ke Pulau Bali untuk kuliah pula. Dan penyakit mencocok-cocokan yang saya deritapun kumat. Saya seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Rangga terhadap Cinta, Bagaimana beratnya  harus meninggalkan dia  yang tercinta.  Terpisah ruang dan waktu. Kalau di Amerika terpisah waktu mungkin 6 jam, kalau di Pulau Bali dan Kota Pekalongan terpisah satu jam. Tentu Rangga  merasakan siksan rindu selalu menggangu, memakan energi sedemikian besar hingga menjadikannya 5L: lemah, lesu, letih, lunglai, letoy. Cocok dan persis sekali seperti yang saya rasakan. Penampilan Rangga yang sangat  cool juga sejalan dengan gaya saya yang irit bicara dan bicara seadanya. Sungguh dua buah kisah yang mungkin dalam bahasa kedokteran disebut “kembar identik”. Hanya saja satu perbedaan yang ada dalam kisah  saya dan kisah Rangga. Rangga memiliki Cinta yang menanti kepulangannya, sedangkan saya, Saya Jomblo. Sugh…!!!
 

You Might Also Like

6 komentar:

  1. Awkwkwkwkwk. Endingnya arogan aneeet. ^^
    Btw, ciyeeee yg ninggalin cintanya di Pekalongan. Ehem... boleh tau ga yaaa...

    BalasHapus
  2. Biarin,,, itu kan fiksi....hahaha..
    cinta yang aku tinggal dipekalongan adalah cinta keluarga dan cinta orang tua,,, haseeek...wkwkwkw

    BalasHapus
  3. Haha. Sok sekseh...

    BalasHapus
  4. Mekso amat ceritane...hha
    Tp tetep jempol deh mas buat ente...

    BalasHapus