Antara Saya, Cinta, dan Rangga
Saya
punya satu kebiasaan, saya tidak tahu apakah ini kebiasaan baik atau kebiasaan
buruk. Setiap saya mendengar suatu kisah, biasanya kisah hidup seorang tokoh,
atau kisah asmara terkenal. Saya selalu mencocok-cocokannya dengan kisah hidup
saya sendiri. Mungkin semacam baper, namun lebih bersifat holistic dan
komprehensif, karena yang saya baper’i tidak hanya pada satu atau dua hal dikisah
tersebut, namun keseluruhan dari kisah tersebut. Saya menyadari bahwa terkadang
kebiasaan saya membuat saya menjadi tidak tahu diri. Seperti saat saya
mencocok-cocokkan kisah saya dengan kisah mantan wartawan dan scholarship hunter, yang sukses
menelurkan beberapa novel, Ahmad Fuadi. Kisah Ahmad Fuadi ditulis dan dibukukan
pada novel trilogi Negeri Lima Menara. Setelah khatam membaca 3 novel tersebut,
tanpa saya sadari kebiasaan mencocok-cocokan itu muncul dan berkecambah dalam
pikiran saya. Disebutkan bahwa Ahmad Fuadi adalah seorang wartawan yang
mendapatkan beasiswa S2 ke negara Amerika Serikat. Persis pada waktu itu, saya
baru lulus S1, dan kebetulan sekali saya
bekerja sebagai wartawan, cocok sekali bukan. Ahmad Fuadi yang dalam
buku tersebut bernama Alif Fikri, berkenalan dan berpasangan dengan seorang
mahasiswi jurusan bahasa Inggris dari LPIA Jakarta bernama Dinara. Dan
kebetulan juga, pada waktu itu, saya juga sedang menjalin komunikasi dengan
mahasiswa LPIA Jakarta yang tidak bisasaya sebutkan namanya. Semakin cocok saja
kisah dua anak manusia beda nasib ini. Namun sayangnya sisa kisahnya bertolak
180 derajat, Alif Fikri mendapat
beasiswa S2, sedangkan saya tidak. Alif Fikri orang Bukitinggi, saya
orang Jawa. Alif Fikri pandai menulis di surat kabar, saya boro-boro di
surat kabar, menulis pesan singkat saja
harus dibaca 3 kali. Namun entah mengapa nurani
saya tetap saja meyakini kalau saya mirip Alif Fikri. Ah tidak tahu diri
sekali saya waktu itu.
Kali lain, saya membaca buku
biografi dari Mentri Pendidikan saat ini, Anies Baswedan. Saya lupa judulnya,
sebagai catatan saja, saya membaca buku tersebut pada saat Pak Anies belum
menjadi Mentri Pendidikan. Pada buku tersebut, dikatakan bahwa masa kecil Anies
Baswedan, beliau termasuk anak yang penuh dengan kejutan dan kreatifitas. Bahkan
dalam buku tersebut, Anies kecil membentuk sebuah organisasi bersama
kawan-kawannya, (Nama organisasinya saya lupa), dan dia sempat dikira hilang
dan dicari-cari oleh ayahnya akibat
bermain hingga magrib tidak pulang. Kreatifitas masa kecil Pak Anies ini mengingatkan
mengenai masa kecil saya yang cukup kreatif. Walaupun tidak sampai membentuk
sebuah organisasi, namun dengan mainan-mainan saya waktu dulu, saya termasuk anak yang berfikir out of the box, setidaknya itu menurut
saya sendiri. Seperti pada saat saya dibelikan mainan oleh bapak saya berupa mobil-mobilan berbentuk bus dari bahan
plastk. Seperti halnya anak-anak, selama
beberapa hari mobil-mobilan tersebut menjadi mainan favorit, hingga saya mulai
jenuh dengan mainan tersebut, otak kreatif saya yang seperti Pak Anies itu
muncul, mobil-mobilan saya bakar, kemudian saya
tarik-tarik sambil berteriak, “wiiiiuuuu….wiiiiuuuu….wiiiiuuuu.
bis’e bar tabrakan, dadi kebarakan”. Bayangkan saja, betapa tinggi daya
imaji saya, bahkan pada waktu itu, saya melihat bus saja hanya melalui
televisi. Namun otak kecil saya sudah bisa mengimajinasikan kondisi yang
terjadi bila sebuah bus tabrakan dan terbakar.
Pernah juga pada waktu itu saya
sedang keranjingan dengan segala hal yang berhubungan dengan pesawat dan
tentang luar angkasa. Hal ini akibat
dari sebuah buku, judulnya saya lupa,
namun buku itu menceritakan seorang anak
yang memiliki paman sangat pintar dan dari pamannya tersebut ia mendapatkan
semua ilmu dan pengetahuan mengenai dunia pesawat dan luar angkasa. Bahkan dari
buku itulah pertama kali saya ketahui
bahwa pesawat yang mendarat dibulan itu Apollo 11. Singkat cerita saking terobsesinya, saya membuat sebuah
pemancar satelit sendiri, dengan menggunakan batok kelapa yang dibelah menjadi
dua bagian. Bentuk belahannya itu mirip sekali dengan pemancar signal keluar
angkasa yang berbentuk cekung. Lalu dengan sedikit kawat dan kayu serta paku,
jadilah alat pemancar satelit saya. Setiap malam benda itu saya taruh di luar rumah dan saya menungguinya,
seolah-olah alien diluar sana mendengar signal saya. Hal itu terjadi selama
beberapa hari. Kreatifitas itulah yang secara kurang ajar saya cocokan dengan
masa kecil Anies Baswedan. Walaupaun kemudian saya sadari perjalanan pendidikan
dan pemikiran kami sangat jauh sekali untuk dibandingkan.
Lalu yang terbaru muncul adalah
sekuel dari film Ada Apa Dengan Cinta.
Yang mengangkat cerita mengenai kisah cinta Rangga dan Cinta yang terpisah
jarak. Jujur saja, saya tidak terlalu mengikuti kisah ini pada penayangan AADC
yang pertama. Maklum, pada AADC yang pertama saya masih imut-imut, belum
mengerti mengenai cinta dan wanita. Walaupun inti cerita AADC 2 itu tidak fokus
LDR, namun kepergian Rangga ke Amerika untuk kuliah, senada dengan kepergian
saya dari Kota Pekalongan ke Pulau Bali untuk kuliah pula. Dan penyakit
mencocok-cocokan yang saya deritapun kumat. Saya seolah mengerti apa yang
dirasakan oleh Rangga terhadap Cinta, Bagaimana beratnya harus meninggalkan dia yang tercinta. Terpisah ruang dan waktu. Kalau di Amerika
terpisah waktu mungkin 6 jam, kalau di Pulau Bali dan Kota Pekalongan terpisah
satu jam. Tentu Rangga merasakan siksan
rindu selalu menggangu, memakan energi sedemikian besar hingga menjadikannya
5L: lemah, lesu, letih, lunglai, letoy. Cocok dan persis sekali seperti yang
saya rasakan. Penampilan Rangga yang sangat
cool juga sejalan dengan gaya
saya yang irit bicara dan bicara seadanya. Sungguh dua buah kisah yang mungkin
dalam bahasa kedokteran disebut “kembar identik”. Hanya saja satu perbedaan
yang ada dalam kisah saya dan kisah
Rangga. Rangga memiliki Cinta yang menanti kepulangannya, sedangkan saya, Saya
Jomblo. Sugh…!!!

Awkwkwkwkwk. Endingnya arogan aneeet. ^^
BalasHapusBtw, ciyeeee yg ninggalin cintanya di Pekalongan. Ehem... boleh tau ga yaaa...
Biarin,,, itu kan fiksi....hahaha..
BalasHapuscinta yang aku tinggal dipekalongan adalah cinta keluarga dan cinta orang tua,,, haseeek...wkwkwkw
Haha. Sok sekseh...
BalasHapusBen...
BalasHapushehehe
Mekso amat ceritane...hha
BalasHapusTp tetep jempol deh mas buat ente...
Kamsia... Pangkyu..:)
BalasHapus