Menilik Reaksi Pulau Dewata Terhadap Eksekusi Mati Bali Nine

03.36 lewatengah 0 Comments


 
Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (sumber google image)

Judul pada tulisan kali ini agak kurang sreg bagi saya sendiri, pasalnya dengan judul tersebut seolah tulisan ini merepresentasikan pemikiran masyarakat Bali secara luas terhadap rencana eksekusi tersangka narkoba Bali Nine, yaitu Adrew Chan dan Myuran Sukumaran. Namun saya tegaskan bahwa apa yang tertulis di sini sama sekali tidak mewakili siapa-siapa, apalagi masyarakat Bali secara keseluruhan. Ini hanya sebuah unek-unek dan hasil ngobrol dengan beberapa orang Bali yang saya temui baru-baru ini. Jadi bagi pembaca yang budiman, jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi untuk bahan debat, skripsi, thesis, apalagi bahan menyusun disertasi, bisa bisa anda tidak lulus-lulus.
Baik, Tidak menutup mata bahwa eksekusi terpidana mati asal Australia membawa dampak bagi hubungan diplomasi kedua negara, yaitu Indonesia dan Australia, dampak yang mungkin akan sangat terasa adalah di pulau Bali sendiri, beberapa waktu yang lalu sejumlah warga negara Australia melalui twitter ingin memboikot pulau Bali sebagai tujuan wisata masyarakat Australia. Hasil obrolan saya dengan salah satu pelaku usaha wisata di pulau Bali mengatakan bahwa turis yang datang ke pulau Dewata memang mengalami penurunan, namun ketika saya tanya, beliau tidak bisa mengatakan presentasenya, hal ini membuat saya semakin penasaran. 

Namun kemungkinan besar rasa penasaran saya tersebut tiak bisa terpuaskan sebab, jika ingin tahu besarnya pengaruh eksekusi hukuman mati bali nine dengan jumlah turis australia yang datang ke bali. harus melakukan studi dengan menggunakan rumus uji T untuk sampel berkorelasi, dengan melakukan membandingkan antara kondisi sekarang dengan kondisi sebelum kasus ini muncul.(Lha kok malah ngomongin metode penelitian, gak nyambung ndaa). Namun diluar kebenaran penurunan jumlah wisatawan asal negeri kangguru tersebut, saya melihat masyarakat Bali sebagaian besar tidak terlalu terganggu dengan pemberitaan yang semakin hari semakin hot tersebut, entah karena mereka tidak ingin berpolemik, atau mereka memang tidak mau tahu. (lha kui maksute podo bol.. dobol). Karena hampir dalam obrolan-obrolan masyarakat Bali yang saya temui, baik di pangkalan ojek, warung nasi, bahkan sampai warung kopi, tidak ada obrolan mengenai kasus ini. Hal ini sedikit membuktikan bahwa masyarakat Bali lebih memilih menjalani kehidupan sepeti biasa yang selaras dan seimbang, dari pada berpolemik dengan kasus Bali Nine. (Analisa ini masih perlu dikaji ulang, sebab yang dikemukakan penulis bersifat terpotong-potong dan tidak metodik). Namun menarik saat saya mencoba mencari pandangan lain dari kasus ini. Adalah salah satu kawan saya yang saya anggap memiliki kemampuan untuk menerawang suatu permasalahan dengan analisis yang akurat. Ia mengatakan bahwa dalam Sektor wisata, yang dicari dari pengunjungnya adalah masalah keamanan, sehingga masyarakat Bali tidak perlu khawatir, selama kondisi di pulau Dewata masih kondusif maka pulau Dewata tidak akan pernah kekurangan pengunjung dari luar negeri. Kedua adalah faktor keramahan masyarakat, selama masyarakat Bali masih tersenyum menyambut para pelancong dengan tangan terbuka maka niscaya kejayaan pulau Bali, yang selama ini lebih dikenal dari pada negara Indonesia sendiri, akan tetap berjaya. Walaupun saya bukan sebagai orang asli Bali, namun kecintaan saya pada negara ini membuat saya berdoa semoga gambaran Prabu Jayabaya tentang Nusantara yang gemah ripah loh jokowi, eh Jinawi, segera terwujud. Sehingga Indonesia menjadi negara yang makmur, rakyatnya bahagia, pemimpinnya masuk surga, aamiin.
HestekBaliSave.
(Edisi Rodo Serius)

You Might Also Like

0 komentar: