Obrolan Warung Kopi Antara Einstein dan Al Khawarizmi
![]() |
| Einstein (Sumber Google Image) |
Dunia mengenal banyak penemu-penemu dan pemikir hebat pada masa lalu,
sebut saja, Pythagoras, Socrates dan Newton. Selain dunia barat ilmuan
muslim juga banyak yang memiliki andil besar dalam kemajuan ilmu
pengetahuan hingga saat ini, seperti Ibnu Sina yang hingga kini
pemikirannya di bidang kedokteran masih menjadi rujukan di
universitas-universitas besar di Eropa. Hingga pada suatu sore ada dua
ilmuan besar yang terpisah jarak dan waktu bertemu secara ujug-ujug d
warung kopinya mas Iman. Seperti diketahui warung kopi adalah se
asoy-asoy nya lokasi untuk berdiskusi mengenai semua hal, mulai dari
hal-hal sepele tentang wanita, hasil panen, bola, hingga
kebijakan-kebijakan pemarintah, dimana secara mitos obrolan warung kopi
akan lebih khusuk jika ada kopi dan udud. Dua ilmuan tersebut adalah
sang penemu Teori Relativitas, Albert Einstein, dan Al khawarizmi,
sekedar informasi, mungkin nama Khawarizmi sudah tidak asing bagi orang
matematika, karena dia adalah penemu Aljabar. Tepat jam 4 sore keduanya
duduk d warung mas Iman, dan saling menyapa.
"Apik lhem, kabarmu piye,? Sek seneng melet-melet nek di foto?" Al Khawarizmi menimpali sambil nyripit kopinya yang masih kemebul.
"Ra sah mbahas masalah melet, goro-goro kui bojoku nesu, jare ra pantes, ilat bekas cipokan dipamerke."Einstein menjawab sambil mengambil pisang goreng.
"Eh tein, sampeyan mikir nganti butak ngunu, kiro-kiro ning masa depan teori relativitasmu iku gunane opo,"kata Al khawarizmi sedikit memberi aroma persaingan.
"Nek aku kan jelas, al-jabar kui gunane nggo gawe meden-medeni bocah sekolah"katanya melanjutkan.
"Yo mergo rumus aljabar mu iku mbulet koyo ntut ning sarung, dadi cah sekolah do wedi," jawab Einstein sambil merem-merem menikmati kopi buatan mas Iman.
"Man, samsu ne siji. Dadi ngene Riz, relativitas kui gunane yo go gawe ngukur-ngukur sing ora pasti,"kata Einstein sambil ngecus rokok samsu yang baru di mintanya dari mas Iman.
"Wis genah ora pasti kok mbok ukur to Tein, kejiwaanmu kui pye,?"kata Al Khawarizmi terkekeh.
"Hambok rungokno sek penjelasanku to Riz. Koyo DPR Indonesia ae kwe, senenge interupsi" ucap Einstein tak mau kalah.
"Dadi ngene. Ning masa depan kui wong bakal akeh sing nganggo teoriku," katanya.
Menurut Einstein orang-orang dimasa depan akan sering menggunakan "relatif". Conto ne. Ketika ada orang di tanya, milih jokowi opo prabowo, jawab e relatif, sing luwih kandel sing ndi. Ketika di tawari makan d tanya ngelih pora? Jawab e relatif mangane lawuh opo. "Iku lho gunane relatif" katanya menegaskan.
Al khawarizmi hanya manggut manggut seolah mengerti. Sambil mempersiapkan pertanyaan.
Sementara mas Iman sedari tadi hanya bengong mendengarkan dua pelanggannya itu berdebat.
"Berarti bojomu juga relatif tho tein, nek aku takon penak opo ora ne,"kata Al Khawarizmi nyeleneh.
"Yo iyo Riz, relatif, munggahe seko kiwo opo tengen,"Einstein menjawab sambil tertawa.
"Penak seko mburi om bojo ne sampeyan,"tiba-tiba mas Iman yang sedari tadi diam ikut nyeletuk.
"Lah kwe kok reti Man?"kata Al Khawarismi.
"Iyo lek Riz. Mau bengi, pas om Einstein lagi main kertu, aku njajal," kata Iman cengar cengir.
"Ndiaaaasmu mlocot man, jebul kwe mau bengi klubak-klubuk kui,".Einstein berkata sambil berdiri dan melotot ke arah mas Iman dengan aura membunuh yang amat kuat.
Cerita diatas merupakan
cerita fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan lokasi merupakan
kesengajaan yang tidak disengaja (mbulet yo ben,). Suwun


0 komentar: