Penjual Bambu dan Perkara Rasa Syukur
![]() |
| Penjual bambu (source google image) |
Dalam agama saya
dkatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada yang namanya "kalbu" dimna
jika ia baik, maka baiklah semua, begitupun sebaliknya. Namun dsni saya
tidak akan membahas kalbu, karena ilmu saya belum sampai, saya ingin
membahas mengenai rasa syukur yang terkadang terlupa sesaat bahkan
terlupa lama (ra nyambung yo ben. ). Adalah Pak Usri, seorang penjual bambu keliling. Ia adalah perwujudan sempurna dari sosok ayah dalam
lagunya Ebiet G.Ade. keriput, tua, kurus, namun memiliki tenaga kuda,
bagaimana tidak, diusia setengah abad dia masih mampu mndorong gerobak
menjajakan bambu. (Saya juga baru tau bambu dijajakam seperti bakso,
pakai gerobak), keliling dari kampung ke kampung.
Siang itu, saat
kepala saya nyut nyutan. Karena ditagih utang oleh kawan saya penyok,
Sebetulnya masalah seperti ini sering sekali datang pada saya, dimana
pemasukan saya selalu berbanding terbalik dengan pengeluaran saya, sudah
saya coba berbagai teori management, tapi tak ada hasil. Hingga saya
berpendapat bahwa ilmu management keuangan itu d ciptakan bukan untuk
jenis manusia seperti saya. Dengan kondisi kalut itulah saya
berjalan-jalan di sekitar rel kereta dekat tempat kos saya, mungkin
sudah jalan tuhan atau bagaimana, tiba-tiba penjual bambu bergaya
nonformal bernama Pak Usri itu lewat mendorong gerobak bambu dengan
keringat bercucuran, tidak tega lantas saya mngeluarkan uang Rp 20 ribu
untuk saya berikan, namun di luar dugaan, pak Usri menolak sambil
berkata. "Matur nuwun sanget mas, mboten usah. Dinten niki pring kulo
mpun bade pajeng, insha Allah saget damel makani anak bojo kulo kalih
dinten,"ucapnya dengan wajah sumringah sambil tersenyum.
Mendengar itu
saya tertegun seperti ada kereta apa nabrak otak saya yang bebal karena
manageman keuangan yang semrawut tadi. Malu sekali rasanya. Selepas
kejadian itu saya berfikir seandainya sikap sederhana dan rasa syukur
ini di miliki oleh para pejabat-pejabat asu (baca:koruptor), pasti tidak
ada lagi anak-anak tidak sekolah. Kalau saja kesederhanaan dan rasa
syukur pak Usri di miliki oleh penguasa-penguasa celeng (baca:koruptor),
pasti tidak perlu ada orang meninggal karena tak punya biaya berobat.
Terima kasih pak Usri, semoga bambu yang engkau jual itu membawa
keberkahan. Dan semoga kesederhanaanmu serta keikhlasan rasa syukurmu
mewaris pada putra-putramu dan menjadikan mereka pewaris sesungguhnya
dari kesederhanaan yang telah sirna dari bangsa ini. Dan untuk Penyok
kawanku, maaf utangmu rung biso tak saur, tunggu aku temukan ilmu
manegement yang bisa membuat tiang lebih besar daripada pasak. Suwun


0 komentar: