Kejiwaanmu Iku lho Su...

21.02 lewatengah 0 Comments



Gambar Asu (source google image)
Aku pertama kali bertemu dengan anjing itu saat aku pertama kali pindah di kosku yang sekarang, tanpa ada latar belakang yang jelas apalagi tujuan dan rumusan masalah yang mumpuni, anjing itu tiba-tiba menggonggong dengan irama nada meninggi. Dari pengalamanku jika nada ini muncul dari seekor anjing maka ia sedang menunjukkan ketidaksukaannya. Saat itu aku berhenti sesaat, aku menoleh kearah anjing berwarna coklat dengan rantai di lehernya. Secara penampilan anjing itu tak cukup seram bagiku, dia hanya setinggi tak lebih dari setengah meter, sedangkan aku adalah Homo Sapien dengan tinggi 190 dan berat badan 110 kg, bahkan kawan-kawanku sering menjuluki aku raksasa. Sambil terus melihat anjing yang masih terus menggonggong, aku mbatin. "Iki Asu ra mikir opo piye, aku kui luwih gede lan luwih sangar, mergo selain gede aku juga metu kumis'e rong lembar. Kok isih wani jegukki aku, Asu tenan," kataku dalam batin. Setelah cukup lama aku bertatap mata dengan anjing tersebut, anjing itu diam sambil memandangiku, mungkin dia juga mbatin juga. "Asu iki menungso, tak jegukki kok malah mliling ning aku, drung pernah cokot asu cok'e,"itulah kata-kata yang kutafsirkan dari tatapannya. Setelah beberapa saat mata kami bertemu, aku memutuskan untuk memutar badan dan berjalan seperti biasa ke arah kamar kosku.

Kejadian pertama itu membuatku berfikir, aku salah apa ya kira-kira, kok anjing di depan kos yang belum kenal tiba-tiba ngalupi aku. Setelah semalam suntuk berfikir secara sistematis dan metodik aku tidak menemukan jawaban logis selain bahwa anjing itu sudah gila. Hal ini berdasarkan pengalaman empirisku saat aku sedang berada di kampungku, ada orang gila yang tiba marah-marahsama orang-orang di desa yang dia sendiri belum kenal. Dengan hipotesa awal itu, esoknya aku berniat untuk membuktikan kebenaran dari hipotesa itu dengan mengadakan penelitian. Metodenya sederhana, aku akan berjalan di depan rumah yang ada anjing itu, kemudian aku akan menanyakan padanya beberapa pertanyaan yang mengandung unsur perhatian, seperti, "sudah makan belum?", "kanapa kok kamu menggonggongi aku?". karena sekali lagi dari pengalaman empirisku di kampung lalu, orang gila akan langsung diam jika diberi pertanyaan semacam itu. Lalu dengan semangat membara dan sebuah hipotesis, aku datang kedepan rumah anjing itu, seperti dugaanku sebelumnya, anjing itu kembali menggonggong dengan nada yang sama seperti saat pertemuan pertama. Dengan sikap tetap tenang, aku mulai bertanya dengan suara yang lebih tinggi dari suara anjing itu, dengan harapan anjing tersebut bisa mendengarku. Dan benar saja, ketika kulontarkan dua pertanyaan sakti itu, anjing itu seketika diam. Dan dengan senyum kemenangan, aku mbatin, "Hmmmm ternyata hipotesisku benar, kejiwaanmu iku lho su,,,kejiwaanmu,"kataku dalam hati. Namun yang aneh, suara batinku sepetinya bergema hingga aku bisa mendengar suara."Kejiwaanmu iku lho ga,, kejiwaanmu,". Setelah aku cari sumber suara, ternyata itu adalah ibu kosku yang telah memperhatikanku sejak tadi aku berusaha ngobrol dengan anjing itu. Dia pikir aku gila. Spontan saja wajahku berwarna merah jambu Bol menahan malu.

You Might Also Like

0 komentar: