Golput Tidak Dosa kan?
Sebelumnya
saya tegaskan, bahwa tulisan ini bukan untuk menghasut atau memprovokasi agar
kita semua memilih untuk menjadi Golongan Putih (Golput). Ini hanya sekedar
pandangan saja mengenai golput. Saya akui bahwa sejak usia saya masuk sebagai
daftar pemilih, saya belum pernah menggunakan hak pilih saya. Tepatnya sejak 6
tahun lalu. Sudah ada beberapa pemilu yang diadakan, baik untuk pemilihan
Bupati, pemilihan Gubernur, maupun pemilihan Presiden. Saya memilih untuk tetap
menyimpan suara saya untuk diri saya sendiri.
Awalnya
saya golput adalah pada saat pemilihan presiden pada tahun 2009. Pada waktu itu
alasan saya golput sangat sederhana, saya malas untuk keluar rumah dan datang
ke Tempat Pemungutan Suara(TPS). Karena jujur saja, saya pada waktu itu tidak
tertarik sama sekali mengenai isu-isu perpolitikan di Indonesia. Kemudian hal tersebut berlanjut pada saat
pemilihan Gubernur Jawa Tengah beberapa waktu lalu, yang kemudian dimenangkan
oleh Ganjar Pranowo. Alasan saya golput pada waktu itu, sudah mulai lahir dari
pemikiran yang indepanden, serta pertimbangan yang logis dan analitis, karena
pada waktu saya sudah kuliah. Saya menolak memberikan suara saya karena merasa
tidak mengenal sosok calon pemimpin Jawa Tengah pada waktu itu. Saya tidak
menemukan program kerja yang akan dicanangkan oleh mereka. Intinya saya buta
mengenai kedua sosok yang bertarung pada waktu itu, sehingga saya memilih untuk
kembali masuk ke dalam golongan putih.
Begitupun
pada saat pemilihan Presiden tahun 2014 lalu, yang gegernya tidak lekang selama
setahun, bahkan riak-riak nya masih saja terasa sampai sekarang. Jujur saja
pada waktu
itu saya lebih setuju dengan Pak Prabowo untuk menjadi presiden. Alasannya
sederhana, karena kawan-kawan saya semuanya pendukung Jokowi, kalau saya ikut
mendukung Jokowi maka tidak akan ada diskusi dan adu pendapat yang sengit
diantara kami. Dan pada saat pemilihan, sayapun kembali untuk memilih golput.
Sampai-sampai kawan saya ada yang berkata.
“Coba
kalau kamu tidak golput, mungkin Prabowo yang menang, karena ada suara tambahan
dari kamu.” Katanya, namun saya jawab dengan tawa saja.
Dan
pada Pemilu kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan serentak pada
tanggal 9 Desember 2015, saya akan kembali golput. Bukan karena saya sekarang
tinggal di Pulau Bali, yang notabene jauh dari daerah asal saya di Kabupaten
Pekalongan, karena walaupun saya tinggal di rumah, kemungkinan besar hak suara
saya akan tetap saya simpan. Entahlah, saya merasa belum menemukan sosok yang
klik dihati saya untuk membuat saya melepaskan hak suara saya.
Namun
golput, atau tindakan tidak memilih siapapun dalam pemilu, juga sebuah pilihan.
Seperti ketika Indonesia dibawah pimpinan Soekarno, yang tidak memilih untuk bergabung
dengan Blok Barat maupun Blok timur pada masa perang dingin. Namun ia justru
lebih memilih untuk membentuk Blok baru, yaitu Non Blok. Jadi tidak memilih siapapun juga merupakan
sebuah pilihan. Intinya dalam setiap pemilu yang telah lewat, saya memilih
untuk tidak memilih.
Apakah
kemudian pemimpin yang terpilih bukan pemimpin saya?, jawabannya adalah tidak,
walaupun saya memilih golput, namun saya tetap mengakui bahwa pemenang pemilu
adalah pemimpin saya. Saya tetap mengakui bahwa Pak Jokowi adalah Presiden
saya, Pak Ganjar Pranowo adalah Gubernur saya.
Segala program kerja yang mereka canangkan dan semua aturan yang mereka
buat, akan saya ikuti dengan hati riang gembira. Mengapa?, logikanya adalah
siapapun yang menduduki kursi Presiden, adalah Presiden bagi seluruh Bangsa
Indonesia, mulai dari ujung timur Papua, hingga ujung barat Sumatra. Mulai dari manusianya,
hewan-hewannya, tumbuhannya, hingga kuman dan bakteri yang tinggal dan hidup
bergenerasi di bumi Nusantara, semuanya
dipimpin oleh Presiden tersebut. Jadi bukan Presiden dari pendukungnya saja. Sehingga
sudah semestinya jika saya mengakui dan mengikuti Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia
dan Pak Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Begitupun
dengan hak mengkritisi saya. Walaupun saya tidak memilih, namun saya tetap bisa
ikut-ikutan sok mengkritisi, ikut-ikutan nyinyir, ikut-ikutan demo, ikut-ikutan
nge-share postingannya Jonru, dan sebagainya. Karena ketika saya mengkritisi,
demo dan seterusnya itu, saya bukan lagi pendukung atau bukan pendukung
pemimpin tersebut, namun saya adalah warga negara Indonesia, yang memiliki hak
dan kewajiban yang sama dengan mereka yang menggunakan hak suaranya. Selama
belum ada aturan bahwa, hak dan kewajiban warga negara bergantung
pada penggunaan hak suara dalam pemilu, maka saya masih boleh untuk
sok-sok mengkritisi, masih boleh
nyinyir, dan sabagainya kepada Pak Jokowi maupun pak Ganjar.
Sebagai
orang yang memilih golput pada Pilkada tahun ini. Maka saya hanya berharap
bahwa proses pemilihan yang berlangsung di semua daerah, khususnya daerah saya,
di Kabupaten Pekalongan bisa berjalan dengan tetap menjunjung asas LUBER
JURDIL. Yaitu, Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. -walaupun kata
Emha Ainun Najib atau Cak Nun, kata “Bebas” dan “Rahasia” itu kontradiktif-. Selain itu, saya juga berharap semua proses juga dilakukan dengan
integritas dan tanpa kecurangan.
Untuk
para calon, tidak usahlah bermain Money
Politic, itu kampungan. Menanglah dengan jujur. Duit 10 ribu dan 20 ribu
yang anda bagikan itu sekarang sudah tidak cukup buat beli kuota BBM. Lebih baik uang tersebut anda gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Dan
siapapun yang menjadi Bupati di Kabupaten Pekalongan akan saya ikuti dan dukung
kinerjanya, dengan catatan tidak menang secara curang. Semoga pada tahun 2019
nanti ada calon Presiden yang bisa membuat hati ini bergetar dan merelakan
untuk menggunakan hak pilih saya. Aamiin. (*)
(*)Yoga
Triono

0 komentar: