Golput Tidak Dosa kan?

17.14 lewatengah 0 Comments

Sebelumnya saya tegaskan, bahwa tulisan ini bukan untuk menghasut atau memprovokasi agar kita semua memilih untuk menjadi Golongan Putih (Golput). Ini hanya sekedar pandangan saja mengenai golput. Saya akui bahwa sejak usia saya masuk sebagai daftar pemilih, saya belum pernah menggunakan hak pilih saya. Tepatnya sejak 6 tahun lalu. Sudah ada beberapa pemilu yang diadakan, baik untuk pemilihan Bupati, pemilihan Gubernur, maupun pemilihan Presiden. Saya memilih untuk tetap menyimpan suara saya untuk diri saya sendiri.

Awalnya saya golput adalah pada saat pemilihan presiden pada tahun 2009. Pada waktu itu alasan saya golput sangat sederhana, saya malas untuk keluar rumah dan datang ke Tempat Pemungutan Suara(TPS). Karena jujur saja, saya pada waktu itu tidak tertarik sama sekali mengenai isu-isu perpolitikan di Indonesia.  Kemudian hal tersebut berlanjut pada saat pemilihan Gubernur Jawa Tengah beberapa waktu lalu, yang kemudian dimenangkan oleh Ganjar Pranowo. Alasan saya golput pada waktu itu, sudah mulai lahir dari pemikiran yang indepanden, serta pertimbangan yang logis dan analitis, karena pada waktu saya sudah kuliah. Saya menolak memberikan suara saya karena merasa tidak mengenal sosok calon pemimpin Jawa Tengah pada waktu itu. Saya tidak menemukan program kerja yang akan dicanangkan oleh mereka. Intinya saya buta mengenai kedua sosok yang bertarung pada waktu itu, sehingga saya memilih untuk kembali masuk ke dalam golongan putih.

Begitupun pada saat pemilihan Presiden tahun 2014 lalu, yang gegernya tidak lekang selama setahun, bahkan riak-riak nya masih saja terasa sampai sekarang. Jujur saja pada waktu itu saya lebih setuju dengan Pak Prabowo untuk menjadi presiden. Alasannya sederhana, karena kawan-kawan saya semuanya pendukung Jokowi, kalau saya ikut mendukung Jokowi maka tidak akan ada diskusi dan adu pendapat yang sengit diantara kami. Dan pada saat pemilihan, sayapun kembali untuk memilih golput. Sampai-sampai kawan saya ada yang berkata.

“Coba kalau kamu tidak golput, mungkin Prabowo yang menang, karena ada suara tambahan dari kamu.” Katanya, namun saya jawab dengan tawa saja.

Dan pada Pemilu kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan serentak pada tanggal 9 Desember 2015, saya akan kembali golput. Bukan karena saya sekarang tinggal di Pulau Bali, yang notabene jauh dari daerah asal saya di Kabupaten Pekalongan, karena walaupun saya tinggal di rumah, kemungkinan besar hak suara saya akan tetap saya simpan. Entahlah, saya merasa belum menemukan sosok yang klik dihati saya untuk membuat saya melepaskan hak suara saya.

Namun golput, atau tindakan tidak memilih siapapun dalam pemilu, juga sebuah pilihan. Seperti ketika Indonesia dibawah pimpinan Soekarno, yang tidak memilih untuk bergabung dengan Blok Barat maupun Blok timur pada masa perang dingin. Namun ia justru lebih memilih untuk membentuk Blok baru, yaitu Non Blok.  Jadi tidak memilih siapapun juga merupakan sebuah pilihan. Intinya dalam setiap pemilu yang telah lewat, saya memilih untuk tidak memilih.

Apakah kemudian pemimpin yang terpilih bukan pemimpin saya?, jawabannya adalah tidak, walaupun saya memilih golput, namun saya tetap mengakui bahwa pemenang pemilu adalah pemimpin saya. Saya tetap mengakui bahwa Pak Jokowi adalah Presiden saya, Pak Ganjar Pranowo adalah Gubernur saya.  Segala program kerja yang mereka canangkan dan semua aturan yang mereka buat, akan saya ikuti dengan hati riang gembira. Mengapa?, logikanya adalah siapapun yang menduduki kursi Presiden, adalah Presiden bagi seluruh Bangsa Indonesia, mulai dari ujung timur Papua, hingga ujung  barat Sumatra. Mulai dari manusianya, hewan-hewannya, tumbuhannya, hingga kuman dan bakteri yang tinggal dan hidup bergenerasi  di bumi Nusantara, semuanya dipimpin oleh Presiden tersebut. Jadi bukan Presiden dari pendukungnya saja. Sehingga sudah semestinya jika saya mengakui dan mengikuti Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia dan Pak Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Begitupun dengan hak mengkritisi saya. Walaupun saya tidak memilih, namun saya tetap bisa ikut-ikutan sok mengkritisi, ikut-ikutan nyinyir, ikut-ikutan demo, ikut-ikutan nge-share postingannya Jonru, dan sebagainya. Karena ketika saya mengkritisi, demo dan seterusnya itu, saya bukan lagi pendukung atau bukan pendukung pemimpin tersebut, namun saya adalah warga negara Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan mereka yang menggunakan hak suaranya. Selama belum ada aturan bahwa, hak dan kewajiban warga negara  bergantung  pada penggunaan hak suara dalam pemilu, maka saya masih boleh untuk sok-sok  mengkritisi, masih boleh nyinyir, dan sabagainya kepada Pak Jokowi maupun pak Ganjar.

Sebagai orang yang memilih golput pada Pilkada tahun ini. Maka saya hanya berharap bahwa proses pemilihan yang berlangsung di semua daerah, khususnya daerah saya, di Kabupaten Pekalongan bisa berjalan dengan tetap menjunjung asas LUBER JURDIL. Yaitu, Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. -walaupun kata Emha Ainun Najib atau Cak Nun, kata “Bebas” dan “Rahasia” itu kontradiktif-.  Selain itu, saya juga berharap semua proses juga dilakukan dengan integritas dan tanpa kecurangan. 

Untuk para calon, tidak usahlah bermain Money Politic, itu kampungan. Menanglah dengan jujur. Duit 10 ribu dan 20 ribu yang anda bagikan itu sekarang sudah tidak cukup buat beli kuota BBM. Lebih baik uang tersebut anda gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Dan siapapun yang menjadi Bupati di Kabupaten Pekalongan akan saya ikuti dan dukung kinerjanya, dengan catatan tidak menang secara curang. Semoga pada tahun 2019 nanti ada calon Presiden yang bisa membuat hati ini bergetar dan merelakan untuk menggunakan hak pilih saya. Aamiin. (*)
(*)Yoga Triono


You Might Also Like

0 komentar: