Menunggu, Menir Van Gagal/Gaal

07.23 lewatengah 0 Comments

Louis Van Gaal, adalah nama yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh kalangan pendukung Manchester United. Pasalnya, sejak didapuk sebagai pelatih Manchester United, Van Gaal belum mampu membawa klub berjuluk Setan Merah kembali menunjukan performa baik seperti masa Sir Alex Forguson dulu. Antusiasme dan ekspektasi fans Iblis Merah terasa begitu tinggi saat managemen Manchester United mengumumkan penunjukan Menir Belanda tersebut menjadi pelatih. Namun alih-alih memenuhi ekspektasi fans, performa MU dibawah pelatih Van Gaal tidak seimpresif yang dibayangkan.

Walaupun pada musim pertamanya di Manchester United, Van gaal berhasil membawa club dengan basis fans terbesar di dunia itu kembali bermain di Liga Champion. Namun pada musim ini keadaan justru berbalik, kekalahan 2-3 dari Wolfsburg mengubur mimpi para fans untuk bisa melihat klub kesayangannya tampil di Liga Champion. Dalam klasmen penyisihan grup MU hanya mampu menduduki peringkat tiga, itu berarti MU harus tersingkir dari Liga Champion dan bermain di kasta Liga Eropa. Ini bukanlah kali pertama MU bermain di Liga Eropa, terhitung sudah 4 kali MU tidak mampu melaju dari babak penyisihan group kompetisi antar klub elit eropa tersebut , yaitu pada musim 1994-1995, 2005-2006, 2011-2012.  Tentu hal ini  sangat disayangkan, sebab pada era kepelatihan Van Gaal, praktis MU telah menggelontorkan tidak kurang dari 150 juta pound di bursa transfer, sebuah harga yang tidak berimbang dengan prestasi yang dicapai.

Musim ini Van gaal juga kemungkinan besar akan kembali gigit jari, karena tidak bisa mengangkat trofi apapun. Setelah disingkirkan oleh klub medioker Middlesbrough pada Piala Carling, sementara di Liga lokal anak-anak asuhnya juga tidak menunjukan performa menjanjikan. 

Jika ditilik dari latar belakang kepelatihannya, Louis Van Gaal memang bukanlah pelatih tukang sihir macam Jose Mourinho yang hanya dalam kurun waktu satu sampai dua musim, langsung membawa tim asuhannya juara. Namun tidak bisa dibantah bahwa semua klub yang pernah ditangani oleh Van Gaal rata-rata meningkat prestasinya. 

Sebut saja ketika Van Gaal mempersembahkan trofi Piala Belanda buat Ajax, lalu membawa timnya merajai Eredivisie tiga musim secara beruntun dari 1994 sampai 1996. Selain itu, Van Gaal juga memberi Ajax gelar Liga Champions dengan mengalahkan AC Milan 1-0  di Vienna (1992) dan trofi UEFA Super Cup  tahun 1995. 

Trend positif saat melatih  Ajax Amsterdam, menular saat ia hijrah ke club  Catalan, Barcelona. Ketika almarhum Sir Bobby Robson diangkat menjadi General Manager oleh Barcelona, hanya ada satu nama yang ada di kepala para petinggi Blaugrana untuk menggantikannya. Dia adalah Louis van Gaal. Van Gaal pun berlabuh di Camp Nou. Tak butuh waktu lama, efek kehadirannya langsung terasa. Trofi pertama yang dipersembahkannya adalah dari ajang UEFA Super Cup. Barcelona, yang tampil mengusung status UEFA Cup Winners' Cup, dibawanya mengalahkan kampiun Liga Champions Borussia Dortmund.

Tak berhenti sampai disitu, Van Gaal lalu membawa Barcelona juara La Liga dengan keunggulan sembilan angka dari runner-up Athletic Bilbao pada waktu itu. Gelar Copa del Rey juga diamankan setelah menang adu penalti melawan Real Mallorca. 

Berbanding terbalik pada saat melatih Barcelona, pada medium awal abad 21, pelatih yang memiliki sifat keras itu dianggap gagal menangani tim nasional Belanda. Dia gagal meloloskan Oranje ke putaran utama Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Van Gaal mundur pada Januari 2002 dan kembali ke Barcelona di musim panas tahun tersebut. Hanya saja, periode kedua kepelatihannya di Barcelona tak seindah yang pertama. Setelah medium ini Van gaal dianggap telah kehilangan sentuhan ajaibnya. 

Anggapan dimentahkannya setelah AZ Alkmaar memutuskan untuk memakai jasanya pada Juli 2005. AZ Alkmaar tidaklah sebesar Ajax, PSV Eindhoven atau Feyenoord. Namun, sepak terjang mereka menyita perhatian publik Eropa berkat keberhasilan mengamankan posisi dua Eredivisie di bawah PSV di musim perdana mereka bersama van Gaal. Musim berikutnya, AZ Alkmaar juga dibawanya ke final Piala Belanda meski hanya berakhir sebagai runner-up. Di musim 2008/09, Van Gaal membawa AZ Alkmaar merengkuh trofi Eredivisie mereka yang kedua setelah puasa panjang sejak meraih gelar pertamanya pada tahun 1981 silam.

Saat hijrah ke Bayern Muchen, Menir belanda tersebut juga memberikan trofi DFB Pokal ke deretan trofi sang raksasa Bavaria. Walaupun memang pada musim (2009/10).  di final Liga Champions, Bayern ditekuk Inter Milan besutan Jose Mourinho, yang notabene merupakan mantan anak didik dan asistennya ketika masih di Barcelona. Namun sepeninggal Van Gaal Bayern mendapati keuntungan lain selain trofi, yaitu Arjen Robben. Pemain yang pada saat di Chelsea disebut Pemain Kaca oleh Jose Mourinho –Karena rentan cedera- . Kini menjadi pemain sayap lincah yang mampu mengobrak-abrik lawan dari sisiran sisi kanan lapangan. 

Namun agaknya fans Manchester United harus mulai melek, semua cerita tersebut adalah cerita manis hampir satu dekade silam, yang mereka hadapi adalah Louis Van Gaal edisi 2014/2015, bukan Louis Van gaal edisi akhir 90’an yang membawa Barcelona merengkuh banyak gelar. Karena sepakbola adalah olahraga yang dinamis, berkembang seiring dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. 

Pertanyaan besarnya saat ini adalah, apakah lelaki Belanda yang sempat dipuji Ryan Gigs sebagai lelaki yang memiliki kesamaan aura dengan Sir Alex Ferguson itu mampu mengembalikan Manchester United sebagai club besar yang disegani oleh lawan-lawannya. Atau Van gaal kembali kembali kehilangan sentuhan seperti saat menangani Belanda di era awal 2000’an. Yang jelas fans Manchester United bukan tergolong fans penyabar, jika dalam satu atau dua musim kedepan – Kalau masih dipercaya melatih MU- tidak memberikan prestasi signifikan bagi Iblis Merah, maka bukan tidak mungkin, ia tidak akan dipanggil sebagai Van Gaal, namun Van Gagal.(*)
(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: