Perang Putih Puntadewa

05.27 lewatengah 0 Comments


Mundurkah dari palagan Kakang Prabu, mundurlah sejenak, dadamu terluka parah” kata Werkudoro kepada Puntadewa saat melihat darah segar mengucur dari dada kakaknya.

Istirahatlah, sembuhkan dulu lukamu kakang, Semakin kau maju bertarung, mungkin lukanya akan mengering, darahnya berhenti, namun tubuhmu akan tertap terluka”tambahnya.

Namun Puntadewa sang kesatria berdarah putih itu bergeming, dia memandang palagan perang dengan mata yang tidak berkedip dan waspada, seolah musuhnya sedang berada selemparan batu didepannya dan siap menyerangnya.

Puntadewa memang dikenal sebagai kesatria putih yang sebisa mungkin menghindari kontak fisik dan berperang menumpahkan darah. Dia akan lebih memilih jalan diplomasi.

Entah karena apa gerangan yang mampu membangkitkan amarah sang tetua pandawa tersebut, sehingga zirah perang yang biasanya nyaman didalam keraton didalam kamar pusaka, kini berlumur darah terpakai oleh empunya. Jamus Kalimasada yang sakti yang biasanya hanya menjadi senjata perdamaian kini harus terhunus di palagan Kurusetra.

“Tidak Yayi, aku tidak boleh mundur, dadaku munkin terluka, namun lengan-lenganku masih kuat menghunuskan senjataku untuk menghabisi bromocorah-bromocorah itu” Tolak Puntadewa

Werkudoro yang biasanya temperamental, grusa grusu dan bersumbu pendek. Saat melihat wajah kakaknya memerah justru menjadi kesatria dewasa yang rasional dan tidak lagi meledak-ledak. Ia mencari cara membujuk kakaknya agar melepaskan baju perangnya dan mundur serta menyudahi perang yang dia sendiri tidak tahu melawan siapa.

Arjuna yang sedari tadi berdiri akhirnya buka suara.

“Kakang Werkudara, apa tidak sebaiknya kita panggilan ibunda Kunti untuk menasehati Kakang Puntodewa. Aku belum pernah melihat Kakang Puntodewa begitu tinggi aura berperangnya. Ini pertama kalinya kulihat dia begitu”Kata Arjuna.

“Benar Kakang!”kata Nakula dan Sadewa bersamaan.

“Lagipula kita juga tidak tau siapa musuh yang sedang dihadapi oleh kakang Puntadewa. Kalau kita tau kita bisa membantunya mengalahkan musuh tersebut”Lanjut Nakula.

Disaat perbicangan itu, tiba-tiba,
Gubraaakkkk…!!!

Kereta perang Puntadewa terbalik. Puntadewa terkapar namun masih mencoba bankit kembali. Terhuyun-huyun.

Segera saya Werkudara dan Arjuna langsung menghampiri Kakak tertua mereka, memapah sambal bertanya “Siapa sebenarnya yang kau lawan kakang? Mengapa kau bias terluka begini?”

“Diam kalian..!!” Bentak Puntadewa.

Kebingungan semakin memuncak di kepada Janaka dan werkudara. Namun mereka paham keselamatan kakaknya lebih utama daripada memuaskan rasa ingin tau mereka.

Mereka membawa tubuh Puntadewa ditidurkan, kemudian memberinya minum dan membiarkan kakaknya itu tidur sebentar dengan darah masih merembes dari dadanya.

“Sepertinya kalian benar, hanya Ibu yang bias menasehati Kakang Puntadewa. Tapi Jika Ibu melihat kakang puntadewa dalam keadaan hancur seperti ini, maka yang terjadi justru akan membuat ibu menjerit dan hancur juga. Aku tidak tega” Terang Werkudoro kepada adik-adiknya.

Bersambung



You Might Also Like

0 komentar: