Perang Putih Puntadewa
Mundurkah dari palagan
Kakang Prabu, mundurlah sejenak, dadamu terluka parah” kata Werkudoro kepada Puntadewa
saat melihat darah segar mengucur dari dada kakaknya.
Istirahatlah,
sembuhkan dulu lukamu kakang, Semakin kau maju bertarung, mungkin lukanya akan
mengering, darahnya berhenti, namun tubuhmu akan tertap terluka”tambahnya.
Namun Puntadewa sang
kesatria berdarah putih itu bergeming, dia memandang palagan perang dengan mata
yang tidak berkedip dan waspada, seolah musuhnya sedang berada selemparan batu
didepannya dan siap menyerangnya.
Puntadewa memang
dikenal sebagai kesatria putih yang sebisa mungkin menghindari kontak fisik dan
berperang menumpahkan darah. Dia akan lebih memilih jalan diplomasi.
Entah karena apa
gerangan yang mampu membangkitkan amarah sang tetua pandawa tersebut, sehingga
zirah perang yang biasanya nyaman didalam keraton didalam kamar pusaka, kini
berlumur darah terpakai oleh empunya. Jamus Kalimasada yang sakti yang biasanya
hanya menjadi senjata perdamaian kini harus terhunus di palagan Kurusetra.
“Tidak Yayi, aku tidak
boleh mundur, dadaku munkin terluka, namun lengan-lenganku masih kuat
menghunuskan senjataku untuk menghabisi bromocorah-bromocorah itu” Tolak
Puntadewa
Werkudoro yang
biasanya temperamental, grusa grusu dan bersumbu pendek. Saat melihat wajah
kakaknya memerah justru menjadi kesatria dewasa yang rasional dan tidak lagi
meledak-ledak. Ia mencari cara membujuk kakaknya agar melepaskan baju perangnya
dan mundur serta menyudahi perang yang dia sendiri tidak tahu melawan siapa.
Arjuna yang sedari
tadi berdiri akhirnya buka suara.
“Kakang Werkudara, apa
tidak sebaiknya kita panggilan ibunda Kunti untuk menasehati Kakang Puntodewa.
Aku belum pernah melihat Kakang Puntodewa begitu tinggi aura berperangnya. Ini pertama
kalinya kulihat dia begitu”Kata Arjuna.
“Benar Kakang!”kata
Nakula dan Sadewa bersamaan.
“Lagipula kita juga
tidak tau siapa musuh yang sedang dihadapi oleh kakang Puntadewa. Kalau kita
tau kita bisa membantunya mengalahkan musuh tersebut”Lanjut Nakula.
Disaat perbicangan
itu, tiba-tiba,
Gubraaakkkk…!!!
Kereta perang
Puntadewa terbalik. Puntadewa terkapar namun masih mencoba bankit kembali.
Terhuyun-huyun.
Segera saya Werkudara
dan Arjuna langsung menghampiri Kakak tertua mereka, memapah sambal bertanya
“Siapa sebenarnya yang kau lawan kakang? Mengapa kau bias terluka begini?”
“Diam kalian..!!”
Bentak Puntadewa.
Kebingungan semakin
memuncak di kepada Janaka dan werkudara. Namun mereka paham keselamatan
kakaknya lebih utama daripada memuaskan rasa ingin tau mereka.
Mereka membawa tubuh
Puntadewa ditidurkan, kemudian memberinya minum dan membiarkan kakaknya itu
tidur sebentar dengan darah masih merembes dari dadanya.
“Sepertinya kalian benar, hanya Ibu yang bias
menasehati Kakang Puntadewa. Tapi Jika Ibu melihat kakang puntadewa dalam
keadaan hancur seperti ini, maka yang terjadi justru akan membuat ibu menjerit
dan hancur juga. Aku tidak tega” Terang Werkudoro kepada adik-adiknya.
Bersambung

0 komentar: