Jika Perpisahan Adalah Gado-Gado, Maka Ini Adalah Sambel Kacangnya
“Mas Yoga, mari Mas, wawancaranya di ruang
meeting.” Lanjut Katriin 15 menit kemudian.
Itulah pertama kali saya bersinggungan dengan
organisasi ini. Kini sekitar 15 Bulan kemudian masa itu tiba. Masa dimana
langkah harus berlanjut, kapal haus kembali berlayar, merantau ke tempat lain.
15 bulan bukan waktu yang lama untuk ukuran tempat bekerja, namun demikian ada
banyak hal yang saya pelajari dari Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Dari sini
saya bertemu banyak orang-orang hebat lulusan dari berbagai perguruan tinggi
papan atas di Indonesia. Ada banyak pamuda-pemudi pilih tanding yang ada
disini. Hal itu juga yang membuat saya minder pada awal bekerja disini.
“Lo kalau perlu apa-apa bilang Bang Usman ya
Yog” Kali ini suara Riama yang muncul pada hari pertama kerja. “Lo orangnya
anteng banget, pendiem” Lanjut Riama.
Ya memang pada bulan-bulan awal masuk kerja,
saya agak pendiam. Sebagai orang desa dari Pekalongan sana, kini harus bergaul
dengan manusia-manusia Ibukota yang Gahoel.
Tentu bukan perkara mudah bagi saya untuk adaptasi dan meminimalisir lidah
medok saya agar tidak terlihat ndeso.
Namun setelah berjalan sebulan dua bulan, jiwa ibukota sudah masuk ke sanubari,
minder saya berkurang. Ternyata manusia-manusia Jakarta masih makan nasi
warteg. Walaupun lidah saya ini sampai sekarang juga masih medok, dan belum
pantes bilang “loe” sama “Gue”.
Sebagai orang keturunan Mataram alusan, tentu saya adalah tipe orang
yang bertutur kata pelan dan halus. Namun Semua itu berubah saat negeri api
menyerang saya bertemu dengan 2 manusia ini, yaitu Riama Lumbangaol, dan
Ricaana Dewi. Saya ingat pada bulan pertama saya berkantor, Riama dan Rica
sedang berbincang mengenai sesuatu yang tidak penting. Sebagai anak baru yang
harus menjaga imej, saya tentu hanya
bisa mencuri-curi dengar. Lalu mulailah mereka berteriak-teriak satu sama lain,
semakin lama semakin keras. “Berkelahi mereka” pikirku dalam hati. Namun
setelah ku tunggu-tunggu, tidak ada adegan manjambak-jambak rambut diantara
mereka. Bah…rupanya mereka cuma lagi
ngobrol biasa, kukira mereka bertengkar. (Sebentar, kenapa jadi Batak aku)
Jika harus menceritakan kejadian-kejadian
semacam itu, mungkin akan butuh berhari-hari menuliskan semua kejadian unik
yang terjadi selama berkantor di Kelapa Gading ini. Semua orang memiliki kesan
tersendiri, semua peristiwa memiliki bekasnya sendiri. Dari semua itu membentuk
saya menjadi pribadi seperti saat ini. Beruntungnya saya adalah saya
berkesempatan untuk “diasuh” didalam dua departemen. Yaitu Keuangan dan Program.
Sehingga saya bisa merasakan dua atmosfer dan dua cerita unik dari dua
department berbeda. dan mendapatkan asupan ilmu dari mentors yang ada di dua
tim tersebut.
Di tim keuangan, mentor saya yang paling
pertama adalah Ibu Hartini, kemudian Mbak Mimi, Mbak Siska Wati, Mbak Lia, dan
Riama (walaupun saya tidak pernah mendapatkan induction training dari Riama, bedebah kau Ri!) dan tentu saja Bang
Usman dan Miss Yang. (By the way, FYI
ya, Miss Yang orang yang bilang kalau Bahasa inggris saya kaya western). Sedangkan di Tim Program
mentors saya adalah Mbak Siska, Mas Jarot, Artha (Walaupun dia nggak ngajarin
apa-apa selain narikin duit kerupuk dan jadi orang yang tidak bisa kutolak
permintaannya), Fajar, Theo, Vina (Vina juga nggak ngajarin apa-apa, hanya
share link beasiswa), Mas Dogels, dan Iqna.
Maka kepada mereka saya secara pribadi
mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas sambutannya, atas
kerjasamanya, atas segala respons kepada saya, atas setiap balesan chat dan
email, atas segala tawa dan kegembiraannya. Terima kasih juga untuk setiap ilmu
yang diam-diam saya pelajari dari mereka melalui pengamatan dan observasi,
terima kasih untuk setiap diskusi yang konstruktif. Pokok e terima kasih banyak, kalau suatu saat nanti ada calon
presiden bernama Yoga Triono, coblos saja, karena sebagian ilmunya diambil dari
kalian.
Selain orang dari dua department itu, saya juga
mengucapkan terima kasih banyak kepada Katriin, untuk sambutan pertamanya
kepada saya, dan terima kasih sudah menjadi teman diskusi sepanjang jalan yang
layak dikenang *Tsssahhhh (kalau malam minggumu kelabu, nomorku masih sama
dengan yang dulu Kat) . Terima kasih
Mbak Nora, Riama (Kusebut lagi namamu Ri, karena kau pindah ruangan), Arfan,
Mbak Vena, dan semua yang ada di ruang HRD.
Kemudian untuk teman-teman di lantai 4,
walaupun saya jarang sekali ke lantai 4 karena saya benci tangga. Namun terima
kasih atas interaksi yang baik dari kalian. Mbak Luwyse, Mbak Anita, Mbak
Shinta, dkk (Sengaja yang disebut yang cewek saja, karena tak ada untungnya menyebut
nama cowok disini). Tim FD, Mbak Tephi, Ori, Mbak yani dkk. Mbak Titin & the Team juga terima kasih. Tidak lupa juga Hayley, terima kasih atas kadonya, dan terima kasih juga
untuk senyum dan ucapan selamat pagi setiap awal hari. Yang tidak disebut, sengaja tidak disebut
karena nanti dikira absen.
Special Thanks untuk Mas Ary, Terima kasih sudah
membuat medok-nya lidahku tersamarkan, karena lidahmu luwih medok Mas. (walaupun sampai sekarang saya masih meragukan
ke-jawa-annya Mas Ary, karena pengetahuan tentang jawa-nya miris sekali).
Maka inilah akhir dari masa saya di Yayasan
Gugah Nurani Indonesia. Garis hidup sudah tertulis, layar sudah terkembang,
sudah saatnya kembali merantau ke tempat baru. Seperti kata Imam Syafi’i
seorang imam besar dan pencari ilmu yang pilih tanding, mengatakan “Pergilah
(merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan,
yaitu Ilmu pengetahuan, Adab, Pendapatan, Menghilangkan kesedihan, Mengagungkan
jiwa dan Persahabatan.”
Maka dengan ini saya memohon restu dari semua
sahabat-sahabat di Yayasan Gugah Nurani Indonesia, untuk melanjutkan perjalanan
perantauan saya. Sampai Jumpa.
PS: Judul tidak nyambung dengan isi, adalah
kesengajaan


0 komentar: