Jika Perpisahan Adalah Gado-Gado, Maka Ini Adalah Sambel Kacangnya

20.24 lewatengah 0 Comments





 “Mas Yoga ya?, Silahkan Mas Tunggu dulu di ruang ini.” Suara Katriin sekitar 15 bulan yang lalu masih terngiang.

“Mas Yoga, mari Mas, wawancaranya di ruang meeting.” Lanjut Katriin 15 menit kemudian.

Itulah pertama kali saya bersinggungan dengan organisasi ini. Kini sekitar 15 Bulan kemudian masa itu tiba. Masa dimana langkah harus berlanjut, kapal haus kembali berlayar, merantau ke tempat lain. 15 bulan bukan waktu yang lama untuk ukuran tempat bekerja, namun demikian ada banyak hal yang saya pelajari dari Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Dari sini saya bertemu banyak orang-orang hebat lulusan dari berbagai perguruan tinggi papan atas di Indonesia. Ada banyak pamuda-pemudi pilih tanding yang ada disini. Hal itu juga yang membuat saya minder pada awal bekerja disini.

“Lo kalau perlu apa-apa bilang Bang Usman ya Yog” Kali ini suara Riama yang muncul pada hari pertama kerja. “Lo orangnya anteng banget, pendiem” Lanjut Riama.

Ya memang pada bulan-bulan awal masuk kerja, saya agak pendiam. Sebagai orang desa dari Pekalongan sana, kini harus bergaul dengan manusia-manusia Ibukota yang Gahoel. Tentu bukan perkara mudah bagi saya untuk adaptasi dan meminimalisir lidah medok saya agar tidak terlihat ndeso. Namun setelah berjalan sebulan dua bulan, jiwa ibukota sudah masuk ke sanubari, minder saya berkurang. Ternyata manusia-manusia Jakarta masih makan nasi warteg. Walaupun lidah saya ini sampai sekarang juga masih medok, dan belum pantes bilang “loe” sama “Gue”.

Sebagai orang keturunan Mataram alusan, tentu saya adalah tipe orang yang bertutur kata pelan dan halus. Namun Semua itu berubah saat negeri api menyerang saya bertemu dengan 2 manusia ini, yaitu Riama Lumbangaol, dan Ricaana Dewi. Saya ingat pada bulan pertama saya berkantor, Riama dan Rica sedang berbincang mengenai sesuatu yang tidak penting. Sebagai anak baru yang harus menjaga imej, saya tentu hanya bisa mencuri-curi dengar. Lalu mulailah mereka berteriak-teriak satu sama lain, semakin lama semakin keras. “Berkelahi mereka” pikirku dalam hati. Namun setelah ku tunggu-tunggu, tidak ada adegan manjambak-jambak rambut diantara mereka. Bah…rupanya mereka cuma lagi ngobrol biasa, kukira mereka bertengkar. (Sebentar, kenapa jadi Batak aku)

Jika harus menceritakan kejadian-kejadian semacam itu, mungkin akan butuh berhari-hari menuliskan semua kejadian unik yang terjadi selama berkantor di Kelapa Gading ini. Semua orang memiliki kesan tersendiri, semua peristiwa memiliki bekasnya sendiri. Dari semua itu membentuk saya menjadi pribadi seperti saat ini. Beruntungnya saya adalah saya berkesempatan untuk “diasuh” didalam dua departemen. Yaitu Keuangan dan Program. Sehingga saya bisa merasakan dua atmosfer dan dua cerita unik dari dua department berbeda. dan mendapatkan asupan ilmu dari mentors yang ada di dua tim tersebut.

Di tim keuangan, mentor saya yang paling pertama adalah Ibu Hartini, kemudian Mbak Mimi, Mbak Siska Wati, Mbak Lia, dan Riama (walaupun saya tidak pernah mendapatkan induction training dari Riama, bedebah kau Ri!) dan tentu saja Bang Usman dan Miss Yang. (By the way, FYI ya, Miss Yang orang yang bilang kalau Bahasa inggris saya kaya western). Sedangkan di Tim Program mentors saya adalah Mbak Siska, Mas Jarot, Artha (Walaupun dia nggak ngajarin apa-apa selain narikin duit kerupuk dan jadi orang yang tidak bisa kutolak permintaannya), Fajar, Theo, Vina (Vina juga nggak ngajarin apa-apa, hanya share link beasiswa), Mas Dogels, dan Iqna.

Maka kepada mereka saya secara pribadi mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas sambutannya, atas kerjasamanya, atas segala respons kepada saya, atas setiap balesan chat dan email, atas segala tawa dan kegembiraannya. Terima kasih juga untuk setiap ilmu yang diam-diam saya pelajari dari mereka melalui pengamatan dan observasi, terima kasih untuk setiap diskusi yang konstruktif. Pokok e terima kasih banyak, kalau suatu saat nanti ada calon presiden bernama Yoga Triono, coblos saja, karena sebagian ilmunya diambil dari kalian.

Selain orang dari dua department itu, saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Katriin, untuk sambutan pertamanya kepada saya, dan terima kasih sudah menjadi teman diskusi sepanjang jalan yang layak dikenang *Tsssahhhh (kalau malam minggumu kelabu, nomorku masih sama dengan yang dulu  Kat) . Terima kasih Mbak Nora, Riama (Kusebut lagi namamu Ri, karena kau pindah ruangan), Arfan, Mbak Vena, dan semua yang ada di ruang HRD.

Kemudian untuk teman-teman di lantai 4, walaupun saya jarang sekali ke lantai 4 karena saya benci tangga. Namun terima kasih atas interaksi yang baik dari kalian. Mbak Luwyse, Mbak Anita, Mbak Shinta, dkk (Sengaja yang disebut yang cewek saja, karena tak ada untungnya menyebut nama cowok disini). Tim FD, Mbak Tephi, Ori, Mbak yani dkk. Mbak Titin &  the Team juga terima kasih. Tidak lupa juga Hayley, terima kasih atas kadonya, dan terima kasih juga untuk senyum dan ucapan selamat pagi setiap awal hari. Yang tidak disebut, sengaja tidak disebut karena nanti dikira absen.

Special Thanks untuk Mas Ary, Terima kasih sudah membuat medok-nya lidahku tersamarkan, karena lidahmu luwih medok Mas. (walaupun sampai sekarang saya masih meragukan ke-jawa-annya Mas Ary, karena pengetahuan tentang jawa-nya miris sekali).

Maka inilah akhir dari masa saya di Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Garis hidup sudah tertulis, layar sudah terkembang, sudah saatnya kembali merantau ke tempat baru. Seperti kata Imam Syafi’i seorang imam besar dan pencari ilmu yang pilih tanding, mengatakan “Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu pengetahuan, Adab, Pendapatan, Menghilangkan kesedihan, Mengagungkan jiwa dan Persahabatan.”

Maka dengan ini saya memohon restu dari semua sahabat-sahabat di Yayasan Gugah Nurani Indonesia, untuk melanjutkan perjalanan perantauan saya. Sampai Jumpa.

PS: Judul tidak nyambung dengan isi, adalah kesengajaan










You Might Also Like

0 komentar: