Pola-Pola Kinerja Tuhan

03.08 lewatengah 0 Comments

Siang ini obrolan sehabis sholat ashar menjadi lumayan berat setelah salah satu kolega kerja saya menanyakan mengenai konsep turu (tidur) dan turon (leyeh-leyeh). Lalu munculah diskusi mengenai hal tersebut. Tidur yang selama ini hanya dianggap sebagai kegiatan lumrah manusia yang dilakukan setiap hari, ketika dieksplorasi ternyata ada campur tangan Tuhan yang begitu besar. Diskusi kami dimulai dari sebuah pernyataan. “Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tahu kapan dia tidur”. Karena kegiatan tidur adalah sebuah kegiatan yang sebenarnya sifatnya accidental, atau ketidaksengajaan. Ruang ketidaksengajaan inilah yang merupakan ruang kehendak Tuhan berjalan. Ada orang yang turon (leyeh-leyeh) 5 menit saja sudah terlelap tidur, ada orang yang turon (leyeh-leyeh) selama 2 jam namun tidak juga bisa tidur. Di titik inilah sebenarnya syukur kepada Tuhan diletakan. Tuhan benar-benar memberikan apa yang kita butuhkan alih-alih memberikan apa yang kita mau. Dengan kata lain, Tuhan adalah dzat yang paling tahu apa yang dibutuhkan oleh dirimu.
           Di masyarakat kita sering kita dengar bahwa, urusan Jodoh, rejeki dan kematian adalah urusan Tuhan. Namun sebenarnya ada satu hal lagi yaitu tidur (turu). Hal terakhir itu jarang kita masukan dalam list “urusan” Tuhan. Karena tidur adalah kegiatan reguler yang hampir setiap hari dilakukan, sehingga tidak terlihat special. Namun seperti penjelasan diatas, ternyata tidur juga “special”. Lalu jika orang yang akan tidur bisa merasakan tanda-tanda atau indikasi bahwa dia akan tidur. Apakah orang yang akan mengalami kematian, mendapatkan rejeki, dan mendapatkan jodoh juga bisa merasakan tanda-tanda atau indikasinya. Apakah hati kita tidak cukup peka dan cukup arif merasakan tanda-tanda tersebut. Lalu apakah indikasi atau yang saya sebut sebagai pola-pola kerja Tuhan itu bisa dilihat dan dirasakan.
         Dalam Islam kematian seseorang akan diawali dengan tanda-tanda. Tentu saja tanda-tanda ini tidak mudah disadari oleh orang lain atau orang itu sendiri. Namun bagi seorang yang peka hati dan batinnya katanya bisa merasakan hal tersebut. Lalu apakah mungkin hal-hal demikian ini diteliti secara ilmiah. Namun tidak dilihat dari medis, karena secaraa medis sudah ada penelitian mengenai itu. Namun dilihat dari segi sosial, kira-kira orang yang akan meninggal itu gerak-geriknya gimana, interaksinya seperti apa, psikologisnya akan seperti apa. Tanpa menjadi sok tau dan mengulik-ulik kuasa Tuhan atas kematian.
         Jika dalam kematian bisa dilakukan hal semacam itu, maka rejeki dan jodoh pun, hipotesisnya bisa dilakukan. Saya percaya Tuhan selalu memiliki mekanisme-mekanisme dalam kehidupan yang kemudian bisa kita gali untuk pembelajaran dan menambah keimanan dan keyakinan kita bahwa Tuhan memang begitu luar biasa. Pola-pola kinerja Tuhan dalam rejeki dan jodoh lebih memungkinkan untuk diteliti karena objeknya masih bisa menceritakan kembali atas apa yang dia alami, berbeda dengan kematian.
       Pola-pola kinerja Tuhan dalam jodoh secara khusus menjadi agak lama ketika diteliti karena jodoh itu bukan definisi menikah. Menikah itu tidak sama dengan jodoh. Jika ada orang yang menikah selama 10 tahun, kemudian bercerai mereka tidak bisa dikatakan berjodoh. Oleh karena itu, wahai pria-pria jomlo yang wanita idamanmu terlanjur menikah dengan laki-laki lain, jangan sedih akan selalu ada kesempatan untuk menikung, karena mereka belum tentu jodoh. Lalu kemudian jodoh itu yang seperti apa. Jodoh adalah ketika pernikahan mereka dipisahkan oleh maut itu sendiri. Pada titik ini orang-orang yang masuk dalam kategori jodoh pasti sudah lupa mengenai gejala-gejala atau pola-pola kinerja tuhan mengenai jalan jodoh yang dia alami. Sehingga karena kelemahan kita dan sebagai bentuk rasa kagum kita pada Tuhan atas pola-pola kerjaNya, kita nyatakan bahwa pola-pola kinerja Tuhan dalam jodoh itu tidak mutlak ada di tangan Tuhan. Tuhan akan selalu menyisakan ruang didalam pola-pola kinerjanya untuk kita sebagai manusia membawa takdir kita dan mendefinisikan sendiri, siapa kita.
     Selain Jodoh, kematian, rejeki, dan tidur. Sebenarnya pola-pola Tuhan juga bekerja dalam berbagai aktivitas manusia. Dimasa lalu orang-orang sudah mulai mengamati ini. Seperti pada masyarakat Mataram Jawa, ada beberapa kejadian yang dijadikan pola untuk peristiwa yang lebih besar. Sebagai contoh malam-malam ada suara burung tertentu maka itu menandakan sesuatu. Terlepas dari benar dan salah, orang pada masa lalu memiliki kesadaran dan memiliki kepekaan yang cukup tinggi untuk melihat gejala alam, gejala sosial guna mendeterminasi rencana-rencana Tuhan. Namun sayangnya hal tersebut hilang karena keilmuan tersebut tidak didokumentasikan dengan baik. Kita yang hidup dijaman ini menganggap itu mitos karena tidak masuk akal. Padahal hal itu tidak masuk akal karena kita tidak memahami ilmu tersebut secara komprehensif. Maka dari itu, mari kita sedikit menunduk karena betapa sedikit yang kita tau, begitu luas agama memberi ruang untuk berfikir guna mencari dan membuktikan bahwa Tuhan itu memang ada dan memang maha besar.(*)

PS: Mas Indraguna Sutowo, jangan senang dulu menikahi Dian Sastro, karena kalian belum tentu Jodoh.  Bagi laki-laki jomblo, siapkan bekal untuk tikungan di depan.  

You Might Also Like

0 komentar: