Pola-Pola Kinerja Tuhan
Siang ini
obrolan sehabis sholat ashar menjadi lumayan berat setelah salah satu kolega
kerja saya menanyakan mengenai konsep turu
(tidur) dan turon (leyeh-leyeh). Lalu
munculah diskusi mengenai hal tersebut. Tidur yang selama ini hanya dianggap
sebagai kegiatan lumrah manusia yang dilakukan setiap hari, ketika dieksplorasi
ternyata ada campur tangan Tuhan yang begitu besar. Diskusi kami dimulai dari
sebuah pernyataan. “Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tahu kapan dia
tidur”. Karena kegiatan tidur adalah sebuah kegiatan yang sebenarnya sifatnya accidental, atau ketidaksengajaan. Ruang
ketidaksengajaan inilah yang merupakan ruang kehendak Tuhan berjalan. Ada orang
yang turon (leyeh-leyeh) 5 menit saja
sudah terlelap tidur, ada orang yang turon
(leyeh-leyeh) selama 2 jam namun tidak juga bisa tidur. Di titik inilah sebenarnya
syukur kepada Tuhan diletakan. Tuhan benar-benar memberikan apa yang kita
butuhkan alih-alih memberikan apa yang kita mau. Dengan kata lain, Tuhan adalah
dzat yang paling tahu apa yang dibutuhkan oleh dirimu.
Di
masyarakat kita sering kita dengar bahwa, urusan Jodoh, rejeki dan kematian
adalah urusan Tuhan. Namun sebenarnya ada satu hal lagi yaitu tidur (turu). Hal terakhir itu jarang kita
masukan dalam list “urusan” Tuhan. Karena tidur adalah kegiatan reguler yang
hampir setiap hari dilakukan, sehingga tidak terlihat special. Namun seperti
penjelasan diatas, ternyata tidur juga “special”. Lalu jika orang yang akan
tidur bisa merasakan tanda-tanda atau indikasi bahwa dia akan tidur. Apakah orang
yang akan mengalami kematian, mendapatkan rejeki, dan mendapatkan jodoh juga
bisa merasakan tanda-tanda atau indikasinya. Apakah hati kita tidak cukup peka
dan cukup arif merasakan tanda-tanda tersebut. Lalu apakah indikasi atau yang
saya sebut sebagai pola-pola kerja Tuhan itu bisa dilihat dan dirasakan.
Dalam
Islam kematian seseorang akan diawali dengan tanda-tanda. Tentu saja
tanda-tanda ini tidak mudah disadari oleh orang lain atau orang itu sendiri. Namun
bagi seorang yang peka hati dan batinnya katanya bisa merasakan hal tersebut. Lalu
apakah mungkin hal-hal demikian ini diteliti secara ilmiah. Namun tidak dilihat
dari medis, karena secaraa medis sudah ada penelitian mengenai itu. Namun
dilihat dari segi sosial, kira-kira orang yang akan meninggal itu gerak-geriknya
gimana, interaksinya seperti apa, psikologisnya akan seperti apa. Tanpa menjadi
sok tau dan mengulik-ulik kuasa Tuhan atas kematian.
Jika
dalam kematian bisa dilakukan hal semacam itu, maka rejeki dan jodoh pun,
hipotesisnya bisa dilakukan. Saya percaya Tuhan selalu memiliki
mekanisme-mekanisme dalam kehidupan yang kemudian bisa kita gali untuk
pembelajaran dan menambah keimanan dan keyakinan kita bahwa Tuhan memang begitu
luar biasa. Pola-pola kinerja Tuhan dalam rejeki dan jodoh lebih memungkinkan
untuk diteliti karena objeknya masih bisa menceritakan kembali atas apa yang
dia alami, berbeda dengan kematian.
Pola-pola
kinerja Tuhan dalam jodoh secara khusus menjadi agak lama ketika diteliti
karena jodoh itu bukan definisi menikah. Menikah itu tidak sama dengan jodoh.
Jika ada orang yang menikah selama 10 tahun, kemudian bercerai mereka tidak
bisa dikatakan berjodoh. Oleh karena itu, wahai pria-pria jomlo yang wanita
idamanmu terlanjur menikah dengan laki-laki lain, jangan sedih akan selalu ada
kesempatan untuk menikung, karena mereka belum tentu jodoh. Lalu kemudian jodoh
itu yang seperti apa. Jodoh adalah ketika pernikahan mereka dipisahkan oleh
maut itu sendiri. Pada titik ini orang-orang yang masuk dalam kategori jodoh
pasti sudah lupa mengenai gejala-gejala atau pola-pola kinerja tuhan mengenai
jalan jodoh yang dia alami. Sehingga karena kelemahan kita dan sebagai bentuk
rasa kagum kita pada Tuhan atas pola-pola kerjaNya, kita nyatakan bahwa
pola-pola kinerja Tuhan dalam jodoh itu tidak mutlak ada di tangan Tuhan. Tuhan
akan selalu menyisakan ruang didalam pola-pola kinerjanya untuk kita sebagai
manusia membawa takdir kita dan mendefinisikan sendiri, siapa kita.
Selain
Jodoh, kematian, rejeki, dan tidur. Sebenarnya pola-pola Tuhan juga bekerja
dalam berbagai aktivitas manusia. Dimasa lalu orang-orang sudah mulai mengamati
ini. Seperti pada masyarakat Mataram Jawa, ada beberapa kejadian yang dijadikan
pola untuk peristiwa yang lebih besar. Sebagai contoh malam-malam ada suara
burung tertentu maka itu menandakan sesuatu. Terlepas dari benar dan salah,
orang pada masa lalu memiliki kesadaran dan memiliki kepekaan yang cukup tinggi
untuk melihat gejala alam, gejala sosial guna mendeterminasi rencana-rencana
Tuhan. Namun sayangnya hal tersebut hilang karena keilmuan tersebut tidak
didokumentasikan dengan baik. Kita yang hidup dijaman ini menganggap itu mitos
karena tidak masuk akal. Padahal hal itu tidak masuk akal karena kita tidak
memahami ilmu tersebut secara komprehensif. Maka dari itu, mari kita sedikit
menunduk karena betapa sedikit yang kita tau, begitu luas agama memberi ruang
untuk berfikir guna mencari dan membuktikan bahwa Tuhan itu memang ada dan
memang maha besar.(*)

0 komentar: