Seandainya Pemilu dan Mudik Bersatu
Indonesia memiliki aset yang jarang sekali dianggap
penting, bahkan mungkin dianggap beban oleh pemerintah. Yaitu tradisi mudik dan
pemilu. Yang satu dilakukan setiap tahun, yang kedua dilakukan harusnya minimal
setiap dua tahun. Namun dengan kebijakan baru untuk melaksanakan pemilukada
serentak, bakal ada perubahan terhadap repetisi pemilu di Mayapada endonesa.
Lalu mengapa dua hal itu menjadi aset berharga
bangsa ini. Unik memang dua aset ini adalah aset mutlak milik rakyat dan tidak
bisa dijual seperti halnya BUMN atau dijadikan bancakan pejabat yang asu
seperti halnya sektor migas. Pemerintah tidak bisa mengutak atik dua aset ini,
makanya dianggap tidak penting oleh pemerintah.
Mengapa demikian? Karena bentuk dari dua aset ini adalah momentum, ya
momentum. Siapa bisa menjual momentum, siapa bisa ngobyek momentum.
Yang ada kita cuma bisa memanfaatkannya, seperti
yang dilakukan yang mulia Presiden Joko Widodo. Ia benar-benar memanfaatkan
momentum dengan baik, hanya kurang dari 5 tahun, dari Walikota bisa jadi Presiden.
Si EsBeYe saja mesti nunggu bertahun-tahun sampe harus bikin partai sendiri
untuk jadi Presiden. Jadi intinya momentum juga sebuah aset. Dan hebatnya,
momentum mudik dan pemilu tidak perlu dikondisikan seperti momentum yang
dimanfaatkan oleh yang mulia Presiden Jokowi, namun akan mengkondisi dengan
sendirinya. Lalu mengapa berharga?
Untuk menjawab itu secara pasti, bisa ditanyakan
pada Ignasius Jonan yang pernah menjadi dirut PT KAI. Berapa besar keuntungan
yang didapatkan oleh BUMN itu saat musim mudik tiba, atau tanyakkan kepada
pemilik PO Bus, berapa pundi-pundi yang masuk kedalam rekeningnya selama
tradisi mudik berlangsung. Lalu apakah hanya perusahaan dan BUMN yang mendapat
keuntungan dari tradisi mudik, tentu saja tidak. Kalau tidak percaya, tanyakan
pada tukang jajanan di stasiun, terminal, dan bandara. Serta pedagang dadakan
di sekitar jalur mudik dan rest area. Berapa persen kenaikan pendapatan mereka.
Atau tanyakan pada pemilik toko oleh-oleh di kota-kota besar, apakah
rekeningnya menggelembung.
Sebuah hal yang tak terbantahkan, perputaran uang
yang terjadi saat mudik sangat besar. Belum lagi berapa uang yang masuk dari luar
negeri melalui pahlawan devisa kita, para TKI. Luar biasanya, di dunia ini
hanya indonesia yang memiliki aset ini.Disamping momentum mudik, momentum yang kedua adalah
pemilu. Saya rasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar mengenai keuntungan
momentum pemilu. Bro dan sist bisa melihat sendiri berapa jumlah amplop yang
terjual saat musim pemilu. Atau jika saya balik, berapa buah amplop yang bro
dan sist atau orang tua kalian terima pada musim pemilu. Jangan buru-buru
menyanggah bahwa money politik itu haram kalau amplopnya masi dimasukin ke
saku.
Lalu efeknya apa? Pasar-pasar tradisional bergairah,
daya beli tinggi, penjual dapat untung. Bahkan jika pada pemilu legislatif,
Setiap calon DPR/DPRD memberikan amplop, bayangkan ada 10 orang saja yang
nyalon. Hmm.. Harum ya amplopnya..
Belum lagi, remaja-remaja ngehek nganggur yang jago
membuat berbedat dengan logika pas-pasan di medsos juga bakal kecipratan
berkahnya, mereka adalah generasi potensial untuk yang direkrut jadi tim
sukses, dan tentu saja ada upahnya. Tidak ketinggalan adalah melambungnya
keuntungan pengusaha sablon untuk kaos
dan bendera partai, sungguh luar biasa bukan? Makanya ketika diwacanakan kepala
daerah dipilih oleh DPRD jelas saya tidak setuju. Aliran uangnya tidak akan
sampai kepada Mak Ijah penjual tahu di pasar Banjarsari Pekalongan sana.
Uangnya hanya akan mandeg di kantong anggota DPRD bangsat itu. Sekali lagi
tidak usah nyinyir dengan sistem begitu, karena memang kita baru sampai pada
tahap itu. Kalau dipaksa demokrasi dengan
pemilu bersih, rakyat mabok, bukan karena puas dengan hasil pemilu bersih, tapi
mabok karena masuk angin, karena cuma angin yang masuk dalam perut mereka.
Oleh karena itu. Berhubung masih hangat Yang Mulia
Presiden Joko Widodo sedang menggodok resuffle. Saya usulkan untuk membentuk
kementrian yang mengurusi masalah aset momentum. Agar bangsa ini bisa
memanfaatkan momentum-momentum yang ada. Syukur-syukur bisa menggabungkan dua
momentum, yaitu pemilu dan mudik. Bisa dibayangkan betapa luar biasanya jika
pemilu dilakukan saat mudik. Niscaya rakyat akan lebih fanatik buta dalam
mendukung Yang Mulia Presiden Jokowi.(*)
(*)Yoga Triono


0 komentar: