Seandainya Pemilu dan Mudik Bersatu

21.21 lewatengah 0 Comments



Indonesia memiliki aset yang jarang sekali dianggap penting, bahkan mungkin dianggap beban oleh pemerintah. Yaitu tradisi mudik dan pemilu. Yang satu dilakukan setiap tahun, yang kedua dilakukan harusnya minimal setiap dua tahun. Namun dengan kebijakan baru untuk melaksanakan pemilukada serentak, bakal ada perubahan terhadap repetisi pemilu di Mayapada endonesa.

Lalu mengapa dua hal itu menjadi aset berharga bangsa ini. Unik memang dua aset ini adalah aset mutlak milik rakyat dan tidak bisa dijual seperti halnya BUMN atau dijadikan bancakan pejabat yang asu seperti halnya sektor migas. Pemerintah tidak bisa mengutak atik dua aset ini, makanya dianggap tidak penting oleh pemerintah.  Mengapa demikian? Karena bentuk dari dua aset ini adalah momentum, ya momentum. Siapa bisa menjual momentum, siapa bisa ngobyek momentum.

Yang ada kita cuma bisa memanfaatkannya, seperti yang dilakukan yang mulia Presiden Joko Widodo. Ia benar-benar memanfaatkan momentum dengan baik, hanya kurang dari 5 tahun, dari Walikota bisa jadi Presiden. Si EsBeYe saja mesti nunggu bertahun-tahun sampe harus bikin partai sendiri untuk jadi Presiden. Jadi intinya momentum juga sebuah aset. Dan hebatnya, momentum mudik dan pemilu tidak perlu dikondisikan seperti momentum yang dimanfaatkan oleh yang mulia Presiden Jokowi, namun akan mengkondisi dengan sendirinya. Lalu mengapa berharga?

Untuk menjawab itu secara pasti, bisa ditanyakan pada Ignasius Jonan yang pernah menjadi dirut PT KAI. Berapa besar keuntungan yang didapatkan oleh BUMN itu saat musim mudik tiba, atau tanyakkan kepada pemilik PO Bus, berapa pundi-pundi yang masuk kedalam rekeningnya selama tradisi mudik berlangsung. Lalu apakah hanya perusahaan dan BUMN yang mendapat keuntungan dari tradisi mudik, tentu saja tidak. Kalau tidak percaya, tanyakan pada tukang jajanan di stasiun, terminal, dan bandara. Serta pedagang dadakan di sekitar jalur mudik dan rest area. Berapa persen kenaikan pendapatan mereka. Atau tanyakan pada pemilik toko oleh-oleh di kota-kota besar, apakah rekeningnya menggelembung.

Sebuah hal yang tak terbantahkan, perputaran uang yang terjadi saat mudik sangat besar.  Belum lagi berapa uang yang masuk dari luar negeri melalui pahlawan devisa kita, para TKI. Luar biasanya, di dunia ini hanya indonesia yang memiliki aset ini.Disamping momentum mudik, momentum yang kedua adalah pemilu. Saya rasa tidak perlu dijelaskan panjang lebar mengenai keuntungan momentum pemilu. Bro dan sist bisa melihat sendiri berapa jumlah amplop yang terjual saat musim pemilu. Atau jika saya balik, berapa buah amplop yang bro dan sist atau orang tua kalian terima pada musim pemilu. Jangan buru-buru menyanggah bahwa money politik itu haram kalau amplopnya masi dimasukin ke saku.

Lalu efeknya apa? Pasar-pasar tradisional bergairah, daya beli tinggi, penjual dapat untung. Bahkan jika pada pemilu legislatif, Setiap calon DPR/DPRD memberikan amplop, bayangkan ada 10 orang saja yang nyalon. Hmm.. Harum ya amplopnya..

Belum lagi, remaja-remaja ngehek nganggur yang jago membuat berbedat dengan logika pas-pasan di medsos juga bakal kecipratan berkahnya, mereka adalah generasi potensial untuk yang direkrut jadi tim sukses, dan tentu saja ada upahnya. Tidak ketinggalan adalah melambungnya keuntungan  pengusaha sablon untuk kaos dan bendera partai, sungguh luar biasa bukan? Makanya ketika diwacanakan kepala daerah dipilih oleh DPRD jelas saya tidak setuju. Aliran uangnya tidak akan sampai kepada Mak Ijah penjual tahu di pasar Banjarsari Pekalongan sana. Uangnya hanya akan mandeg di kantong anggota DPRD bangsat itu. Sekali lagi tidak usah nyinyir dengan sistem begitu, karena memang kita baru sampai pada tahap itu.  Kalau dipaksa demokrasi dengan pemilu bersih, rakyat mabok, bukan karena puas dengan hasil pemilu bersih, tapi mabok karena masuk angin, karena cuma angin yang masuk dalam perut mereka.


Oleh karena itu. Berhubung masih hangat Yang Mulia Presiden Joko Widodo sedang menggodok resuffle. Saya usulkan untuk membentuk kementrian yang mengurusi masalah aset momentum. Agar bangsa ini bisa memanfaatkan momentum-momentum yang ada. Syukur-syukur bisa menggabungkan dua momentum, yaitu pemilu dan mudik. Bisa dibayangkan betapa luar biasanya jika pemilu dilakukan saat mudik. Niscaya rakyat akan lebih fanatik buta dalam mendukung Yang Mulia Presiden Jokowi.(*)

(*)Yoga Triono

You Might Also Like

0 komentar: