Rindu Itu Memang Asu Kakang Prabu
SORE itu Arjuna baru saja sampai rumah setelah berkencan dengan Srikandi, ia
mendapati kakaknya, Werkudoro, sedang melamun diatas lincak yang biasa
digunakannya saat menulis surat cinta kepada beberapa gebetan. Sebagai seorang
adik yang cukup peduli pada keluarganya, Arjunapun memberanikan diri bertanya
pada kakaknya.
“Kakang,
ada apa gerangan, tidak seperti biasanya kakang bermuram durja seperti ini?”,
tanya Arjuna berhati-hati.
“Tidak
apa-apa Jun.”, werkudoro menjawab singkat.
“Kakang,
ceritakanlah apa yang membuat hatimu gusar,”, Arjuna mendesaknya, ia khawatir
jika suasana hati kakanya itu akan mempengaruhi kesehatan kakaknya. “Tidak
lucu, kakang werkudoro yang tinggi besar itu kemudian sakit, bisa-bisa jadi
bahan celaan Jonru”, gumamnya.
Werkudoro
berdiri, lalu bersandar pada pohon poplar yang tumbuh di pekarangan rumah.
Wajahnya semakin murung, suasana hatinya benar-benar kacau. Bahkan kuku
pancanaka yang biasanya keras tegak, kini juga terlihat loyo.
Werkudoro
menghela nafas panjang lalu mendongak memandang burung-burung yang terbang di
atas kepalanya. Arjuna hanya mengamati dari lincak, sambil terus
bertanya-tanya. “Apa yang terjadi dengan kakakku?”.
Hari
berganti, namun Werkudoro tidak manampakkan perubahan, ia tetap murung, dan
tidak mau makan. Sang Ibu, Dewi Kunti pun ikut khawatir, apa gerangan yang difikirkan
anak keduanya itu? . Puntadewa sebagai yang tertuapun sudah berupaya membujuk
adiknya itu, namun hasilnya nihil. Tak ketinggalan Nakula dan Sadewa si kembar
kesayangan Werkudoro pun sudah mencoba berbicara, namun hasilnya sama.
Mungkin
sudah menjadi naluri seorang ibu. Kunti merasa bahwa orang yang mampu menembus
pertahanan Werkudoro hanyalah Arjuna, selain karena Arjuna adalah yang paling
dekat, namun biasanya Arjuna selalu punya cara untuk membuat orang lain bicara.
“Ngger
Arjuna, cobalah kamu berbicara dengan kakakmu itu, siapa tahu kamu mampu
menembus pertahanan keras kepalanya”, suruh Kunti.
“Iya
ibu”, Arjuna menyanggupinya.
Sehingga
suatu sore, Arjuna menemui kakaknya lagi di lincak yang sama dengan beberapa
hari yang lalu. Sejak perubahan sikap itu, Arjuna memperhatikan kakaknya memang
berubah, sorot matanya tidak lagi tajam, ototnya yang biasanya kekar,
kini,lembek. Tubuhnya agak kurus.
“Kakang,
kakang membuat semua orang di rumah ini khawatir. Ada apa sebenarnya kakang,
ceritakanlah”, Arjuna memulai taktiknya agar kakaknya itu mau bercerita. Teknik
ini biasanya ia gunakan untuk mbibrik dedek-dedek gemesh, dan selalu berhasil.
“Arjuna
adikku, maukah kau mendengarkan keluh kesah kakangmu ini?”Werkudoro melunak .
“Tentu
kakang”, Arjuna menjawab pasti sambal mbatin, Taktik mbibrik dedek-dedek gemesh
berhasil juga untuk kakakku.
“Kau
tau Arimbi bukan jun?”, Werkudoro mengawali ceritanya dengan sebuah pertanyaan.
“Tentu
kakang, dia kan genda’anmu 6 bulan terakhir ini,”Arjuna menjawab dengan wajah
keheranan.
“Seminggu
lalu”,kata werkudoro.”Arimbi memutuskan
untuk kuliah keluar kota jun, seminggu ini aku tidak bertemu dengannya,
weladhalah, atiku kroso ada yang ilang jun”, kata-katanya terhenti, matanya
mbrambang, sambal sesekali menarik nafas panjang.
“Oalah
masalah wedok’an jebul, “ gumam Arjuna, ia tidak berani memotong cerita
kakaknya.
“Aku
kangen Arimbi jun, tiga hari ini belum ada kabar,”Werkudoro melanjutkan
ceritanya, kali ini ia berhasil menguasai dirinya kembali. “Aku tidak tahu jun,
kenapa aku bisa se-kangen ini dengan Arimbi, padahal biasanya juga tidak, lalu
apa tujuan dewata memberikan rasa kangen ini di hatiku jun?” kata werkuoro
sedikit memprotes.
“Ini
menyakitkan jun, yakinlah sumpah,” lanjutnya.
Lalu
dengan bergaya bak motivator cinta ulung, Arjuna angkat bicara, Suaranya agak
di berat-beratkan agar lebih terdengar berwibawa.
“Ya
kakang, mungkin dewata menganggap hati kakang terlalu keras, perlu ada sesuatu
yang melembutkannya, bukankah, seuatu yang terlalu keras juga tidak baik
kakang,”kata Arjuna menggurui kakaknya.
Werkudoro
hanya terdiam meresapi kata—kata dari adiknya yang rupawan itu.
“Rindu
adalah bumbu dalam percintaan kakang, rindu membuat cintamu kepada Arimbi tetap
hidup. Namun rindu juga adalah racun kakang, karena ia tidak bisa di perlakukan
berlebihan, namun juga tidak mau disepelakan, rindu memang aleman kakang.”
Lanjutnya.
“Mungkin
kau benar Arjuna, namun bagiku rindu adalah siksaan, menyakitkan, menjijikan,
menyebalkan. Dan membuatku merasa lemah. Rindu itu memang Asu,”kata werkudoro
menimpali.
Arjuna
kaget, lalu bergumam, “mungkin kau benar kakakku, rindu memang asu”, tiba-tiba
ia teringat Srikandi yang belum memberi kabar selama dua hari terakhir.
“Ping”
dalam keheningan suara itu terdengar jelas. Werkudoro kaget dan mengangkat
hapenya, lalu melompat kegirangan. “Arimbi BBM Jun,” katanya sambal tersebum
lebar sambal menari-nari.
“Oawalah,
Rindu itu memang Asu tenan, bisa bikin orang nangis tiba-tiba tertawa,”kata
Arjuna sambil berlalu.(*)
(*) yoga triono


0 komentar: