Rindu Itu Memang Asu Kakang Prabu

07.59 lewatengah 0 Comments



SORE itu Arjuna baru saja sampai rumah setelah berkencan dengan Srikandi, ia mendapati kakaknya, Werkudoro, sedang melamun diatas lincak yang biasa digunakannya saat menulis surat cinta kepada beberapa gebetan. Sebagai seorang adik yang cukup peduli pada keluarganya, Arjunapun memberanikan diri bertanya pada kakaknya.
“Kakang, ada apa gerangan, tidak seperti biasanya kakang bermuram durja seperti ini?”, tanya Arjuna berhati-hati.
“Tidak apa-apa Jun.”, werkudoro menjawab singkat.
“Kakang, ceritakanlah apa yang membuat hatimu gusar,”, Arjuna mendesaknya, ia khawatir jika suasana hati kakanya itu akan mempengaruhi kesehatan kakaknya. “Tidak lucu, kakang werkudoro yang tinggi besar itu kemudian sakit, bisa-bisa jadi bahan celaan Jonru”, gumamnya.

Werkudoro berdiri, lalu bersandar pada pohon poplar yang tumbuh di pekarangan rumah. Wajahnya semakin murung, suasana hatinya benar-benar kacau. Bahkan kuku pancanaka yang biasanya keras tegak, kini juga terlihat loyo.
Werkudoro menghela nafas panjang lalu mendongak memandang burung-burung yang terbang di atas kepalanya. Arjuna hanya mengamati dari lincak, sambil terus bertanya-tanya. “Apa yang terjadi dengan kakakku?”.

Hari berganti, namun Werkudoro tidak manampakkan perubahan, ia tetap murung, dan tidak mau makan. Sang Ibu, Dewi Kunti pun ikut khawatir, apa gerangan yang difikirkan anak keduanya itu? . Puntadewa sebagai yang tertuapun sudah berupaya membujuk adiknya itu, namun hasilnya nihil. Tak ketinggalan Nakula dan Sadewa si kembar kesayangan Werkudoro pun sudah mencoba berbicara, namun hasilnya sama.

Mungkin sudah menjadi naluri seorang ibu. Kunti merasa bahwa orang yang mampu menembus pertahanan Werkudoro hanyalah Arjuna, selain karena Arjuna adalah yang paling dekat, namun biasanya Arjuna selalu punya cara untuk membuat orang lain bicara.
“Ngger Arjuna, cobalah kamu berbicara dengan kakakmu itu, siapa tahu kamu mampu menembus pertahanan keras kepalanya”, suruh Kunti.
“Iya ibu”, Arjuna menyanggupinya.

Sehingga suatu sore, Arjuna menemui kakaknya lagi di lincak yang sama dengan beberapa hari yang lalu. Sejak perubahan sikap itu, Arjuna memperhatikan kakaknya memang berubah, sorot matanya tidak lagi tajam, ototnya yang biasanya kekar, kini,lembek. Tubuhnya agak kurus.
“Kakang, kakang membuat semua orang di rumah ini khawatir. Ada apa sebenarnya kakang, ceritakanlah”, Arjuna memulai taktiknya agar kakaknya itu mau bercerita. Teknik ini biasanya ia gunakan untuk mbibrik dedek-dedek gemesh, dan selalu berhasil.
“Arjuna adikku, maukah kau mendengarkan keluh kesah kakangmu ini?”Werkudoro melunak .
“Tentu kakang”, Arjuna menjawab pasti sambal mbatin, Taktik mbibrik dedek-dedek gemesh berhasil juga untuk kakakku.
“Kau tau Arimbi bukan jun?”, Werkudoro mengawali ceritanya dengan sebuah pertanyaan.
“Tentu kakang, dia kan genda’anmu 6 bulan terakhir ini,”Arjuna menjawab dengan wajah keheranan.
“Seminggu lalu”,kata werkudoro.”Arimbi  memutuskan untuk kuliah keluar kota jun, seminggu ini aku tidak bertemu dengannya, weladhalah, atiku kroso ada yang ilang jun”, kata-katanya terhenti, matanya mbrambang, sambal sesekali menarik nafas panjang.
“Oalah masalah wedok’an jebul, “ gumam Arjuna, ia tidak berani memotong cerita kakaknya.
“Aku kangen Arimbi jun, tiga hari ini belum ada kabar,”Werkudoro melanjutkan ceritanya, kali ini ia berhasil menguasai dirinya kembali. “Aku tidak tahu jun, kenapa aku bisa se-kangen ini dengan Arimbi, padahal biasanya juga tidak, lalu apa tujuan dewata memberikan rasa kangen ini di hatiku jun?” kata werkuoro sedikit memprotes.
“Ini menyakitkan jun, yakinlah sumpah,” lanjutnya.
Lalu dengan bergaya bak motivator cinta ulung, Arjuna angkat bicara, Suaranya agak di berat-beratkan agar lebih terdengar berwibawa.
“Ya kakang, mungkin dewata menganggap hati kakang terlalu keras, perlu ada sesuatu yang melembutkannya, bukankah, seuatu yang terlalu keras juga tidak baik kakang,”kata Arjuna menggurui kakaknya.
Werkudoro hanya terdiam meresapi kata—kata dari adiknya yang rupawan itu.
“Rindu adalah bumbu dalam percintaan kakang, rindu membuat cintamu kepada Arimbi tetap hidup. Namun rindu juga adalah racun kakang, karena ia tidak bisa di perlakukan berlebihan, namun juga tidak mau disepelakan, rindu memang aleman kakang.” Lanjutnya.
“Mungkin kau benar Arjuna, namun bagiku rindu adalah siksaan, menyakitkan, menjijikan, menyebalkan. Dan membuatku merasa lemah. Rindu itu memang Asu,”kata werkudoro menimpali.
Arjuna kaget, lalu bergumam, “mungkin kau benar kakakku, rindu memang asu”, tiba-tiba ia teringat Srikandi yang belum memberi kabar selama dua hari terakhir.
“Ping” dalam keheningan suara itu terdengar jelas. Werkudoro kaget dan mengangkat hapenya, lalu melompat kegirangan. “Arimbi BBM Jun,” katanya sambal tersebum lebar sambal menari-nari.
“Oawalah, Rindu itu memang Asu tenan, bisa bikin orang nangis tiba-tiba tertawa,”kata Arjuna sambil berlalu.(*)
(*) yoga triono

You Might Also Like

0 komentar: