Debat dan Ke-Pekok-an Kita
Ada fenomena menarik terjadi di sekitar kita, terutama di kalangan muda yang akrab dengan media sosial. Yaitu fenomena berdebat. Pada dasarnya berdebat adalah hal yang wajar dan baik selama tujuannya adalah untuk mencari kebenaran mengenai persoalan yang didebatkan. Dan yang paling penting adalah berdebat untuk sesuatu yang penting dan urgen serta substansial. Namun sayangnya yang terjadi belakangan ini pada kaum muda di jagad media sosial adalah sebaliknya.
Perdebatan yang ada kabanyakan adalah debat kusir dan cenderung mengarah pada debat semantik. Berkutat pada pilihan-pilihan kata yang dipakai dan sama sakali tidak menyentuh substansi persoalan. Kecendrungan untuk pinter-pinteran lebih terlihat dari pada membawa persoalan debat kearah kebenaran. Si A merasa hebat jika berhasil membuat lawan debatnya yaitu Si B membisu. Ia akan merasa IQ nya meningkat beberapa digit, tanpa dia sadari bahwa lawan debatnya tersebut mungkin memang sengaja tidak meladeni karena menganggap persoalannya terlampau sepele untuk diperdebatkan. Namun peduli setan bagi si A, yang penting dia berhasil membuat lawannya bungkam, apapun alasannya.
Perdebatan demikian biasanya terjadi pada kolom komentar pada tautan-tautan mengenai kasus yang kontroversial namun tidak penting sama sekali. Salah satunya adalah isu-isu keagamaan yang luar biasa sepele. Seperti yang saya temui beberapa waktu lalu di sebuah group facebook, ada seseorang membagikan tautan mengenai sekelompok orang menggunakan kaos “I love Jesus” pada saat Car Free Day. Dan komen dari anggota group pun bermacam-macam, diperdebatkanlah mengenai boleh atau tidaknya menggunakan kaos tersebut dalam acara Car Free Day. Ini kan perdebatan super bodoh dan menjijikan.
Apa pentingnya mempersoalkan tulisan di kaos. Toh jika di depan kita ada orang yang memakai kaos tersebut, tidak membuat akidah kita rusak. Saya mulai menebak-nebak, jangan-jangan nantinya kalau ada orang Solo yang memakai kaos “I Love Jogja” pun akan diperdebatkan dengan sengit. Apakah orang tersebut mencintai Solo atau tidak. Sejatinya pemilihan accesoris, termasuk kaos adalah hak dari setiap pribadi masing-masing. Dia mau pakai koas apapun, dimanapun, kita tidak berhak untuk mengaturnya.
Perdebatan lebih menjijikan terjadi pada hari ibu tanggal 22 Desember lalu. Mereka memperdebatkan antara mana yang lebih baik mengucapkan selemat hari ibu di media sosial, atau tidak perlu latah mengucapkannya. Yang anti ucapan selamat hari ibu, menganggap bahwa ucapan hari ibu mempersempit ruang kasih sayang kepada ibu, dan seolah dari 365 hari dalam setahun kita hanya menghormati ibu kita pada tanggal 22 Desember saja, itu pertama. Yang kedua, ucapan hari ibu di media sosial hanya buat pamer saja, karena ibu-ibu mereka juga tiidak punya akun media sosial. Yang ketiga dikatakan bahwa, buat apa mengucapkan selamat hari ibu jika setiap diperintah oleh ibunda masih ogah-ogahan. Pokoknya yang ngucapin selamat hari ibu itu berarti tidak pro ibu, hanya kedok belaka, bahasa kekiniannya adalah Pencitraan.
Bagi yang pro ucapan menganggap bahwa mengucapkan selamat hari ibu di media sosial merupakan sebuah ekspresi kasih sayang mereka pada ibu mereka dan ibu-ibu seluruh dunia. Bahwa hari tersebut memang dikhususkan untuk Ibu. Tidak ada yang salah dengan itu mengekspresikan sesuatu. Begitu kata mereka yang pro ucapan. Toh jika mengucapkan selamat hari ibu pada tanggal 22 desember, bukan berarti setiap hari tidak menyayangi ibu pada tanggal yang lain.
Fenomena tersebut tidak hanya menjijikan namun menyebalkan. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 70 tahun merdeka dan dibelahan bumi yang lain menusianya sedang sibuk berdiskusi mengenai kemanusiaan, perdamaian, kesetaraan gender, kemajuan teknologi, perubahan iklim, dan sebagainya. Disini kita masih mempersoalkan mengenai ucapakan hari ibu. Hal ini sama saja menarik kita kembali pada masa 40 sampai 50 tahun lalu. Tidak hanya itu, pola yang sama juga akan terjadi pada tanggal-tanggal yang lain, missal Hari Santri Nasional, Hari Ayah Nasional, ucapan tahun baru, dan seterusnya.
Ada dua hipotesa yang saya ajukan untuk permasalahan ini. Yang pertama adalah kita kekurangan persoalan, sehingga persoalan–persoalan yang seharusnya tidak begitu penting untuk dipermasalahkan menjadi hal yang mesti harus dipermasalahkan. Kedua adalah sikap kita terlampau kritis, ada hal yang memiliki ruang untuk dikritisi sedikit saja, langsung menjadi sasaran tembak untuk diperdebatkan, padahal hal tersebut juga tidak penting sama sekali.
Jika diperhatikan, sebenarnya negeri ini tidak kurang-kurang persoalan. Persoalan yang menghampiri negeri ini sungguh sangat dinamis dan periode persoalannya juga cukup cepat. Sebagai contoh persoalan papa minta saham belum klimaks, sudah muncul persoalan artis jadi PSK. Persoalan artis tersbut belum tuntas, muncul lagi persoalan sweaping FPI, dan seterusnya. Jadi hipotesa pertama tadi gugur. Namun apa iya kita terlampau kritis. Uniknya kritisnya hanya untuk persoalan –persoalan minor seperti tadi, untuk persoalan yang lebih luas terkesan cuek. Sehingga mungkin hipotesa kedua perlu diubah. Kita terlampau kritis, menjadi : Kita hanya ingin dianggap berbeda/anti mainstream. Sebab biasanya tapi tidak selalu bahwa berbeda/ anti mainstream itu keren. Namun saya hanya ingin menekankan. Memang biasanya berbeda itu terlihat keren tapi bukan pintar. Jadi orang pekok juga bisa keren loh.
Eh, sudah dulu ya, saya ada undangan debat mengenai suara batuk Presiden Jokowi, sebaiknya menggunakan nada Bariton atau Falseto. (*)

0 komentar: