Mak, Sambel Buatanmu Numero Uno

03.31 lewatengah 0 Comments

Selain kaya akan budaya dan bahasa, nyatanya Nusantara kaya akan kulinernya, setiap daerah memiliki makanan khasnya sendiri-sendiri. Misal, di Yogyakarta ada Gudeg, kemudian ada Coto Makasar, Nasi Tempong Banyuwangi, Megono Pekalongan, Tauto Pekalongan, Plecing Kangkung dari Lombok, Papeda papua, Rendang dari Sumatra Barat, Ayam Betutu dari Bali, dan seterusnya. Kalau disebutkan satu persatu dan dibukukan resepnya mungkin kitab-kitab kuliner Indonesia akan jauh lebih banyak dan lebih tebal dari novel Harry Potter. Jika berbicara mengenai kuliner, tentunya tidak hanya lauk pauk tadi, ada hal lain yang mungkin tidak disadari bahwa jenis makanan lain yang juga memiliki variasi yang sangat banyak di masing-masing wilayah Indonesia. Dialah Sambal. Sambal atau Sambel mungkin tidak sepopuler Coto Makasar, maupun Ayam Betutu dari Bali, namun keberadaan sambel di meja makan selalu menambah selera makan si empunya meja.

Mungkin terminologi sambal sebagai kumpulan bumbu plus rempah dan cabai yang diulek hanya ada di Indonesia. Mungkin di negara lain sambal lebih diartikan sebagai saos, padahal di negeri ini saos itu jelas berbeda dengan sambal. Lalu bagaiamana orang pada zaman dahulu mampu menciptakan jenis makanan yang namanya sambal, sebuah makanan yang kadang secara wujud tidak memiliki kecantikan seperti halnya makanan lain, namun aroma dan rasa dari sambal senantiasa membuat mulut kita kemecer menahan ludah. Sekedar mengandai-andai, mungkin saja proses penemuan sambal pada masyarakat dahulu adalah dengan melakukan pertapaan yang teramat panjang, dan mendapat bisikan dewata untuk membuat sambal. “Hei Manusia, buatlah sambal, bahannya adalah bla..bla.. bla.” Atau mungkin penemuan sambal adalah sesuatu yang tidak sengaja. Mungkin pada zaman dahulu dengan rempah-rempah yang sangat melimpah, nenek moyang kita bosan mengolah rempah-rempah itu seperti biasa, jadi  saat anak-anaknya minta makan, sang ibu yang sudah bosan dan malas memasak, sambil ogah-ogahan, hanya mengumpulkan bawang merah, bawang putih, dan  cabai, kemudian menguleknya. Disajikanlah hasil ulekan tersebut pada sang anak, tak dinyana tak diduga, sang anak makannya dokoh sekali . Dari situlah kemudian tiga bahan dasar tadi divariasi dengan penambahan bahan-bahan lain, seperti terasi, tomat, dan sebagainya, hingga berkembang seperti sekarang.

Sebagai lelaki tambun, tentu saya adalah manusia yang menggemari makan, dan sambal adalah salah satu makan yang cukup saya favoritkan. Hal ini tidak terlepas dari peran serta dari emak saya, ya emak saya sebagai seorang wanita rumah tangga tulen memang cukup mahir dalam mengolah berbagai macam bahan makanan. Mengenai sambal buatan emak saya, jangan ditanya, sudah pasti tidak ada duanya rasanya. Sambal favorit pertama dari emak saya adalah Sambel Panggang. Saya tidak tahu jenis sambel ini ada di daerah lain, atau murni hasil inovasi emak saya. Namun perpaduan antara pedasnya cabai rawit plus bumbu-bumbunya, sedapnya ikan panggang, dan gurihnya parutan kelapa, yang diulek menjadi satu, selalu membuat cocot saya kemecer menahan air liur. Semakin lama variasi dari sambel buatan emak sayapun meningkat, mungkin emak saya ingin membuktikan bahwa ia tidak hanya lihai dalam membuat Sambal Panggang, namun juga sambal-sambal yang lain. Lalu munculah Sambel Kroes, (ejaan yang dipakai menggunakan Bahasa Jawa, sehingga membacanya bukan sambel Kroos). Sambel ini mungkin juga hasil inovasi emak saya, atau mungkin didaerah lain sudah ada, namun namanya berbeda. Sambel Kroes biasanya dibikin emak ketika ada request dadakan, misalnya saya sedang tidak nafsu makan dan sedang pingin makan sambel. Maka untuk menghemat waktu, dibikinlah Sambel Kroes oleh emak saya. Bahan-bahannya sederhana, bawang merah, bawang putih, cabai, dan garam secukupnya, kemudian diulek, hingga berbunyi kroes-kroes, Mungkin dari situlah emak saya menamai sambel ini sebagai Sambel Kroes.

Kini, saat saya sudah jauh dari rumah, sambel  buatan emak saya merupakan salah satu hal yang kadang terbesit menulusup dalam kerinduan, selain hal-hal lainnya. Walaupun sebenarnya saya sendiri juga bisa bikin sambal, hanya saja sambal buatan saya cuma ada dua kemungkinan rasa, kalau tidak keasinan, ya tidak asin sama sekali. Berbeda sakali dengan emak saya, beliyo ketika mengulek sambel itu sudah tahu bagaimana membuat kerongkongan anaknya ini berkata “lagi..lagi..”. Hingga beberapa waktu yang lalu, saya telfon emak saya, dan minta dikirim sambal, dengan harapan bisa mengurangi kerinduan akan suasana rumah. Selang dua minggu datanglah kiriman sambel dari emak saya. Saya tidak tahu namanya sambal apa, dari bentuknya yang cukup kental dan ada minyaknya, saya bisa menebak bahwa pembuatannya pasti melalui proses penggorengan, serta warnanya merah gelap artinya cabai yang digunakan adalah cabai matang yang berukuran besar. “Ah, benar-benar inovator sambel kau mak” kataku dalam hati. Sambal tanpa nama itupun mulai kutuang dalam piring makanku bersama duo gorengan, yaitu gorengan tempe dan goring telur, ditambah semangkuk sayur bening. Perlahan-lahan aroma sedap yang nglamir menyeruak dari piring yang nasinya masih kemebul. Kumasukan sendok demi sendok nasi bercampur dengan sambel tanpa nama buatan emak, lalu disusul dengan gigitan kecil gorangan tempe dan gorengan telor mendarat mulus didalam mulut besarku. Tak lebih dari sepuluh menit kutandaskan piring makan itu. Hmmm…. Walaupun tidak sepedes yang saya bayangkan. Tapi Mak, Sambel buatanmu, Numero Uno..!(*)


NB : By the way,  Selamat Hari Ibu. Mugi-mugi semua ibu di dunia pinaringan sehat lan panjang umur. Aamiin.

You Might Also Like

0 komentar: