Generasi Budeg

23.36 lewatengah 0 Comments

Saya tidak tahu, apakah ini terjadi pada semua orang di generasi muda kita. Namun saya perhatikan bahwa kini orang-orang, terutama generasi saya, adalah orang-orang yang terburu-buru, manusia-manusia ini ingin segera cepat, segera menyimpulkan namun minim pemahaman. Mereka jarang ada yang mau bertafakur, berfikir sejanak mengenai apa yang terjadi dalam dirinya, dan apa yang didengarnya. Mereka baru saja mendengar sedikit sudah langsung menyimpulkan, mending kalau arah penyimpulannya itu benar, mendekati saja tidak. 

Saya analogikan begini. Ada sebuah kotak besar terbuat dari kayu, kotak itu rapat tidak ada lubangnya, dan pemilik kotak telah memasukan sebuah benda kedalam kotak tersebut. Kemudian sang pemilik menyuruh salah seorang pemuda untuk menebak isi kotak itu. Pemuda diberi 3 kali kesempatan mengintip isi kotak. Namun baru satu kali mengintip, si pemuda sudah menyimpulkan isi kotak itu, dan hasilnya salah. Pemuda itu terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan, padahal ia masih punya 2 kali kesempatan untuk mengkonformasi ulang apa yang dipikirkannya mengenai isi kotak. Macam itulah generasi masa kini. Main serobot, main selonong saja, tanpa memahami lebih dalam persoalan. Tidak mau mendengar dan memahami, padahal dua hal itu, menurut Gus Mus, lebih baik dari pada menulis dan berbicara. Tanpa mendengar dan memahami, apa yang akan kita tulis dana apa yang akan dikita bicarakan.

Contoh lain yang sering saya temui bersama kawan-kawan saya mengenai kurangnya budaya mendengar dan memahami adalah demikian : Kawan saya membawa makanan, diberikan pada saya, sebagai pecinta makanan tentu saya lahap. Lalu saya bertanya. “Ini namanya kue apa?”. Di jawab kawan saya dengan kalimat begini, “Enak ya?, iya tadi beli di warungnya Bu Wati”. Saya haqqul yakin, bahwa kawan saya itu tidak budeg atau tuli, tidak mempunyai masalah pendengaran sama sekali. Dan saya juga menjamin bahwa kawan saya itu paham menengenai fungsi dari kata tanya 5W+1H. Seharunya ia paham bahwa pertanyaan “Apa” itu dijawan seperti apa. Pertanyaan “Dimana” itu dijawab seperti apa, dan seterusnya.  Namun  yang terjadi, ia tidak menjawab sesuai dengan substansi pertanyaan yang saya lontarkan. Mengapa?. Karena masalah kawan saya itu adalah kurang mau untuk mendengar (Bukan kurang pendengaran, karena ia tidak budeg), dan kurang mau memahami pertanyaan yang saya berikan. Alhasil, jawaban yang diberikan jauh dari apa yang ditanyakan.

Lebih parahnya lagi, dengan adanya teknologi, cara komunikasi manusia secara verbal sudah sangat jarang digunakan. Dengan adanya fitur BBM, Line. Whatsapp, dan seterusnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa tulisan. Kelemahannya adalah bahasa yang dipakai dalam komunikasi semacam itu, adalah bahasa yang menggunakan kata-kata singkatan yang tidak memiliki aturan baku. Sehingga, kata “Slt” yang dimaksutkan untuk mengganti kata “Sholat”, bisa dibaca “Silit”. Kalau yang baca adalah orang yang ahli mengkafirkan dan menyesatkan. Maka kita sudah si cap sesat dan kafir. Ini kan bahaya sekali. Selain masalah itu, para pengguna fitur-fitur hape tersebut, jarang sekali ada yang memperhatikan penulisan pesannya dengan tanda baca. Sehingga maksud pesan yang ingin disampikan sering tidak sama persepsinya. Contohnya : “Ada konser Didi Kempot besok seminar”. Bagaimana bisa kalimat itu dipahami dengan baik.  Ini baru masalah teknis penulisan pesan komunikasi  loh ya.. belum masuk dangan masalah memahami.

Jika dalam komunikasi verbal saja, kita masih malas untuk memahami setiap ucapan, apalagi dengan komunikasi via BBM, WA, dan Line. Logikanya, orang yang malas untuk jalan sejauh 5 meter, apa mungkin tidak malas untuk jalan sejauh 7 meter. Dalam komunikasi verbal, dimana informasi masuk kedalam kepala tanpa ada perantara saja, kita malas untuk berfikir dan memahami informasi tersebut, apa lagi informasi yang masuk melalui perantara alat macam BBM, WA, dan Line, yang harus melewati proses membaca. Bisa dibayangkan, seberapa besar niatan otak untuk memahami informasi tersebut. Membaca sebuah kalimat dibuku, yang bahasanya sesuai EYD, dan tanda bacanya benar saja, kadang kesulitan memahami. Apalagi membaca tulisan yang menyingkat “Sholat” menjadi “Slt” dan tanpa tanda baca. Itu adalah siksaan terhadap otak kita.

Lalu efeknya apa?. Efek yang pertama adalah otak tinggal setengah saja. maksudnya informasi yang disimpan dalam otak kita hanya setengah-setengah dan tidak lengkap. Sehingga tindakan yang dilakukan berdasarkan unformasi yang setengah, pasti juga setengah. Yang kedua dan yang paling sering kita lihat dimedia sosial adalah kita menjadi monyet-monyet tukang ngeklik. Akui saja, berapa kali kita sering membagikan sebuah tautan dengan hanya membaca judulnya saja, tidak membaca apalagi memahami isi dari tautan yang dibagikan. Tanpa disadari, bahwa berita hoak yang kita sebarkan tanpa kita baca dan pahami lebih dulu itu memiliki efek negative pada orang lain. Mirisnya, yang kerap terjadi, tautan-tautan yang sering dibagikan tanpa dibaca terlebih dahulu itu adalah tautan yang berbau sara, entah itu terkait agama, rasa, suku, dan sebagainya. Bisa dibayangkan efek negative dari hal tersebut.

Oleh karena itu, budaya untuk mendengarkan, membaca, dan memahami setiap informasi dari persoalan yang ada harus kembali diterapkan. Karena kemajuan teknologi bukan bertolak belakang dengan budaya itu. Sejatinya kita bisa tetap menjadi manusia yang memanfaatkan teknologi, sekaligus menjadi manusia arif yang memiliki kedalam pemikiran dan pemahaman.  Karena sesungguhnya haram hukumnya seorang laki-laki mendekati wanita yang telah beristri lalu menikahi suaminya. Naah looh..!! (*)



You Might Also Like

0 komentar: