Kiandra
“Aku menyebutnya Kiandra,
Ia adalah lagu yang muncul dari luka yang tak berdarah
dan mulut yang tersenyum”
Pagi Pertama
Ada alunan merdu mendengung di telingaku pAgi ini, sebuah
alunan lagu. Iya,, sebuah lagu, jelas sekali. Namun aku belum pernah mendengar
lagu semacam ini sebelumnya, nada dan melodinya terasa asing bagi telingaku.
Kadang lagu tersebut bernada riang, kadang nadanya berganti sendu dan sedih.
Aku pejamkan mataku mencoba menangkap lebih jelas nada nada itu, sambil
sesekali menarik nafas panjang. Aroma kesejukan subuh menusuk hidungku dan
merambat melalui pembuluh darahku hingga ke otak. Semakin lama nada-nada itu
berubah menjadi tawa seorang perempuan, renyah sekali. Tawanya lepas sesekali
terbahak, sesekali hanya tertawa simpul. Namun ada yang aneh dari tawa itu,
walaupun itu sebuah tawa, namun ada gurat kesedihan disana. sehingga alih-alih
ternyum mendengar tawa itu, aku justru kasihan. Seiring datangnya fajar, lagu
tersebut menghilang.
Pagi Kedua,
Gemericik bunyi hujan pagi ini membuat aroma bAntal dan
kasur semakin menyenangkan, rasanya iNgin berharap semoga Tuhan
menghentikan waktu agar dunia tetap dalam situasi seperti ini selamanya.
Kenikmatan itu terganggu oleh sebuah suara. Berdengung, semakin lama, semakin
jelas. Kuperhatikan baik-baik. “Ini lagu yang kemarin”. Pikirku. Suaranya masih
sama persis dengan kemarin. Hanya saja pagi ini nadanya lebih banyak bernada
kesedihan, sedih sekali. Jika kemarin lagu tersebut berubah menjadi tawa
wanita, namun kini yang terdengar adalah tangis gadis kecil usia 10 sampai 12
tahun. Seolah ia merintih dalam sebuah kesakitan yang sangat. MenyedihkAn sekali. Aku termenung, rupanya kesedihan dari lagu
tersebut terlanjur masuk mempengaruhiku. Entah mengapa, saat suara itu pergi,
rasa haru dan sedih itu masih saja menggelayut dalam hati.
Pagi ketiga
Pagi ini dini hari ini aku bersiap untuk tidur, karena
semalaman aku belum tidur akibat beberapa hal yang harus ku selesaikan. Ku
tutup laptopku dan kuletakkan kepadalu di bantal, yang sejak tadi
memanggil-mangil. Sebelum terlelap aku menyiapkan telingaku baik-baik, berHarap lagu itu
datang lagi. lagu aneh yang kadang membuat tertawa namun juga kadang
menyedihkan. Namun setelah agak lama, akibat serangat ngantuk yang besar.
Akhirnya aku tertidur dan lagu itupun tidak datang pagi ini.
Pagi keempat
Tidak seperti hari-hari biasanya yang sulit untuk membuka
mata, pagi ini aku membuka mata dengan cepat dan segera tersadar dari mimpiku.
Mungkin karena sebelum tidur aku sudah memiliki niat untuk bangun dengan cepat,
lalu mendengarkan lagu itu lagi, dan menikmati tawa renyahnya dan tangis
pilunya. Entah kenapa, dari awalnya aku tidak begitu ingin tAhu, kini aku
justru berharap untuk bisa mendengar lagu tersebut setiap pagi. Aku begitu
terbawa dengan suasana yang diciptakan lagu itu, saat ia bergembira aku ikut
bergembira, saat ia menangis pilu, ingin rasanya mengusapnya dan berkata
“Jangan Menangis”. Namun ternyata pagi ini lagu tersebut tidak muncul.
Kutelengkan telingaku, ku tingkatkan senSivitas bunyi untuk indra
pendengaranku. Namun nada itu tak kunjung terdengar. Ia tidak datang.
Pagi Kelima.
Aku menyadari bahwa lagu itu bukan laguku, jadi pagi ini
aku tidak berharap ia datang dalam telingaku. Namun sayup-sayup nada-nada aneh
itu terdengar, semakin lama semakIn jelas. Dengan mata yang masih agak
terpejam, aku dengarkan baik-baik lagu tersebut. kali ini tidak hanya irama
saja, namun ada kata yang diucapkan disana, samar-samar. Aku coba lebih
berkonsentrasi, namun semakin aku mencoba merangkai katanya semakin samar
kata-kata itu kudengarkan. Tiba-tiba ada satu kata yang jelas sekali terucap.
Kata iTu adalah “Kiandra”. agak lama saat aku masih meenikmati
alunan beraroma tawa dan tangis itu, tiba-tiba alarmku membuyarkan semuanya,
dan hilanglah lagu terssebut. Hilanglah Kiandra.
Pagi Keenam
Bagiku kini Kiandra adalah sarapan pagiku, pemberi
semangat melalui nada-nadanya. Baik saat ia menjelma dalam tawa wanita yang
lepas, maupun saat ia menjelma dalam tangis gadis kecil yang menyayat hati itu.
Pagi inipun lagu “Kiandra” datang, dimulai dari sebUah alunan
atonal dengan nada rendah yang menenangkan, kemudian lama-lama menjadi lebih
tinggi dengan irama yang membuat orang menarik nafas panjang, penuh kekaguman
dan diakhiri dengan senyum. Kali ini lagu “kiandra” tidak menjelama dalam tawa
lepas atau tangis anak kecil. Kali ini ia menjelma dalam tawa konyol dan datar
saja. Ah, dasar lagu yang aneh.
Pagi Ketujuh
Pagi ini Lagu “Kiandra” tidak daTang. Kucoba
untuk kupanggil, namun tidak datang juga. Aku pikir, sudahlah, toh dia adalah
sebuah lagu, sebuah irama yang mungkin punya kehendak sendiri, kapan mau datang
dan kapan tidak datang. Tidak ada yang berhak untuk mengaturnya, terlebih aku.
Dan aku, aku hanya sebuah batu hitam legam yang besar. Tempat dimana semua hal
datang dan pergi. Saat ada daun terjatuh diatasnya, ia tidak bisa
menyingkirkannya. Begitupun saat ada burung bersarang diatasnya, maka ia tidak
berhak untuk mengklaim burung tersebut sebagai miliknya.
Sama seperti lagu “Kiandra”. Ia akan datang dan pergi
sesukanya, dan aku membiarkannya. Namun saat nanti semua keadaan berubah, maka
akan kubelI sebuah pemutar lagu yang bagus, lalu kumasukan lagu
“Kiandra” kedalamnya. (*)

0 komentar: