Kiandra

23.21 lewatengah 0 Comments

“Aku menyebutnya Kiandra, 
Ia adalah lagu yang muncul dari luka yang tak berdarah dan mulut yang tersenyum”


Pagi Pertama
Ada alunan merdu mendengung di telingaku pAgi ini, sebuah alunan lagu. Iya,, sebuah lagu, jelas sekali. Namun aku belum pernah mendengar lagu semacam ini sebelumnya, nada dan melodinya terasa asing bagi telingaku. Kadang lagu tersebut bernada riang, kadang nadanya berganti sendu dan sedih. Aku pejamkan mataku mencoba menangkap lebih jelas nada nada itu, sambil sesekali menarik nafas panjang. Aroma kesejukan subuh menusuk hidungku dan merambat melalui pembuluh darahku hingga ke otak. Semakin lama nada-nada itu berubah menjadi tawa seorang perempuan, renyah sekali. Tawanya lepas sesekali terbahak, sesekali hanya tertawa simpul. Namun ada yang aneh dari tawa itu, walaupun itu sebuah tawa, namun ada gurat kesedihan disana. sehingga alih-alih ternyum mendengar tawa itu, aku justru kasihan. Seiring datangnya fajar, lagu tersebut menghilang.

Pagi Kedua,
Gemericik bunyi hujan pagi ini membuat aroma bAntal dan kasur semakin menyenangkan, rasanya iNgin berharap semoga Tuhan menghentikan waktu agar dunia tetap dalam situasi seperti ini selamanya. Kenikmatan itu terganggu oleh sebuah suara. Berdengung, semakin lama, semakin jelas. Kuperhatikan baik-baik. “Ini lagu yang kemarin”. Pikirku. Suaranya masih sama persis dengan kemarin. Hanya saja pagi ini nadanya lebih banyak bernada kesedihan, sedih sekali. Jika kemarin lagu tersebut berubah menjadi tawa wanita, namun kini yang terdengar adalah tangis gadis kecil usia 10 sampai 12 tahun. Seolah ia merintih dalam sebuah kesakitan yang sangat. MenyedihkAn sekali.  Aku termenung, rupanya kesedihan dari lagu tersebut terlanjur masuk mempengaruhiku. Entah mengapa, saat suara itu pergi, rasa haru dan sedih itu masih saja menggelayut dalam hati.

Pagi ketiga
Pagi ini dini hari ini aku bersiap untuk tidur, karena semalaman aku belum tidur akibat beberapa hal yang harus ku selesaikan. Ku tutup laptopku dan kuletakkan kepadalu di bantal, yang sejak tadi memanggil-mangil. Sebelum terlelap aku menyiapkan telingaku baik-baik, berHarap lagu itu datang lagi. lagu aneh yang kadang membuat tertawa namun juga kadang menyedihkan. Namun setelah agak lama, akibat serangat ngantuk yang besar. Akhirnya aku tertidur dan lagu itupun tidak datang pagi ini.

Pagi keempat
Tidak seperti hari-hari biasanya yang sulit untuk membuka mata, pagi ini aku membuka mata dengan cepat dan segera tersadar dari mimpiku. Mungkin karena sebelum tidur aku sudah memiliki niat untuk bangun dengan cepat, lalu mendengarkan lagu itu lagi, dan menikmati tawa renyahnya dan tangis pilunya. Entah kenapa, dari awalnya aku tidak begitu ingin tAhu, kini aku justru berharap untuk bisa mendengar lagu tersebut setiap pagi. Aku begitu terbawa dengan suasana yang diciptakan lagu itu, saat ia bergembira aku ikut bergembira, saat ia menangis pilu, ingin rasanya mengusapnya dan berkata “Jangan Menangis”. Namun ternyata pagi ini lagu tersebut tidak muncul. Kutelengkan telingaku, ku tingkatkan senSivitas bunyi untuk indra pendengaranku. Namun nada itu tak kunjung terdengar. Ia tidak datang.

Pagi Kelima.
Aku menyadari bahwa lagu itu bukan laguku, jadi pagi ini aku tidak berharap ia datang dalam telingaku. Namun sayup-sayup nada-nada aneh itu terdengar, semakin lama semakIn jelas. Dengan mata yang masih agak terpejam, aku dengarkan baik-baik lagu tersebut. kali ini tidak hanya irama saja, namun ada kata yang diucapkan disana, samar-samar. Aku coba lebih berkonsentrasi, namun semakin aku mencoba merangkai katanya semakin samar kata-kata itu kudengarkan. Tiba-tiba ada satu kata yang jelas sekali terucap. Kata iTu adalah “Kiandra”. agak lama saat aku masih meenikmati alunan beraroma tawa dan tangis itu, tiba-tiba alarmku membuyarkan semuanya, dan hilanglah lagu terssebut. Hilanglah Kiandra.

Pagi Keenam
Bagiku kini Kiandra adalah sarapan pagiku, pemberi semangat melalui nada-nadanya. Baik saat ia menjelma dalam tawa wanita yang lepas, maupun saat ia menjelma dalam tangis gadis kecil yang menyayat hati itu. Pagi inipun lagu “Kiandra” datang, dimulai dari sebUah alunan atonal dengan nada rendah yang menenangkan, kemudian lama-lama menjadi lebih tinggi dengan irama yang membuat orang menarik nafas panjang, penuh kekaguman dan diakhiri dengan senyum. Kali ini lagu “kiandra” tidak menjelama dalam tawa lepas atau tangis anak kecil. Kali ini ia menjelma dalam tawa konyol dan datar saja. Ah, dasar lagu yang aneh.

Pagi Ketujuh
Pagi ini Lagu “Kiandra” tidak daTang. Kucoba untuk kupanggil, namun tidak datang juga. Aku pikir, sudahlah, toh dia adalah sebuah lagu, sebuah irama yang mungkin punya kehendak sendiri, kapan mau datang dan kapan tidak datang. Tidak ada yang berhak untuk mengaturnya, terlebih aku. Dan aku, aku hanya sebuah batu hitam legam yang besar. Tempat dimana semua hal datang dan pergi. Saat ada daun terjatuh diatasnya, ia tidak bisa menyingkirkannya. Begitupun saat ada burung bersarang diatasnya, maka ia tidak berhak untuk mengklaim burung tersebut sebagai miliknya.

Sama seperti lagu “Kiandra”. Ia akan datang dan pergi sesukanya, dan aku membiarkannya. Namun saat nanti semua keadaan berubah, maka akan kubelI sebuah pemutar lagu yang bagus, lalu kumasukan lagu “Kiandra” kedalamnya. (*)

You Might Also Like

0 komentar: