“Gumunan” dan Toleransi
Saya memiliki postur tubuh cukup tinggi yaitu 190 cm, dengan badan yang besar, sehingga agak berbeda dengan manuisa Indonesia pada umumnya, saya lebih suka menyebut postur saya sebagai postur Eropa (Gaya sitik). Ada cerita menarik mengenai postur tubuh saya. Suatu waktu saya pergi makan dengan kawan saya di tempat makan suatu kota. Awalnya semua berjalan lancer. Kami makan, ngobrol ngalor ngidul, tertawa dan sebagainya. Namun ada hal yang cukup mengganggu saat saya mau bayar di kasir. Tepat di depan kasir, ada sebuah keluarga sedang makan. Waktu melihat saya, si Ibu langsung nyeletuk “Ya Allah, gede banget ini orang”. Sontak kawan saya yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak, saya hanya meringis sambil memandang ibu tadi, yang rupanya segera ndingkluk menyembungikan wajahnya. Saat saya perhatikan dari penampilan, sepertinya ibu tersebut adalah tipe ibu-ibu rumah tangga yang hoby nonton sinetron. Hal yang sama terjadi sewaktu saya sudah lulus kuliah, kemudian kembali ke kampus untuk mengurus masalah dokumen. Mahasiswa-mahasiswa yang hobby hiha hihi dikampus itu seperti melihat setan, sambil berbisik pada teman-temannya. “Gede banget itu orang”.
Namun uniknya saat saya bertemu dengan kawan-kawan (sebelumnya belum pernah bertemu) dari komunitas atau dari NGO yang punya cukup banyak kawan dari berbagai daerah dan negara, hal tersebut tidak terjadi. Saat pertama kali melihat saya, tidak ada reaksi seperti yang ditunjukan oleh si Ibu atau Mahasiswa tadi. Kawan-kawan komunitas dan NGO tersebut justru bersahabat tanpa ada tatapan aneh melihat postur tubuh saya yang tinggi besar tidak seperti orang Indonesia pada umumnya. Kita berbicara normal dan tidak pernah berbicara mengenai fisik atau ciri-ciri fisik orang lain. Sebuah pembicaraan yang menyenangkan dan “sopan”. Ada sebuah ketimpangan perspektif antara si Ibu dan Mahasiswa tadi dengan kawan dari komunitas dan NGO. Jika boleh menebak, si Ibu dan Mahasiswa tadi terlihat bahwa mereka tidak pernah melihat orang berpotur tinggi besar sebelumnya selain saya. Sedangkan kawan dari Komunitas dan NGO tadi sudah pernah melihat orang berpostur tinggi besar sebelumnya selain saya. Ini adalah hipotesa sederhananya.
Penjelasannya demikian : seseorang yang sama sekali belum pernah melihat kuda secara nyata, hanya di lihat di TV atau gambar, ketika melihat kuda asli akan menunjukan kekagetan. Sedangkan bagi pengurus peternakan kuda yang setiap hari bertemu kuda, kuda adalah hal biasa saja bagi dia. Itulah yang terjadi pada Si Ibu, Mahasiswa dan Kawan Komunitas dan NGO tadi. Kawan dari Komunitas dan NGO sudah pergi kemana-mana mobilitasnya sudah tinggi, sudah bertemu dengan orang dari berbagai daerah, berbagai suku, berbagai etnis, dan berbagai budaya. Sehingga ketika mendapati sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada pada dirinya, dia tidak akan kaget, sebab dia sudah sering menghadapi perbedaan. Namun si Ibu yang hoby nonton sinetron itu mungkin tidak pernah keluar dari komplek rumahnya, atau keluar paling jauh kepasar atau ke mall. Sehingga yang ditemui setiap harinya adalah orang-orang yang sama, dan jarang sekali atau mungkin tidak pernah mendapati sebuah perbedaan. Jadi ketika melihat sesuatu yang berbeda atau tidak pada umumnya dia akan gumun atau heran. Dan tidak bisa menyikapi perbedaan itu sebagai suatu hal yang lumrah. Mungkin begitupun dengan mahasiswa tadi, walaupun agak mengherankan kalau ada mahasiswa masih gumunan.
Ironisnya, sebagaian dari kita yang sering teriak-teriak bilang toleransi dan anti rasis mungkin sama dengan si Ibu dan Mahasiswa tadi. Suka heran melihat sesuatu yang berbeda. Bagaimana mungkin kita bicara anti rasis kalau melihat postur tubuh yang berbeda saja sudah dipandang aneh. Bagaimana kalau melihat warna kulit yang jauh berbeda atau melihat bentuk wajah yang jauh berbeda. Bagaimana mungkin kita bisa bicara toleransi, ketika menyikapi perbedaan saja kita masih terbata-bata.
Karena bagi saya, anti rasis dan toleransi bukan hanya poster atau slogan yang diucapkan saja, namun lebih kepada pemahaman yang kemudian termanifestasi pada sikap kita. Anti rasis bukan hanya, ketika ada orang dari ras yang berbeda datang dan kita tidak mengganggunya. Anti rasis itu lebih dari itu, ia adalah bagaimana kita bisa membaur, berkomunikasi, berkatifitas, dan berinteraksi tanpa ada sedikitpun pikiran “ih dia kok kulitnya item banget sih” atau “ah dasar sipit”, dan pikiran bodoh lainnya. Anti rasis adalah menjadikan perbedaan warna kulit, perbedaan suku dan perbedaan bentuk wajah bukan sebagai sesuatu hal memberi jarak dan menghilangkan semua perbedaan itu.
Begitupun dengan toleransi. Toleransi adalah pemaknaan mendalam bagaimana bersikap sebagai manusia yang memanusiakan manusia tanpa melihat latar belakang suku, daerah, etnis, dan agama. Toleransi agama bukan sekedar membiarkan orang agama lain beribadah dengan keyakinan mereka, toleransi bukan sekedar mempermasalahkan ucapan-ucapan hari besar, toleransi bukan tidak terbatas pada pembangunan tempat ibadah. Namun lebih jauh lagi adalah berinteraksi dengan sepenuhnya dalam koridor yang sesuai. Berlaku sebagai mana manusia yang memiliki Tuhan dan terhadap manusia lainnya. Selama apa yang kita lakukan untuk orang yang bersangkutan tidak melanggar prinsip-prinsip utama agama kita maka tidak ada alasan untuk tidak berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Coba, apa yang lebih indah selain menjadi manusia yang memandang manusia lain sebagai manusia dan membuat perbedaan yang ada sebagai pengikat yang kuat.(*)

0 komentar: