Pendidikan : Menernak Kaum Ahli

17.24 lewatengah 1 Comments

ARISTOTLE 384–322 BCE
[T]he best and most pleasant life is the life of the intellect since the intellect is in the fullest sense the man.

Mungkin akan terdengar aneh. namun menurut saya, ketika pendidikan diarahkan kepada pendekatan kontekstual saja maka fungsi pendidikan sebagai wadah untuk menggodok seseorang menjadi pemikir akan hilang. Pendidikan hanya akan menjadi semacam alat penghasil ahli-ahli bidang yang akan dipanen oleh industri. Pendidikan menjadi tidak lebih dari tempat kursus ilmu-ilmu tertentu yang semakin lama semakin banyak jenisnya. Dengan begitu ruang bagi peserta didik untuk mengelaborasi pemikiran menjadi semakin sempit, materi pelajaran tidak ubahnya seperti buku panduan “How To Manual”. Ketika pendidik mengatakan bahwa cara untuk menjadi seorang ahli Botani adalah a, b, c, dan seterusnya. Cara menjadi ahli Bedah adalah, a,b,c, dan seterusnya. Seseorang menjadi kehilangan daya kritisnya. Tujuan akhirnya adalah menjadi penghasil uang sebanyak-banyaknya.

Tentu pernah kita dengar istilah “Anda tidak akan menjadi hebat disemua bidang”. Itu adalah propaganda pembodohan yang diberikan oleh sistem pendidikan masa kini,. Tengoklah pada tahun-tahun Aristoteles, Plato, dan Socrates  hidup, mereka mampu menguasai beberapa bidang ilmu yang berbeda, mulai dari matematika, fisika, kedokteran, dan sebagainya. Bahkan seorang Leonardo Da Vinci mempu menguasai dua hal yang menurut orang-orang sekarang tidak mungkin. Leonardo Da Vinci adalah seorang pelukis yang juga seorang matematikawan dan menguasai ilmu kedokteran. Dia menguasai seni sekaligus ilmu eksak. Jadi teori yang mengatakan bahwa menusia memiliki kecenderunagn untuk berfikir menggunakan dua bagian otak yaitu kiri dan kanan adalah suatu omong kosong besar. Itu adalah suatu pledoi atas ketidakmampuan mereka menjelaskan ketumpulan otak mereka. Dan ironisnya kita mempercayai begitu saja.

Kalau kemudian apa yang dikatakan diatas dibantah, bahwa apa yang dilakukan oleh Plato dan kawan-kawannya pada masa lalu adalah sebuah usaha untuk menemukan serpihan-serpihan ilmu. Bahwa pengetahuan pada waktu itu masih sangat minim, sehingga yang diperlukan memang mempelajari pengetahuan secara keseluruhan untuk mengembangkannya. Sedangkan masa kini, dengan seiring tuntutan zaman, pengetahuan haruslah digunakan sebagai cara untuk mempermudah kehidupan manusia. Sehingga secara tujuan pendidikan sudah jelas berbeda. Untuk menjawab hal tersebut, maka saya ajak untuk bertemu dengan Ibnu Sina, Al khawarizmi, Al ghazali, dan banyak ilmuan-ilmuan muslim lainnya. Sebagaian besar dari mereka menguasai tidak hanya satu bidang ilmu, saya ulangi tidak hanya satu bidang ilmu. Pada waktu mereka hidup dunia sudah jauh lebih maju dari pada masa Plato dan kawan-kawannya. Namun pendidikan yang dilakukan menjadikan mereka pemikir-pemikir hebat dengan ilmu yang sangat luas. Bahkan buku-buku sebagaian dari mereka masih ada yang dipakai pada zaman modern ini di universitas-universitas besar di Eropa.

Menurut Hilbert Highet Terdapat tiga kesalahan yang menyebabkan lemahnya pendidikan di masa kini, kesalahan pertama adalah gagasan yang keliru bahwa sekolah diadakan terutama untuk melatih anak laki-laki dan anak perempuan bergaul. “berintegrasi dengan kelaompoknya”, “melengkapi mereka dengan ketrampilan kehidupan social”,”mampu menyesuaikan diri dalam keluarga dan masyarakat”, sesungguhnya semua itu hanya sebagaiana dari tujuan kegiatan pendidikan. Tujuan lain yang sama pentingnya, atau mungkin lebih penting adalah melatih pemikiran individu seintensif mungkin, dan mendorongnya kearah pemikiran yang beranekaragam. Kesalahan kedua yaitu terletak pada kepercayaan bahwa proses pendidikan terhenti sama sekali setelah kedewasaan dimulai. Banyak sekali lulusan yang masih muda meninggalkan pemikiran yang didapatnya sewaktu melakukan kegiatan pendidikan. Seperti halnya seorang yang bermain music namun tidak pernah mengikuti pagelaran music, atau memainkan satu nada pun. Padahal dalam agama Islam dikatakan bahwa tuntutlah ilmu hingga keliang lahat. Ada juga yang mengatakan tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Intinya kita dianjurkan belajar seumur hidup kita. Tidak ada kata terlalu tua untuk belajar, yang ada adalah terlalu malas.

Kesalahan ketiga terletak pada suatu gambaran yang salah bahwa proses belajar dan mengajar haruslah memperlihatkan hasil yang segera yang mambawa keuntungan dan membawa kita kearah keberhasilan atau menjadi penghasil uang. Mungkin inilah yang menjadi pandangan umum pada masyarakat. Sekolah yang pinter biar jadi orang sukses (dibaca kaya). Ini adalah hasil dari doktrin bahwa pendidikan merupakan anak tangga keluar dari kemiskinan. Walaupun mungkin benar, namun tidak kemudian dimaknai bahwa anda bisa kaya kalau anda sekolah, sejujurnya korelasinya mungkin kecil antara sekolah dan kekayaan. Jika anda ingin kaya berniagalah. Tapi kan untuk bisa berniaga harus punya ilmu, harus sekolah. Betul, namun apakah itu syarat utamanya, Pada masa Rasullulah tidak ada sekolah Ekonomi, Manageman dan Akuntansi, namun banyak yang menjadi saudagar-saudagar kaya raya, termasuk Rasul dan sahabat-sahabtnya. Sekali lagi pendidikan tidak membawa kekayaan, pendidikan membawa ilmu.

Oleh karena itu pendidikan haruslah dipandang secara menyeluruh tidak dipotong-potong demi keuntungan saja. pendidikan haruslah menjadi sebuah air mancur pengetahuan dan lautan ilmu. Dimana orang bisa belajar apa saja, tidak dibatasi oleh teori-teori mengenai bakat dan teori-teori kemampuan otak yang aneh-aneh. Orang yang menyukai seni bukan tidak mungkin utuk mengasai matematika. Orang yang menguasai bahasa bukan berarti tidak mampu mempelajari fisika. Karena jika tetap demikian maka bisa dikatakan bahwa kita adalah manusia-manusia bodoh yang menutupi kebodohannya dengan kesombongan. Tubuh kita, otak kita, mata kita, semua organ kita diciptakan oleh Tuhan, bukan oleh pabrik di Cina. Sehingga kalau ada yang mengatakan bahwa seseorang yang bakat seni maka tidak mungkin bisa menguasai bidang eksak, maka dia dia telalu bodoh untuk memahami cara kerja otak kita, dan menutupi kebodohannya tersebut dengan sombong dan menyepelekan kemampuan Tuhan.


Maka kembalikan ruh pendidikan sebagai kawah ilmu bukan kursus kemampuan, maka hasil-hasil pendidikan adalah menusia-menusia pemikir, cendekiawan-cendekiawan cerdas, golongan-golongan berilmu yang bijak bestari. Bukan lagi menghasilkan orang-orang ahli yang menjadi pengejar kekayaan berbekal keahliannya, bukan lagi menghasilkan pemburu-pemburu rente yang sudah hilang “kemaluan”nya. Bukan lagi menghasilkan orang-orang pintar yang hanya bisa minteri mereka yang tidak pintar, seperti yang terjadi pada saat ini. Karena Ibnu Sina kemungkinan besar tidak akan muncul dari sistem pendidikan seperti sekarang.(*)   

You Might Also Like

1 komentar: