Cerita Mas Kikuk : Teritori Yayuk Astuti

22.46 lewatengah 2 Comments


Malam itu Mamak masak enak untuk sekeluarga. Mamak nyembelih ayam piaraannya untuk menjadi lauk makan malam sekeluarga. Ayam tersebut dimasak opor disajikan dengan nasi putih anget dan air es degan hasil dari sawah yang diambil Bapak sore tadi. Setalah matang semua, Mamak memanggil keluarganya. “The Cahyadi, Makan malam sudah siap” teriak Mamak. Dia memang kadang-kadang memanggil keluarganya dengan The Cahyadi, karena nama kedua dari keluarganya adalah Cahyadi. Mulai dari sang suami; Budi Cahyadi. Anak pertama; Kikuk Cahyadi. Anak kedua; Mawar Cahyadi. Walau sebenarnya dirinya sendiri bukan Cahyadi, melainkan Yayuk Astuti.

“Apa si Mak, Guaaayaaa… pakai makan malam segala, kayak orang kota” kata Kikuk sambil duduk dimeja makan.

“Biar tho Kuk, walaupun kita ini tinggal di desa, kita itu nggak kalah sama orang kota. Mamak mu ini loh dulu waktu muda Duta CTPS”cerocos Mamak sambil mengambilkan nasi di piring Bapak.

Kikuk cuma mesem sambil mbatin ”CTPS terus dibanggakan, nggak nyambung sama pembahasan”. Namun Kikuk maklum, dulu saat Bapak nya masih jadi PNS Penjaga Sekolah, Mamak nya sangat aktif di PKK dan selalu mendapat jabatan menjadi seksi kesehatan. Mamak cuma bermodal pengalamannya menjadi Duta CTPS saat muda. Anehnya semua anggota PKK tidak ada yang berani menyangkal. Mungkin memang Kharisma mamak sebagai Duta CTPS saat muda.

“Mak, dalam rangka apa tho, kok masak enak gini?”tanya Bapak

Mendengar pertanyaan tersebut, Mamak menoleh cepat “Bapak lupa?” tanya Mamak cepat.

Mak Deg. Bapak tahu ada yang salah dengan ucapanya. Langsung dia menengok ke arah Kikuk dan Mawar. Tatapan mata Bapak meminta tolong anak-anaknya untuk menyelamatkan dirinya dari omelan sang istri. Bapak memandang Kikuk sambil mengangkat dagu memberi kode. Kikuk tahu maksut bapaknya, tapi dia juga tidak tahu jawabannya, jadi kikuk cuma mengangkat bahunya. Bapak beralih ke Mawar dengan kode yang sama mengangat dagunya.
Mawar berbisik tak bersuara. “Ulang tahun Mamak”. Bapak berusaha membaca bibir Mawar.

“Nggak dong Mak, ini ulang tahun Mamak kan?” jawab Bapak gugup.

Langsung wajah Mamak kembali sumringah. Selesai makan Kikuk dan Bapak duduk didepan tivi sedang Mawar mambantu Mamak memcuci peralatan makan.

Sambil menyesap rokoknya, Bapak membuka obrolan. “Makin hari Indonesia makin nggak genah yo Kuk. Enak jaman dulu waktu bapak jadi PNS jaman Pak Harto. Harga-harga murah semua Kuk, nggak kaya sekarang, mahal semua” Jelas Bapak.

“Ya beda Pak, dulu nggak bebas, banyak orang menghilang nggak jelas. Otoriter Pak. Semua harus ikut Pak Harto. Inget nggak dulu Bapak waktu mau ngecat rumah aja harus warna kuning. Warna partainya Pak Harto” sanggah Kikuk.

Pembahasan yang makin asik. Kikuk mulai mewawancara Bapaknya. “Kalo jaman sekarang, PNS itu nggak boleh Poligami Pak. Kalo Jaman orde baru gimana? Tanya Kikuk.

“Dulu nggak ada aturan begitu Kuk, PNS itu termasuk pejabat. Selama atasan kita senang ya hidup kita enak. Ingat nggak dulu waktu kamu masih kecil, bapak kan sering bawa oleh-oleh dari kantor. Itu Bapak dikasih sama atasan Bapak.” Jelas Bapak.

“Wah,,, itu hasil korupsi dong?” tanya kikuk kaget. “Huss,,, jangan sembarangan, itu bukan korupsi. Bapak itu kan ngikutin nasihat simbahmu. Rejeki setitik ojo ditampik. Jadi ya Bapak terima saja” kata bapak sambil tertawa.

“Wallah Bapak ini, mental lemah. Katakan tidak pada korupsi Pak” ejek Kikuk.

“Lha gimana Kuk, nggak ada pilihan lain je. Coba dulu bapak ikut pesugihan pasti Bapak tolak itu gratifikasi” jawab Bapak.

“Loh.. lha emang dulu kenapa nggak ikut pesugihan Pak” tanya Kikuk Penasaran.

“Ya karena harus mengorbankan nyawa bapak, jadi bapak nggak mau. Coba kalo yang diminta dikorbankan anak pertama. Pasti bapak mau Kuk” Kata Bapak sambil tertawa.

“Asem,,,” batin Kikuk. Lalu mereka tertawa berdua. “Tapi apa yang membuat Bapak kangen banget sama jaman Pak Harto?” tanya kikuk serius.

Bapak membetulkan duduknya, menjawab dengan serius. “Dulu jaman Pak Harto, Mamakmu masih ayu, singset, seger, wangi.  Jaman sekarang mamakmu sudah tua, sudah keriput, tidak wangi lagi” jawab Bapak sambil tertawa. Lalu disusul Kikuk tertawa terbahak-bahak.

“Praaaaaaankkkkkkk..!!!” Suara piring pecah dari dapur. Bapak dan Kikuk langsung berhenti tertawa lalu saling pandang. Ada aura kegelapan yang mengerikan dari dapur. Bapak tahu dia dalam masalah besar. “Oh,,, begituu!!!!” suara Mamak teriak dari dapur. Mawar yang sedang menata piring langsung berlari kedepan dengan wajah panik. “Pak aku kerumah simbah, aku tidur dirumah simbah malam ini” kata Mawar sambil berlari keluar rumah.

Melihat Mawar, Kikuk juga langsung mengambil kunci vespa sambil setengah berlari. “Pak, aku kerumah Agus. Ada urusan” kata Kikuk sambil berlari keluar rumah mengikuti Mawar.

Melihat kedua anaknya sudah meninggalkan medan perang, Bapak cuma bisa menelan ludah berkali-kali ketakutan. Lalu sebuah gelas meluncur dari dapur dan mengenai kepala Bapak. “Plaaak…!”


Jam 11 malam, bapak mengigil kedinginan diteras rumah sambil memegangi kepalanya yang benjol. Dia tidak punya pilihan selain tidur diteras. Bapak sadar betul, dia berada di medan perang yang tidak bisa dia menangkan. Dia berada didalam teritori Yayuk Astuti mantan duta CTPS.


(Ini adalah tulisan ketiga dari beberapa tulisan seri mengenai cerita Mas Kikuk. Nantikan seri berikutnya)

You Might Also Like

2 komentar: