Cerita Mas Kikuk : Teritori Yayuk Astuti
Malam itu Mamak
masak enak untuk sekeluarga. Mamak nyembelih ayam piaraannya untuk menjadi lauk
makan malam sekeluarga. Ayam tersebut dimasak opor disajikan dengan nasi putih
anget dan air es degan hasil dari sawah yang diambil Bapak sore tadi. Setalah
matang semua, Mamak memanggil keluarganya. “The Cahyadi, Makan malam sudah siap”
teriak Mamak. Dia memang kadang-kadang memanggil keluarganya dengan The
Cahyadi, karena nama kedua dari keluarganya adalah Cahyadi. Mulai dari sang suami;
Budi Cahyadi. Anak pertama; Kikuk Cahyadi. Anak kedua; Mawar Cahyadi. Walau
sebenarnya dirinya sendiri bukan Cahyadi, melainkan Yayuk Astuti.
“Apa si Mak,
Guaaayaaa… pakai makan malam segala, kayak orang kota” kata Kikuk sambil duduk dimeja
makan.
“Biar tho Kuk,
walaupun kita ini tinggal di desa, kita itu nggak kalah sama orang kota. Mamak mu
ini loh dulu waktu muda Duta CTPS”cerocos Mamak sambil mengambilkan nasi di piring
Bapak.
Kikuk cuma mesem
sambil mbatin ”CTPS terus dibanggakan, nggak nyambung sama pembahasan”. Namun Kikuk
maklum, dulu saat Bapak nya masih jadi PNS Penjaga Sekolah, Mamak nya sangat
aktif di PKK dan selalu mendapat jabatan menjadi seksi kesehatan. Mamak cuma bermodal
pengalamannya menjadi Duta CTPS saat muda. Anehnya semua anggota PKK tidak ada
yang berani menyangkal. Mungkin memang Kharisma mamak sebagai Duta CTPS saat
muda.
“Mak, dalam
rangka apa tho, kok masak enak gini?”tanya Bapak
Mendengar
pertanyaan tersebut, Mamak menoleh cepat “Bapak lupa?” tanya Mamak cepat.
Mak Deg. Bapak
tahu ada yang salah dengan ucapanya. Langsung dia menengok ke arah Kikuk dan Mawar.
Tatapan mata Bapak meminta tolong anak-anaknya untuk menyelamatkan dirinya dari
omelan sang istri. Bapak memandang Kikuk sambil mengangkat dagu memberi kode. Kikuk
tahu maksut bapaknya, tapi dia juga tidak tahu jawabannya, jadi kikuk cuma
mengangkat bahunya. Bapak beralih ke Mawar dengan kode yang sama mengangat
dagunya.
Mawar berbisik tak bersuara. “Ulang tahun Mamak”. Bapak berusaha membaca bibir Mawar.
Mawar berbisik tak bersuara. “Ulang tahun Mamak”. Bapak berusaha membaca bibir Mawar.
“Nggak dong Mak,
ini ulang tahun Mamak kan?” jawab Bapak gugup.
Langsung wajah Mamak
kembali sumringah. Selesai makan Kikuk dan Bapak duduk didepan tivi sedang Mawar
mambantu Mamak memcuci peralatan makan.
Sambil menyesap
rokoknya, Bapak membuka obrolan. “Makin hari Indonesia makin nggak genah
yo Kuk. Enak jaman dulu waktu bapak jadi PNS jaman Pak Harto. Harga-harga murah
semua Kuk, nggak kaya sekarang, mahal semua” Jelas Bapak.
“Ya beda Pak,
dulu nggak bebas, banyak orang menghilang nggak jelas. Otoriter Pak. Semua
harus ikut Pak Harto. Inget nggak dulu Bapak waktu mau ngecat rumah aja harus
warna kuning. Warna partainya Pak Harto” sanggah Kikuk.
Pembahasan yang
makin asik. Kikuk mulai mewawancara Bapaknya. “Kalo jaman sekarang, PNS itu nggak
boleh Poligami Pak. Kalo Jaman orde baru gimana? Tanya Kikuk.
“Dulu nggak ada
aturan begitu Kuk, PNS itu termasuk pejabat. Selama atasan kita senang ya hidup
kita enak. Ingat nggak dulu waktu kamu masih kecil, bapak kan sering bawa
oleh-oleh dari kantor. Itu Bapak dikasih sama atasan Bapak.” Jelas Bapak.
“Wah,,, itu
hasil korupsi dong?” tanya kikuk kaget. “Huss,,, jangan sembarangan, itu bukan
korupsi. Bapak itu kan ngikutin nasihat simbahmu. Rejeki setitik ojo
ditampik. Jadi ya Bapak terima saja” kata bapak sambil tertawa.
“Wallah Bapak
ini, mental lemah. Katakan tidak pada korupsi Pak” ejek Kikuk.
“Lha gimana Kuk,
nggak ada pilihan lain je. Coba dulu bapak ikut pesugihan pasti Bapak tolak itu
gratifikasi” jawab Bapak.
“Loh.. lha emang
dulu kenapa nggak ikut pesugihan Pak” tanya Kikuk Penasaran.
“Ya karena harus mengorbankan nyawa bapak, jadi bapak nggak mau. Coba kalo yang diminta dikorbankan anak pertama. Pasti bapak mau Kuk” Kata Bapak sambil tertawa.
“Ya karena harus mengorbankan nyawa bapak, jadi bapak nggak mau. Coba kalo yang diminta dikorbankan anak pertama. Pasti bapak mau Kuk” Kata Bapak sambil tertawa.
“Asem,,,” batin Kikuk.
Lalu mereka tertawa berdua. “Tapi apa yang membuat Bapak kangen banget sama
jaman Pak Harto?” tanya kikuk serius.
Bapak
membetulkan duduknya, menjawab dengan serius. “Dulu jaman Pak Harto, Mamakmu
masih ayu, singset, seger, wangi. Jaman
sekarang mamakmu sudah tua, sudah keriput, tidak wangi lagi” jawab Bapak sambil
tertawa. Lalu disusul Kikuk tertawa terbahak-bahak.
“Praaaaaaankkkkkkk..!!!”
Suara piring pecah dari dapur. Bapak dan Kikuk langsung berhenti tertawa lalu
saling pandang. Ada aura kegelapan yang mengerikan dari dapur. Bapak tahu dia
dalam masalah besar. “Oh,,, begituu!!!!” suara Mamak teriak dari dapur. Mawar
yang sedang menata piring langsung berlari kedepan dengan wajah panik. “Pak aku
kerumah simbah, aku tidur dirumah simbah malam ini” kata Mawar sambil berlari
keluar rumah.
Melihat Mawar,
Kikuk juga langsung mengambil kunci vespa sambil setengah berlari. “Pak, aku
kerumah Agus. Ada urusan” kata Kikuk sambil berlari keluar rumah mengikuti Mawar.
Melihat kedua
anaknya sudah meninggalkan medan perang, Bapak cuma bisa menelan ludah
berkali-kali ketakutan. Lalu sebuah gelas meluncur dari dapur dan mengenai
kepala Bapak. “Plaaak…!”
…
Jam 11 malam, bapak
mengigil kedinginan diteras rumah sambil memegangi kepalanya yang benjol. Dia
tidak punya pilihan selain tidur diteras. Bapak sadar betul, dia berada di medan
perang yang tidak bisa dia menangkan. Dia berada didalam teritori Yayuk Astuti
mantan duta CTPS.
(Ini adalah tulisan ketiga dari beberapa tulisan seri mengenai cerita Mas Kikuk. Nantikan seri berikutnya)

Wkwkwkwkkk... enak jamanku to..
BalasHapusEnak jaman bapakke, karena ndak mikir cicilan.. kwkwkw
Hapus