Berkabar Berita Baik dari Sudut Kota Palu

09.27 lewatengah 2 Comments


Saya awali tulisan ini dengan sebuah declaimer bahwa ini bukanlah review sebuah kota. Ini adalah sebuah cerita-cerita kecil yang terjadi dalam sebuah kota, dan kota itu adalah Palu. Seperti yang sudah diketahui bahwa bencana dahsyat menerjang kota ini beberapa bulan yang lalu. Dampaknya masih terasa hingga berbulan-bulan kemudian. Bukan hal mudah untuk bisa bangkit dari sebuah bencana. Trauma, rasa takut, dan kesedihan karena kehilangan harta benda dan nyawa sanak saudara, adalah luka yang tidak bisa terobati dalam hitungan purnama.

Setelah beberapa minggu saya tinggal di Palu. Ada sebuah jalan bernama Jalan Dewi Sartika, tidak jauh dari tempat tinggal saya. Susuri saja jalan itu dari ujung ke ujung. Tepat di Pertigaan potongan jalan Zebra dan jalan Dewi Sartika. Tidak jauh dari situ ada sebuah keluarga yang berjualan nasi kuning. Kondisi rumahnya dalah rumah semi permanen, dengan beberapa papan teriplek yang ditempelkan pada kayu menjadi sebuah dinding. Ada dua ruangan saja, ruang depan dan ruang belakang. Sepertinya ruang depan adalah ruang tempat mereka menyimpan peralatan-peralatan rumah, sedangkan ruang belakang adalah ruang tidur Bersama.

Didepan rumah mereka tergelar dagangan mereka, dengan dipayungi oleh terpal. Kompor tempat menggoreng dan sebuah meja persis diletakkan paling depan untuk mendisplay dangan mereka. Saya beberapa kali makan disitu dan sempat beberapa kali ngobrol dengan ibu dan bapaknya. Mereka masih trauma dengan bencana, namun yang menarik adalah anak perempuan mereka yang masih berusia kurang lebih 10 tahun atau 12 tahun. Meskipun pakaian dan penampilannya apa adanya, namun sorot matanya kuat dan jernih. Ada semangat besar di dalamnya. Sebuah tanda bahwa tidak lama lagi keluarga ini akan bangkit dari dampak bencana.

Pemandangan seperti itu lazim ditemui di setiap sudut Kota Palu. Ekonomi sudah mulai mengeliat, lampu-lampu kota sudah mulai menyala terang dan beberapa fasilitas umum sudah mulai membuka diri. Terbaru adalah bioskop yang tadinya lenyap disapu tsunami, sejak minggu ke 4 bulan April sudah mulai buka, dan tentu saja seperti yang bisa dibayangkan, pengunjungnya membludak. Begitupun beberapa café sudah mulai rame, dan salah satu dari mereka mengundang artis indie yang sedang naik daun, Danila Riyadi untuk manggung. Sebuah pertanda bahwa kota ini sedang menyembuhkan diri. Beberapa kali bertemu dengan anak-anak dan ibu-ibu. Kondisinya juga tidak jauh berbeda. Senyum dan tawa mulai sayup-sayup terdengar dari mereka.

Kabar baik lainnya adalah saya mulai menyukai masakan kota ini, bumbunya sudah terasa nyaman di lidah, porsinya sudah sesuai dengan ukuran lambung saya. Dan yang paling penting adalah orang-orangnya sudah terasa seperti saudara. Bahkan logat medok Jawa saya sudah jarang muncul, yang ada adalah nada-nada khas tutur masyarakat Sulawesi Tengah.

Mas Yoga so makan?” Tanya salah satu kawan saya

Soo” jawab saya.

Untuk yang tidak paham, biar saya jelaskan.

“Mas Yoga so makan?” artinya “Mas Yoga sudah makan?”. “So” itu kependekan dari kata “sudah”. Karena pada saat ditanya, kondisi saya baru saja makan siang, maka saya jawab “Soo”, artinya “Sudah”.

Lalu  saya lanjutkan “Saya makan deng teman-teman”. Artinya – “saya makan dengan teman-teman”. 
“Deng” adalah kependekan dari “dengan”.

Satu lagi, penambahan kata “sudah” dalam kalimat perintah juga sudah menjadi kebiasaan saya saat melakukan percakapan.

Mas Yoga, bagaimana ini, saya tidak tau cara menggunakan alat ini?” tanya salah satu kawan.

Saya jawab. “Gugel sudah!”, tentu saja dengan nada yang saya naikan diujung kata “sudah”, sehingga suara yang dihasilkan mirip dengan orang Palu asli.

Dan masih banyak lagi frasa-frasa yang sudah saya kuasai dari logat penduduk Palu. Jadi jangan heran jika kemudian tidak ada yang mengenali lagi saya sebagai orang Jawa.

Hal lainnya adalah, Sulawesi Tengah memiliki banyak sekali lokasi-lokasi cantik. Beberapa diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah, Pantai Tanjung Karang dan Danau Tambing. Cerita mengenai dua lokasi ini akan saya ceritakan di tulisan lain. Dan tentu saja kata kawan-kawan disini masih ada lokasi lain yang lebih ciamik. Namun saya belum sempat datangi. Semoga dalam waktu dekat bisa saya jamah lokasi-lokasi tersebut, seperti pantai Bambarano dan Matantimali.

Yang pasti fase ini adalah fase penting bagi hidup saya. Kelak akan saya ceritakan kepada anak dan istri saya di masa depan mengenai proses yang saya alami di Kota Palu dan Sulawesi Tengah. Eh.. tapi bagaimana nanti kalau anak dan istri saya orang Palu, apa tetap perlu diceritakan?.

Tunggu jawabannya, di tulisan selanjutnya.  


You Might Also Like

2 komentar: