Berkabar Berita Baik dari Sudut Kota Palu
Saya awali tulisan ini dengan sebuah declaimer bahwa ini bukanlah review
sebuah kota. Ini adalah sebuah cerita-cerita kecil yang terjadi dalam sebuah
kota, dan kota itu adalah Palu. Seperti yang sudah diketahui bahwa bencana
dahsyat menerjang kota ini beberapa bulan yang lalu. Dampaknya masih terasa
hingga berbulan-bulan kemudian. Bukan hal mudah untuk bisa bangkit dari sebuah
bencana. Trauma, rasa takut, dan kesedihan karena kehilangan harta benda dan
nyawa sanak saudara, adalah luka yang tidak bisa terobati dalam hitungan purnama.
Setelah beberapa minggu saya tinggal di Palu. Ada sebuah jalan bernama Jalan
Dewi Sartika, tidak jauh dari tempat tinggal saya. Susuri saja jalan itu dari
ujung ke ujung. Tepat di Pertigaan potongan jalan Zebra dan jalan Dewi Sartika.
Tidak jauh dari situ ada sebuah keluarga yang berjualan nasi kuning. Kondisi rumahnya
dalah rumah semi permanen, dengan beberapa papan teriplek yang ditempelkan pada
kayu menjadi sebuah dinding. Ada dua ruangan saja, ruang depan dan ruang
belakang. Sepertinya ruang depan adalah ruang tempat mereka menyimpan
peralatan-peralatan rumah, sedangkan ruang belakang adalah ruang tidur Bersama.
Didepan rumah mereka tergelar dagangan mereka, dengan dipayungi oleh
terpal. Kompor tempat menggoreng dan sebuah meja persis diletakkan paling depan
untuk mendisplay dangan mereka. Saya beberapa kali makan disitu dan sempat
beberapa kali ngobrol dengan ibu dan bapaknya. Mereka masih trauma dengan
bencana, namun yang menarik adalah anak perempuan mereka yang masih berusia
kurang lebih 10 tahun atau 12 tahun. Meskipun pakaian dan penampilannya apa
adanya, namun sorot matanya kuat dan jernih. Ada semangat besar di dalamnya. Sebuah
tanda bahwa tidak lama lagi keluarga ini akan bangkit dari dampak bencana.
Pemandangan seperti itu lazim ditemui di setiap sudut Kota Palu. Ekonomi
sudah mulai mengeliat, lampu-lampu kota sudah mulai menyala terang dan beberapa
fasilitas umum sudah mulai membuka diri. Terbaru adalah bioskop yang tadinya
lenyap disapu tsunami, sejak minggu ke 4 bulan April sudah mulai buka, dan tentu
saja seperti yang bisa dibayangkan, pengunjungnya membludak. Begitupun beberapa
café sudah mulai rame, dan salah satu dari mereka mengundang artis indie yang
sedang naik daun, Danila Riyadi untuk manggung. Sebuah pertanda bahwa kota ini
sedang menyembuhkan diri. Beberapa kali bertemu dengan anak-anak dan ibu-ibu. Kondisinya
juga tidak jauh berbeda. Senyum dan tawa mulai sayup-sayup terdengar dari
mereka.
Kabar baik lainnya adalah saya mulai menyukai masakan kota ini, bumbunya
sudah terasa nyaman di lidah, porsinya sudah sesuai dengan ukuran lambung saya.
Dan yang paling penting adalah orang-orangnya sudah terasa seperti saudara. Bahkan
logat medok Jawa saya sudah jarang muncul, yang ada adalah nada-nada khas tutur
masyarakat Sulawesi Tengah.
“Mas Yoga so makan?”
Tanya salah satu kawan saya
“Soo” jawab saya.
Untuk yang tidak paham,
biar saya jelaskan.
“Mas Yoga so makan?”
artinya “Mas Yoga sudah makan?”. “So” itu kependekan dari kata “sudah”. Karena
pada saat ditanya, kondisi saya baru saja makan siang, maka saya jawab “Soo”,
artinya “Sudah”.
Lalu saya lanjutkan “Saya makan deng teman-teman”. Artinya
– “saya makan dengan teman-teman”.
“Deng” adalah kependekan dari “dengan”.
Satu lagi, penambahan
kata “sudah” dalam kalimat perintah juga sudah menjadi kebiasaan saya saat melakukan
percakapan.
“Mas Yoga, bagaimana
ini, saya tidak tau cara menggunakan alat ini?” tanya salah satu kawan.
Saya jawab. “Gugel
sudah!”, tentu saja dengan nada yang saya naikan diujung kata “sudah”, sehingga
suara yang dihasilkan mirip dengan orang Palu asli.
Dan masih banyak lagi frasa-frasa yang sudah saya kuasai dari logat
penduduk Palu. Jadi jangan heran jika kemudian tidak ada yang mengenali lagi
saya sebagai orang Jawa.
Hal lainnya adalah, Sulawesi Tengah memiliki banyak sekali lokasi-lokasi
cantik. Beberapa diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah, Pantai Tanjung Karang
dan Danau Tambing. Cerita mengenai dua lokasi ini akan saya ceritakan di
tulisan lain. Dan tentu saja kata kawan-kawan disini masih ada lokasi lain yang
lebih ciamik. Namun saya belum sempat datangi. Semoga dalam waktu dekat bisa
saya jamah lokasi-lokasi tersebut, seperti pantai Bambarano dan Matantimali.
Yang pasti fase ini adalah fase penting bagi hidup saya. Kelak akan saya
ceritakan kepada anak dan istri saya di masa depan mengenai proses yang saya
alami di Kota Palu dan Sulawesi Tengah. Eh.. tapi bagaimana nanti kalau anak
dan istri saya orang Palu, apa tetap perlu diceritakan?.
Tunggu jawabannya, di tulisan selanjutnya.

Perjalanan..
BalasHapusPerjalanan berlanjut
Hapus